
Ketiganya sarapan bersama, bahkan Luna dan Kai tidak bicara sama sekali saking malunya ketahuan sama Fahmi.
Setelah selesai sarapan, Kai pun berangkat ke kantor dan seperti biasa mengantarkan Fahmi dulu ke sekolah.
Kai menghentikan mobilnya karena lampu merah, dan Fahmi pun mengalihkan pandangannya ke samping. Fahmi memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang berjualan kerupuk kulit di lampu merah.
"Pa, bolehkah Fahmi membeli kerupuk yang dijual gadis kecil itu?" seru Fahmi.
Kai melihat ke arah yang ditunjukan Fahmi dan Kai pun menganggukkan kepalanya. Lalu dengan senang hati, Fahmi membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah gadis kecil itu.
Gadis kecil yang ceria dan cantik itu segera berlari menghampiri Fahmi.
"Ada apa Kak? apa Kakak mau membeli kerupuk kulitnya?" seru gadis kecil itu.
"Iya, aku mau beli 5."
Gadis kecil itu tampak bahagia saat kerupuknya laku.
"Berapa semuanya?" tanya Fahmi.
"1 bungkus harganya 20 ribu kalau 5 bungkus jadi berapa ya?" sahut gadis kecil itu dengan berpikir sejenak.
"Semuanya jadi 100 ribu, Pa, minta uangnya dong," seru Fahmi dengan mengulurkan tangannya kepada Kai.
Kai pun segera mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Fahmi.
"Ini uangnya."
"Huawaaa...terima kasih ya, Kak."
"Sama-sama."
__ADS_1
Gadis kecil itu segera berlari ke pinggir jalan dengan senyumannya yang mengembang, Fahmi bisa melihat betapa bahagianya anak itu saat Fahmi membeli kerupuk kulit yang dia jual itu.
"Siapa yang akan memakan kerupuk kulit itu? kenapa kamu banyak sekali membelinya?" seru Papa Kai.
"Kasihan Pa, sepertinya jualannya belum laku. Papa tenang saja, Mama suka sekali makan kerupuk kulit seperti ini," sahut Fahmi.
Tidak lama kemudian, lampu pun berubah menjadi hijau dan Kai segera melajukannya kembali. Fahmi terus saja memperhatikan gadis cantik itu, lalu senyumannya tersungging.
"Cantik sekali," batin Fahmi.
Setelah mengantarkan Fahmi ke sekolah, Kai pun segera memutar mobilnya untuk pergi ke kantornya.
Sementara itu, gadis kecil penjual kerupuk kulit itu pulang ke rumahnya dengan berlari-lari kecil karena penjualannya hari ini lumayan besar biasanya dia hanya bisa menjual 1 sampai 2 bungkus.
"Bu, Ibu!" teriak gadis kecil itu.
"Ada apa Aura, kamu kebiasaan kalau sudah teriak-teriak seperti itu," sahut Ibunya yang saat ini sedang mengepak kerupuk buatannya sendiri.
"Bu, lihatlah hari ini Aura bisa menjual 5 bungkus kerupuk kulit ini."
Tapi tiba-tiba, uang yang baru saja Ibunya terima dari Aura langsung diambil oleh suaminya itu.
"Akhirnya aku punya uang untuk pasang togel nanti malam," seru Ayah Aura dengan senyumannya.
"Astagfirullah Mas, itu uang untuk beli beras kasihan Aura yang sudah menjual kerupuk kulit itu dari tadi subuh," seru Ibu Aura.
"Alah, ini masih pagi dan jualannya pun masih banyak kamu dan Aura tinggal keliling aja lagi, pelit amat sama suami."
"Bukannya begitu Mas, tapi aku sama sekali tidak punya beras dan dari kemarin Aura hanya makan singkong, kasihan Aura pasti saat ini dia sedang lapar."
"Kamu memang istri tidak tahu diri, lebih baik sekarang kamu do'akan saja biar nanti malam aku menang."
__ADS_1
Ibu Aura bangkit dan berusaha merebut uang itu tapi dengan cepat suaminya mendorong Ibu Aura sampai tersungkur ke lantai.
"Ibu."
Aura menghampiri Ibunya dan memeluknya. "Ayah jahat, Ayah selalu saja menyiksa Ibu!" teriak Aura dengan deraian airmata.
"Diam kamu anak kecil, lebih baik kamu jualan saja yang rajin jangan banyak melawan kepada orangtua."
Ayah Aura segera pergi dari rumah kontrakan itu dan membanting pintu dengan keras membuat Aura dan Ibunya tersentak kaget.
Ibu Aura memeluk anaknya itu. "Maafkan Ibu Nak, tapi tenang saja Ibu akan berusaha minjam dulu kepada tetangga supaya kamu bisa makan," seru Ibu Aura dengan mengusap kepala Aura.
Aura menganggukkan kepalanya, Ibu Aura yang bernama Ami itu segera mengetuk pintu rumah tetangganya.
"Ada apa, Bu Ami?" tanyanya sinis.
"Maaf Bu Mila, bisakah saya meminjam beras satu liter saja nanti insya Allah kalau jualan saya sudah habis, saya ganti," seru Bu Ami.
"Tidak ada, Bu Ami itu sudah punya hutang beras sama saya, hutang uang pun belum dibayar-bayar sampai sekarang," sinisnya.
"Iya Bu saya juga ingat, tapi untuk sekarang saya belum punya uang nanti kalau ada rezekinya saya janji akan membayar semua hutang-hutang saya."
"Tidak ada, pinjam sama yang lain saja."
Bu Mila pun menutup pintunya keras-keras membuat Ibu Ami sedih, sementara itu dari dalam rumah Aura memperhatikan Ibunya yang lagi-lagi selalu mendapatkan hinaan dan bentakan dari para tetangganya.
"Aura, maafkan Ibu Nak, Ibu belum bisa mendapatkan berasnya."
"Tidak apa-apa Bu, Aura tidak lapar kok, Aura makan kerupuk ini saja," sahut Aura dengan senyumannya.
Ibu Ami merasa sangat gagal menjadi seorang Ibu, karena untuk membeli beras pun dia tidak mampu. Aura dan kedua orangtuanya tinggal di kawasan kumuh yang padat dengan penduduk, bahkan mereka masih mengontrak di sana.
__ADS_1
Ayah Aura yang bernama Ayah Mail itu seorang penjudi, setiap hari Ayahnya selalu minta uang kepada Ibu Ami untuk main judi dan mabuk-mabukan.
Bahkan jika Ibu Ami tidak memberikan uang, Ayah Mail akan memukulinya begitu juga kepada Aura.