
Pagi-pagi sekali Luna bangun dan langsung ke kamar mandi, seperti biasa tadi malam Kai menyerangnya tanpa henti apalagi sudah satu Minggu Kai berada di Amerika membuat dia rindu akan sentuhan Luna.
"Kenapa perutku mual sekali, ya," gumam Luna.
Luna muntah-muntah, tapi Luna sadar akan apa yang terjadi kepada dirinya.
"Apa jangan-jangan aku hamil lagi, soalnya memang aku sudah telat beberapa Minggu," gumam Luna.
Luna melanjutkan mandi, setelah selesai mandi dan berganti baju, Luna pun turun ke bawah untuk membuatkan sarapan untuk kedua jagoan Luna.
"Sepertinya aku harus periksa, jangan-jangan aku memang sedang hamil," batin Luna.
Luna tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang.
"Astagfirullah Mas, bikin kaget aja," seru Luna.
"Kamu masak apa?"
"Biasa, nasi goreng seafood kesukaanmu Mas."
"Astagfirullah, Mama sama Papa lagi ngapain?" teriak Fahmi dengan menutup wajahnya dengan tangannya.
Kai langsung melepaskannya dan mencubit pipi Fahmi.
"Papa sedang rindu saja sama Mamamu, memangnya Papa tidak boleh peluk-peluk Mama?" tanya Papa Kai.
"Bukannya tidak boleh, tapi jangan di depan Fahmi soalnya Fahmi yang malu."
Papa Kai mengacak-ngacak rambut Fahmi dengan gemasnya, kemudian keduanya duduk menunggu Luna selesai membuatkan nasi goreng.
"Selama satu Minggu ini kamu tidak nakal kan? tidak membuat Mama kesal?" tanya Papa Kai.
"Tidak dong Pa, Fahmi kan anak yang baik," sahut Fahmi.
"Papa cuma hanya mengingatkan sama kamu, bergaul lah dengan anak yang baik-baik jangan sampai kamu melakukan hal yang bisa merugikan diri kamu sendiri dan orangtuamu. Ingat, sekarang kamu adalah putra dari Kaisar Mahaprana seorang pengusaha yang kehidupannya menjadi sorotan jangan sampai kamu melakukan hal yang bisa memalukan nama baik Papa, paham!"
"Paham, Pa."
Luna segera menyiapkan nasi goreng buatannya, dengan lahapnya Fahmi maupun Kai melahapnya dengan sangat cepat membuat Luna terkekeh.
"Ma, nasi gorengnya ada sisanya gak?" tanya Fahmi.
"Ada, kenapa?"
"Boleh kan, Fahmi bawa untuk Aura."
"Aura? siapa dia? apa dia temanmu?" tanya Papa Kai.
"Iya Pa, dia teman Fahmi."
"Kenapa kamu memberinya nasi goreng buatan Mama? memangnya dia tidak bawa bekal?"
__ADS_1
"Papa ingat tidak, anak kecil penjual kerupuk kulit? itu yang namanya Aura, kasihan dia jarang sekali makan jadi Fahmi mau berikan nasi goreng ini untuk Aura."
"Kenapa kamu tahu dia jarang makan?" tanya Papa Kai penuh selidik.
Mama Luna yang tahu akan arah pembicaraan suaminya itu, berusaha menjelaskan.
"Begini Mas, Aura memang berjualan di depan sekolah Fahmi jadi Fahmi tahu karena waktu itu kita juga sempat membantu Aura karena dia kelaparan," sahut Mama Luna.
"Papa tidak suka kamu dekat-dekat dengan anak yang bernama Aura itu, di zaman seperti sekarang ini banyak sekali orang yang melakukan modus pura-pura miskin untuk mendapatkan belas kasihan dari orang-orang."
"Tapi Pa, Aura tidak pura-pura, dia memang anak yang serba kekurangan," sahut Fahmi.
"Pokoknya Papa tidak mau tahu, kamu jangan terlalu dekat dengan anak itu takutnya nanti kamu dimanfaatkan," kesal Papa Kai.
Fahmi menundukkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi sedih membuat Mama Luna pun merasa sedih.
"Sayang aku ke kantor hanya sebentar kok, nanti siang juga aku pulang lagi," seru Kai.
"Iya, Mas."
Papa Kai pun segera pergi ke kantor dan seperti biasa mengantarkan Fahmi ke sekolah terlebih dahulu. Selama dalam perjalanan, Fahmi sama sekali tidak bicara dia merasa marah kepada Papanya itu.
