Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 35 Mulai Cemburu


__ADS_3

1 bulan pun berlalu...


Hubungan antara Luna dan Kai semakin hari semakin membaik, bahkan saat ini Luna sudah tidak merasa canggung lagi kepada Kai.


Luna saat ini sedang merapikan tempat tidur mereka, sampai saat ini Luna dan Kai belum melakukan kewajiban yang selayaknya dilakukan pasangan suami istri. Selain Kai masih ragu-ragu, Fahmi juga sering sekali tidur bersama mereka.


Kai terdiam sembari menunggu Luna selesai, Kai sudah terbiasa dipakaikan dasi oleh Luna jadi dia tidak mau memakainya sendiri.


"Astaga, kenapa dasinya belum dipasang?"


"Nunggu kamu yang pasangkan."


Luna tersenyum, dia pun menghampiri Kai dan mengambil kursi kecil untuk dia berdiri. Tubuh Kai sangat tinggi, sehingga Luna selalu kesusahan kalau tidak memakai kursi kecil. Entah kenapa Kai menjadi suka melihat wajah Luna dari jarak yang dekat seperti itu, bahkan perasaan Kai pun sudah mulai lain kepada Luna dan sepertinya Kai sudah mulai jatuh cinta kepada Luna.


"Sudah selesai."


"Nanti siang kamu sibuk tidak?" tanya Kai.


"Tidak."


"Kalau begitu, nanti siang bawakan aku makan siang ke kantor."


Luna menaikan satu alisnya dan menatap Kai dengan tatapan bingung.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Tidak biasanya Mas menyuruh aku membawakan bekal makan siang ke kantor."


"Kalau kamu tidak mau ya sudah, aku tidak akan memaksa," seru Kai.


Kai segera keluar dari kamar dengan wajah yang cemberut membuat Luna terkekeh.


"Idih, ada yang ngambek," gumam Luna.


Selama sarapan, Kai tidak mau bicara sedikit pun dan Luna pun memilih untuk tidak mengajak Kai bicara.


Setelah sarapan selesai, Kai dan Fahmi pun segera berangkat seperti biasa Kai akan mengantarkan Fahmi sekolah terlebih dahulu baru setelah itu dia pergi ke kantor.


Sementara itu di rumah, Luna tampak tersenyum dia melihat-lihat majalah yang berisi menu-menu makanan.


"Aku masak apa ya, untuk makan siang Mas Kai nanti," gumam Luna.


Sampai saat ini memang tidak ada pembantu di rumah Kai, karena Luna melarang Kai untuk mempekerjakan pembantu. Dia ingin mengerjakannya sendiri dan memasak untuk anak dan suaminya oleh tangannya sendiri.


Sesampainya di kantor, Kai langsung masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang cemberut membuat Ibnu mengerutkan keningnya.


"Tuan, jadwal hari ini ada pertemuan dengan investor dari China," seru Ibnu.


"Jam berapa?"


"Jam 2 siang."


Kai menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangannya pertanda kalau Ibnu harus keluar dari ruangannya. Ibnu pun keluar dengan hati yang bertanya-tanya.


"Kenapa dengan Tuan Kai? apa tadi malam dia tidak dikasih jatah sama Nyonya Luna? wajahnya menyeramkan sekali," gumam Ibnu.

__ADS_1


Hari ini mood Kai benar-benar jelek, hanya gara-gara Luna bicara seperti itu sudah bisa membuat moodnya anjlok.


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, saat ini Luna sedang berkutat dengan masakannya setelah mencari menu makanan yang enak akhirnya untuk makan siang, Luna akan memasakkan Kai daging sapi lada hitam.


"Mudah-mudahan saja Mas Kai suka dengan masakan aku," gumam Luna dengan senyumannya.


Setelah selesai masak dan memasukan masakannya ke sebuah Tupperware, Luna pun segera ke kamarnya untuk mandi. Sekarang Luna jadi sering merias diri, supaya Kai tidak bosan dan jatuh cinta kepadanya. Toh, tidak ada yang salah jika kita dandan mempercantik diri untuk suami, justru kita akan mendapatkan pahala.


Luna segera memesan taksi, setelah siap Luna pun segera masuk ke dalam taksi menuju kantor Kai.


"Tuan, siang ini Tuan mau makan apa? atau Tuan mau pergi ke restoran saja?" tanya Ibnu.


"Aku sedang malas keluar, kamu pesankan saja makanan. Terserah, kamu mau beli apa."


"Baik, Tuan."


Ibnu pun segera keluar dari ruangan Kai dan turun ke lantai bawah. Ibnu mengotak-ngatik ponselnya hendak memesan makanan melalui gofood, tapi baru saja Ibnu memilih makanan untuk Kai, tiba-tiba ada suara yang sangat dia kenal.


"Mas Ibnu!"


