
Setelah membujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya Luna menyetujui permintaan Kai untuk kembali ke Jakarta. Fahmi sangat bahagia sekali, akhirnya impian dia menjadi seorang anak dari orang kaya akan tercapai.
"Rumah ini akan aku renovasi, jika suatu saat nanti kalian rindu ingin pulang ke sini, rumah ini sudah bagus," seru Kai.
Luna hanya bisa menganggukkan kepalanya, setelah siap dengan barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta, Kai pun segera mengajak Luna dan Fahmi berangkat.
Luna duduk di depan bersama Ibnu, sedangkan Kai duduk di belakang bersama Fahmi. Selama dalam perjalanan, Kai dan Fahmi tampak bercanda satu sama lain bahkan Kai memberikan note booknya dan mengajari Fahmi untuk bermain game.
"Pa, apa Papa tahu, dari dulu Fahmi ingin sekali punya ponsel tapi Fahmi gak berani bilang sama Mama karena Fahmi tahu Mama belum punya uang," seru Fahmi.
Kai mengusap kepala Fahmi dengan senyumannya. "Nanti setelah sampai di Jakarta, kita beli ponsel untukmu ya."
"Asyik, beneran Pa?"
"Iya."
Fahmi terlihat sangat bahagia, berbeda dengan Luna yang hanya bisa diam dan Kai pun melirik ke arah Luna dengan senyumannya.
Setengah perjalanan, Luna tampak mengerutkan keningnya karena suara Fahmi dan Kai sudah tidak terdengar lagi. Luna membalikan tubuhnya, ternyata Kai dan Fahmi sudah tertidur membuat Luna menyunggingkan senyumannya.
"Fahmi mirip sekali dengan Tuan Kai," seru Ibnu.
"Iya, tidak ada satu pun yang terlewatkan," sahut Luna.
Cukup lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di Jakarta. Kai meminta Ibnu untuk mampir dulu ke sebuah mall yang ada di sana.
"Ayo, keluar," seru Kai.
Fahmi tampak celingukan, dia takjub akan bangunan yang besar itu.
"Ini apa, Pa?" tanya Fahmi polos.
"Ini namanya Mall."
"Mall itu apa?"
Kai tersenyum. "Ayo, pokoknya kita masuk nanti kamu juga akan tahu."
Kai menarik tangan Fahmi, dan mereka pun masuk ke dalam Mall. Sedangkan Luna dan Ibnu mengikuti mereka dari belakang. Fahmi adalah anak kampung yang sama sekali tidak tahu akan dunia modern, Fahmi benar-benar takjub dengan isi Mall yang serba ada dan lengkap itu.
"Apa kamu ingin membeli mainan?" tanya Kai.
"Tidak Pa, Fahmi sudah besar lagipula kata Mama lebih baik uangnya di tabung daripada buat beli mainan yang tidak berguna," sahut Fahmi.
__ADS_1
"Pintar kamu, terus sekarang kamu mau apa?"
"Fahmi ingin ke tempat mainan itu," tunjuk Fahmi.
"Oke, let's go!"
Luna hanya bisa tersenyum, bahkan baru pertama kali ini Luna melihat wajah riang Kai. Tanpa sadar, Kai memang sangat bahagia bisa bersama dengan anaknya.
Kai dan Fahmi mencoba berbagai mainan di sana, Kai tertawa lepas membuat Luna seketika kembali terpesona kepada sosok pria yang sudah membuat dia jatuh cinta dan sakit hati dalam waktu yang bersamaan.
"Saya baru pertama kali bisa melihat Tuan Kai tertawa lepas seperti itu, memang semenjak Tuan Kai berpisah dengan Nyonya Medina, Tuan Kai selalu murung dan dia juga meminta saya untuk mencari keberadaan Nyonya Luna dan Fahmi," seru Ibnu.
"Aku juga bahagia Mas, Alhamdulillah akhirnya Tuan Kai mau mengakui Fahmi sebagai anaknya," sahut Luna.
