Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 19 Ancaman Mark


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Luna untuk memeriksakan kondisi kehamilannya, Luna pergi ke rumah sakit seorang diri.


"Bi, Luna pergi ke rumah sakit dulu ya."


"Mau Bibi antar, Luna?"


"Tidak usah Bi, Luna sendiri saja."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


"Oke, kalau begitu Luna berangkat dulu."


Luna pun mengambil tas selempangnya, lalu pergi ke rumah sakit menggunakan taksi. Tidak membutuhkan waktu lama, Luna pun sampai di rumah sakit. Ternyata hari ini pasien hamil lumayan banyak dan Luna harus menunggu untuk beberapa saat.


Luna melihat pasangan suami istri yang duduk di hadapannya, suaminya begitu sangat perhatian kepada si istri membuat Luna menyunggingkan senyumannya.


"Seandainya Mas Kai bisa seperti itu, tapi pada kenyataannya aku hanya bisa bermimpi saja," batin Luna dengan senyumannya.


Luna menunggu dengan sabar, hingga tidak lama kemudian sepasang manusia yang Luna kenal datang ke rumah sakit itu juga.


"Bukannya itu Nyonya Medina, ngapain dia ke rumah sakit?" batin Luna.


Luna yang merasa sangat penasaran, akhirnya memutuskan untuk mengikuti Medina dan Mark. Kebetulan nomor antrian Luna masih jauh.


Perlahan Luna mengikuti mereka dan masuk ke dalam sebuah ruangan dokter kandungan yang berbeda dengan Luna. Dokter kandungan itu sepertinya hendak pulang tapi sengaja menunggu kedatangan Medina.


"Nyonya Medina kenapa datang ke dokter kandungan bersama pria itu? kenapa tidak menunggu Tuan Kai pulang?" batin Luna.


Luna hendak menguping pembicaraan mereka tapi tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat dua perawat keluar dari ruangan dokter itu.


"Mereka pasti pasangan selingkuh, karena mereka datang ke Dr.Ayu untuk meminta hasil USG dari ibu hamil yang lain."


"Kasihan sekali suaminya ditipu, padahal suaminya sudah sangat bahagia istrinya hamil, eh tidak tahunya si istri malah membohonginya dengan pura-pura hamil."


Begitulah desas-desus percakapan antara dua perawat yang keluar dari ruangan Dr.Ayu membuat Luna membelalakkan matanya dan menutup mulutnya saking kagetnya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka, Luna segera bersembunyi di balik dinding. Dr.Ayu tampak celingukan memastikan kalau di sana tidak ada siapa-siapa.


"Pokoknya jangan sampai semua ini terbongkar, apalagi sampai atasan tahu karena profesi saya yang akan menjadi taruhannya. Kalian tahu, saya sudah disumpah dan ini semua merupakan pelanggaran kode etik jadi apa pun yang terjadi jangan sampai saya terkena imbasnya," seru Dr.Ayu.


"Dokter tenang saja, kita tidak akan menyalahkan dokter atas semua ini karena memang ini adalah kemauan kita," sahut Mark.


"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu."


"Silakan, dokter."


Luna benar-benar sangat terkejut mengetahui kenyataan yang sebenarnya kalau Medina sudah menipu Kai.


"Pantas saja aku menemukan pil KB di bawah kasur Nyonya Medina, terus Nyonya Medina juga tidak mau meminum susu hamil karena pada kenyataannya Nyonya Medina memang tidak hamil," batin Luna.

__ADS_1


Luna membalikan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu, tapi tidak disangka Luna tidak sengaja menendang tong sampah membuat Medina dan Mark terkejut.


"Apa itu, Mark?"


Mark segera memeriksa di balik dinding itu dan betapa terkejutnya Mark saat melihat Luna berada di sana dengan wajah pucatnya.


"Kamu!"


"Siapa, Mark?"


Medina ikut melihat, Medina membelalakkan matanya saat melihat Luna ada di sana.


"Kamu ngapain di situ? jangan-jangan kamu sudah mendengar semuanya!" hardik Medina.


Luna tampak ketakutan, Luna mulai memundurkan langkahnya tapi dengan cepat Mark mencengkram lengan Luna.


