
Luna melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Fahmi.
"Ya sudah, sekarang kita pulang ya. Mama sudah masak untukmu," seru Luna dengan senyumannya.
Fahmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Luna membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Luna saat melihat Kai sudah berdiri di hadapannya.
Untuk sesaat Luna dan Kai saling tatap satu sama lain, membuat Fahmi merasa bingung. Hingga beberapa detik kemudian, Luna menarik tangan Fahmi dan mengajak Fahmi pergi dari sana tanpa memperdulikan Kai.
"Tunggu, Luna."
Luna dan Fahmi menghentikan langkahnya, Kai perlahan menghampiri mereka lalu berdiri di hadapan Fahmi. Kai memperhatikan wajah Fahmi dengan seksama, terlihat sekali kalau wajah Fahmi mirip dengannya.
Kai berjongkok di hadapan Fahmi membuat Fahmi mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Mamanya.
"Si-siapa na-mamu, Nak?" tanya Kai dengan bibir yang bergetar.
"Fahmi, Om."
Perlahan Kai mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Fahmi, airmata Kai menetes sedangkan Luna memalingkan wajahnya sembari menahan tangisannya.
"Anakku."
Kai dengan cepat memeluk Fahmi, tangisan Kai pecah dan tubuh Kai bergetar hebat. Betapa berdosanya dia karena selama ini sudah menyia-nyiakan anak tampan dan pintar itu.
"Maafkan Papa Nak, maaf," lirih Kai.
Luna menutup mulutnya sembari menangis, dia tidak menyangka kalau Kai akan menganggap Fahmi sebagai anaknya. Sedangkan Ibnu hanya bisa menundukkan kepalanya, Ibnu tahu siapa Luna karena memang selama ini Kai menyuruh Ibnu untuk mencari keberadaan Luna.
Cukup lama Kai memeluk Fahmi, bahkan wajah polos Fahmi masih terlihat kebingungan dengan pria tampan yang saat ini memeluknya.
Kai melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah tampan Fahmi.
"Kamu anak yang hebat, Nak."
"Anda siapa? kenapa anda memeluk saya?" tanya Fahmi polos.
"Maafkan Papa Nak, Papa sudah terlalu lama mengabaikanmu dan Mamamu. Aku Papamu, Nak," seru Kai.
Fahmi membelalakkan matanya, lalu Fahmi menoleh ke arah Mamanya yang saat ini sudah berderaian airmata.
"Ma, apakah benar Om ini Papanya Fahmi?" tanya Fahmi.
Luna terdiam sejenak, hingga beberapa saat kemudian Luna pun menganggukkan kepalanya. Fahmi kembali terkejut dan menatap Kai yang masih berjongkok di hadapannya itu.
Perlahan tangan kecil Fahmi terulur untuk menyentuh wajah Kai, dan airmata Fahmi kembali menetes.
"Papa, Fahmi punya Papa?"
Hati Kai benar-benar sakit, Kai kembali memeluk Fahmi dan menciumi Fahmi.
"Maafkan Papa Nak, maaf."
__ADS_1
Kai menggendong Fahmi tapi Fahmi malah menutup wajahnya karena malu.
"Kenapa wajahmu ditutupi begitu?" goda Kai.
"Fahmi malu, karena Fahmi tidak pernah digendong sama Mama," sahut Fahmi.
Kai tersenyum, lalu melirik ke arah Luna yang sedang tersenyum juga tapi dengan cepat Luna menundukkan kepalanya.
"Rumah kalian di mana?"
"Di sana," tunjuk Fahmi.
"Kalau begitu, Papa boleh kan, mampir ke rumah kalian?"
"Boleh dong, Pa."
"Ja-jangan Tuan, rumah kita jelek," tolak Luna.
"Tidak apa-apa."
"Pa, turunin Fahmi, biarkan Fahmi jalan saja."
Kai pun akhirnya menurunkan Fahmi, dan mereka berjalan berdua di depan. Sedangkan Luna masih terdiam mematung merasa tidak percaya kalau dia akan bertemu lagi dengan Kai.
"Mari Nyonya," seru Ibnu menyadarkan Luna.
"Ah, iya."
"Pa, itu rumah Fahmi," tunjuk Fahmi.
Betapa terkejutnya Kai saat melihat keadaan rumah Luna dan Fahmi yang sangat kecil dan jauh dari kata layak kalau menurut Kai.