Tidak lama kemudian, Kai datang menghampiri Luna dan Ibnu dengan napas yang ngos-ngosan.
"Nu, tolong kamu jagain Fahmi, aku capek."
"Baik Tuan."
Kai duduk di samping Luna, memang di depan permainan itu ada stand makanan dan dari sana Luna bisa memantau anaknya.
"Terima kasih Tuan, sudah membuat Fahmi bahagia," seru Luna.
Luna menundukkan kepalanya, dan meremas kedua tangannya karena merasa gugup duduk di dekat Kai.
"Terima kasih sudah menjaga Fahmi dengan sangat baik, terima kasih sudah merawatnya dengan sangat baik, dan terima kasih sudah mendidik Fahmi menjadi anak yang Sholeh seperti itu."
"Itu sudah menjadi tugas aku Mas, karena aku ibunya."
"Maafkan atas semua perlakuanku dulu, satu hal yang harus kamu tahu, aku akan mendaftarkan pernikahan kita supaya pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Walaupun untuk saat ini aku belum bisa mencintai kamu, tapi aku janji akan menjadi suami dan Papa yang baik untuk kamu maupun Fahmi," seru Kai.
Pandangan Kai lurus melihat ke arah Fahmi yang sedang bermain, sedangkan Luna menatap wajah Kai dengan hati yang sedikit sakit.
"Ternyata Mas Kai memang tidak mencintai aku, dan sebaiknya aku tidak usah mengharapkan apa-apa lagi untuk saat ini. Setidaknya dengan Mas Kai mau mengakui Fahmi saja, aku sudah sangat bahagia," batin Luna.
Fahmi sangat bahagia, setelah puas bermain Fahmi pun segera menghampiri Luna dan Kai.
"Apa kamu bahagia, Nak?" tanya Luna.
"Bahagia sekali, Ma."
"Kamu lapar tidak? bagaimana kalau kita makan dulu," seru Kai.
__ADS_1
"Iya, Fahmi lapar banget."
Kai kembali menggandeng tangan Fahmi, dan membawa Fahmi makan di tempat makanan siap saji karena Fahmi ingin makan ayam dan burger.
Fahmi makan dengan lahapnya membuat Kai dan Luna tersenyum. Setelah kenyang, Kai pun mengajak Luna dan Fahmi pulang karena Mama dan Papanya sudah menunggu.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah Mama Arini dan juga Papa Mahaprana.
"Apa ini rumah Papa?" tanya Fahmi.
"Bukan sayang, ini rumah Oma dan Opa kita bertemu dengan mereka dulu ya, setelah itu baru kita pulang ke rumah kita," sahut Kai.
Luna kembali mengikuti Kai dari belakang, sedangkan Ibnu menunggu di dalam mobil saja.
"Ma, Pa, lihatlah Kai bawa siapa?" seru Kai.
Mama Arini dan Papa Mahaprana menoleh, mereka melihat Luna dan anak kecil.
"Luna."
"Apakabar, Ma."
Luna segera melangkahkan kakinya dan memeluk Mama Arini.
"Ya Allah Luna, kamu ke mana saja Nak? hilang bagai ditelan bumi."
"Maafkan Luna, Ma."
Papa Mahaprana melihat ke arah Fahmi dan berjongkok di hadapan Fahmi.
"Nama kamu siapa?"
"Fahmi, Tuan."
Mata Papa Mahaprana berkaca-kaca. "Jangan panggil Tuan, panggil saja Opa."
"Iya, Opa."
Papa Mahaprana langsung memeluk Fahmi, airmatanya akhirnya menetes juga. Begitu pun dengan Luna dan Mama Arini yang ikut meneteskan airmatanya.
"Wajah kamu tampan sekali mirip sekali dengan Papamu," seru Papa Mahaprana.
Mereka semua berbincang-bincang sebentar melepas rasa rindu, hingga akhirnya Kai pun mengajak Luna dan Fahmi untuk pulang ke rumah Kai.
__ADS_1