
Kai hari ini benar-benar sangat bahagia, dia langsung membawa Medina ke rumah kedua orangtuanya untuk memberitahukan perihal kehamilan istrinya itu.
Dengan antusias, Kai memperlihatkan hasil pemeriksaannya dengan Medina.
"Kamu hamil, Medina?" tanya Mama Arini.
"Iya Ma, baru 3 Minggu," sahut Medina dengan senyumannya.
Mama Arini memeluk Medina, tapi Mama Arini tidak bisa menyembunyikan perasaannya kalau Mama Arini sama sekali tidak merasa bahagia akan berita kehamilan Medina.
"Syukurlah kalau kamu hamil," seru Mama Arini dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kai bahagia sekali Ma, karena sebentar lagi Kai akan menjadi seorang Ayah," seru Kai dengan sangat antusias.
Sementara itu dari kejauhan, Bu Sum yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka hanya bisa terdiam dengan memegang dadanya sendiri.
"Ya Allah, kalau Nyonya Medina hamil, terus bagaimana dengan nasib Luna?" batin Bi Sum.
Setelah memberitahukan mengenai kehamilan palsunya, Medina pun mengajak Kai untuk pulang. Medina memanfaatkan Kai supaya Kai mau menuruti apa yang jadi keinginannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah.
"Bi Surti! Luna! ke sini kalian!" teriak Kai.
Bi Surti dan Luna pun segera menghampiri Kai, Kai merangkul pundak Medina membuat Luna menundukkan kepalanya.
"Aku umumkan, kalau saat ini istriku sedang hamil jadi, kalian harus mengikuti apa yang menjadi keinginan dari istri aku karena aku tidak mau kalau nanti calon anakku ini ngences," seru Kai dengan mengusap perut Medina.
Deg....
Luna sangat terkejut dengan ucapan Kai, bahkan saat ini matanya sudah terasa panas dan sebentar lagi rasanya airmatanya akan menetes.
"Maaf Tuan, Nyonya, aku ke belakang dulu," seru Luna dengan menundukkan kepalanya.
Kai memperhatikan kepergian Luna...
"Dia kenapa sih? main pergi saja, dasar anak pembantu tidak sopan," kesal Medina.
"Maaf Nyonya, mungkin Luna sedang mual karena memang Luna akhir-akhir ini sering merasakan mual kembali," sahut Bi Surti.
"Makanya kalau pacaran itu jangan sampai kebablasan, kalau sudah hamil kan gak ada yang tanggung jawab hanya menyusahkan diri sendiri saja," ketus Medina.
Medina pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua, sedangkan Kai dan Bi Surti saling pandang satu sama lain.
Tatapan Bi Surti semakin tajam kala mendengar hinaan Medina, padahal yang sudah membuat Luna seperti itu adalah suaminya sendiri.
"Kamu boleh kembali ke belakang, dan beri tahu kepada Luna kalau mulai sekarang, dia harus masak makanan yang sehat buat ibu hamil karena aku ingin kandungan istriku sehat," seru Kai.
__ADS_1
"Apa Tuan tidak memikirkan anak yang ada dalam kandungan Luna?" seru Bi Surti memberanikan diri.
Kai melotot ke arah Bi Surti. "Diam kamu Bi, anak itu ada karena kesalahan dan aku pun melakukannya tanpa sadar jadi Bibi jangan sekali-kali bicara seperti itu lagi apalagi kalau sampai istriku tahu, aku tidak akan segan-segan untuk memecat kalian semua," ancam Kai.
Dengan perasaan yang emosi, Kai pun segera menyusul Medina ke kamar sedangkan Bi Surti dengan cepat menyusul Luna.
Tok...tok..tok..
"Luna, apa Bibi boleh masuk!"
Luna segera menghapus airmatanya. "Boleh Bi, masuk saja."
Bi Surti masuk ke dalam kamar Luna, Bi Surti melihat kalau Luna habis menangis karena jejak-jejak airmatanya masih sangat terlihat.
"Luna!"
"Bi, Luna harus bagaimana sekarang? setelah Nyonya Medina hamil, sudah dipastikan Tuan Kai akan semakin melupakan anak ini," seru Luna.
