Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 52 Kepergian Fahmi


__ADS_3

Pak Hartawan membawa Aura ke rumah mewahnya, saat ini Pak Hartawan tinggal bersama istrinya Kartika dan anak mereka yang baru berusia 7 tahun dan duduk di kelas 2 SD selisih 2 tahun dengan Aura yang saat ini sudah duduk di bangku kelas 4 SD.


"Ayo masuk, Nak."


Aura tampak celingukan, merasa takjub akan kemegahan rumah Pak Hartawan. Kartika sangat mencintai Pak Hartawan, jadi dia menjebak Pak Hartawan dengan memberikan obat perangsang kepada Pak Hartawan karena selama menikah, Pak Hartawan tidak mau menyentuh Kartika.


Hingga akhirnya Kartika hamil dan melahirkan anak perempuan yang diberi nama Amira itu, jadi mau tidak mau Pak Hartawan harus mengurungkan niatnya untuk menceraikan Kartika.


"Papaaaaaa....."


Seorang anak kecil berlari memeluk Pak Hartawan di saat Pak Hartawan membuka pintu rumahnya.


"Papa kok perginya lama? sampai malam, Amira sudah menunggu Papa dari tadi," seru Amira.


"Maafkan Papa sayang, tadi ada sedikit kendala di jalan."


Amira menoleh ke belakang tubuh Papanya, di sana berdiri anak perempuan cantik dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu ke mana saja Mas? dari tadi Amira nungguin kamu," seru Mama Kartika.


Pak Hartawan tidak menghiraukan perkataan istrinya itu membuat Mama Kartika lagi-lagi harus menghembuskan napasnya secara kasar.


"Pa, Kakak ini siapa?" tanya Amira.


Pak Hartawan menurunkan tubuh Amira dari gendongannya dan memperkenalkan Amira dengan Aura.


"Amira sayang, kenalkan ini namanya Kak Aura jadi mulai sekarang kamu akan mempunyai Kakak," seru Pak Hartawan.


Mata Amira berbinar, dia segera menghampiri Aura dan menarik tangan Aura.


"Kak Aura, ayo kita main."


Aura tidak sempat berkata apa-apa karena Amira dengan cepat menarik tangan Aura dan membawanya ke kamar Amira.


"Mas, siapa anak itu?" tanya Mama Kartika dengan raut wajah yang kesal.


"Dia anakku," sahut Pak Hartawan dengan santainya.


"Apa?"


Pak Hartawan pun pergi ke kamarnya dan diikuti oleh istrinya itu.


"Maksud Mas apa? anak siapa? Mas selingkuh ya di belakang aku!" bentak Mama Kartika.

__ADS_1


"Dia anak aku dan Ami."


"Oh, jadi wanita sialan itu masih hidup? dan sekarang dia mengirim anaknya masuk ke rumah ini supaya dia bisa merebut Mas, begitu?" geram Mama Kartika.


"Jaga ucapanmu, Kartika! yang wanita sialan itu kamu bukanya Ami, karena kamu sudah menghalalkan segala macam cara untuk bisa menikah denganku termasuk melakukan hal menjijikan sehingga kamu hamil!" sentak Pak Hartawan.


"Mas, orangtua kita yang sudah menjodohkan kita. Seharusnya Mas senang, karena Mas bisa menikahi aku. Di luaran sana banyak sekali pria yang antri untuk bisa menjadi suami aku."


"Kalau begitu kita cerai, supaya kamu bisa menikah dengan pria yang mencintaimu dan hak asuh Amira ada padaku."


"Kamu benar-benar keterlaluan Mas, aku masih hidup tapi sekarang dengan santainya kamu bawa anak itu, kamu benar-benar tidak punya perasaan!" teriak Mama Kartika.


"Pelankan suaramu, aku tidak mau sampai anak-anak mendengarnya. Pokoknya mulai sekarang, Aura akan tinggal di sini jangan pernah kamu mengusik dan bersikap kasar kepada Aura," ancam Pak Hartawan.


Pak Hartawan pun menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Mama Kartika tampak emosi, bisa-bisanya suaminya membawa anak itu ke dalam rumahnya.