"Bu Bos."


"Mas Kai ada kan, di ruangannya?"


"Ada Bu Bos, apa Bu Bos bawa makan siang untuk Tuan Kai?"


"Iya Mas, Mas ikut saja soalnya aku juga kebetulan masak banyak."


"Ya sudah, aku ke ruangan Mas Kai dulu, nanti Mas Ibnu nyusul saja ya."


"Siap, Bu Bos."


Luna pun dengan cepat masuk ke dalam lift menuju ruangan Kai, sedangkan Ibnu memilih pergi ke kantin kantor.


"Mana mungkin aku bisa menyusul Bu Bos, bisa-bisa aku langsung dipecat kalau ikut makan sama Tuan Kai," gumam Ibnu.


Luna sampai di depan ruangan Kai dan Luna langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di lihatnya Kai sedang menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata yang terpejam.


"Ibnu, cepat banget kamu pesan makanan. Jangan bilang, kamu beli makanan di pinggir jalan," seru Kai dengan masih memejamkan matanya.


"Katanya aku harus bawakan makan siang, kok malah Mas Ibnu yang disangka datang," seru Luna


Seketika Kai langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya Kai saat melihat Luna sudah berdiri di depan pintu dengan membawa tas yang berisi makan siang untuk Kai.


"Luna, bukannya tadi kamu gak mau buatkan bekal untukku?"


"Bukannya aku gak mau, tadi aku belum sempat jawab Mas sudah memotong pembicaraan. Ayo makan, nanti keburu dingin gak enak."


"Tapi, aku tadi sudah menyuruh Ibnu untuk memesankan makanan."


"Tadi aku sudah bertemu Mas Ibnu kok di bawah dan aku juga sudah menyuruh dia untuk membatalkan pesanannya."


Luna membuka kotak bekal itu, dan seketika harum masakan Luna menusuk indera penciuman Kai.

__ADS_1


"Kamu masak apa siang ini?"


"Aku masak sapi lada hitam."


Tanpa menunggu lagi, Kai langsung melahap masakan Luna dengan cepat.


"Pelan-pelan Mas makannya, nanti tersedak loh."


"Enak banget, dan aku sudah sangat lapar."


Luna menyunggingkan senyumannya, dia pun ikut makan bersama Kai.


Tidak membutuhkan waktu lama, bekal yang Luna bawa ludes tak bersisa.


"Ya Allah, kenyang banget," seru Kai.


Luna segera membereskan bekas makan itu. "Mas, aku mau langsung ke sekolahannya Fahmi ya, mau jemput dia."


"Tunggu!"


"Ada apa, Mas?"


"Kamu mau jemput Fahmi dengan penampilan seperti itu?" tanya Kai dengan memperhatikan penampilan Luna.


"Memangnya kenapa Mas? penampilan aku jelek ya?"


"Bukannya jelek, kamu terlihat sangat cantik. Kenapa kamu gak pakai daster saja jemput Fahminya seperti baju kamu sehari-hari."


"Hah, Mas masa iya aku harus pakai daster jemput Fahmi? aku malu dong Mas," sahut Luna.


Kai memperhatikan penampilan Luna dari atas hingga bawah, membuat Luna merasa tidak enak. Siang ini Luna memang memakai dress dengan lengan pendek sehingga tangan dan betisnya terlihat dan itu membuat Kai tidak suka karena Luna akan menjadi pusat perhatian semua orang.


"Ya sudah, kalau begitu aku ikut kamu menjemput Fahmi."


"Loh, memangnya Mas sedang tidak ada kerjaan?"


"Tidak."


Kai segera memakai jasnya dan keluar dari ruangannya terlebih dahulu, seperti biasa Luna mengikuti Kai dari belakang.


Selama Luna berjalan di belakang Kai banyak sekali terdengar desas-desus karyawan pria yang diam-diam memuji kecantikan Luna.


"Istri Pak Bos, cantikan yang ini ya."


"Iya, mana anggun dan sepertinya terlihat lembut dan baik hati."


"Kalau wanita secantik ini, aku siap jadi pembinornya."


Begitulah celetukan-celetukan para karyawan pria yang masih terdengar oleh Kai, seketika Kai menghentikan langkahnya dan dengan cepat menggenggam tangan Luna membuat Luna kaget.


"Siapa suruh berjalan di belakangku? kamu itu harusnya berjalan di samping aku, karena kamu bukan si Ibnu yang setiap waktu hanya bisa mengikuti langkahku di belakang," seru Kai dingin.


Entah kenapa hati Kai merasa panas melihat karyawannya secara terang-terangan memuji istrinya. Berbeda dengan Luna yang tampak menyunggingkan senyumannya.


"Apa Mas Kai sudah mulai cemburu?" batin Luna dengan senyumannya.

__ADS_1


__ADS_2