"Kamu yang sabar ya Luna, Bibi mengerti akan perasaanmu semoga Tuan Kai diberikan hidayah."
"Kalau begini caranya, aku semakin tidak bisa meluluhkan hati Tuan Kai."
Bi Surti memeluk Luna dan mengusap kepala Luna, airmata Luna kembali menetes sungguh Luna tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan dia dan calon anaknya untuk ke depannya.
Malam pun tiba....
"Mas, kaki aku pegal-pegal," rengek Medina.
Kai yang saat itu sedang mengotak-ngatik laptopnya, seketika mematikannya dan mulai memijit kaki Medina.
"Mulai sekarang kamu jangan banyak kegiatan ya, kalau mau apa-apa kamu telepon saja ke bawah biar para pembantu yang bawakan keinginan kamu."
"Oke, Mas."
***
Keesokan harinya....
Medina terlihat masih terlelap tidur, sedangkan Kai sudah siap-siap hendak pergi ke kantor. Kai menghampiri Medina dan mencium kening Medina dengan penuh kasih sayang, lalu Kai mengusap perut Medina.
"Papa berangkat kerja dulu Nak, sehat-sehat ya di dalam perut Mama," gumam Kai dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Kai pun segera keluar dari dalam kamar meninggalkan Medina yang sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi dia pura-pura tidur.
"Ternyata ada bagusnya juga aku pura-pura hamil, jadi aku tidak usah menyiapkan keperluan dia ke kantor karena semua itu sangatlah menyusahkan," batin Medina dengan senyumannya.
Pagi ini tidak biasanya wajah Kai tampak berseri-seri karena dia sangat bahagia akhirnya Medina hamil tanpa tahu kalau Medina hanya berpura-pura saja.
__ADS_1
Luna tidak bicara apa pun, dia menyiapkan sarapan untuk Kai dan setelah itu Luna pun pergi.
"Tunggu!"
Luna menghentikan langkahnya. "Iya Tuan, ada apa?"
"Tolong kamu bawakan sarapan untuk Medina ke atas karena aku tidak mau Medina sampai kelelahan, apalagi saat ini Medina sedang hamil muda jadi dia tidak boleh naik turun tangga," seru Kai.
Hati Luna sangat sakit mendengar itu, dengan menahan air matanya Luna pun menganggukkan kepalanya dan dengan cepat pergi meninggalkan Kai.
Luna menyiapkan sarapan untuk Medina...
"Luna, biar Bibi yang bawakan nampan itu ke atas."
"Tapi Bi, Luna takut Tuan Kai marah kalau Bibi yang membawakan sarapan untuk Nyonya Medina, soalnya Tuan Kai menyuruh Luna."
"Iya, maksudnya Bibi bantu bawa nampannya saja nanti di atas kamu yang masuk ke dalam kamar Nyonya Medina."
"Oh begitu, terima kasih Bi."
Terlihat Kai sudah berangkat ke kantor dan Luna segera ke atas untuk memberikan sarapan kepada Medina dengan dibantu oleh BI Surti.
"Terima kasih Bi, sekarang Bibi boleh ke bawah."
"Baiklah."
Tok..tok..tok..
"Nyonya, ini saya bawakan sarapan untuk Nyonya!"
"Masuk."
Perlahan Luna masuk, terlihat Medina sedang menelepon seseorang.
"Simpan saja di atas meja, setelah itu kamu keluar dari kamar ini."
"Baik, Nyonya."
📞"Apa, ada kerjaan ke luar kota? berarti kita bisa berduaan dong," seru Medina.
Luna yang hendak keluar dari kamar Medina, tampak mengerutkan keningnya saat mendengar percakapan Medina dengan seseorang yang entah siapa itu.
"Nyonya Medina sedang bicara dengan siapa?" batin Luna.
📞"Pokoknya selama dia pergi, kamu harus ajak aku ke pantai karena kamu kan, sudah janji."
Luna segera keluar dari kamar Medina, dia takut Medina marah kalau masih berada di dalam kamar.
__ADS_1
Luna tampak berpikir, ada yang aneh dengan Medina soalnya Medina berbicara seperti bukan dengan Kai.