
Hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun sudah dilalui tanpa terasa saat ini adalah kelulusan Fahmi dari sekolah dasar.
Mama Luna dan Papa Kai menghadiri acara kelulusan putra kebanggaan mereka dengan suka cita, adik perempuan Fahmi yang diberi nama Farah pun ikut duduk di samping kedua orangtuanya karena saat ini adiknya Fahmi duduk di bangku kelas 4 SD.
"Fahmi tampan sekali ya, Mas," seru Mama Luna.
"Kakak siapa dulu dong," sahut Farah.
Mama Luna dan Papa Kai tampak menyunggingkan senyumannya, berbeda dengan Fahmi yang tumbuh menjadi anak yang ramah, baik hati, dan juga penyayang, justru Farah sebaliknya darah Papanya mengalir deras di tubuh Farah.
Farah tumbuh menjadi anak yang angkuh, judes, dan juga galak bahkan Farah terlihat sangat over protektif kepada Kakaknya sehingga tidak ada anak perempuan yang berani mendekati Fahmi.
Fahmi berlari menuju kedua orangtua dan juga adiknya.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu lulus dengan nilai terbaik," seru Mama Luna.
"Anak Papa memang hebat, Papa bangga sama kamu Nak," sambung Papa Kai.
Sedangkan Farah langsung memeluk Kakaknya itu membuat Fahmi tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Farah dengan gemasnya.
"Acaranya sudah selesai kan? ayo kita pulang, ada sesuatu yang mau Papa bicarakan kepada kalian semua," seru Papa Kai.
Akhirnya mereka pun pergi dari sekolah, di saat mereka keluar dari sekolah, Fahmi dan Mama Luna melihat kalau Aura sedang jualan kerupuk kulit andalannya. Fahmi dan Mama Luna tampak tersenyum, karena saat ini Aura sedang banyak pembeli jadi dia tidak melihat Fahmi dan keluarganya.
"Ayo cepat masuk, Kak!" teriak Farah.
Aura menoleh saat mendengar teriakan Farah, lalu menyunggingkan senyuman ke arah Fahmi dan tentu saja Fahmi membalas senyuman Aura.
Fahmi dan Mama Luna memang menyembunyikan kedekatan mereka dengan Aura dari Papa Kai dan juga Farah.
Fahmi suka sembunyi-sembunyi saat ingin bertemu dengan Aura, dia takut ketahuan oleh Farah dan nanti Farah akan melaporkannya kepada Papanya.
Mobil Papa Kai pun segera meninggalkan sekolah dan melaju menuju sebuah restoran karena ada sesuatu yang mau Papa Kai bicarakan entah apa itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Papa Kai menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah.
"Ayo semuanya keluar!"
Semuanya pun keluar dan masuk ke dalam restoran mewah itu, Papa Kai menyewa privat room karena dia sengaja ingin merayakan kelulusan Fahmi secara kecil-kecilan.
__ADS_1
"Ayo, semuanya masuk," seru Papa Kai.
Pelayan restoran membukakan pintu ruangan privat itu dan betapa terkejutnya istri dan anak-anaknya saat melihat suasana di dalam ruangan privat itu.
Ruangan itu sudah dihias dengan bunga dan balon-balon yang sangat indah, serta tulisan ucapan selamat untuk Fahmi.
"Wow, indah sekali. Kapan kamu menyiapkan semua ini, Mas?" tanya Mama Luna.
"Tadi pagi."
"Hah, tadi pagi? masa sih?"
"Mama lupa ya, siapa Papa? bahkan Papa bisa menyiapkan hal kaya gini dalam waktu sekejap," seru Fahmi.
"Papa kita kan, pesulap ya, Kak?" celetuk Farah.
Semuanya tertawa mendengar celotehan Farah, Papa Kai pun mengajak semuanya makan terlebih dahulu dan mereka tampak sangat bahagia.
Hingga beberapa saat, mereka selesai makan.
"Apa yang ingin Papa bicarakan dengan kita semua?" tanya Fahmi.
"Begini, kemarin Papa tanda tangan kontrak dengan sebuah perusahaan besar yang ada di Belanda. Selama kontrak itu berjalan, Papa otomatis harus tinggal di sana karena Papa juga harus ikut mengamati jalannya perusahaan itu. Papa tidak mungkin tinggal sendirian di sana, jadi Papa akan mengajak kalian semua untuk pindah ke sana," seru Papa Kai.
