
Setelah prosesi pemakaman Bu Ami, Aura sama sekali tidak mau pergi dari makam ibunya itu.
"Sayang, ayo kita pergi," bujuk Mama Luna.
"Tidak Bu Luna, Aura mau di sini menemani ibu, lagipula Aura tidak mau pulang karena Aura takut sama Ayah," sahut Aura.
"Ayah kamu sedang dalam proses pencarian oleh polisi, jadi kamu jangan takut lagi."
Cukup lama Mama Luna dan Fahmi membujuk Aura, hingga akhirnya Aura pun bersedia diajak pulang.
Mama Luna mengajak Aura ke rumah kontrakannya, tapi mereka dikejutkan dengan keributan yang terjadi di kontrakan Aura. Ternyata saat ini polisi sedang menangkap Ayah Mail.
"Aura, tolong Ayah, maafkan Ayah," seru Ayah Mail memelas.
Aura bersembunyi di balik tubuh Mama Luna karena merasa takut dengan Ayahnya sendiri.
"Sudah Pak, bawa saja orang itu," geram Mama Luna.
"Aura, Ayah mohon bantu Ayah!" teriak Ayah Mail.
Para polisi itu pun menyeret Ayah Mail untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.
"Sekarang kamu jangan khawatir dan takut lagi, soalnya orang jahat itu sudah di tangkap," seru Mama Luna.
Mama Luna dan Fahmi pun membawa Aura ke dalam kontrakannya, Mama Luna tampak bingung harus berbuat apa. Kalau Aura dibawa ke rumahnya, yang pasti Papa Kai akan marah besar tapi kalau Mama Luna membiarkan Aura hidup sendiri, Mama Luna merasa khawatir apalagi Aura masih sangat kecil.
"Bagaimana Ma? apa kita akan membawa Aura ke rumah?" tanya Fahmi.
"Tidak bisa sayang, Papa kamu pasti akan sangat marah kalau kita bawa Aura."
"Tidak apa-apa Bu Luna, Aura bisa tinggal sendiri di sini," seru Aura.
Mama Luna dan Fahmi tampak melihat ke arah Aura, anak kecil perempuan itu memang sudah dewasa sebelum waktunya akibat perjalanan hidup dia yang sudah keras sejak kecil.
"Serius, kamu mau tinggal sendiri di sini?" tanya Mama Luna.
"Iya, Bu Luna."
"Maafkan Ibu ya, Ibu tidak bisa membawa kamu pulang. Tapi nanti Ibu akan kirimin kamu makanan setiap hari."
"Tidak usah Bu Luna, Aura bisa kok masak sendiri karena sejak kecil Aura sudah diajarkan sama Ibu jadi Aura bisa masak," sahut Aura.
Mama Luna kaget, dia pun kembali memeluk Aura.
"Ya Allah, Bu Ami memang sudah mengajarkanmu berbagai hal, beliau adalah wanita yang hebat," seru Mama Luna.
__ADS_1
Mama Luna melepaskan pelukannya, dan mengusap wajah cantik Aura.
"Sayang, kamu jangan khawatir karena masalah kontrakan ini sudah saya bayar sampai 1 tahun ke depan jadi kamu tenang ya tinggal di sini."
"Terima kasih, Bu Luna."
"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu ya."
Mama Luna pun mengajak Fahmi untuk pulang, Fahmi menghampiri Aura dan memeluk Aura.
"Kamu baik-baik saja ya di sini, nanti setiap pulang sekolah aku akan menemui kamu."
"Terima kasih, Kak."
Mama Luna dan Fahmi pun pergi meninggalkan rumah kontrakan Aura.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat hubungan Aura dan Fahmi sudah semakin dekat, tidak terasa Aura pun sudah masuk sekolah.
Fahmi pun tanpa sepengetahuan Mama dan Papanya setiap pulang sekolah minta diantarkan ke sekolah Aura.
"Den Fahmi, sepertinya kita harus pulang soalnya Nyonya Luna sudah menghubungi Pak Nurdin terus," seru Pak Nurdin.
"10 menit lagi saja ya Den, soalnya Pak Nurdin takut Nyonya marah."
"Oke."
Saat ini Fahmi sedang berada di kontrakan Aura dan membantu Aura mengepak kerupuk kulit untuk bahan jualan Aura esok hari.
"Kak, lebih baik sekarang Kakak pulang nanti Pak Kai dan Bu Luna marah," seru Aura.
Fahmi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apalagi kalau sampai Papanya tahu bisa-bisa dia dimarahi dan dilarang untuk bertemu dengan Aura lagi.
"Ya sudah, kalau begitu Kakak pulang dulu ya, besok pulang sekolah Kakak ke sini lagi."
"Iya, Kak. Terima kasih Kakak selalu bantuin aku."
Fahmi pun beranjak dari duduknya dan mengambil tas sekolahnya, sebelum pulang dengan cepat Fahmi mencium pipi Aura membuat Aura kaget dan melotot.
"Sampai jumpa lagi besok!" teriak Fahmi dengan berlari keluar dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Aura menyentuh pipinya yang barusan dicium oleh Fahmi, hingga sesaat kemudian Aura pun tersenyum riang.
***
__ADS_1
Malam pun tiba...
Saat ini Papa Kai sedang mengotak-ngatik laptopnya di atas tempat tidur, sedangkan Mama Luna duduk di samping Papa Kai dengan menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya itu.
Semenjak hamil, Mama Luna memang sangat manja kepada suaminya mungkin karena balas dendam dulu saat dia hamil oleh Fahmi, Papa Kai sama sekali tidak memperdulikannya.
"Mas, bisa tidak kalau sudah di rumah itu jangan ngurusin pekerjaan," rengek Mama Luna.
"Sebentar sayang, sedikit lagi kok," sahut Papa Kai.
"Mas, kira-kira bagaimana ya keadaan Medina sekarang," celetuk Mama Luna.
Papa Kai menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah istrinya itu.
"Ngapain kamu inget-inget lagi wanita itu? dia itu sudah mendapatkan hukumannya, jadi gak usah inget-inget lagi wanita ular itu," kesal Papa Kai.
"Aku kan, cuma nanya doang Mas."
Papa Kai segera menyelesaikan pekerjaannya dan setelah selesai, Papa Kai pun menutup laptopnya dan mengajak Mama Luna untuk merebahkan tubuhnya.
"Gak usah memikirkan masa lalu, mending sekarang kita pikirkan tentang masa depan Fahmi."
"Masa depan yang bagaimana Mas? Fahmi sudah mendapatkan semuanya sekarang."
"Tidak sayang, aku ingin Fahmi sekolah ke luar negeri soalnya Fahmi nantinya yang akan mewariskan bisnis aku jadi aku akan membuat Fahmi menjadi sosok laki-laki hebat."
"Di sini juga banyak kok sekolah bagus, ngapain harus sekolah ke luar negeri?"
"Iya, tapi aku ingin Fahmi menguasai ilmu sebanyak-banyaknya jadi dia akan tahu bagaimana dunia bisnis di dalam dan luar negeri."
"Terserah Mas sajalah, aku ikut saja."
"Ya sudah, sekarang kita tidur ibu hamil tidak baik kalau bergadang."
Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama, keduanya pun terlelap menuju alam mimpi masing-masing.
*
*
*
Maaf ya guys, kemarin libur 3 hari soalnya Authornya ada kepentingan keluarga dulu dan ada berita duka juga, jadi Author off🙏🙏
Satu lagi, kalau hari Minggu Author libur jadi jangan ada yang minta up ya, terima kasih🥰🥰
__ADS_1