
Semenjak Aura dan Fahmi resmi menjadi pasangan kekasih, mereka bagaikan perangko selalu saja nempel satu sama lain apalagi Fahmi yang tingkat kebucinannya sangat tinggi dan posesif kepada Aura.
Tok..tok..tok..
"Kak, apa aku boleh masuk," seru Amira.
"Masuk saja, Dek."
Amira pun masuk ke dalam ruangan kerja Aura dan duduk di hadapan Aura.
"Ada apa Dek? tumben ke ruangan Kakak? apa ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Aura.
"Iya, tapi ini bukan masalah kerjaan."
Aura menghentikan pekerjaannya dan menatap Amira.
"Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Apa Kakak sudah jadian sama Kak Fahmi?"
"Hah, kok kamu tahu, Dek?" tanya Aura kaget.
"Aku lihat status Instagramnya Kak Fahmi, di sana ada foto Kakak sama Kak Fahmi yang sedang bersama di suatu tempat."
"Ah itu, iya Dek, Kakak sudah jadian sama Kak Fahmi," sahut Aura dengan malu-malu.
"Selamat ya Kak, semoga hubungan Kakak dan Kak Fahmi langgeng sampai ke pernikahan nanti."
"Amin, terima kasih, Dek."
"Ya sudah, aku hanya ingin menanyakan itu saja. Kalau begitu aku kembali ke ruangan ku dulu."
Amira pun bangkit dari duduknya dengan raut wajah sedihnya membuat Aura bingung dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia?" batin Aura.
Amira duduk di ruangan kerjanya, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ternyata Kak Aura yang terlebih dahulu mengenal Kak Fahmi," batin Aura.
Aura menghapus airmatanya yang tiba-tiba saja menetes, memang sudah lama Amira menyukai Fahmi semenjak pertemuan pertamanya di Belanda tapi sekarang rasanya dia harus melupakan cintanya itu karena Fahmi pun ternyata lebih bahagia bersama Aura.
Waktu makan siang pun tiba, seperti biasa Fahmi akan datang ke kantor Aura dan mengajaknya makan siang.
Aura segera merapikan meja kerjanya dan menyambar tas selempangnya karena Fahmi sudah menunggu di lobi. Aura keluar dari dalam lift, Fahmi yang melihat kedatangan Aura langsung merentangkan kedua tangannya tentu saja Aura sangat bahagia dan berlari memeluk Fahmi.
"Lama ya, menunggu?" seru Aura.
"Tidak, selama apa pun menunggu tidak masalah untukku."
"Dasar, ayo kita pergi aku sudah sangat lapar," seru Aura.
"Baiklah Tuan Putri."
Fahmi pun dengan cepat membukakan pintu mobilnya untuk Aura, tentu saja dengan senang hati Aura masuk ke dalam mobil Fahmi. Fahmi mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor Aura, sementara itu dari kejauhan Amira menatap kepergian Aura dan Fahmi dengan tatapan sedihnya.
Amira dan Farah pun memutuskan untuk bertemu di sebuah restoran.
"Ah tidak apa-apa, aku juga baru sampai kok," sahut Amira.
Farah pun langsung memesan makanan, tapi Farah tampak heran melihat Amira yang biasanya ceria sekarang malah terlihat sedih dan murung.
"Kamu kenapa? kok kaya sedih gitu?" tanya Farah.
"Tidak apa-apa, hanya sedang gak mood aja."
"Aku tahu, apa masalahnya. Karena Kak Fahmi, kan?" seru Farah.
Amira terdiam, memang benar apa yang dikatakan Farah.
"Aku harus belajar melepaskan Kak Fahmi dan melupakan rasa cintaku, karena terlihat sekali Kak Aura dan Kak Fahmi sangat bahagia dengan hubungan mereka. Aku sangat menyayangi Kak Aura, jadi kebahagiaan Kak Aura merupakan kebahagiaanku juga," sahut Amira.
"Aku yakin, kamu akan mendapatkan pria yang lebih dari Kak Fahmi."
Amira dan Farah pun berbincang-bincang, berbeda dengan Amira yang harus rela melepaskan cintanya, Aura dan Fahmi terlihat sangat bahagia bahkan Fahmi sampai terus saja nempel kepada Aura seakan-akan dia tidak mau berpisah dengan Aura.
__ADS_1
"Sayang, aku sebenarnya sudah tidak mau menjalani pacaran karena aku ingin menikah langsung. Jadi, apa kamu sudah siap kalau aku mengajak kamu untuk menikah?" seru Fahmi.
Aura kaget, dia menoleh ke arah Fahmi dan menatap kedua mata Fahmi dengan seksama, tidak ada kebohongan di mata Fahmi.
"Apa Kakak serius ingin menikahi aku?"
"Memangnya kamu pikir aku bercanda? aku tidak pernah main-main kalau urusan cinta. Jadi maukah kamu menikah denganku?" seru Fahmi.
Mata Aura berkaca-kaca, hingga akhirnya Aura pun langsung memeluk Fahmi.
"Aku bersedia menikah denganmu, Kak."
Fahmi sangat bahagia, dia pun mengeratkan pelukannya kepada Aura. Setelah selesai makan siang, mereka pun memutuskan untuk menemui Papa Hartawan dan Papa Kai karena mereka ingin memberitahukan soal rencana pernikahan mereka.
Papa Hartawan dan Papa Kai awalnya terkejut, tapi lama-kelamaan mereka pun menyetujui rencana anak-anak mereka karena memang Aura dan Fahmi sudah pantas untuk menikah.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, 1 bulan pun berlalu dan tidak terasa waktu pernikahan Aura dan Fahmi akan segera terselenggara.
Berita pernikahan Aura dan Fahmi membuat kedua keluarga sangat bahagia, apalagi Mama Luna yang sangat antusias dan sibuk mempersiapkan acara pernikahan Aura dan Fahmi.
"Pokoknya aku resepsinya ingin suasana out dor," seru Aura.
"Sayang, kalau out dor bagaimana kalau hujan? sudah, di hotel saja," sahut Fahmi.
"Ih, Kakak menyebalkan sekali. Bukanya mendukung, malah mendo'akan hujan segala," kesal Aura.
"Bukannya begitu sayang, segala sesuatunya kan harus direncanakan dengan matang. Masalah hujan, itu kan Allah yang menentukan kita tidak bisa memprediksinya jadi lebih baik untuk jaga-jaga kita adakan resepsi di gedung saja ya sayangku, cintaku, bidadari ku," rayu Fahmi.
"Pokoknya aku mau out dor, titik."
Aura bangkit dari duduknya, dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Fahmi mengusap wajahnya dengan kasar, merasa bingung karena Aura justru marah kepadanya.
"Sabar Kak, wanita memang seperti itu ngambekan," seru Amira dengan mengusap pundak Fahmi.
Saat ini Fahmi memang sedang berada di rumah Aura untuk membicarakan masalah pernikahan mereka, tapi diluar dugaan Aura justru marah dan itu membuat Fahmi uring-uringan.
__ADS_1