
Kai dan Luna menjemput Fahmi ke sekolahnya.
"Kamu diam di sini jangan keluar dari dalam mobil," seru Kai.
"Loh, kenapa?"
"Pokoknya jangan keluar."
Kai segera keluar dari dalam mobilnya, dan menunggu Fahmi di depan pintu gerbang sekolah Fahmi. Luna sedikit menyunggingkan senyumannya, ternyata Kai sudah mulai posesif kepada dirinya.
"Papa!"
Kai merentangkan kedua tangannya, dan Fahmi dengan cepat berlari dan memeluk Papanya itu.
"Tumben Papa jemput Fahmi? memangnya Papa tidak kerja?" tanya Fahmi.
"Kerja, tapi Papa jemput kamu dulu."
"Mama mana, Pa?"
"Tuh, ada di dalam mobil."
Fahmi dan Kai pun masuk ke dalam mobil, perlahan Kai mulai melajukan mobilnya untuk pulang.
"Bagaimana sekolahnya, Nak?" tanya Mama Luna.
"Baik Ma, Fahmi sangat bahagia karena tidak ada yang menghina Fahmi lagi."
"Siapa yang berani menghina kamu, akan berurusan dengan Papa," seru Papa Kai.
"Mereka baik-baik kok, Pa. Berbeda saat Fahmi masih di kampung dulu, semua teman-teman menjauhi Fahmi dan tidak ada yang mau berteman dengan Fahmi, katanya Fahmi bau," seru Fahmi dengan raut wajahnya yang sedih.
"Sudah-sudah jangan ingat-ingat lagi masa lalu, sekarang semuanya sudah berubah dan semua orang sudah tahu, kalau kamu adalah putra dari Kaisar Mahaprana. Jadi, tidak akan ada yang berani menghina atau pun memusuhi kamu," seru Papa Kai.
Fahmi tersenyum begitu pula dengan Luna, hingga beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah. Fahmi segera keluar dari dalam mobil dan berlari ke dalam rumah.
"Aku kembali ke kantor."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Kai mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah menuju kantor.
***
Malam pun tiba...
Seperti biasa, mereka tidur bertiga karena mungkin Fahmi masih rindu akan sosok Papanya jadi dia tidak mau tidur di kamarnya.
Saat ini mereka sedang berbincang-bincang sembari tiduran.
"Pa, kata Papa kalau Fahmi ingin sesuatu harus bilang sama Papa," seru Fahmi.
"Iya, memangnya sekarang Fahmi ingin apa?" tanya Papa Kai.
"Fahmi ingin adik, Pa."
"Apa?" sahut Mama Luna dan Papa Kai bersamaan.
"Papa bisa kan, mengabulkan permintaan Fahmi? soalnya di sekolah teman-teman Fahmi semuanya punya adik, hanya Fahmi saja yang tidak punya adik."
Papa Kai susah payah menelan salivanya, dia tidak tahu harus menjawab apa sedangkan wajah Mama Luna sudah terlihat sangat memerah menahan malu.
"Mama tidur dulu ya, sudah ngantuk," seru Mama Luna mengalihkan pembicaraan.
Mama Luna merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Fahmi dan Papa Kai, jantung Luna berdetak tak karuan.
"Bagaimana Pa, apa Papa bisa mengabulkan permintaan Fahmi? ayolah Pa, biar Fahmi punya teman juga tidak kesepian di rumah," rengek Fahmi.
"Ah, i-iya nanti Papa buatkan adik untukmu. Ya sudah, sudah malam sekarang kamu tidur ya, nanti kamu kesiangan loh kalau gak tidur-tidur," seru Papa Kai.
"Oke, Pa."
Fahmi mulai memejamkan matanya, hingga beberapa menit kemudian napas Fahmi mulai teratur dan itu tandanya Fahmi sudah terlelap.
Papa Kai menatap langit-langit kamarnya, kemudian menoleh ke arah Luna yang membelakanginya.
__ADS_1
"Apa Luna mau ya, diajak membuat anak?" batin Papa Kai.
Keesokan harinya...
Akibat percakapan ketiganya tadi malam, Mama Luna dan Papa Kai terlihat canggung satu sama lain bahkan Papa Kai mulai berpikiran mesum saat melihat Luna.
Seperti saat ini, di saat Luna sedang memasak dan Kai sedang menyesap kopinya. Kai menatap pa**at Luna, tiba-tiba otak Kai traveling ke mana-mana.
"Astaga, kenapa juniorku tiba-tiba bangun seperti ini tidak biasanya," batin Kai.
Kai menutup bagian juniornya dengan jasnya supaya Luna tidak melihat sesuatu yang menyembul itu.
Setelah selesai sarapan, Kai segera mengantar Fahmi ke sekolahnya setelah itu langsung pergi ke kantornya.
Sesampainya di kantor, Kai tidak fokus bekerja dia terus saja memikirkan Luna. Kai ingat akan kejadian pemerkosaan beberapa tahun dulu, dia begitu menikmatinya bahkan tubuh Luna begitu sangat berisi dan tidak bisa dipungkiri kalau saat itu Kai memang menginginkan Luna kembali tapi Kai terlalu takut kepada Medina sehingga Kai memilih menahan hasratnya itu.
"Ah sial, lagi-lagi juniorku bangun," gumam Kai.
Kai semakin tidak fokus kerja, saat ini pikirannya dipenuhi dengan Luna.
"Ah, aku benar-benar sudah tidak tahan," gumam Kai.
Kai bangkit dari kursinya dan segera menyambar kunci mobilnya, dia memutuskan untuk pulang lagi ke rumah. Di saat Kai membuka pintu ruangannya, bersamaan dengan datangnya Ibnu dengan membawa setumpuk berkas yang harus Kai tanda tangani.
"Loh, Tuan mau ke mana?" tanya Ibnu.
"Tiba-tiba ada urusan penting, kamu urus saja pekerjaanku dan sepertinya aku tidak kembali ke kantor," sahut Kai gugup.
Ibnu mengerutkan keningnya, tiba-tiba tatapan Ibnu tertuju ke arah bagian bawah Kai karena Kai memang terlihat tidak nyaman.
"Pantas saja, dia ingin pergi pasti dia mau nganu itu sama Bu Bos. Astaga, padahal ini masih pagi memangnya dia belum puas tadi malam," batin Ibnu.
"Sudah ya, aku pergi dulu."
Kai dengan cepat pergi dari ruangannya, dan segera masuk ke dalam mobilnya. Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Luna, kali ini kita harus mengabulkan permintaan Fahmi dan supaya pernikahan kita lebih afdol," gumam Kai dengan senyumannya.
__ADS_1