
Fahmi pun memutuskan untuk pulang dengan perasaan sedih dan kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Aura.
"Mana Aura, Fahmi?" tanya Mama Luna.
"Fahmi tidak bertemu dengan Aura."
"Kenapa?"
"Aura sudah sejak lama pindah dari kontrakan itu, dan menurut pemilik kontrakan belasan tahun lalu ada Bapak-bapak yang membawa Aura."
"Apa? siapa?"
"Fahmi juga tidak tahu Ma, ya sudah Fahmi ke kamar Fahmi dulu."
Fahmi pun pergi ke kamarnya dengan langkah gontai membuat Mama Luna merasa sedih. Mama Luna memang tahu kalau anaknya Fahmi sangat merindukan Aura.
***
Malam pun tiba....
Malam ini Papa Kai mengundang keluarga Papa Hartawan untuk makan malam di rumahnya sebagai perayaan kalau mereka sudah kembali ke Indonesia dan sebagai tanda hubungan kerjasama antara perusahaan Papa Kai dan Papa Hartawan.
Papa Hartawan terus saja menghubungi Aura tapi satu kali pun tidak Aura angkat.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Maaf Nona, barusan Tuan Hartawan menghubungi saya katanya beliau menyuruh Nona untuk mengangkat teleponnya," seru Mila.
"Astagfirullah, ponsel aku tadi aku silent. Baiklah, aku akan hubungi beliau balik. Terima kasih ya Mila."
"Sama-sama, Nona."
Aura pun menghentikan pekerjaannya dan merogoh ponsel dari tasnya, ternyata benar saja ada 10 panggilan tak terjawab dari Papanya. Aura pun dengan cepat menghubungi kembali Papanya.
📞"Halo Pa, maaf tadi ponsel Aura di silent, ada apa?" tanya Aura.
📞"Papa ada undangan makan malam di rumah sahabat Papa, bisakah kamu pulang sekarang."
📞"Tapi Pa, sebentar lagi pekerjaan Aura selesai. Gak apa-apa, Papa pergi saja tanpa Aura."
📞"Pokoknya Papa tidak mau tahu, kamu harus pulang sekarang juga. Papa, Mama, dan Amira berangkat duluan, jadi kamu nyusul saja nanti Papa kirim alamatnya."
__ADS_1
📞"Iya, Pa."
Papa Hartawan pun memutuskan sambungan teleponnya, Aura menghembuskan napasnya dengan kasar sungguh Aura sangat malas kalau harus ikut acara seperti ini karena ujung-ujungnya Papanya pasti akan menjodohkannya.
Ponsel Aura pun bergetar, tanda ada notif pesan yang masuk dan ternyata itu dari Papanya yang mengirimkan alamat rumah sahabatnya itu.
Aura tidak tahu alamat itu karena Papa Kai memang membeli rumah baru dan rumahnya yang dulu sudah lama dijual.
Akhirnya dengan terpaksa, Aura pun menghentikan pekerjaannya dan segera mandi di kantor karena Aura memang selalu menyimpan baju di kantor takutnya ada hal mendesak seperti saat ini.
Aura mandi dengan sangat cepat, lalu mengganti bajunya dengan dress selutut. Aura tampil sangat cantik walaupun tanpa polesan yang berlebihan, selain itu Aura juga tidak suka dandan berlebihan.
"Astaga kalau ini bukan permintaan Papa, aku malas banget untuk pergi," gerutu Aura.
Aura pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya ke alamat yang sudah Papanya kirimkan itu.
Sementara itu di kediaman Papa Kai, Mama Luna tampak sibuk menata meja makan bersama ARTnya.
"Sayang, apa penampilan Papa sudah bagus," seru Papa Kai.
"Ya ampun, suamiku tampan sekali," sahut Mama Luna dengan merapikan kemeja yang dipakai suaminya itu.
"Kebiasaan sekali, kalian selalu bermesraan tidak tahu tempat," sinis Farah.
"Iya, tapi bermesraannya jangan di hadapan kita kali, kita kan yang para jomblo ini merasa sangat kesal, iya kan Kak?" seru Farah.
Fahmi tampak acuh dengan ponselnya, dia sangat malas menanggapi ocehan adiknya itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka dan ternyata itu adalah mobil Papa Hartawan. Mama Luna dan Papa Kai menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
"Selamat datang di rumah kami, ayo silakan masuk," seru Papa Kai.
"Terima kasih Pak Kai, kami sangat bahagia diundang datang ke rumah Pak Kai," seru Pak Hartawan.
Amira tampak senyum-senyum melihat ke arah Fahmi, sedangkan Fahmi terlihat cuek dan sama sekali tidak mau menoleh ke arah Amira.
"Amira."
"Hai, Farah."
Amira dan Farah saling berpelukan, mereka memang sudah sangat akrab karena di Belanda pun mereka kuliah di tempat yang sama.
"Lebih baik sekarang kita langsung makan saja, baru setelah makan kita berbincang-bincang," seru Mama Luna.
__ADS_1
"Maaf Bu Luna, sebenarnya saya sedang menunggu anak saya yang satu lagi katanya saat ini dia sedang berada di jalan," seru Papa Hartawan.
"Oh, ya sudah kita tunggu di meja makan saja."
Semuanya pun menunggu di meja makan, Amira tidak henti-hentinya memperhatikan Fahmi membuat Fahmi sama sekali merasa tidak nyaman.
Sementara itu, Aura sedang celingukan mencari alamat yang diberikan oleh Papanya itu. Hingga beberapa saat kemudian, Aura pun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah dan megah.
"Akhirnya aku menemukan juga alamatnya," gumam Aura.
Aura pun menekan klakson, dan satpam segera membukakan gerbang. Aura keluar dari dalam mobilnya, lalu Aura pun memegang dadanya.
"Astaga, kenapa jantungku tiba-tiba berdebar seperti ini?" batin Aura.
Aura menarik napas dan menghembuskan ya secara perlahan, lalu dengan langkah mantap Aura pun masuk ke dalam rumah itu. Aura melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Maaf semuanya, aku terlambat," seru Aura.
Semuanya langsung menoleh ke arah Aura, tak terkecuali Fahmi. Aura membelalakkan matanya saat melihat ada Mama Luna dan Papa Kai di sana. Seketika tubuhnya kaku, bahkan saat ini pandangan Aura tertuju kepada sosok pria tampan yang duduk di samping Mama Luna.
"Aura, sini Nak," seru Papa Hartawan.
"Aura?" batin Fahmi.
Aura dengan langkah pelan menghampiri semuanya.
"Kenalkan ini Aura, anak sulung saya kakaknya Amira," seru Papa Hartawan.
Mama Luna bangkit dari duduknya dan menghampiri Aura.
"Apa kamu Auraku?" tanya Mama Luna membuat semua orang terkejut.
"Bu Luna."
Airmata Aura tidak bisa tertahankan lagi, begitu pun dengan Mama Luna yang langsung memeluk Aura.
"Aku sangat merindukanmu, Aura."
"Aura juga merindukan Bu Luna."
Fahmi menyunggingkan senyumannya, dia tidak menyangka kalau pada akhirnya dia akan bertemu dengan Aura. Sementara itu Papa Hartawan dan Mama Kartika saling pandang satu sama lain merasa sangat kaget, begitu pun dengan Papa Kai, Farah, dan Amira yang tak kalah kagetnya.
"Kenapa Tante Luna mengenal Kak Aura?" batin Amira.
__ADS_1