Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 23 Merasa Bersalah


__ADS_3

Tubuh Kai lemas, dia terduduk di samping ranjang lalu menjambak rambutnya sendiri.


"Aaaaaa....brengsek kalian berdua!" teriak Kai.


Kai kembali melamun, dilihatnya buku harian Luna ternyata selama ini Luna menuangkan segala yang dia rasakan di dalam buku harian itu.


Kai terkejut saat melihat salah satu tulisan Luna.


"*****Tuan Kai, sekuat apa pun aku mencintaimu, aku tetap tidak bisa memilikimu. Merindukanmu adalah deritaku, tapi mencoba tidak memperdulikanmu pun ternyata sangat menyakitkan. Jujur, logika ku mengatakan ingin pergi, tapi hati ingin tetap bertahan. Dan ternyata, lagi-lagi aku ditampar kenyataan bahwa untuk apa bertahan jika suamiku sendiri tidak menginginkanku karena pada dasarnya, aku hanyalah sebatas istri***** ********siri********."


Kai membelalakkan matanya. "Apa selama ini dia mencintaiku?" gumam Kai.


Kai mulai mengingat apa saja yang sudah dia lakukan kepada Luna. Luna saat ini sedang mengandung anaknya, tapi Kai sama sekali tidak memperhatikan dan memperdulikan Luna.


Kai terlalu dibutakan oleh cintanya kepada Medina, sehingga Kai tega menyakiti hati calon ibu dari anaknya.


"Astaga, selama ini aku sudah terlalu jahat kepada Luna," gumam Kai dengan mengusap wajahnya secara kasar.


Kai merasa sangat bersalah, memang benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa kita akan merasa sangat kehilangan di saat orang itu sudah pergi dari kehidupan kita.


Sementara itu, Luna baru saja merebahkan tubuhnya tapi Luna sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


"Kenapa aku selalu ingat kepada Tuan Kai? padahal belum tentu dia pun mengingat aku," gumam Luna.


Ternyata keputusan dia pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan diri ternyata salah, justru Luna selalu mendapatkan hinaan dan sindiran dari para tetangganya karena Luna pulang dalam keadaan hamil bahkan Luna tidak membawa suaminya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya...


Luna pergi ke warung karena ingin membeli telur dan mie, seperti biasa para ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung menatap sinis ke arah Luna.


"Ternyata memang benar ya, kalau wanita cantik itu murahan sekali."


"Saya tidak akan mengizinkan anak saya kerja di kota takut pulang-pulang hamil duluan mana suaminya tidak ada lagi."


"Iya Bu, lebih baik anak gadis kita tetap di sini saja daripada nantinya membuat malu satu kampung."


Para ibu-ibu itu memang tidak ada kerjaan, setiap hari selalu saja menggunjing Luna. Mata Luna sudah mulai berkaca-kaca, setelah Luna membeli semua yang dia butuhkan, Luna pun langsung pulang.


Sesampainya di rumah, Luna sudah tidak bisa menahan lagi airmatanya. Sungguh hatinya sangat sakit mendengar para tetangga selalu saja menggunjingnya.


"Kenapa Nak? apa ibu-ibu itu menghina kamu lagi?" tanya Bu Sum.


"Kenapa mereka selalu saja menggunjing Luna, Bu? padahal ini juga bukan kemauan Luna," seru Luna dengan deraian airmata.


Sementara itu, Kai baru saja bangun dari tidurnya tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ada seseorang yang mengirim pesan kepadanya.


Seketika Kai membelalakkan matanya, saat salah satu orang kepercayaannya mengirim bukti korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh Mark dan juga direktur keuangan di perusahaannya.


"Kurang ajar kalian semua!" geram Kai.


Kai segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu Kai dengan sangat buru-buru memakai baju dan segera pergi menuju kantor.


Saat ini Kai benar-benar sudah kehabisan sabar, dia dikhianati oleh istri dan sahabatnya baik itu urusan cinta maupun bisnis.

__ADS_1


"Sudah berapa lama mereka mengambil uang perusahaan?" tanya Kai.


"2 tahun belakangan ini, Tuan."


Kai mengepalkan tangannya, dia benar-benar sudah dibodohi dan Kai merasa menjadi manusia paling tolol di dunia ini.


Kai menghubungi seseorang dan menyuruh menangkap Mark maupun Imron dan tidak membutuhkan waktu lama, Imron bisa di tangkap di rumahnya begitu pun dengan Mark yang sama-sama ditangkap.


Kai menemui Mark di dalam penjara. "Ada apa kamu ke sini? apa kamu mau menertawakan ku?" geram Mark.


"Tidak disangka, wajah polosmu itu menyimpan kejahatan yang menjijikan sekali," sahut Kai.


"Dari dulu aku memang membencimu Kai, kamu selalu menjadikan aku boneka mainanmu tanpa pernah berpikir bagaimana perasaanku," kesal Mark.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan terhadapmu? bahkan aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku sendiri, kamu saja yang tidak pandai bersyukur."


"Dari kecil kamu selalu mendapatkan apa yang kamu mau, sedangkan aku harus bekerja keras dulu untuk mendapatkan yang aku mau. Bahkan saat aku mencintai Medina pun, kamu yang duluan merebutnya dari aku. Kamu memang manusia tidak punya hati, maka dari itu aku sangat membencimu!" sentak Mark.


Kai menyunggingkan sedikit senyuman sinisnya. "Kebencianmu tidak beralasan, kamu sendiri yang bodoh karena membiarkan aku duluan yang mendapatkan Medina. Tapi sekarang, aku sudah membuang Medina jadi kamu boleh memungutnya dan menyimpannya sampai kapan pun."


"Kurang ajar kamu Kai, jangan bawa-bawa Medina dalam masalah ini karena dia tidak tahu apa-apa, biarkan Medina hidup bahagia!" bentak Mark.


"Kalau aku menderita, kalian juga harus menderita," seru Kai.


Kai pun langsung meninggalkan Mark yang terlihat sangat emosi itu, setelah Mark dan Imron masuk penjara, sekarang giliran dia mengirim surat gugatan cerai kepada Medina.


Kai menyerahkan urusan perceraiannya kepada Pengacara pribadinya, Kai pun kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, Kai menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpejam dan tangannya memijit keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut.

__ADS_1


Tiba-tiba sekelebat bayangan Luna hadir dipikiran Kai, lagi-lagi perasaan bersalah menggelayuti hatinya.


"Apa ini sebuah karma untukku?" batin Kai.


__ADS_2