Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 7 Kepulangan Medina


__ADS_3

6 bulan kemudian....


Sudah 6 bulan sudah, Luna dan Kai menjalankan rumah tangga tapi selama itu juga Kai tidak pernah menganggap Luna sebagai istrinya.


Sekarang usia kandungan Luna sudah menginjak 6 bulan, dan sudah terlihat membuncit. Walaupun Kai tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, tapi Luna tetap menyiapkan semua kebutuhan Kai.


Saat ini Luna membawa pakaian bersih Kai dan ingin menyimpannya di kamar Kai, Luna berani masuk ke dalam kamar Kai saat Kai sudah berangkat bekerja karena kalau Kai masih ada di rumah, sudah pasti Kai akan memarahi Luna habis-habisan.


"Seandainya Tuan Kai mengizinkan aku untuk mencuci pakaiannya, pasti aku bakalan senang sekali," gumam Luna dengan senyumannya.


Selama ini Kai memang tidak pernah memperbolehkan barang-barangnya di sentuh oleh Luna, tapi Bi Sum selalu memberikan pakaian kotor milik kepada Luna karena ia tahu, anaknya itu sangat senang kalau sudah di suruh mencuci pakaian milik Kai.


Luna kembali merapikan semua pakaiannya ke dalam lemari milik Kai, tapi tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu milik Kai.


"Astaga, itu suara sepatu Tuan Kai, aku harus bagaimana? kalau dia tahu aku ada di sini, pasti dia akan marah besar lagi sama aku," gumam Luna panik.


Luna tampak kebingungan, hingga dia pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam ruangan ganti.


📞"Hah, serius kamu Mark? baiklah, hari ini aku akan ke Amerika."


Kai terlihat sangat bahagia, dia pun dengan cepat menutup sambungan teleponnya dan segera mengambil tas kecil dan dia isi dengan beberapa helai bajunya.


Kai kembali mengotak-ngatik ponselnya dan menghubungi Willi, yang tidak lain adalah asisten pribadinya.


📞"Wil, tolong kamu siapkan jet pribadiku soalnya aku harus segera pergi ke Amerika karena Medina saat ini sudah sadar dan akan segera pulang," seru Kai dengan nada yang bahagia.


Kai kembali menutup sambungan teleponnya dan dengan cepat membereskan barang-barang yang akan dia bawa. Setelah selesai, Kai pun segera keluar dari dalam kamarnya dan pergi menuju Bandara.


"Nyonya Medina akan pulang?" gumam Luna.


Harapan Luna hanya tinggal harapan, kali ini dia sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan cinta dari Kai. Apalagi sekarang Medina sudah sembuh dan akan kembali pulang, sudah dipastikan Kai tidak akan pernah memperdulikan Luna walaupun memang selama ini Kai juga tidak pernah memperdulikannya.

__ADS_1


Luna keluar dari dalam kamar Kai dengan raut wajah sedihnya.


"Lah, kamu kenapa Nak? apa Tuan Kai memarahi kamu lagi?" tanya Bi Sum.


"Tidak Bu, tadi Luna mendengar kalau Nyonya Medina sudah sembuh dan kemungkinan besar dia akan segera pulang. Tadi Tuan Kai berangkat ke Amerika untuk menjemput Nyonya Medina," sahut Luna sedih.


Bi Sum menatap anaknya prihatin, sungguh malang nasib anaknya itu. Kalau ia tahu akan menjadi seperti ini, ia tidak akan membawa Luna untuk ikut bekerja dengannya.


"Ibu tidak bisa melakukan apa-apa, Ibu hanya bisa meminta maaf karena sudah membawa kamu ke sini. Seandainya kamu masih di kampung, mungkin kamu tidak akan mengalami hal seperti ini," seru Bi Sum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu jangan bicara seperti itu, semuanya sudah takdir dan Ibu jangan merasa bersalah."


***


Dua hari pun berlalu, dan hari ini waktunya Medina kembali ke Indonesia karena kondisinya sudah mulai membaik.


Luna dan Bi Sum menunggu kedatangan Medina dan yang lainnya.


"Iya, Bu."


Tidak lama kemudian, 2 buah mobil berhenti di depan rumah Kai. Kai keluar dari dalam mobil dengan terburu-buru, lalu mengeluarkan kursi roda untuk Medina. Kai dengan cepat mengangkat tubuh Medina dan mendudukkan tubuh Medina di atas kursi roda, Luna memalingkan wajahnya entah kenapa Luna merasa cemburu dengan perlakuan Kai kepada Medina.


"Selamat datang, Nyonya," sapa Bi Sum.


"Terima kasih, Bi."


Medina melirik ke arah Luna. "Bi, siapa wanita ini?" tanya Medina.


"Ini Putri saya, Nyonya."


"Ha-halo Nyonya, na-ma sa-ya Luna," sahut Luna gugup.

__ADS_1


"Kamu sedang hamil?" tanya Medina.


"I-iya Nyonya."


Mama Arini dan Papa Mahaprana saling pandang satu sama lain, sedangkan Kai hanya bisa terdiam.


"Sayang, tanya-tanyanya nanti saja sekarang kamu harus istirahat dulu," seru Kai dengan senyumannya.


"Iya sayang, lagipula aku capek banget," sahut Medina.


Kai pun segera mendorong kursi roda melewati Luna, kedua orangtua Medina menatap sinis kepada Luna dan terakhir ada Mark yang membawakan tas milik Medina.


Semuanya berkumpul di ruangan tamu, Bi Sum dan Luna membawakan minuman untuk semuanya.


"Jeng Arini, apa tidak apa-apa mempekerjakan pembantu yang sedang hamil?" seru Mama Marisa dengan judesnya.


Mama Arini menatap ke arah Luna. "Aku tidak menyuruh Luna untuk mengerjakan pekerjaan berat," sahut Mama Arini.


"Ke mana suamimu? apa kamu seorang janda?" tanya Papa Kris.


Luna hanya bisa menundukkan kepalanya tidak bisa menjawab pertanyaan Papa Kris, tidak lama kemudian Kai pun datang dan langsung duduk di samping Papa Mahaprana.


"Mana Medina?" tanya Mama Arini.


"Medina tidur Ma, mungkin dia kecapean," sahut Kai.


Luna pun segera pamit dari sana, hatinya benar-benar sakit. Jangankan Kai menanyakan kondisinya, melihat ke arahnya saja rasanya Kai enggan sekali.


Luna masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ujung ranjang, lalu Luna mengusap perutnya yang sudah membuncit itu.


"Maafkan Papamu ya Nak, kamu jangan sedih. Papamu bukannya membencimu, tapi Papamu hanya belum bisa menerima kehadiranmu. Tapi tenang saja, suatu saat nanti Papamu pasti akan menyayangimu," gumam Luna dengan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2