
Sekitar jam sebelas malam. Terdengar suara pintu gerbang kosan Omah ada yang membuka dan menutup kembali. Azam segera melihatnya.
"Itu dia anaknya?" Ucap Azam yang melihat Hendrik sedang membuka pintu gerbang kosan Omah.
Sejenak Hendrik menaruh motornya di lorong kosan lantai bawah lalu langsung berjalan menaiki tangga naik keatas.
"Dari mana blay? Bukannya libur Lo hari ini?" Tanya Azam.
"Dari bekasi gw." Ucap Hendrik sambil menenteng Papperbag di tangannya.
"Habis pulang ke Rumah?" Tanya Azam.
"Habis berkunjung ketempat orang." Ucap Hendrik.
"Ke tempat siapa blay?" Tanya Azam.
"Ada deeeh?" Ucap Hendrik dengan wajahnya yang terlihat merasa senang.
Tak biasanya Hendrik pergi ke tempat seseorang, akan tetapi Ia tidak mau bercerita kepada Azam. Biasanya Hendrik selalu terbuka jikalau Ia berkunjung ke tempat orang, entah ketempat teman, pacar, keluarga, maupun orang yang tidak Azam kenali.
Rasa kecurigaan dalam hatinya Azam pun mulai ada terhadap Hendrik. Azam berfikir Hendrik seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
"Itu Papperbag isinya apaan blay?" Azam menatap ke arah Papperbag yang di pegang Hendrik.
Terlihat di matanya Azam Papperbag Hendrik berisikan kantong plastik berwarna hitam. Biasanya Hendrik jika membawa papperbag, isinya sama dengannya. Kalau bukan berisi produk Cosmetike maupun sampling tester produknya, biasanya brosur maupun buku laporan penjualan.
"Ada deeeh. Mau tau aja Lo?" Ucap Hendrik yang membuat Azam menjadi penasaran dengan isi di dalam Papperbag tersebut.
Azam berdiri lalu berjalan mendekati Hendrik yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.
"Srekkkk." Tangan Azam mencoba mencomot plastik yang ada didalam papperbag-nya Hendrik.
"Jangan sentuh, ini barang pribadi gw?" Hendrik menangkis tangannya Azam.
"Ok-ok." Azam memundurkan kembali langkahnya lalu duduk kembali di Kursi Besi.
Hendrik segera masuk kedalam kamarnya dan menutup Pintu.
Tak biasanya Hendrik selalu menutupi barang bawaan itu dari Azam. Biasanya mereka berdua selalu terbuka dengan sesuatu yang mereka miliki. Entah hadiah dari mantan, entah makanan, maupun yang lainnya.
Setiap teman atau sahabat dekat pasti dapat merasakan perubahan maupun kejanggalan temannya sendiri.
"Blaay, makan yuk? Gw belum makan loh? Sengaja gw nungguin lo ini?" Seru Azam dari kursi besi.
"Iya bentar? Gw lagi ganti baju dulu." Seru Hendrik dari dalam kamarnya.
Tak berapa lama, Hendrik pun keluar dari dalam kamarnya. Mereka berdua segera menuruni tangga lalu keluar dari kosan Omah menuju ke tukang Kupat Tahu yang berada di daerah tukang pecel ayam langganannya Azam.
Di Tukang Kupat Tahu
"Gw yang bayarin ya blay?" Ucap Hendrik.
"Tumben amat Lo? Waras Lo?" Azam memegang-megang dahinya Hendrik.
"Apaan si Lo? Mau apa kagak Lo!" Ucap Hendrik sambil menangkis tangannya Azam.
"Iya-iya gw mau." Ucap Azam.
__ADS_1
Hendrik segers memesan kupat tahu dua porsi, setelah itu Ia duduk kembali. Mereka berdua makan ditempat tukang Kupat Tahu tersebut. Sambil makan mereka berdua pun sambil berbincang.
"Event dimana Lo hari tadi?" Tanya Hendrik
"Bekasi Blay, di Mall Summarecon Bekasi." Ucap Azam.
"Kenapa gak kontek gw? Gw juga kan habis dari bekasi." Ucap Hendrik.
"Emangnya gw tau Lo lagi disana? Lagian gw dianterin pulang sama abangnya BA gw yang disana tadi." Ucap Azam.
"Naik motor?" Tanya Hendrik terdengar tidak terlalu penting menurut Azam.
"Naik Onta. Hahaha." Jawab Azam sambil menertawakannya.
"Ganteng nnggak? Pasti Lo godain kan itu orang? Gak mungkin tuh dia mau nganterin Lo? Kalo gak digodain sama Lo?" Tuduhan pun keluar dari mulutnya- Hendrik.
"Gilingan. Ya enggak lah gila. Anak BA gw yang disana maksain abangnya buat nganterin gw pulang." Ucap Azam.
"Lagian gw pulang juga dianterin bareng dia juga." Sambung Ucapan Azam.
"Naek apaan Lo?" Hendrik menanyakan hal yang tidak terlalu penting kembali.
"Apaan sih Blay? Emangnya penting gw dianterin pake apaan?" Jawab Azam.
