
Akhirnya Fahmi dan keluarganya sampai di rumah, Fahmi segera masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pandangan Fahmi lurus ke atas langit-langit kamarnya.
"Bagaimana ya wajah Aura sekarang? pasti dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, apa dia sudah punya pacar? atau jangan-jangan dia sudah menikah?" batin Fahmi.
Fahmi kembali bangun dan berjalan menuju balkon, Fahmi berdiri di balkon kamarnya dan menghirup udara kota Jakarta yang sangat dia rindukan.
"Sudah belasan tahun berlalu, aku sangat merindukanmu Aura, apa kamu masih mengingatku?" batin Fahmi.
Selama Fahmi tinggal di Belanda, tidak pernah sehari pun dia melupakan Aura. Aura yang hanya hidup sendiri membuat Fahmi selalu khawatir akan keadaan Aura.
"Apa selama ini kamu hidup dengan layak? apa selama ini kamu baik-baik saja? aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Aura," gumam Fahmi.
Berbeda dengan Fahmi yang saat ini sedang galau, di kediaman Aura dia dengan seriusnya mendengarkan cerita Amira.
"Kak, di sana Amira bertemu dengan pria yang sangat tampan tapi sayangnya pria itu judes dan sombong," seru Amira.
"Pria bule?"
"Bukan, dia orang Indonesia juga yang menetap di sana."
"Oh, terus?"
"Amira berharap pria itu menjadi jodoh Amira, karena ternyata Papanya pria itu adalah sahabatnya Papa kita."
"Iyakah? kamu tahu dari mana?" tanya Aura.
"Soalnya waktu Amira wisuda, Papa mengundang pria itu dan keluarganya untuk datang ke acara wisuda Amira."
"Syukurlah, berarti itu namanya jodoh."
"Amin, mudah-mudahan saja ya Kak. Soalnya sejak pertama Amira bertemu dengannya, Amira langsung jatuh cinta."
Aura menarik hidung Amira dengan gemasnya. "Anak kecil sudah cinta-cintaan," ledek Aura.
"Idih, Amira sudah besar Kak bulan anak kecil lagi."
__ADS_1
"Iya-iya, ya sudah Kakak mau ke kantor lagi soalnya masih banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan. Kamu istirahat saja ya, pasti kamu capek kan."
"Oke deh kak, tapi kakak jangan pulang malam-malam ya."
"Kakak usahakan."
Aura pun bangkit dan mencium kepala Amira, setelah itu Aura pun memutuskan untuk kembali ke kantor karena pekerjaan dia masih sangat banyak.
Aura mengendarai mobilnya sendiri, sementara itu Fahmi dengan cepat mengambil kunci mobilnya. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi, dia ingin bertemu dengan Aura wanita yang selama ini sangat dia rindukan.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Mama Luna.
"Papa ke mana, Ma?"
"Papa kamu barusan pergi ke kantor, kamu tahu kan Papa kamu itu gila kerja baru sampai di Indonesia saja bukannya istirahat malah langsung pergi ke kantor," kesal Mama Luna.
"Syukurlah kalau begitu."
"Mama tanya kamu mau ke mana?"
"Fahmi mau menemui Aura Ma, Fahmi sangat merindukannya."
"Baik Ma, kalau begitu Fahmi pergi dulu."
Fahmi pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya menuju kontrakan Aura dulu.
Beberapa saat kemudian, Fahmi menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia tidak tahu kalau mobil yang berada di depannya itu adalah mobil Aura. Hingga tidak lama kemudian, lampu berubah menjadi hijau dan bersamaan dengan ponsel Aura yang terjatuh.
"Astaga ponselku jatuh."
Aura mengambil ponselnya, tapi Fahmi merasa sangat kesal karena mobil yang berada di depannya tidak kunjung maju.
Fahmi menekan klaksonnya dengan sangat kencang membuat Aura kaget.
"Allahuakbar, kaget banget aku. Sebentar!" teriak Aura.
Saking kesalnya, Fahmi pun menyalip mobil Aura dan pergi begitu saja. Di saat mobil Fahmi melewati mobil Aura, dia sempat menoleh tapi dia hanya bisa melihat punggungnya saja soalnya Aura sedang menunduk mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Dasar wanita, di mana-mana selalu saja membuat masalah," gerutu Fahmi.
Setelah mendapatkan ponselnya, Aura pun dengan cepat kembali melajukan mobilnya. Fahmi sampai di depan kontrakan Aura, untuk sesaat Fahmi melamun dan memperhatikan kontrakan kecil itu. Fahmi tanpa sadar menyunggingkan senyumannya kala ingat kenangan dia bersama Aura.
"Mudah-mudahan kamu masih tinggal di sana," gumam Fahmi.
Fahmi pun segera keluar dari dalam mobilnya dan mengetuk pintu rumah kontrakan itu, tapi sayang yang membuka kontrakan itu bukan Aura melainkan ibu-ibu dengan menggendong anaknya.
"Iya Mas, Mas mencari siapa?" tanya Ibu-ibu itu.
"Maaf Bu, apa Aura masih tinggal di sini?"
"Aura? Aura yang mana ya? soalnya saya sudah 5 tahun tinggal di sini."
"Penghuni kontrakan sebelumnya, Bu."
"Maaf Mas saya kurang tahu, lebih baik Mas tanya saya kepada pemilik kontrakan ini."
"Ah iya, terima kasih ya Bu."
Fahmi pun dengan cepat mendatangi pemilik kontrakan itu.
"Oh, jadi Mas ini anak kecil yang dulu sering datang ke sini?" tanya Ibu pemilik kontrakan.
"Iya Bu, saya datang ke sini ingin menanyakan mengenai Aura."
"Aura sudah lama sekali tidak tinggal di sini, waktu itu ada kalau gak salah Aura pulang diantar Bapak-bapak dan setelah itu Aura ikut pergi dengan Bapak-bapak itu."
"Bapak-bapak? siapa, Bu?"
"Saya tidak tahu Mas."
"Ya sudah, terima kasih ya Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Iya Mas, sama-sama."
Fahmi pun melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam mobilnya, sungguh saat ini Fahmi tidak tahu akan keberadaan Aura.
__ADS_1
"Siapa Bapak-bapak yang membawa Aura? Ya Allah, kamu di mana Aura?" gumam Fahmi.
Saat ini Fahmi sangat khawatir dengan keadaan Aura, dia takut Aura kenapa-napa.