Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 10 Rumah Baru


__ADS_3

Setelah mengantarkan Medina ke rumahnya, Mark pun langsung meluncur ke kantor Kai. Mark adalah asisten pribadi Kai, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Mark sampai di kantor.


"Maaf Kai, aku terlambat," seru Mark saat masuk ke dalam ruangan Kai.


"Kamu dari mana saja?"


"Barusan aku kesiangan bangun soalnya tadi malam aku bergadang," dusta Mark.


"Jangan banyak bergadang, lebih baik kamu cari pasangan biar kamu tidak kesepian," seru Kai.


"Aku sudah punya pasangan, Kai."


Kai yang sedang memeriksa berkas-berkas langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Mark.


"Kamu sudah punya pasangan? siapa? kenapa kamu tidak mengenalkannya kepadaku?" tanya Kai.


"Nanti sajalah, kalau sudah saatnya aku kasih tahu kamu."


"Jadi ceritanya mau main rahasia-rahasiaan nih?"


"Bukanya gitu Kai, kalau sekarang belum saatnya," sahut Mark.


"Ya sudahlah, terserah kamu saja. Oh iya Mark, hari ini kamu harus temani aku ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Pokoknya kamu ikut saja."


Kai membereskan berkas-berkas itu dan mulai bangkit dari duduknya.


"Ayo kita berangkat," ajak Kai.


Mark mengerutkan keningnya, dia bingung sebenarnya Kai mau mengajaknya ke mana. Akhirnya Mark mengikuti langkah Kai dan masuk ke dalam mobil Kai.


"Jalan, Pak."


"Siap, Tuan."


Sopir pribadi Kai mulai melajukan mobil meninggalkan kantor, sebenarnya Mark masih bingung tapi dia memilih untuk diam saja dan tidak banyak bertanya.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil Kai pun memasuki kawasan perumahan elit dan mewah.


"Kita mau ke mana, Kai? apa kita ada pertemuan klien di sini?" tanya Mark.


Kai tidak menjawab pertanyaan Mark, Kai hanya menyunggingkan senyumannya membuat Mark semakin penasaran.


"Pak, kita berhenti di depan gerbang putih itu," seru Kai.


"Baik, Tuan."


Sopir pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mewah nan megah itu.


"Ayo keluar," ajak Kai.


Mark pun ikut keluar dari dalam mobil dan mengikuti Kai masuk ke dalam rumah yang super besar itu. Mark sampai menganga melihat isi rumah itu, rumah yang sangat besar dan di dalamnya sudah lengkap dengan furniture-furniture mewah yang terlihat sangat mahal itu.

__ADS_1


"Ini rumah siapa, Kai?" tanya Mark.


"Bagaimana Mark, apa Medina akan suka melihat rumah ini?" seru Kai dengan senyumannya.


Mark melongo, dia masih mencerna ucapan Kai.


"Maksud kamu, rumah ini-----?"


"Iya, ini rumah aku dan aku beli rumah ini tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk Medina. Aku hanya ingin memberikan kejutan untuk Medina, apa menurut kamu Medina akan suka?" seru Kai.


"I--iya, dia pasti akan bahagia sekali," sahut Mark dengan hati yang kesal.


"Lihatlah, aku juga mencat rumah ini dengan warna kesukaan Medina."


Mark memperhatikan setiap sudut rumah itu, memang rumah itu di cat dengan warna putih kesukaan Medina.


"Aku berharap dengan aku dan Medina pindah ke rumah ini, aku bisa mendapatkan momongan yang sudah sejak lama aku damba-dambakan," seru Kai.


Mark terlihat mengepalkan tangannya, sungguh dia benci kalau Kai sudah membicarakan masalah momongan di hadapannya.


"Mark, kok kamu diam saja?" seru Kai dengan menepuk pundak Mark.


"Ah iya Kai, rumahnya sangat bagus dan aku yakin Medina akan suka," sahut Mark dengan senyuman yang dipaksakan.


Kai tampak tersenyum bahagia, dia sadar kalau selama ini dia sudah terlalu sibuk mengurus perusahaan dan Kai menjadi jarang punya waktu untuk istrinya Medina.


Setelah memperlihatkan rumah barunya kepada Mark, Kai pun mengajak Mark untuk kembali ke kantor.


***


"Luna, sini sebentar Nak," panggil Mama Arini.


"Bu, Luna ke sana dulu."


"Iya sayang, kalau begitu Ibu langsung ke dapur saja."


Luna segera menghampiri Mama Arini yang saat ini sedang duduk santai di ruangan keluarga.


"Ada apa Nyonya?"


"Duduklah."


Luna pun duduk di samping Mama Arini, perlahan Mama Arini mengusap perut Luna.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja Nyonya, bahkan anak Luna sehat."


"Jangan panggil Nyonya, kamu kan sekarang sudah menjadi menantu Mama."