"Gak usah pake rahasia-rahasiaan gitu deh blay?" Ucap Hendrik.
"Yang maen rahasia-rahasiaan tuh siapa Jablay? Bukannya akhir-akhir ini ada temen gw yang selalu merahasiakan sesuatu dari gw ya?" Azam menyindir Hendrik.
Hendrik langsung terdiam.
"Sekarang gw udah terbuka tuh sama Lo? Sekarang giliran Lo yang harus jawab pertanyaan gw?" Ucap Azam.
"Mau nanya apaan Lo?" Ucap Hendrik.
"Isi dalam kresek yang di Papperbag itu apaan? Terus L'o habis berkunjung dari tempat siapa hari tadi?" Tanya Azam.
"Rahasia." Ucap Hendrik.
"Ok, tapi setidaknya Lo harus jawab pertanyaan gw yang satunya? Habis berkunjung ke tempat siapa Lo tadi?" Tanya Azam.
"Habis ke tempat orang yang pernah ngasih selendang ke gw tadi." Ucap Hendrik.
"Dikasih atau beli?" Tanya Azam.
"Kepo deh Lo? Kan udah gw bilang, itu barang gw dan itu privasi gw? Ngerti gak Lo!" Ucap Hendrik ngegas.
"Sorry-sorry." Ucap Azam.
"Gak usah marah juga kali Nenek?" Sambung Ucapan Azam.
"Lo selalu mancing emosi gw blay! Gimana gw gak mau marah-marah terus sama Lo!" Ucap Hendrik.
Sejenak Azam terdiam lalu mengalihkan pembicaraannya.
"Eh blay, gimana dengan kabarnya si Ilham? Dia udah sembuh belum?" Tanya Azam.
Ilham adalah temannya Hendrik yang pernah menggunakan berbagai macam jimat penglaris dan juga pernah di Ruqiah beberapa kali.
__ADS_1
"Gak tau blay, denger-denger, dia udah kumat lagi tau?" Jawab Hendrik dengan nada santai yang menandakan Hendrik sudah tidak emosi kembali.
"Sekarang dia tinggal dimana blay?" Tanya Azam.
"Katanya siih, dia pulang kekampungnya blay, di Ciamis." Ucap Hendrik.
"Kasihan ya blay, Ganteng-ganteng gituuu tapi nasibnya harus seperti itu?" Ucap Azam.
"Gak taulah blay, emang harus seperti itu kali nasibnya." Ucap Hendrik.
"Cabut balik yok?" Ajak Azam karena makannya telah selesai.
"Iye bentar gw bayar dulu?" Ucap Hendrik.
Sejenak Hendrik berdiri lalu membayar makanan. Azam segera berdiri lalu menunggu Hendrik di samping motornya.
Setelah membayar makan, Hendrik menemukan sesuatu benda yang terbungkus kain. Kain tersebut membungkus benda yang dililit ujung-ujungnya dengan benang. Hendrik menemukannya disalah satu kursi yang tidak jauh dari meja yang mereka duduki saat makan.
"Blay, gw nemuin ini?" Ucap Hendrik sambil menunjukkan barang temuannya kepada Azam.
Azam langsung mengambil dari tangannya Hendrik lalu mencium aroma barang temuannya Hendrik.
"Ini wanginya kayak barang milik kakak gw yang dikampung deh blay?" Azam pun mengenali wewangian aroma kain tersebut.
"Gw juga kenal sama aromanya. Gw simpen ah blay." Ucap Hendrik sambil menaruh barang tersebut kedalam dompetnya.
"Terserah Lo deh." Ucap Azam.
Sesampainya di Kosan Omah
"Blay, coba deh buka barang yang tadi?" Azam meminta Hendrik untuk membuka kain temuan Hendrik.
"Iya gw buka. Gw juga penasaran." Ucap Hendrik.
Hendrik membuka lilitan benang yang membungkus kain persegi empat teesebut.
"Gila itu bulu kayak jembu* blay.Hahaha.." Azam tertawa melihat isi di dalamnya tersebut berisi dua helai rambut agak keriting dan tidak terlalu pajang. Panjangnya sekitar satu jari telunjuk jika diluruskan.
Selain dua helai rambut, kain yang dibuka oleh Hendrik pun berisikan tulisan arab.
"Coba blay gw pegang?" Azam ingin memegang rambut tersebut.
"Jangan? Ini milik gw?" Ucap Hendrik yang merasa menemukannya.
"Ya elah, takut amat lo direbut?" Ucap Azam.
"Gw tau kali ini rambut apaan?" Ucap Hendrik.
"Gw juga tau cara ngetesnya." Ucap Azam yang mengetahui cara sederhana untuk mengetes dua helai rambut tersebut.
"Jangan asal sembarangan Lo nyimpen barang orang?" Sambung Ucapan Azam.
"Nanti gw mau nanya ke orang gw saja." Ucap Hendrik sambil memasukkan barang temuannya kedalam dompet.
"Terserah lo deh blay. Ya udah gw mau tidur." Ucap Azam sambil mendirikan badannya dari kursi besi lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Iya gw juga mau tidur." Ucap Hendrik sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1