"Kok mendadak banget sih Mas? terus sekolah anak-anak bagaimana?" tanya Mama Luna.
"Terpaksa, Fahmi dan Farah sekolah di sana."
"Fahmi gak mau pindah Pa, Fahmi ingin tetap tinggal di sini," rengek Fahmi.
"Kamu mau tinggal sama siapa di sini? Kakek dan Nenek kamu sudah berada di Perancis, lagipula Papa tidak bisa meninggalkan kalian semua di sini," sahut Papa Kai.
"Tapi Pa------"
"Pokoknya tidak ada tapi-tapian, Papa sudah mengurus semuanya setidaknya kita semua akan tinggal di sana sampai kontrak Papa dengan perusahaan asing itu berakhir!" tegas Papa Kai.
"Berapa lama, Pa?" tanya Fahmi.
"4 tahun."
__ADS_1
Fahmi tampak sedih, kalau dia pindah berarti dia tidak akan bertemu lagi dengan Aura dan Fahmi tidak mau seperti itu.
Tapi keputusan Papa Kai tidak bisa dirubah, jadi mau tidak mau Fahmi harus mengikutinya walaupun pada kenyataannya hati Fahmi tidak menginginkannya.
Selama dalam perjalanan, Fahmi tidak bicara sama sekali dan Mama Luna tahu dengan perasaan putranya itu.
Sesampainya di rumah, Fahmi langsung masuk ke dalam kamarnya. Mama Luna dengan cepat menyusul Fahmi ke dalam kamarnya.
"Fahmi," seru Mama Luna dengan menyentuh pundak putranya itu.
"Ma, kalau kita pindah, bagaimana dengan Aura? Fahmi tidak tega kalau harus meninggalkan Aura seorang diri."
"Iya, Mama ngerti tapi mau bagaimana lagi, keputusan Papamu tidak bisa dirubah."
Fahmi menundukkan kepalanya, sungguh dia sangat berat untuk meninggalkan Aura.
"Kamu jangan khawatir, Mama sudah melunasi biaya kontrakan dia untuk satu tahun ke depan bahkan Mama juga sudah mendaftarkan dia ke SMP terdekat di sana. Walaupun Aura masih lama lulus SD, tapi setidaknya kamu tidak usah khawatir dengan pendidikan Aura nanti kalau sudah lulus SMP, mungkin Aura sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, Mama yakin karena Aura anak yang rajin dan pintar."
Fahmi tidak bicara sama sekali, dalam hatinya dia tetap saja tidak mau berpisah dengan Aura.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana dan beres-beres barang-barang yang mau kamu bawa."
Mama Luna pun keluar dari kamar Fahmi, dan Fahmi masih saja duduk terdiam.
"Aku harus bertemu Aura dulu," batin Fahmi.
Fahmi pun segera mandi dan meminta izin kepada Mamanya untuk menemui Aura, masih untung Papa Kai sedang pergi ke kantor karena ada urusan penting dan Farah pun sedang tidur siang.
Fahmi diantar oleh Pak Nurdin, sesampainya di kontrakan ternyata Aura belum pulang masih berjualan di jalan. Fahmi pun menyusul Aura ke jalan yang biasa dia jualan tapi Fahmi sama sekali tidak menemukan Aura.
"Aura ke mana? kok gak ada?" batin Fahmi.
"Mungkin Aura jualan di tempat lain, Den."
"Gak mungkin Pak, Aura tidak mungkin jualan ke mana-mana."
Sementara itu, saat ini Aura sedang berada di sebuah klinik karena terserempet mobil dan pemilik mobil membawa Aura ke klinik untuk mendapatkan pengobatan.
Aura mengalami luka ringan dan lecet di bagian siku dan lutut, Aura sudah bilang tidak apa-apa tapi pemilik mobil itu bersikeras membawa Aura ke klinik.
__ADS_1
Berbeda dengan Fahmi, yang memutuskan untuk menunggu di depan kontrakan Aura karena dia tidak punya waktu lagi soalnya besok pagi-pagi dia akan pergi ke Belanda dan dia tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di sana.
"Kamu ke mana, Aura?" batin Fahmi.