
Sekuriti tampak mengerutkan keningnya saat Bu Ami hanya diam saja.
"Bu, saya tanya sekali lagi, apa benar ini suami Ibu?"
Bu Ami tersentak. "I-iya Pak, dia suami saya," sahut Bu Ami gugup.
"Nah kan benar, kamu tidak percaya sekali sama saya," kesal Ayah Mail.
Sekuriti pun membukakan gerbang dan Ayah Mail segera masuk.
"Tadi saya di suruh pemilik rumah ini untuk datang ke sini, iya kan, Bu?" seru Ayah Mail dengan melotot ke arah Bu Ami.
"I-iya Pak."
"Baiklah."
Bu Ami menyimpan kantong sampah dan menarik tangan suaminya dan membawanya ke dapur.
"Kamu kenapa datang ke sini, Mas? kalau Pak Kai dan Bu Luna sampai tahu, mereka bisa marah!" kesal Bu Ami.
Ayah Mail tidak mendengarkan ucapan istrinya itu, dia hanya sibuk memperhatikan rumah itu.
"Wah, rumahnya besar sekali mana barang-barangnya terlihat mahal-mahal," seru Ayah Mail.
"Mas jangan macam-macam, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sebelum Bu Luna tahu. Aku tidak mau ya, sampai di pecat dari rumah ini karena Bu Luna sudah terlalu baik sama aku dan Aura," kesal Bu Ami.
"Baiklah, aku akan pergi dari sini tapi kamu harus memberi aku uang dulu."
"Gila kamu Mas, aku tidak punya uang sama sekali bahkan aku baru 2 hari bekerja di sini."
"Kamu kan bisa kasbon dulu."
"Astagfirullah Mas, aku gak berani dan aku malu. Sudah sana, Mas pergi dari sini," seru Bu Ami dengan mendorong tubuh suaminya untuk pergi dari rumah itu.
"Aku tidak akan pergi kalau kamu belum memberikan uang untukku."
"Mas, tolong jangan buat aku dan Aura malu, Bu Luna sudah terlalu baik sama aku dan Aura jadi Mas jangan macam-macam," mohon Bu Ami.
Ayah Mail terlihat sangat kesal, hingga dia pun tampak celingukan dan ternyata di sana dia melihat sebuah sepatu sport milik Papa Kai.
Ayah Mail mengambil sepatu itu dari rak sepatu khusus yang terbuat dari kaca.
"Wah, sepatu ini sepertinya mahal, kalau aku jual pasti aku akan mendapatkan uang banyak," seru Ayah Mail dengan senyumannya.
"Jangan Mas, nanti kalau ketahuan aku bisa dipecat," sahut Bu Ami.
__ADS_1
Bu Ami hendak merebut sepatu dari tangan suaminya itu, tapi Ayah Mail segera menghindar dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Mas, aku mohon jangan ambil sepatu itu."
"Apaan sih, siapa suruh kamu tidak mau memberiku uang jadi aku ambil saja sepatu ini," sentak Ayah Mail.
"Mas, aku sama sekali tidak punya uang, Mas setiap hari kerjaannya hanya minta uang terus tanpa memikirkan bagaimana nasib Aura," kesal Bu Ami dengan deraian airmata.
"Sudahlah, walau kamu nangis darah sekali pun aku tidak akan merasa kasihan sama kamu."
Ayah Mail mengambil sepasang sepatu itu dan dia pun melangkahkan kakinya hendak pergi tapi Aura berlari dan memegang kaki Ayah Mail membuat Ayah Mail tidak bisa bergerak.
"Ayah, Aura mohon jangan ambil sepatu itu nanti Pak Kai marah," rengek Aura sembari berusaha merebut sepatu itu.
"Dasar anak kecil tidak tahu diri."
Ayah Mail mendorong tubuh mungil Aura sehingga terjerembab ke lantai membuat Bu Ami kaget dan segera menghampiri anaknya itu.
"Astagfirullah Mas, jahat sekali kamu!"