"Tidak Nyonya, aku takut keceplosan lagi dan membuat Tuan Kai serta Nyonya Medina marah," sahut Luna dengan menundukkan kepalanya.


Mama Arini menggenggam tangan Luna. "Maafkan Kai, dia memang terlalu mencintai Medina sehingga Kai buta dan tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya pura-pura."


"Maksud Nyonya apa?" tanya Luna tidak mengerti.

__ADS_1


"Luna, kalau boleh jujur sebenarnya aku dan suamiku tidak pernah menginginkan Kai menikah dengan Medina. Keluarga mereka sangatlah gila harta, bahkan Kai sudah banyak mengeluarkan uang buat memenuhi semua keinginan Medina dan kedua orangtuanya."


Mama Arini menatap Luna dengan penuh harap. "Luna, Mama mohon kamu bertahanlah jadi istri Kai. Kami sudah lama menginginkan seorang cucu dan Medina tidak bisa mengabulkan keinginan kami, dia selalu bilang kalau dia belum siap," seru Mama Arini.


"Tapi Tuan Kai tidak mengharapkan anak ini, Nyonya," sahut Luna.


"Kamu jangan pikirkan Kai, pokoknya kamu jangan khawatir karena kami akan selalu membela kamu."


"Terima kasih, Nyonya."


Mama Arini memeluk Luna, sedangkan Bi Sum yang melihat dari kejauhan merasa sangat bahagia karena walaupun Kai tidak menginginkan Luna dan anaknya, tapi setidaknya kedua orangtua Kai menyayangi Luna.


***


Sore pun tiba, Kai dengan perasaan bahagia segera membereskan barang-barangnya karena sore ini Kai berencana mau mengajak Medina melihat rumah baru mereka.


"Mark, tolong kamu selesaikan pekerjaanku soalnya aku harus segera pulang, aku akan membawa Medina melihat rumah baru pasti Medina akan sangat bahagia," seru Kai dengan senyumannya yang mengembang.


"Oke."


Kai pun dengan terburu-buru, langsung meninggalkan kantornya. Kai segera menuju rumah mertuanya karena Medina memang saat ini sedang berada di sana.


Sesampainya di depan rumah mertuanya, Kai memutuskan menunggu di dalam mobil dan tidak mampir dulu. Selang beberapa saat, Medina pun keluar dari dalam rumahnya dan masuk ke dalam mobil Kai.


"Memangnya kita mau ke mana sih, Mas?" tanya Medina.


"Ke suatu tempat, pokoknya aku yakin kamu akan terkejut dan bahagia," sahut Kai.


Medina hanya memutar bola matanya jengah, sebenarnya dia sudah tahu Kai mau bawa dia ke mana karena Mark tadi siang sudah memberitahukannya.


Kai mulai melajukan mobilnya menuju rumah barunya itu, selama dalam perjalanan Kai mengajak Medina ngobrol tapi sayang, Medina hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa memperdulikan ocehan Kai.


Sehingga beberapa saat kemudian, mobil Kai pun sampai di rumah barunya itu.


"Ayo keluar."


Medina menyimpan ponselnya dan keluar dari dalam mobil Kai, Kai menggenggam tangan Medina dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu.


"Sayang, apa kamu suka?" tanya Kai dengan memeluk Medina dari belakang.


"Suka."


"Kamu tahu, aku sudah sejak lama menyiapkan rumah ini. Tadinya aku mau beritahu kamu di saat kamu ulang tahun, tapi sayang kamu mengalami kecelakaan dan aku harus menyimpan kejutan ini sampai kamu sembuh," seru Kai.


"Apa rumah ini atas namaku?" tanya Medina.


"Iyalah sayang, memang atas nama siapa lagi," sahut Kai.


Medina terlihat menyunggingkan senyumannya, Kai melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Medina supaya menghadap ke arahnya.


"Sayang, maafkan aku. Aku sadar dulu aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sampai-sampai aku jarang memperhatikanmu tapi mulai sekarang aku janji, aku tidak akan sibuk lagi dan di akhir pekan, aku tidak akan lembur. Pokoknya di saat weekend, aku akan ada di rumah menemanimu."


Kai menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya, Kai begitu sangat bahagia tapi berbeda dengan Medina yang terlihat tidak bahagia sama sekali.


"Kamu sudah terlambat Mas, perhatian yang aku inginkan itu dulu bukan sekarang. Dan sekarang aku sudah terlanjur nyaman bersama Mark, jadi apa pun yang akan kamu lakukan, itu tidak akan membuat aku bahagia," batin Medina.

__ADS_1


Awalnya Medina memang mencintai Kai, tapi semenjak Kai sibuk dengan pekerjaannya, Medina menjadi kesepian. Kai jarang pulang, bahkan Kai sering bepergian melakukan perjalanan bisnis ke luar kota maupun ke luar negeri dan dari sanalah, Mark mulai datang dan mengisi kekosongan hati Medina.


__ADS_2