
Aura dan Ibu Ami kembali berjualan kerupuk, kali ini mereka mencoba berjualan di depan sekolah Fahmi.
"Mudah-mudahan saja ada yang beli ya Bu, soalnya di sini sekolahan anak orang kaya semua," seru Aura.
"Amin."
Aura dan Ibu Ami duduk di pinggiran sekolahan yang berada di luar gerbang, Aura tampak memperhatikan bangunan yang megah itu dengan senyumannya yang tersungging di wajah cantiknya itu.
Ibu Ami tahu apa yang sedang dipikirkan anaknya itu.
"Aura mau sekolah?" tanya Ibu Ami.
Aura menganggukkan kepalanya, dan Ibu Ami mengusap kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nanti Ibu daftarkan kamu ke sekolah, tapi ke sekolahan yang biasa saja ya jangan ke sini karena Ibu tidak akan mampu untuk membayarnya."
"Iya Bu."
Aura tampak sangat bahagia, dari kecil Aura memang ingin sekolah tapi Ibunya tidak mampu untuk memasukan Aura sekolah di taman kanak-kanak jadi Ibu Ami hanya bisa mengajarkan Aura membaca dan menulis di rumah saja.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, hingga tidak terasa waktu pulang sekolah pun tiba. Sudah banyak mobil berjejer di depan sekolah yang akan menjemput anak-anak di sana.
Ibu Ami dan Aura mulai menghampiri mobil-mobil di sana untuk menjajakan jualannya, namun sayang bukannya dibeli justru Ibu Ami dan Aura diusir dan jangan dekat-dekat ke mobil mereka.
Fahmi keluar dan celingukan di depan gerbang, ternyata mobil Mamanya belum ada.
"Kebiasaan, Mama selalu saja telat," kesal Fahmi.
Fahmi melihat gadis kecil yang tadi pagi dia temui di lampu merah.
"Loh, itu kan gadis kecil yang tadi pagi," gumam Fahmi.
Aura terduduk, wajahnya sudah penuh dengan keringat. Aura memegang perutnya yang saat ini terasa sangat lapar.
"Kamu kenapa Nak? kamu sakit?" tanya Ibu Ami panik.
"Tidak, Aura hanya capek saja," dustanya.
"Ya sudah, biar Ibu saja yang menjual kerupuk ini, kamu duduk saja di sini ya."
Aura menganggukkan kepalanya, sedangkan Ibu Ami kembali menjajakan dagangannya. Tidak lama kemudian, mobil Mama Luna pun datang.
"Fahmi, maaf Mama telat tadi Mama harus ke kantor Papa dulu memberikan bekal makan siang. Ayo kita pulang!" ajak Mama Luna dengan menarik tangan Fahmi.
"Sebentar Ma, Fahmi ke sana dulu."
"Kamu mau ke mana?" teriak Mama Luna.
Fahmi berlari menghampiri Aura yang sedang terduduk lemas itu.
"Hai, kamu yang tadi jualan di pinggir jalan kan?" seru Fahmi.
__ADS_1
Aura mendongakkan kepalanya. "Kakak yang tadi beli kerupuk aku, kan?"
"Iya, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Jangan bohong, kamu sakit?" tanya Fahmi dengan menyentuh kening Aura.
Mama Luna yang melihatnya ikut menghampiri Fahmi dan juga Aura.
"Fahmi."
"Ma, sepertinya dia sakit kita bawa ke rumah sakit yuk, kasihan," seru Fahmi.
"Hah sakit? kamu sakit sayang?" tanya Mama Luna dengan membelai pipi Aura.
"Tidak, aku hanya lapar saja," lirih Aura.
"Astaga, kamu belum makan?" tanya Mama Luna kaget.
Aura menggelengkan kepalanya, Ibu Ami yang melihat anaknya dihampiri orang yang tidak dikenal segera mendekati anaknya itu.
"Ada apa ini?" tanya Ibu Ami dengan memeluk Aura.
"Maaf, apa Ibu, Mamanya anaknya ini?"
"Iya, memangnya kenapa? apa Aura sudah melakukan kesalahan?" seru Ibu Ami panik.
