Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 54 S2 Kembali Ke Indonesia


__ADS_3





🌟


🌟


🌟


15 tahun kemudian...


Saat ini usia Aura menginjak 25 tahun, dan Amira berusia 23 tahun. Aura dan Amira tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan mempesona, banyak sekali pria-pria yang mendekati kedua bidadari Papa Hartawan itu.


Aura sudah mulai masuk ke dalam perusahaan membantu Papanya, sedangkan Amira masih kuliah di luar negeri dan sebentar lagi akan lulus.


Papa Hartawan juga dulu menawarkan Aura untuk kuliah di luar negeri, tapi Aura menolaknya karena Aura tidak mau terlalu jauh menimba ilmu karena sistem pendidikan di dalam negeri pun sudah bagus.


"Sayang, nanti siang kamu ada jadwal gak?" tanya Papa Hartawan.


"Tidak ada, memangnya kenapa Pa?"


"Kamu lupa ya, siang ini Amira pulang loh."


"Astagfirullah Pa, demi Allah Aura lupa," sahut Aura.


"Alah, bilang saja kamu tidak pernah menginginkan Amira pulang supaya kamu bisa menguasai perusahaan seorang diri, iya kan?" sinis Mama Kartika.


"Astagfirullah Ma, sumpah Aura sama sekali tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Akhir-akhir ini Aura memang sedang sibuk mengurus proyek terbaru perusahaan Papa," seru Aura dengan wajah sedihnya.


"Sudahlah sayang, jangan dengarkan ucapan wanita itu. Di otak dia hanya ada prasangka buruk saja, dia memang tidak pernah melihat ketulusan hati orang lain karena hatinya memang sudah dipenuhi dengan sifat iri dengki," sahut Papa Hartawan.


Mama Kartika merasa sangat marah, dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari meja sarapan.


"Pa, Mama pasti sangat marah sama Aura."

__ADS_1


"Sudahlah jangan pikirkan dia. Ya sudah, nanti siang kita ketemu di Bandara saja ya."


"Oke, Pa."


Aura tumbuh menjadi wanita yang cantik, anggun, baik hati, dan ramah kepada setiap orang sehingga semua karyawan di perusahaannya sangat menyukai Aura.


Aura dan Papa Hartawan pun pergi menuju perusahaan, selama dalam perjalanan mereka berdua selalu saja bercakap-cakap dan bercanda bersama dan Papa Hartawan selalu saja tertawa saat bersama Aura karena Aura pintar sekali menyenangkan hati Papanya itu.


"Sayang, usia kamu sudah dewasa bahkan kamu sudah pantas untuk menikah tapi sampai sekarang Papa lihat, belum ada satu pria pun yang kamu kenalkan sama Papa."


"Ya ampun Pa, santai sajalah lagipula Aura masih ingin bekerja dulu."


"Santai bagaimana? usia kamu saat ini sudah 25 tahun, sudah pantas kamu mempunyai seorang anak dan Papa juga ingin cepat-cepat menggendong cucu."


Aura menyandarkan kepalanya di pundak Papanya itu. "Papa sabar saja, nanti juga kalau sudah jodohnya pria itu akan datang untuk Aura dan Aura akan cepat-cepat menikah."


"Apa perlu Papa Carikan untukmu? banyak kok anak teman Papa yang menyukaimu."


"Enggak ah Pa, untuk saat ini Aura belum memikirkan untuk menikah."


"Kalau begitu begini saja, Papa kasih waktu kamu 1 tahun untuk mencari pasangan, kalau dalam 1 tahun kamu belum mendapatkan pasangan juga, Papa yang akan mencarikan untukmu."


Aura sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, jujur dalam hati Aura sangat mengharapkan Fahmi, Kakak yang sejak kecil selalu menolongnya.


"Lucu sekali, aku mengharapkan sosok penyelamatku di waktu kecil, memang kita akan bertemu lagi? sudah belasan tahun berlalu, dan aku juga tidak tahu di mana dia berada," batin Aura dengan senyumannya.


Beberapa saat kemudian, Aura dan Papa Hartawan pun sampai di kantor. Seperti biasa, Aura akan merangkul lengan Papanya itu dengan manja.


Entah kenapa, Aura begitu sangat manja kepada Papa Hartawan mungkin karena sejak lahir tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah, makanya sekarang Aura begitu sangat manja kepada Papanya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi, dan Aura segera membereskan barang-barangnya. Aura harus segera ke Bandara, Aura pun memesan taksi online dan segera menuju Bandara.


2 jam kemudian, Aura pun sampai di Bandara saking terburu-burunya dan tidak melihat jalan, Aura pun menabrak seseorang.


"Astaga, maaf-maaf Mba saya tidak sengaja," seru Aura dengan mengambilkan tas wanita itu yang terjatuh.


"Makanya kalau jalan itu lihat ke depan bukannya malah fokus sama ponsel terus!" sentak wanita itu.

__ADS_1


"Ah iya, sekali lagi maafkan saya."


Wanita itu pun langsung pergi meninggalkan Aura dengan raut wajah yang tidak bersahabat, sedangkan Aura dengan cepat segera berlari mencari keberadaan Papanya.


"Kak Aura!" teriak Amira.


"Amira."


Amira berlari dan segera memeluk kakaknya itu, dari kecil sampai sekarang Amira memang sangat menyayangi Aura seperti kakak kandungnya sendiri.


"Aku rindu sekali sama kakak."


"Kakak juga sangat merindukanmu."


Amira melepaskan pelukannya. "Kenapa waktu Amira wisuda kakak gak datang? menyebalkan sekali," kesal Amira.


"Ya Allah, maafkan kakak Amira, soalnya kakak tidak bisa meninggalkan pekerjaan kakak, waktu itu pekerjaan kakak banyak sekali jadi maafkan kakak ya," seru Aura dengan wajah memelasnya.


"Ehmmm...okelah, untuk sekarang Amira maafin kakak tapi kalau sampai terulang lagi, awas saja Amira bakalan ngambek sama kakak selama satu Minggu."


Aura mengacak-ngacak rambut Amira dengan gemas. "Baiklah, kakak janji."


"Ya sudah, sekarang kita pulang soalnya Mama sudah masak makanan kesukaan kamu sayang," seru Mama Kartika.


"Let's go!"


Papa Hartawan dan yang lainnya pun segera menuju mobil dan langsung pulang ke rumah. Sementara itu di sisi lain, Farah pun menghampiri keluarganya yang saat ini sedang makan di cafe yang ada di Bandara karena mereka sangat kelaparan.


"Wajah kamu kenapa, kok cemberut seperti itu?" tanya Mama Luna.


"Itu Ma, barusan ada wanita yang nabrak Farah tas Farah sampai jatuh, dia itu tidak lihat jalan soalnya yang dia lihat hanya ponsel terus," kesal Farah.


"Segitu doang, kirain ada apa?" seru Fahmi dengan santainya.


"Tapi dia begitu sangatenyebalkam, Kak."


"Sudah, sekarang lebih baik habiskan makanan kalian habis itu kita pulang soalnya Papa sudah capek banget ini pengen cepat-cepat merebahkan tubuh," seru Papa Kai.


Semuanya pun dengan cepat segera menghabiskan makanan mereka masing-masing. Ternyata wanita yang tadi Aura tabrak adalah Farah yang tidak lain dan tidak bukan adik Fahmi.

__ADS_1


__ADS_2