Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 51 Jati Diri Aura


__ADS_3

Fahmi menunggu Aura sampai sore tapi Aura belum juga pulang.


"Den, Nyonya Luna sudah menghubungi Pak Nurdin nyuruh Den Fahmi segera pulang soalnya Tuan Kai sudah di jalan menuju pulang," seru Pak Nurdin.


"Tapi Auranya belum pulang, Pak."


"Den, kalau Tuan Kai sampai di rumah dan melihat Den Fahmi gak ada di rumah, pasti Tuan Kai akan marah besar dan itu akan merembet ke Nyonya Luna. Memangnya Den Fahmi mau melihat Papa Den Fahmi memarahi Nyonya Luna?"


Fahmi tampak terdiam, benar juga apa yang dikatakan Pak Nurdin pasti Papanya akan marah kepada Mamanya juga.


"Apa Pak Nurdin punya kertas dan pulpen?"


"Ada Den."


"Boleh aku pinjam?"


"Boleh, sebentar Pak Nurdin ambil dulu di mobil."


Pak Nurdin pun dengan cepat mengambil kertas dan pulpen dari dalam mobil dan segera menyerahkannya kepada Fahmi. Fahmi dengan cepat menulis surat untuk Aura dan memberitahukan kalau dia akan pergi ke luar negeri besok pagi.


Setelah selesai menulis, Fahmi melipat kertas itu dan menyimpannya di bawah keset.


"Ayo Pak, kita pulang," seru Fahmi sedih.


Akhirnya Fahmi pun pergi meninggalkan kontrakan Aura.


Sementara itu, Aura ternyata ketiduran di klinik karena Bapak-bapak yang menyerempet Aura menyuruh Aura untuk minum obat terlebih dahulu sehingga Aura ngantuk dan ketiduran.


"Astagfirullah, aku ketiduran," seru Aura.


"Kamu sudah baikan, Nak?"


"Alhamdulillah sudah Pak, terima kasih sudah membawa aku ke klinik kalau begitu aku pamit pulang," seru Aura dengan mencium punggung tangan Bapak itu.


Bapak itu merasa ada yang aneh. "Tunggu, Nak."


Aura menghentikan langkahnya dan membalikan tubuh menghadap Bapak itu. "Iya, ada apa Pak?" tanya Aura.


"Siapa nama Ibu kamu?"


"Bu Ami."

__ADS_1


Jedaaarrrrr.....


Seketika Bapak itu membelalakkan matanya, sudah sejak tadi dia merasakan perasaan yang aneh karena dia merasa mempunyai ikatan batin dengan Aura.


Perlahan, Bapak itu menghampiri Aura dan dengan cepat memeluk Aura membuat Aura kaget.


"Ini Papa, Nak."


Aura kaget, dia diam mematung mendengar ucapan Bapak-bapak itu.


"Apa Papa boleh ikut ke rumah kamu?" seru Bapak-bapak bernama Hartawan itu.


Aura hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa dia tahu apa yang harus dia katakan, akhirnya Pak Hartawan pun mengantar Aura pulang ke kontrakannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di kontrakan.


"Silakan masuk, Pak."


Pak Hartawan memperhatikan rumah kontrakan yang besarnya sepetak itu, lalu Pak Hartawan melihat satu bingkai foto kecil yang ternyata foto Bu Ami dan juga Aura.


Airmata Pak Hartawan menetes merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.


"Ibu mu ke mana?" tanya Pak Hartawan.


"Apa? terus, kamu tinggal sama siapa di sini?"


"Sendiri."


Pak Hartawan sangat terkejut mendengar kalau Bu Ami sudah meninggal, wanita yang dulu sangat dia cintai bahkan sampai saat ini rasa cinta Pak Hartawan kepada Bu Ami masih sangat besar.


Flash back on...


"Saya terima nikahnya Ami Rosmalia binti Salim dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar, kontan!"


Pak Hartawan dengan lancar mengucapkan ijab kabul, tidak ada tamu atau pun pesta hanya beberapa saksi saja dan wali hakim karena Bu Ami merupakan anak yatim piatu.


Setelah ijab kabul yang dilaksanakan di sebuah mesjid itu, lalu Pak Hartawan pun membawa Bu Ami ke sebuah rumah sederhana yang dia beli atas jerih payahnya sendiri.