"Apa kamu mendengar semuanya?" bentak Mark.


Luna sangat ketakutan, sampai-sampai Luna sangat sulit untuk menjawab pertanyaan Mark.


"JAWAB!"


"I-iya, Tuan."


Mark dan Medina membelalakkan matanya. "Bagaimana ini, Mark? bagaimana kalau sampai dia mengadu kepada Mas Kai?" seru Medina panik.


"Apa perlu aku melenyapkan wanita ini dari dunia ini, sayang?" seru Mark.


"Ja-jangan Tuan, saya janji tidak akan mengadu kepada siapa pun," seru Luna dengan deraian airmata.


"Bagaimana, sayang? aku terserah kamu saja," seru Mark.


Medina menghampiri Luna, kemudian mencengkram wajah Luna.


"Baiklah, kali ini aku maafkan kamu tapi kalau sampai kamu mengadu kepada Mas Kai, kamu akan tahu akibatnya," ancam Medina.


"Bahkan bukan cuma nyawa kamu saja yang terancam, nyawa Bi Sum pun akan menjadi taruhannya, apa kamu mengerti!" sentak Mark.


"I-iya, Tuan."


Medina melepaskan cengkeramannya, dan pergi begitu saja meninggalkan Luna yang terlihat sangat ketakutan. Kaki Luna lemas, tubuhnya ambruk di lantai dengan tubuh yang bergetar saking takutnya.


"Ya Allah, apa lagi ini cobaan untuk hamba," batin Luna.


Luna berusaha menenangkan diri terlebih dahulu, setelah dirinya cukup tenang, Luna pun mulai bangkit dan kembali ke ruangan tunggu.


***


Mark dan Medina memutuskan untuk pulang. "Bagaimana ini Mark? aku takut wanita itu mengadu sama Mas Kai," seru Medina panik.

__ADS_1


"Tidak akan, wanita itu tidak akan berani mengadu kepada Kai karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan melepaskan wanita itu," sahut Mark.


Medina benar-benar sangat khawatir kalau Kai akan tahu rencana busuknya bersama Mark, hingga beberapa saat kemudian mobil Mark pun sampai di depan gerbang rumah Kai.


Keduanya tampak membelalakkan matanya saat melihat Kai sudah berdiri di depan gerbang dengan tatapan tajamnya yang seakan menusuk jantung itu.


"Mas Kai."


"Kenapa dia pulang secepat ini?" seru Mark.


"Bagaimana ini, Mark?"


"Bersikaplah sewajarnya jangan memperlihatkan raut wajah yang gugup."


"Baiklah."


Perlahan Medina dan Mark pun keluar dari dalam mobil, Medina dengan cepat memasang senyumannya yang manis dan berlari memeluk Kai.


"Ya ampun Mas, kapan pulang? kenapa tidak memberi kabar dulu kalau Mas mau pulang?" seru Medina dengan bergelayut manja.


"Aku ingin membuat kejutan untukmu, sayang," sahut Kai dengan dinginnya.


"Bagaimana proyeknya, apa berjalan dengan lancar?" tanya Mark basa-basi.


"Lancar."


"Syukurlah."


"Kalian dari mana?" tanya Kai dingin.


"Tadi aku ingin makan bubur yang enak Mas, dan Mark tahu di mana tempatnya jadi aku minta Mark untuk mengantarkan ku ke sana," dusta Medina.


"Oh."


"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kantor dulu."


Mark segera pergi dari sana, sedangkan Medina merangkul lengan Kai dengan manjanya.


"Mas, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu."


Medina dan Kai pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya, Kai ingin mempercayai istri dan sahabatnya tapi hati Kai tidak bisa dibohongi kalau saat ini Kai merasa sangat cemburu kepada Mark.


Ini adalah untuk pertama kalinya, Kai merasakan cemburu dengan kedekatan istri dan sahabatnya.


"Sayang, aku cuci muka dulu ya, soalnya gerah sekali."


Kai hanya menganggukkan kepalanya, dia duduk di sofa dengan pikiran yang entah ke mana.

__ADS_1


"Sepertinya untuk membuktikan kalau tidak ada hubungan di antara mereka, aku harus membayar orang untuk memata-matai Medina dan Mark," batin Kai.


__ADS_2