"Apa kamu marah sama Papa, Nak?" tanya Papa Kai.
Fahmi sama sekali tidak menjawab pertanyaan Papanya.
"Papa tidak bermaksud apa-apa, Papa hanya ingin kamu berhati-hati dalam bergaul. Kita kan, tidak tahu isi hati manusia. Papa takut kamu kenapa-napa, kehidupan di kota dan di kampung itu berbeda jadi kamu harus lebih berhati-hati."
"Tapi Aura anak yang baik kok, Pa. Dia tidak jahat," lirih Fahmi.
Fahmi menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang masih sedih, selama satu Minggu ini Fahmi bahkan ikut berjualan di jalan dan main ke rumah Aura. Fahmi tidak bisa membayangkan kalau Papanya tahu, bisa-bisa Fahmi di marahi abis-abisan.
Tidak lama kemudian, Fahmi pun sampai di sekolah dan terlihat Aura sudah duduk di pinggir sekolah.
"Papa tidak usah turun, Fahmi sudah besar bisa masuk sendiri."
"Oke, kalau begitu. Kamu hati-hati ya, nanti Papa dan Mama yang akan jemput kamu."
"Siap, Pa."
Fahmi pun segera mencium punggung tangan Papanya dan dengan cepat keluar dari dalam mobil Papanya itu. Fahmi pura-pura masuk ke dalam sekolah, padahal Fahmi bersembunyi di balik pintu gerbang menunggu Papanya pergi.
Setelah Papanya pergi, Fahmi kembali keluar dan memberikan nasi goreng untuk Aura.
"Aura, ini nasi goreng untukmu, dimakan ya," seru Fahmi.
"Terima kasih, Kak."
"Ya sudah, aku masuk dulu ya."
"Iya."
__ADS_1
Fahmi pun segera masuk ke dalam sekolah, sedangkan Aura tampak menyunggingkan senyumannya.
***
Sementara itu, di tempat lain Mama Luna sedang berada di rumah sakit. Dia benar-benar penasaran dengan keadaannya, dia yakin kalau saat ini dia sedang hamil.
Setelah melakukan pemeriksaan, Luna pun duduk di hadapan dokter kandungannya.
"Bagaimana dok? apakah perasaanku benar?" tanya Mama Luna.
"Iya Mba, saat ini Mba memang sedang mengandung, selamat ya."
"Alhamdulillah."
"Usia kandungan Mba baru 3 Minggu, jadi Mba harus berhati-hati. Saya memberikan resep ini, untuk vitamin supaya kandungannya kuat."
"Baik dok, terima kasih."
Luna benar-benar sangat bahagia, akhirnya dia dikaruniai lagi seorang anak.
"Pasti Mas Kai akan sangat bahagia," gumam Luna dengan mengusap perutnya.
Setelah diperiksa, Luna memutuskan untuk pulang dan menunggu Kai pulang dari kantor karena Kai bilang siang ini dia akan pulang.
Setelah menunggu beberapa jam, Kai pun pulang ke rumah. Kai sangat kaget saat tiba-tiba Luna datang dan langsung memeluknya.
"Hai, tumben pulang dari kantor disambut dengan pelukan? apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Kai.
Luna melepaskan pelukannya, dan dia menarik tangan Kai untuk mengikutinya ke dalam kamar.
"Sayang, aku baru pulang loh, masa iya sekarang kamu mau ngajak aku anu-anu," seru Kai dengan senyumannya.
Luna dengan cepat mencubit lengan Kai dengan gemasnya. "Otak Mas memang selalu mesum."
Sesampainya di dalam kamar, Luna segera mengambil hasil pemeriksaan dan hasil USG dari rumah sakit.
"Ini apa, sayang?"
"Buka saja."
Perlahan Kai pun membuka amplop itu, dan seketika Kai membelalakkan matanya.
"Kamu hamil lagi, sayang?"
"Iya."
"Ya ampun."
Kai langsung memeluk Luna. "Ternyata sebentar lagi Fahmi akan mendapatkan adik, pasti dia akan sangat bahagia," seru Kai.
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku sangat bahagia sekali terima kasih sayang."
Luna semakin mengeratkan pelukannya, begitu pun dengan Kai mereka sangat bahagia dengan anugerah yang sudah diberikan oleh Allah untuk keluarga mereka.