
Medina dengan cepat bangun karena perutnya terasa sangat mual, dia muntah-muntah di kamar mandi.
Saat ini Medina dan kedua orangtuanya tinggal di rumah yang sedikit lebih kecil karena mereka tidak sanggup membayar uang bulanannya kalau masih tinggal di rumah yang dulu.
Selama ini Kai yang membayar biaya bulanan rumah orangtua Medina, tapi sekarang tidak ada lagi Bank berjalan jadi mereka memutuskan untuk menjual rumah itu dan pindah ke rumah yang lebih kecil.
"Kamu kenapa, Medina?" tanya Mama Marisa.
"Aku tidak tahu Ma, perutku mual banget."
"Apa? jangan-jangan kamu hamil lagi," seru Mama Marissa.
"Hamil?"
Medina terduduk lemas, sudah pasti saat ini dia sedang hamil anaknya Mark dan yang lebih menyesakan lagi, Mark saat ini sudah dipenjara atas kejahatan yang sudah dia lakukan.
"Tidak Ma, aku tidak mau hamil pokoknya aku harus menggugurkan kandungan ini," seru Medina dengan memukul-mukul perutnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan, Medina?" bentak Papa Kris.
"Pa, aku tidak mau hamil kalau aku hamil terus bagaimana dengan nasibku dan anak ini sedangkan Ayahnya saat ini sedang dipenjara," sahut Medina dengan deraian airmata.
"Itu sudah menjadi resiko kamu Medina, kamu dan Mark sudah terlalu banyak berbuat dosa jadi sekarang terima saja hasil dari perbuatan kalian."
__ADS_1
Medina hanya bisa menangis meratapi nasibnya, sungguh saat ini Medina sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dia tidak menyangka kehidupannya yang dulu bergelimang harta, pada akhirnya sekarang lenyap oleh kebodohannya sendiri.
Sementara itu, semenjak kejadian yang menimpa dirinya, Kai berubah menjadi pria yang dingin. Sudah tidak ada lagi senyum yang di bibirnya, semuanya sudah musnah bersamaan dengan rasa sakit yang sudah dia terima secara bertubi-tubi.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Permisi Tuan."
"Bagaimana, apa kamu sudah bisa menemukan Luna?"
"Maaf Tuan, saya belum bisa menemukannya bahkan saya sudah datang ke alamat yang Tuan berikan, tapi menurut orang di sana, Bi Sum dan anaknya sudah tidak tinggal di sana puluhan tahun yang lalu. Jadi, di saat Bi Sum sudah masih bekerja di rumah Tuan, Bi Sum sudah tidak tinggal di sana."
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan."
Kai menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan matanya.
"Ke mana mereka pergi? itu adalah alamat yang diberikan oleh Mama, tapi Luna dan Bi Sum sudah tidak tinggal di sana. Ke mana lagi aku harus mencari mereka?" gumam Kai.
Sungguh saat ini Kai merasa sangat bersalah, memang belum ada rasa cinta di hati Kai tapi entah kenapa Kai merasa sangat menyesal sudah mengacuhkan Luna bahkan selalu bersikap kasar kepada Luna.
__ADS_1
***
Hari demi hari telah dilewati dan saat ini Kai dan Medina sudah resmi bercerai. Kai akhirnya merasa lega, tapi berbeda dengan Medina yang semakin hari semakin kurus karena Medina sama sekali tidak mau makan.
"Sayang, kamu makan ya, kasihan anak dalam kandunganmu dia tidak salah apa-apa," seru Mama Marisa.
"Aku tidak lapar, Ma."
"Kalau kamu tidak lapar, setidaknya kamu pikirkan nasib anakmu itu, apa kamu tidak kasihan kepadanya?"
Medina melihat perutnya dan mengusapnya dengan sangat pelan, tiba-tiba airmatanya menetes.
"Kenapa semua ini terjadi kepada Medina, Ma? aku sungguh tidak kuat menjalani hidup seperti ini," seru Medina dengan deraian airmatanya.
"Jangan bicara seperti itu, masih ada Mama dan Papa yang akan selalu berada di samping kamu jadi kamu tidak usah khawatir. Mama hanya ingin sekarang kamu makan ya, kasihan cucu Mama."
Medina menatap Mamanya dengan deraian airmata, lalu Medina menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, biar Mama suapi kamu."
Mama Marisa menyuapi Medina, bahkan saat ini mata Mama Marisa pun sudah berkaca-kaca. Dia sadar betul kalau kesalahan mereka itu sangat fatal, dan masih untung Kai tidak menuntut mereka lebih kejam lagi.
Sekarang, tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain menjalani kehidupan mereka apa adanya.
__ADS_1