"Tidak Bu, anak ibu sepertinya lemas belum makan," sahut Mama Luna.
"Astagfirullah, kasihan sekali."
"Ma, kita ajak makan saja," seru Fahmi.
"Ya sudah, ibu sama anaknya masuk ke mobil saya kita makan dulu, kasihan anaknya."
"Tidak usah Bu, kita tidak mau merepotkan Ibu," tolak Ibu Ami.
"Tidak merepotkan kok, kasihan anaknya sudah lemas kaya gitu. Ayo, masuk ke mobil saya."
Akhirnya Ibu Ami dan Aura pun masuk ke dalam mobil Mama Luna.
"Pak, kita ke restoran dulu ya."
"Baik, Nyonya."
Sopir pribadi Mama Luna pun segera melajukan mobilnya ke sebuah restoran dan tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di restoran.
"Ayo," ajak Mama Luna.
Ibu Ami dan Aura keluar dari dalam mobil, tapi mereka malah diam tidak mengikuti Mama Luna dan Fahmi.
"Loh, kok kalian malah diam? ayo masuk."
__ADS_1
"Bu, penampilan kita kotor dan bau takutnya ibu malu dan membuat semua orang tidak nyaman dengan kehadiran kita," seru Ibu Ami.
Mama Luna tersenyum dan merangkul Ibu Ami. "Ayo masuk tidak apa-apa, lagipula kita mau bayar kok bukannya mau minta-minta."
"Ayo kita masuk!" ajak Fahmi dengan menggandeng tangan Aura.
Akhirnya mereka pun masuk, Mama Luna segera memesankan beberapa makanan untuk mereka semua. Aura tampak celingukan memperhatikan suasana restoran itu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mama Luna.
"Aura baru pertama kali makan di restoran," sahut Aura.
Mama Luna tersenyum dan mengusap kepala Aura. "Reaksi kamu sama seperti Fahmi saat dibawa ke restoran," sahut Mama Luna.
Tiba-tiba makanan pun datang, Aura makan dengan sangat lahapnya membuat Mama Luna dan Fahmi tersenyum.
"Bu, makanan ini enak sekali," seru Aura.
"Aura, kalau sedang makan jangan bicara."
"Maaf, Bu."
Fahmi memberikan ayam kepada Aura. "Makanlah yang banyak," seru Fahmi.
"Terima kasih, Kak."
Mama Luna dan Bu Ami pun berbincang-bincang sembari menunggu anak-anak mereka selesai makan.
"Ya Allah, kok suami Ibu tega-teganya seperti itu. Lebih baik Ibu minta cerai saja, daripada tersiksa kasihan Aura."
"Sudah berkali-kali saya minta cerai dari suami saya Bu, tapi dia justru tambah menyiksa saya jadi saya bingung sekali," sahut Ibu Ami.
Sementara itu Aura dan Fahmi pun sedang berbincang-bincang.
"Gantungan tasnya bagus banget," seru Aura.
"Kamu mau?" tanya Fahmi.
Aura menganggukkan kepalanya dengan antusias, Fahmi melepaskan gantungan tas yang berbentuk bintang itu kepada Aura.
"Terima kasih ya, Kak Fahmi."
"Sama-sama, Aura."
Setelah selesai makan, Mama Luna pun mengantarkan Aura dan Ibu Ami pulang dan tidak lupa sebelum pulang, Mama Luna mengajak mereka ke mini market untuk membeli beras dan keperluan lainnya membuat Ibu Ami merasa sangat bahagia.
"Terima kasih, Bu. Semoga Ibu dan sekeluarga selalu diberikan kebahagiaan."
"Amin, kalau begitu kita pulang dulu."
"Aku pulang dulu, Aura."
"Iya, Kak. Terima kasih."
__ADS_1
Mama Luna dan Fahmi pun pergi meninggalkan rumah Aura, Fahmi terus saja menoleh ke belakang.
Mama Luna bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu Ami karena memang Mama Luna pun dulu seperti itu hidup penuh dengan kesedihan dan kesengsaraan.