
Papa Kai menghampiri Bu Ami dan menatapnya dengan tatapan tajam membuat Bu Ami menundukkan kepalanya sedangkan Aura memeluk erat tubuh ibunya itu.
"Lancang sekali kamu memasukan suami kamu ke rumah ini, bahkan suamimu mengambil sepatu kesayanganku!" bentak Papa Kai.
"Ma-maafkan sa-ya Pak, sa-ya ju-ga ti-dak ta-hu ka-lau sua-mi sa-ya ak-an da-tang ke-sini," sahut Bu Ami gugup.
"Ini alasan saya supaya istri saya tidak gampang percaya sama orang yang baru dikenal, karena mereka akan memanfaatkan keadaan!" bentak Papa Kai.
Mama Luna dan Fahmi tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi di cctv jelas sekali kalau suami Bu Ami yang mengambil sepatu kesayangan Papa Kai.
"Sekarang juga, kalian pergi dari rumah saya karena saya tidak mau sampai semua barang-barang saya hilang kalian ambil!" bentak Papa Kai dengan penuh amarah.
Bu Ami langsung berlutut di hadapan Papa Kai membuat Mama Luna dan Fahmi membelalakkan matanya.
"Maafkan suami saya Pak, saya sama sekali tidak tahu kalau suami saya akan datang ke sini. Saya sudah berusaha melarangnya dan merebut sepatu milik Bapak, tapi suami saya tidak mau memberikannya," seru Bu Ami dengan deraian airmatanya.
Mama Luna tahu kalau suami Bu Ami orangnya seperti apa karena Bu Ami sempat menceritakan mengenai suaminya kepada Mama Luna. Tapi untuk saat ini Mama Luna juga tidak bisa berbuat apa-apa, melihat suaminya murka seperti itu pun dia juga merasa takut.
"Saya tidak mau mendengar alasan apa pun dari kamu, sekarang juga kalian pergi dari sini dan saya jamin, sebentar lagi suamimu akan masuk penjara."
Bu Ami pun bangkit dan memeluk Aura yang saat ini sama-sama menangis.
"Bu, Pak, atas nama suami saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya dan saya juga mau mengatakan terima kasih kepada Bu Luna yang sudah banyak membantu keluarga saya kalau begitu saya dan Aura pamit dulu," seru Bu Ami dengan deraian airmata.
Bu Ami pun menggandeng tangan Aura untuk pergi dari rumah itu.
"Aura...."
Fahmi ingin menyusul Aura tapi dengan cepat Papa Kai menahan Fahmi.
__ADS_1
"Pa, Aura dan Ibunya tidak salah," seru Fahmi.
"Diam Fahmi, kamu tahu apa? kamu hanya anak kecil, jadi lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar kamu dan satu lagi, jangan pernah kamu bergaul dengan anak itu lagi!" bentak Papa Kai.
Fahmi merasa sangat marah kepada Papanya, dia pun berlari ke atas menuju kamarnya.
"Kamu lihat kan, sayang, apa yang terjadi jika kamu terlalu baik dan percaya kepada orang yang baru kamu kenal?" geram Papa Kai.
"Maafkan aku, Mas," sahut Mama Luna dengan menundukkan kepalanya.
Papa Kai menghela napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia tahu kalau saat ini istrinya itu sedang takut kepadanya. Papa Kai pun menarik tubuh Mama Luna ke dalam dekapannya, dan Mama Luna tanpa terasa meneteskan airmatanya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk memarahimu, aku hanya terbawa emosi saja karena sepatu itu adalah sepatu kesayanganku dan tidak ada lagi di dunia ini, karena itu sepatu limited edition."
"Maafkan aku, Mas," sahut Mama Luna sesenggukan.
"Sudah-sudah jangan menangis lagi, aku tidak marah kok sama kamu."
***
Bu Ami dan Aura sampai di rumah kontrakannya, dan mereka sangat terkejut dengan uang yang berserakan di lantai.
"Astagfirullah, ini uang siapa, Mas?" tanya Bu Ami dengan kesalnya.
Ayah Mail menyesap rokoknya dengan santai, sembari di hadapannya ada sebotol minuman membuat Bu Ami semakin geram.
"Itu uang untukmu, apa kamu tidak mau uang itu?" seru Ayah Mail santai.
"Uang dari mana sebanyak itu?"
__ADS_1
"Aku menjual sepatu tadi, dan kamu tahu ternyata sepatu tadi laku dengan harga 10 juta, beruntung sekali kan aku ternyata majikan kamu benar-benar orang kaya," sahut Ayah Mail dengan senyumannya.
Bu Ami dan Aura terkejut dengan jawaban Ayah Mail, Ayah Mail tidak tahu kalau harga sepatu itu 5 kali lipat dari harga yang dia dapatkan.
Bu Ami semakin kesal, dia mengambil botol minuman yang ada di hadapan suaminya itu, lalu membuang isinya dan melempar botol itu sampai pecah berserakan.
"Kurang ajar, berani sekali kamu membuang minumanku!" bentak Ayah Mail.
"Mas benar-benar sudah keterlaluan, selama ini Mas tidak pernah menafkahi aku dan Aura, tapi di saat aku sedang bekerja, Mas menghancurkan semuanya. Apa Mas tahu, betapa malunya aku kepada Bu Luna yang sudah sangat baik kepadaku dan Aura!" teriak Bu Ami dengan deraian airmatanya.
Plaaaakkk...
Ayah Mail dengan sekuat tenaga menampar Bu Ami, sampai-sampai Bu Ami oleng dan kepalanya membentur dinding.
"Ibuuuuuu!"
Aura segera menghampiri ibunya, dan ternyata kepala Bu Ami berdarah membuat Aura menangis histeris.
"Ibu, kepala ibu berdarah," seru Aura dengan deraian airmatanya.
Ayah Mail yang mengetahui istrinya terluka dengan cepat pergi dari rumah itu, bukannya dia bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit, dia malah kabur meninggalkan istrinya.
Bu Ami jatuh tak sadarkan diri, Aura dengan cepat berlari keluar dan berteriak meminta bantuan kepada tetangganya untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
Tapi, tidak ada satu pun tetangga yang mau menolong Bu Ami karena mereka tahu kalau Bu Ami tidak punya uang untuk biaya ke rumah sakit, jadi kalau mereka bawa Bu Ami ke rumah sakit, mereka takut dimintai pertanggung jawaban untuk biaya Bu Ami.
Aura semakin sesenggukan, dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi. Aura pun memilih kembali ke rumah kontrakannya dan merawat ibunya seorang diri
"Bu, bangun Bu."
__ADS_1
Aura mengambil air hangat dan membersihkan wajah Bu Ami yang saat ini sudah penuh dengan darah.
Dengan deraian airmata, Aura mengurus Ibunya dia tidak tahu apa Ibunya baik-baik saja atau tidak.