
Semenjak pertemuannya itu, Fahmi menjadi sering datang ke rumah Aura bahkan Fahmi juga ikut berjualan di jalan membantu Aura.
Aura dan Fahmi saat ini sedang menghitung uang hasil jualan mereka hari ini, Ibu Ami tersenyum sembari membuatkan pisang goreng untuk keduanya.
"Huawaaa...hari ini kita dapat uang banyak!" teriak Aura kegirangan.
"Iya, Alhamdulillah," sahut Fahmi.
"Ini berkat Kak Fahmi yang bantuin Aura berjualan."
"Nak Fahmi, apa Mama dan Papa kamu tidak akan marah jika kamu membantu Aura berjualan di jalan," seru Ibu Ami.
"Mama tidak akan marah, kalau Papa sepertinya tidak tahu," sahut Fahmi.
"Sudah, kamu jangan bantuin Aura lagi nanti Papa kamu marah. Kamu kan tidak biasa panas-panasan di jalan, kalau Aura sudah terbiasa."
"Tidak apa-apa, Bu."
Ibu Ami pun membawakan sepiring pisang goreng. "Ini, Ibu buatkan pisang goreng untuk kalian."
"Terima kasih, Bu."
Baru saja mereka melahap pisang gorengnya satu suap, tiba-tiba pintu kontrakan itu terbuka dengan sangat kencangnya membuat mereka tersentak kaget.
"Wow, enak sekali kalian makan sedangkan aku sangat kelaparan," seru Ayah Mail dengan mengambil piring pisang goreng itu.
Ayah Mail sudah satu Minggu tidak pulang dan itu memang sudah biasa untuk Aura dan Ibu Ami. Mereka tahu, kalau Ayah Mail tidak pulang itu tandanya Ayah Mail punya uang hasil dari berjudinya dan kalau dia pulang sudah dipastikan uangnya habis.
"Mana nasinya, aku sangat lapar."
"Aku belum masak nasi Mas, soalnya nasinya juga baru mau beli," sahut Ibu Ami.
Ayah Mail yang melihat uang yang masih berada di tangan Aura langsung merampasnya dengan paksa membuat Aura menangis.
"Jangan diambil uangnya Yah, itu untuk beli beras," rengek Aura.
__ADS_1
"Alah, anak kecil diam kamu, kamu bisanya menyusahkan saja!" sentak Ayah Mail.
"Maaf Pak, kenapa Bapak tidak bekerja? kenapa Bapak mengambil uang Aura?" seru Fahmi.
Ayah Mail menoleh, dia baru sadar kalau di sana ada seorang anak laki-laki. Ayah Mail memperhatikan penampilan Fahmi dari atas hingga bawah.
"Sepertinya kamu anak orang kaya, sedang apa kamu di sini?" tanya Ayah Mail.
"Aku sedang main dengan Aura."
"Pasti kamu ke sini di berikan bekal uang kan oleh orangtuamu, sini mana uang kamu," seru Ayah Mail dengan menggeledah saku celana Fahmi.
"Astagfirullah Mas, kamu jangan seperti itu," seru Ibu Ami.
"Diam kamu."
Hingga akhirnya Ayah Mail menemukan uang dua ratus ribu dari kantong celana Fahmi.
"Dasar anak orang kaya, sekecil ini sudah dikasih uang sebanyak ini," seru Ayah Mail.
Aura yang melihat itu, langsung menghampiri Ayahnya dan berusaha mengambil uang Fahmi.
"Hai, anak kecil ribet banget sih jadi anak."
Ayah Mail mendorong Aura sehingga Aura tersungkur ke lantai dan lutut Aura berdarah.
"Aura, kamu tidak apa-apa?" seru Fahmi.
"Kak Fahmi, ambil uangnya, itu kan uang Kak Fahmi."
"Tidak apa-apa."
"Tapi kan, bagaimana kalau Mama dan Papa Kak Fahmi marah, nanti Kak Fahmi gak boleh main lagi sama Aura," seru Aura dengan deraian airmata.
Fahmi menghapus airmata Aura dengan tangannya. "Sudah jangan menangis, tidak apa-apa kok."
__ADS_1
"Mas memang keterlaluan, keluarga Fahmi sudah sering membantu kita seharusnya Mas berterima kasih kepada anak ini bukannya malah mengambil uangnya!" bentak Ibu Ami.
Plaaaakkk...
Ayah Mail menampar Ibu Ami dengan sangat keras, membuat Fahmi dan Aura membelalakkan matanya.
"Alah, jangan banyak bacot kamu, seharusnya anak orang kaya seperti dia itu kita manfaatkan," seru Ayah Mail.
Ayah Mail tersenyum dan kembali pergi dari rumah itu dengan tidak tahu dirinya.
"Nak Fahmi maafkan Ayah Aura ya, nanti uang yang diambil Ayah Aura akan Ibu ganti," seru Ibu Ami.
"Tidak usah Bu, tidak apa-apa."
Tidak lama kemudian, sopir pribadi Mama Luna datang.
"Den Fahmi, kata Nyonya, Den Fahmi harus segera pulang soalnya Tuan sebentar lagi kembali dari Amerika takutnya Tuan menanyakan keberadaan Den Fahmi."
"Oke. Aura aku pulang dulu ya, aku janji akan datang ke sini lagi," seru Fahmi.
"Iya Kak."
"Bu, Fahmi pulang dulu."
"Iya Nak, kamu hati-hati."
Fahmi pun akhirnya pulang, Papa Kai memang tidak mengetahui kalau Fahmi punya teman Aura karena Mama Luna memang tidak memberitahukannya takut Papa Kai marah.
Selama main di rumah Aura, Fahmi ditemani oleh sopir pribadi Mama Luna jadi dia tahu apa yang terjadi kepada Fahmi.
"Pak, jangan bilang Mama dan Papa kalau tadi aku ikut jualan di jalan, ya," seru Fahmi.
"Baik, Den."
Fahmi tahu kalau Papanya itu berbeda sekali dengan Mamanya. Kalau Papanya sangat teliti dalam pergaulan Fahmi karena seorang anak Kaisar Mahaprana, Papa Kai tidak mengizinkan anaknya bergaul dengan sembarangan orang.
__ADS_1
Berbeda dengan Mama Luna yang membebaskan anaknya bergaul dengan siapa pun, karena Mama Luna dan Fahmi pernah merasakan hidup di bawah dan itu sangat tidak menyenangkan apalagi saat Fahmi dijauhi teman-temannya karena Fahmi seorang anak miskin dan itu membuat Mama Luna sangat sedih.
Maka dari itu, Mama Luna tidak mempermasalahkan Fahmi mau bergaul dengan siapa pun karena Mama Luna mengajarkan kepada Fahmi supaya jangan menjadi anak yang sombong.