Sementara itu di kediaman Fahmi, Fahmi tampak tidak bersemangat untuk membereskan barang-barang yang mau dia bawa.


"Apa Aura sudah membaca suratku, ya? kok dia gak datang ke sini sih?" gumam Fahmi.


Fahmi begitu sangat sedih, dia ingin bertemu terlebih dahulu sebelum pergi dari Indonesia.


***


Di kediaman Pak Hartawan, semuanya sedang sarapan bersama.


"Aura sayang, Papa sudah mengurus kepindahan sekolah kamu jadi mulai besok kamu akan sekolah di tempat yang sama dengan Amira," seru Pak Hartawan.


"Asyik, jadi nanti Kak Aura akan sekolah sama Amira, Pa?" seru Amira dengan antusias.


"Iya, sayang."


Berbeda dengan Aura yang terlihat terkejut, kalau dia pindah sekolah berarti dia akan susah untuk bertemu dengan Fahmi.


"Pa, bisa tidak Aura sekolah di sana saja gak usah pindah? Aura gak apa-apa kok," seru Aura.


"Tidak sayang, Papa ingin kedua anak Papa mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang bagus, jadi kamu jangan khawatir kamu tinggal menurut saja sama Papa, oke."


Aura tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menurut saja. Sementara itu, Mama Kartika tampak kesal melihat suaminya bersikap baik kepada Aura.


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu merebut perhatian dan kasih sayang Mas Hartawan," batin Mama Kartika.


Berbeda di rumah Fahmi yang sebentar lagi akan segera berangkat.

__ADS_1


"Pa, kita berangkatnya jam berapa?" tanya Fahmi.


"Jam 9 sayang, memangnya kenapa?" tanya Papa Kai.


"Pa, bisakah Fahmi ke sekolahan Aura terlebih dahulu? Fahmi hanya ingin berpamitan, Fahmi janji tidak akan lama," rengek Fahmi.


"Mas, kasihan Fahmi. Biarkan dia bertemu Aura sebentar saja," seru Mama Luna.


"Baiklah, tapi kamu jangan lama ya, soalnya sebentar lagi kita harus segera ke Bandara."


"Siap, Pa."


Fahmi segera berlari dan meminta Pak Nurdin untuk mengantarkannya ke sekolah Aura dan tidak membutuhkan waktu lama, Fahmi pun sampai di sekolah Aura.


Fahmi keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam sekolah itu untuk mencari Aura, tapi setelah sekian lama mencari ternyata Aura tidak masuk sekolah dan teman-temannya tidak ada yang tahu kenapa Aura tidak masuk sekolah.


"Aura ke mana? kenapa dia tidak masuk sekolah? padahal Aura adalah anak yang rajin," batin Fahmi.


Di saat Fahmi akan pergi, seorang guru memanggil Fahmi.


"Hai, kamu mencari siapa?" tanya guru itu.


"Saya sedang mencari Aura, Bu."


"Oh Aura, Aura sudah tidak sekolah lagi di sini, tadi pagi ada wali dari Aura meminta surat kepindahannya."


"Apa, pindah? pindah sekolah ke mana, Bu?"


"Ibu kurang tahu."


"Ya sudah, terima kasih ya, Bu."


Fahmi pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan meminta Pak Nurdin untuk pergi ke kontrakan Aura. Sesampainya di kontrakan, ternyata rumah itu sudah kosong dan Fahmi melihat surat yang dia simpan di balik keset dan ternyata surat itu masih ada.


"Kamu pindah ke mana, Aura? kenapa kamu tidak memberi tahuku," batin Fahmi.


Fahmi pun dengan membawa rasa kecewanya memutuskan untuk pulang karena Papanya sudah dari tadi menyuruh Fahmi untuk cepat-cepat pulang.


Semuanya pergi ke Bandara dan masuk ke dalam pesawat, Fahmi tampak terlihat sangat murung hingga pesawat pun take of meninggalkan Indonesia.


"Semoga kita bisa bertemu lagi di kemudian hari, Aura," batin Fahmi.


Akhirnya Fahmi pun harus pergi dengan memendam rasa sedih dan kecewa karena tidak bisa bertemu terlebih dahulu dengan Aura.

__ADS_1


__ADS_2