Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 38 Tertangkap Basah


__ADS_3

Malam pun tiba...


"Sayang, mulai malam ini kamu tidurnya di kamar kamu, ya," seru Kai.


"Kenapa? Fahmi tidak mau tidur sendirian," sahut Fahmi.


"Sayang, kamu kan sudah besar masa mau tidur terus sama Mama dan Papa? malu dong, teman-teman kamu juga pasti tidurnya sudah sendirian," bujuk Kai.


"Tidak mau, pokoknya Fahmi ingin tidur di sini," sahut Fahmi dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Luna terkekeh melihat kelakuan keduanya, Luna tahu kalau suaminya itu ingin sesuatu.


"Kalau begini caranya, aku menyesal sudah punya Fahmi," bisik Kai dengan kesalnya.


Luna mencubit lengan Kai dengan sangat keras membuat Kai meringis kesakitan.


"Kok kamu cubit aku sih?" keluh Kai.


"Kenapa Mas ngomongnya seperti itu? jadi Mas menyesal punya Fahmi gitu?" kesal Luna.


"Astaga, bukan begitu sayang," bujuk Kai.


"Mas memang keterlaluan."


Luna segera merebahkan tubuhnya di samping Fahmi dan menutup tubuhnya juga, Kai hanya bisa mengusap wajahnya kasar.


Akhirnya dengan terpaksa, Kai pun ikut merebahkan tubuhnya. Kai sama sekali tidak bisa tidur, hingga beberapa saat kemudian Kai pun melihat Fahmi.


"Sepertinya Fahmi sudah tidur nyenyak," batin Kai.


Perlahan Kai mengangkat tubuh Fahmi dengan sangat hati-hati karena takut bangun membuat Luna yang belum tidur juga langsung membuka matanya.


"Mas mau bawa Fahmi ke mana?" bisik Luna.


"Mau pindahkan dia ke kamarnya."


Kai dengan cepat membawa Fahmi ke dalam kamarnya dan Luna tidak bisa berbuat apa-apa.


Perlahan Kai merebahkan tubuh Fahmi dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak ya Nak, jangan ganggu Papa bukannya kamu ingin adik? saat ini Papa sedang rajin-rajinnya bikin adik buat kamu," batin Kai dengan senyumannya.


Setelah itu, dengan mengendap-ngendap Kai pun keluar dari dalam kamar Fahmi. Dengan penuh semangat, Kai segera berlari masuk ke dalam kamarnya tapi di saat sampai di kamarnya, ternyata Luna sudah tertidur.


Kai naik ke atas ranjang dan memeluk Luna dari belakang.


"Sayang, kok kamu sudah tidur sih?" rengek Kai.


Luna sama sekali tidak membuka matanya, Kai tidak kehabisan akal dia pun menyingkap selimut Luna dan dengan cepat melepaskan tali baju tidur yang digunakan Luna. Dia tidak peduli Luna mau tidur atau tidak yang jelas saat ini hasratnya harus tersalurkan lagi.


Luna langsung menahan tangan Kai. "Mau ngapain?" tanya Luna.


"Mau bikin adik buat Fahmi," sahut Kai dengan sengirannya.


"Tidak bisa, aku masih marah sama kamu Mas," kesal Luna.


Luna mengubah posisinya dengan membelakangi Kai, tapi Kai tidak mau kalah dia pun terus saja melepaskan baju tidur Luna dengan paksa.


"Hai, Mas mau memperkosa aku lagi?"


"Mana ada suami memperkosa istrinya."


Akhirnya malam itu, proses pembuatan adik Fahmi kembali terjadi.


***


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali Fahmi sudah bangun dan dia sangat kesal karena Papanya sudah memindahkan dia ke kamarnya, akhirnya dengan kesal Fahmi pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar kedua orangtuanya.


Luna dan Kai masih terlelap, mereka memang bergadang tadi malam.


Luna mulai menggerakkan tubuhnya, sungguh tubuhnya serasa pegal-pegal karena Kai sudah menyerangnya tanpa ampun.


Perlahan, Luna mulai membuka matanya tapi betapa terkejutnya Luna saat melihat Fahmi sudah berada di sana berdiri di atas ranjang menatap Luna dan Kai dengan tatapan kesalnya.


"Ya Allah Fahmi, sedang apa kamu di sini?" seru Luna panik.


Luna segera menutup tubuhnya dengan selimut karena saat itu Luna belum memakai bajunya sama sekali, Luna juga menutup tubuh Kai yang sama-sama masih belum memakai baju.

__ADS_1


"Apaan sih sayang, gerah tahu," seru Kai dengan menyingkap selimutnya.


Luna semakin panik, dia pun kembali menutup tubuh Kai.


"Mas bangun," seru Luna.


"Bentar lagi sayang, masih ngantuk."


Kai malah membalikan tubuhnya dan memeluk Luna membuat Luna semakin panik dan berusaha melepaskan pelukan Kai.


"Bangun Mas, ada Fahmi," bisik Luna.


"Masa sih, ini masih pagi Fahmi mana mungkin sudah bangun," sahut Kai.


"Papaaaaa....Mamaaaa...."


Fahmi berteriak sekuat tenaga membuat Kai kaget dan langsung terbangun, sedangkan Luna tampak menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut karena merasa sangat malu.


"Fahmi, ngapain kamu di sini?" tanya Kai gugup.


"Kenapa Papa pindahin Fahmi ke kamar Fahmi?" geram Fahmi.


"Kan, Papa sudah bilang Fahmi sudah besar jadi harus tidur sendiri," sahut Kai.


"Terus, kenapa Mama dan Papa tidurnya gak pakai baju? kalian kan suka bilang sama Fahmi kalau tidur itu harus pakai baju biar gak masuk angin, tapi sekarang Mama dan Papa malah gak pakai baju, memangnya kalian tidak dingin?"


Seketika wajah Kai berubah menjadi merah bagaikan kepiting rebus, begitu pun dengan Luna yang masih bersembunyi di dalam selimut.


Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa.


"Fahmi itu apa?" seru Kai dengan menunjuk ke arah pintu.


Fahmi pun menoleh ke arah pintu, dan Kai dengan cepat mengambil celana boxer nya dan segera memakainya.


"Apa Pa? gak ada apa-apa?" seru Fahmi.


Kai bangkit dan segera menggendong Fahmi. "Sekarang kita mandi ya, biar Papa yang mandiin kamu," seru Kai mengalihkan pembicaraan.


Kai pun segera membawa Fahmi ke kamarnya untuk memandikan Fahmi, sedangkan Luna dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh pagi ini Luna dan Kai dibuat salah tingkah oleh anak sendiri seperti sudah tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2