Ayah Mail menyunggingkan senyumannya, lalu pergi dari rumah itu dengan membawa sepatu mahal kesayangan Papa Kai.
Sekuriti kembali menghampiri Ayah Mail. "Ada apa lagi?" kesal Ayah Mail.
"Maaf Pak, kenapa Bapak membawa sepatu milik Tuan Kai?" tanya sekuriti.
Sekuriti tampak mengerutkan keningnya, dia merasa janggal dengan kelakuan Ayah Mail tapi sekuriti itu tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya Ayah Mail pun pergi dari rumah itu dengan santainya.
"Bagaimana ini Bu, Aura takut Pak Kai marah."
"Ibu juga takut Nak, bahkan Ibu sangat malu karena Bu Luna sudah sangat baik kepada kita," sahut Bu Ami.
Siang pun tiba, Fahmi pulang sekolah tapi Fahmi bingung saat melihat Aura tampak murung dan sedih. Setelah mengganti baju, Fahmi langsung menghampiri Aura yang sedang duduk di atas ayunan.
"Kamu kenapa, kok kelihatan sedih begini?" tanya Fahmi.
"Eh Kak Fahmi, tidak ada apa-apa kok."
Fahmi merasa ada yang aneh dengan Aura, seperti ada yang sedang disembunyikan.
Hingga sore pun tiba, Bu Ami dan Aura pamit pulang.
***
Keesokan harinya....
__ADS_1
Week end adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh Papa Kai, karena saat ini Papa Kai lebih betah diam di rumah apalagi saat ini Papa Kai antusias sekali dengan kehamilan Mama Luna yang kedua.
"Sayang, pagi ini kita jalan-jalan yuk, sembari aku mau joging juga karena sudah lama tidak berolahraga," seru Papa Kai.
"Boleh."
"Fahmi, kita joging Nak!" teriak Papa Kai.
"Oke, sebentar Fahmi ganti baju dulu."
Papa Kai sudah siap dengan baju olahraganya, dia pun menuju rak sepatu dan tampak celingukan mencari sepatu kesayangannya.
"Sayang, kok sepatu olahraga aku gak ada," seru Papa Kai.
Deg...
Bu Ami tampak gugup mendengar Papa Kai mencari sepatu olahraganya.
"Ya Allah, bagaimana ini?" batin Bu Ami.
Mama Luna menghampiri Papa Kai. "Sepatu yang mana, Mas?"
"Sepatu olahraga aku yang warna gold."
"Lah, perasaan kemarin pagi aku masih melihatnya di sini Mas."
Papa Kai tampak mengerutkan keningnya. "Apa kemarin ada orang masuk ke rumah ini?" tanya Papa Kai dingin.
"Tidak ada Mas."
Papa Kai menatap Bu Ami dan juga Aura yang saat ini sedang berpelukkan, sungguh mereka sangat takut dengan tatapan Papa Kai.
Tanpa banyak bicara, Papa Kai segera berlari ke atas ke dalam kamarnya membuat Mama Luna dan Fahmi kebingungan, dan tidak lama kemudian Papa Kai kembali ke bawah dengan membawa laptopnya.
Papa Kai mulai mengotak-ngatik laptopnya, betapa terkejutnya Papa Kai saat melihat apa yang sudah terjadi.
"Siapa yang mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumahku," geram Papa Kai.
"Ada apa, Mas."
"Kamu lihat saja sendiri, aku sudah bilang sama kamu jangan mudah percaya dengan orang asing," sahut Papa Kai dengan geramnya.
Mama Luna dan Fahmi melihat rekaman cctv itu, dan mereka berdua membelalakkan matanya kala melihat siapa yang sudah mengambil sepatu kesayangan milik Papa Kai.
Bu Ami dan Aura semakin ketakutan kala Papa Kai terus saja menatap keduanya dengan tatapan tajamnya, sungguh saat ini Bu Ami seakan sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa bekerja di rumah itu.
__ADS_1
"Bu, Aura takut," bisik Aura dengan mengeratkan pelukannya.