
Mama Luna melepaskan pelukannya, di usapnya wajah Aura dengan lembut.
"Ya Allah, kamu cantik sekali Nak."
Aura hanya bisa tersenyum malu. "Bu Luna juga semakin cantik."
"Kamu bisa saja. Pak Hartawan, bagaimana ceritanya Aura adalah anak anda karena yang saya tahu Aura itu anaknya Bu Ami dan Pak Mail," seru Mama Luna.
"Nanti saya ceritakan, soalnya ceritanya sangat panjang," sahut Papa Hartawan.
"Iya Ma, sebaiknya kita makan dulu," seru Papa Kai.
Akhirnya semuanya pun makan malam bersama, selama makan malam berjalan Fahmi tidak henti-hentinya mencuri-curi pandang kepada Aura.
Setelah selesai makan malam semuanya pun berkumpul di ruangan keluarga, dan Pak Hartawan pun menceritakan semuanya mengenai Aura.
"Ya Allah, Pak Hartawan sangat beruntung mempunyai putri seperti Aura sungguh Aura adalah anak yang sangat cantik. Baik cantik wajahnya dan juga cantik hatinya," seru Mama Luna.
Fahmi bangkit dari duduknya dan langsung menarik tangan Aura untuk ikut bersamanya membuat semua orang melongo terlebih lagi Amira. Fahmi membawa Aura ke halaman belakang dan duduk di tepi kolam berenang.
"Apakabar, Aura."
"Alhamdulillah baik, Kak."
Sesaat keduanya terdiam, entah kenapa sudah sekian lama tidak bertemu membuat keduanya merasa sangat canggung dan serba salah.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Fahmi.
"Semenjak bertemu dengan Papa, kehidupanku jauh lebih baik Kak dan aku sangat beruntung masih bisa dipertemukan dengan Papa kandungku."
__ADS_1
Aura dan Fahmi kembali terdiam, mereka sama-sama malu mengawali pembicaraan.
"Hmm...Kak, kenapa waktu itu Kakak tidak bilang kalau Kakak pindah?" tanya Aura dengan menundukkan kepalanya.
"Waktu itu aku sudah berusaha mencarimu bahkan aku juga menunggu kamu di kontrakan tapi kamu tidak pulang-pulang, hingga akhirnya aku menulis surat untukmu dan aku simpan di bawah keset, apa kamu membacanya?"
"Hah, surat? aku sama sekali tidak tahu kalau Kakak menyimpan surat di bawah keset," sahut Aura kaget.
Fahmi menghela napasnya. "Sudah ku duga, tapi ya sudahlah semuanya juga sudah berlalu jangan dibahas lagi," sahut Fahmi.
"Maaf," lirih Aura.
"Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Aura."
Deg...
Sementara itu, dari kejauhan Amira mengintip dari balik dinding. Amira tadi pamit untuk ke kamar mandi, tapi Amira bukanlah mau ke toilet melainkan untuk mengikuti Aura dan Fahmi.
"Apa hubungan Kak Aura dan Kak Fahmi? kenapa mereka sangat akrab begitu, bahkan Tante Luna pun mengenal Kak Aura," batin Amira.
Lama-kelamaan suasana pun sedikit cair, Aura dan Fahmi tertawa bersama.
"Sayang, sudah malam ayo kita pulang," seru Papa Hartawan.
"Iya Pa. Kak, sepertinya aku harus pulang."
Aura bangkit dari duduknya dan hendak pergi tapi Fahmi menahan lengan Aura.
"Apa kita bisa bertemu lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja, Kak," sahut Aura dengan senyumannya.
Keluarga Papa Hartawan pun pamit, Mama Luna tampak memeluk Aura dan mencium kening Aura membuat Farah mengerutkan keningnya.
"Hai, aku baru ingat wanita itu kan wanita yang menabrakku tadi siang di Bandara," batin Farah.
Akhirnya keluarga Papa Hartawan pun pulang, Amira pulang satu mobil bersama Aura tapi tidak seperti biasanya Amira tampak diam tidak bicara sama sekali.
"Tumben kamu diam saja, Dek?" seru Aura.
"Tidak apa-apa, Kak."
"Kenapa? apa ada sesuatu yang mengganggumu? karena ini bukanlah Amira yang aku kenal, biasanya adikku itu akan bawel dan bercerita apa pun itu."
"Apa aku boleh bertanya kepadamu, Kak?"
"Mau tanya apa?"
"Sejak kapan Kakak mengenal dengan Kak Fahmi dan Tante Luna?"
"Oh itu, Kakak sudah lama mengenal mereka bahkan mereka adalah orang-orang yang sudah menolong Kakak waktu Kakak sedang kesulitan."
"Sepertinya Kak Fahmi menyukai Kakak ya."
"Iyakah? kamu tahu dari mana?" tanya Aura.
"Aku bisa lihat dari tatapan Kak Fahmi yang tidak pernah dia lepaskan kepada Kakak."
Aura hanya menyunggingkan senyumannya tanpa mau membalas lagi ucapan adiknya, sedangkan Amira merasa sangat sedih karena pria yang dia sukai ternyata menyukai kakaknya sendiri.
__ADS_1