"Mas, bagaimana kalau orangtua Mas tahu akan pernikahan kita? pasti mereka akan marah besar, apalagi Mas saat ini sudah mempunyai seorang istri juga," seru Bu Ami.


Pak Hartawan menggenggam tangan Bu Ami. "Aku sama sekali tidak mencintai wanita itu, aku menikah dengannya karena terpaksa tetap saja rasa cintaku hanya untukmu. Untuk saat ini, kita hanya bisa nikah siri tapi aku janji akan menceraikan Kartika dan mendaftarkan pernikahan kita ke KUA," seru Pak Hartawan.

__ADS_1


Pak Hartawan dan Bu Ami saling mencintai tapi orangtua Pak Hartawan tidak merestui hubungan mereka karena Bu Ami anak orang miskin.


Tapi, di saat pernikahan mereka baru menginjak satu bulan, orangtua Pak Hartawan dan istrinya Kartika mengetahui semuanya. Pak Hartawan dibawa pindah ke luar negeri padahal saat itu Bu Ami baru saja mengandung dan usia kandungan Bu Ami baru 2 Minggu.


Tapi, sebelum Pak Hartawan pergi, dia meminta Pak Mail untuk menjaga Bu Ami. Pak Mail adalah teman Pak Hartawan, awalnya Pak Mail adalah sosok orang yang baik tapi dia salah pergaulan dan bergaul dengan orang-orang yang suka mabuk-mabukan dan berjudi.


Uang yang dikirim Pak Hartawan selalu habis di pakai berjudi dan mabuk-mabukan, padahal uang itu Pak Hartawan kirim untuk Bu Ami dan perangainya pun berubah menjadi kasar dan suka marah-marah. Pak Hartawan menyuruh Pak Mail untuk menikahi Bu Ami hanya untuk menjaga Bu Ami supaya tidak menjadi bahan gunjingan karena sedang hamil dan suaminya tidak ada.


Pak Mail memang selalu bersikap kasar tapi Pak Mail tidak pernah berani menyentuh Bu Ami sebagai pasangan suami istri, karena Pak Mail sangat takut akan ancaman Pak Hartawan.


Flash back off...


"Maafkan Papa, Nak."


Aura terdiam saat Pak Hartawan menceritakan semuanya kepada Aura, dan Aura tidak menyangka kalau pria yang selama ini dia anggap sebagai Ayahnya ternyata bukan.


"Apa selama ini Mail menjaga kamu dan Ibumu dengan baik?" tanya Pak Hartawan.


Aura menundukkan kepalanya, airmatanya semakin mengalir dengan sangat deras.


"Sebenarnya Ayah yang sudah membuat Ibu meninggal," lirih Aura.


"Apa?"


Pak Hartawan lagi-lagi terkejut dengan ungkapan Aura. Aura akhirnya menceritakan semuanya kepada Pak Hartawan, dan kehidupan mereka selama ini.


Pak Hartawan yang mendengar cerita Aura sampai meneteskan airmata, dia tidak menyangka kalau kehidupan anak dan istrinya sangat menyedihkan. Pak Hartawan pun kembali memeluk putrinya itu.


"Maafkan Papa sayang, karena Papa kalian jadi menanggung semua penderitaan ini."


Aura hanya bisa menangis di pelukan Papa kandungnya itu, Pak Hartawan melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Aura.


"Sekarang kamu ikut sama Papa, ya? kamu tinggal sama Papa saja," seru Pak Hartawan.


"Tapi Pa, Aura takut pasti keluarga Papa tidak menginginkan Aura ada di sana," sahut Aura.


"Tidak akan ada yang bisa menyakitimu Aura, Papa jamin itu. Kamu mau kan, ikut sama Papa?"


Aura tampak terdiam sejenak, dia masih bingung.


"Jangan banyak pikiran lagi, Papa sudah banyak bersalah padamu dan ibumu jadi biarkan sekarang Papa menebus dosa Papa."

__ADS_1


Akhirnya Aura pun menganggukkan kepalanya dan itu membuat Pak Hartawan sangat bahagia. Saat itu juga, Pak Hartawan membawa Aura pulang ke rumahnya. Aura tidak tahu kalau Fahmi menyimpan surat di bawah keset.


__ADS_2