"Kalian tinggal di rumah yang seperti ini?" tanya Kai tidak percaya.
"Iya, kenapa? rumah Fahmi jelek kan? Papa tahu, nanti kalau sudah besar Fahmi ingin menjadi seorang arsitek biar Fahmi bisa membuatkan rumah yang bagus untuk Mama," seru Fahmi.
Hati Kai lagi-lagi terasa teriris mendengar ucapan Fahmi, sungguh Kai menjadi Papa yang sangat berdosa sudah membiarkan anaknya hidup dalam kesusahan.
"Ayo masuk, Pa."
Fahmi mengajak Kai untuk masuk ke dalam rumahnya, rumahnya hanya ada satu kamar, dapur kecil, ruang tamu yang kecil, dan kamar mandi yang kecil pula.
Kai memperhatikan sudut rumah yang selama ini Luna dan Fahmi tempati.
"Maaf Tuan, rumahnya sempit dan jelek," seru Luna.
"Bi Sum, mana?"
"Ibu sudah meninggal 1 tahun yang lalu."
Kai duduk di kursi bersama Ibnu dan juga Fahmi.
__ADS_1
"Ma, Fahmi lapar."
"Sebentar ya, Mama panaskan dulu. Tuan-tuan mau minum kopi?" tawar Luna.
"Panggil saja Ibnu, Nyonya, jangan Tuan," seru Ibnu.
Luna memanaskan nasi dan lauk pauk seadanya untuk Fahmi, setelah selesai Luna pun membuatkan kopi untuk Kai dan juga Ibnu.
Fahmi dengan cepat melahap nasi dan lauk pauk yang hanya dengan tahu dan telor itu, tapi entah kenapa Kai kok merasa perutnya lapar.
"Nak, bolehkah Papa mencicipi makananmu," seru Kai.
"Boleh."
"Jangan Tuan, itu makanan tadi siang yang dipanaskan," seru Luna.
Kai tidak mendengarkannya, dia pun ikut mencoba makanan yang sedang di santap Fahmi dan ternyata menurut Kai enak. Fahmi sampai menghentikan makannya dan justru melihat Papanya itu yang sedang makan dengan lahapnya.
Luna, Fahmi, dan Ibnu sampai menganga melihat cara makan Kai yang seperti orang kelaparan.
Dalam hitungan menit, makanan yang awalnya untuk Fahmi justru habis ludes tak bersisa oleh Kai. Kai sampai bersendawa saking kenyangnya.
"Papa lapar?" tanya Fahmi.
"Astaga, maafkan Papa sudah menghabiskan makanan kamu. Papa pesankan makanan ya buat kamu Nak, kamu mau makan apa?" seru Kai.
"Fahmi ingin makan ayam Pa, soalnya Fahmi jarang sekali makan ayam. Jika Mama dapat orderan nasi box banyak, baru Fahmi bisa makan daging ayam," sahut Fahmi antusias.
Kai dan Ibnu sampai kaget mendengar jawaban jujur Fahmi.
"Nu, pesankan makanan yang enak-enak untuk Fahmi," seru Kai.
"Baik, Tuan."
Luna hanya bisa diam, dia tidak tahu harus bicara apa. Setengah jam kemudian, ada kurir yang datang mengantarkan makanan dan Ibnu segera membukanya.
"Makanlah yang banyak, sampai kamu kenyang," seru Kai dengan mengusap kepala Fahmi.
Mata Fahmi tampak berbinar melihat makanan yang hanya bisa dia lihat di tv itu sekarang ada di hadapannya. Ibnu menemani Fahmi makan, sedangkan Kai dan Luna duduk melihat Fahmi makan dengan lahapnya.
"Ya Allah, ampuni hamba yang sudah menelantarkan anak hamba sendiri. Hamba janji, mulai sekarang akan membuat Fahmi bahagia sampai-sampai dia bisa melupakan kesedihannya selama ini," batin Kai dengan hati yang begitu sakit.
Sungguh miris memang, di saat anak-anak diperkotaan sudah bosan dengan yang namanya ayam, Fahmi justru jarang sekali makan ayam dan Kai merasa sangat berdosa karena sudah membiarkan anaknya hidup dalam kesusahan.
*
*
*
Untuk para reader, maaf jika Author jarang up soalnya Author punya kesibukan di real juga jadi kalau Author jarang up mohon dimengerti karena Author hanya bisa menulis di waktu yang benar-benar senggang🙏🙏
__ADS_1