
Ibu Ami mulai batuk-batuk, memang sudah satu bulan ini batuknya semakin parah. Ibu Ami menutup mulutnya saat batuk dan betapa terkejutnya ia saat melihat telapak tangannya ternyata berdarah.
"Astaga, kenapa batukku berdarah?" batin Ibu Ami.
Ibu Ami segera pergi ke kamar mandi dan segera mencuci tangannya, Bu Ami juga memegang dadanya yang mulai terasa sangat sakit.
Bu Ami keluar dari dalam kamar mandi dan duduk di lantai dengan tatapan kosongnya.
"Ya Allah, jangan dulu engkau mengambil nyawaku, Aura masih sangat kecil dan aku tidak tahu Aura akan tinggal bersama siapa jika aku meninggal," batin Bu Ami dengan deraian airmata.
Bu Ami memang sudah lama menderita penyakit paru-paru dan Bu Ami tidak menjalani pengobatan yang disarankan oleh dokter karena tidak ada biaya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Bu Ami dengan cepat menghapus airmatanya, dia tidak mau sampai Aura melihatnya menangis.
"Bu, hari ini Aura dapat uang soalnya beberapa bungkus sudah laku terjual," seru Aura dengan bahagianya.
"Alhamdulillah Nak, mana uangnya kita belikan beras pasti kamu lapar kan? karena dari tadi pagi kamu belum makan."
"Tidak Bu, tadi pagi Kak Fahmi memberi Aura nasi goreng jadi Aura tidak lapar," sahut Aura.
Bu Ami mengusap kepala Aura. "Nak Fahmi benar-benar anak yang baik, ya."
"Iya Bu."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana, Ibu mau masak nasi dulu."
"Baik, Bu."
Bu Ami terus saja batuk-batuk, membuat Aura yang sedang mandi pun mempercepat mandinya karena merasa khawatir dengan keadaan Ibunya. Aura memang sudah dewasa sebelum waktunya, tuntutan hidup Aura yang susah membuat Aura tumbuh menjadi anak yang kuat padahal usia dia baru 5 tahun.
Aura keluar dari kamar mandi dan segera memakai bajunya, lalu mengambilkan air minum untuk ibunya itu.
"Ini air minum, ibu kenapa batuknya sampai seperti itu?" tanya Aura.
"Tidak apa-apa Nak, mungkin ibu kecapean saja."
Bu Ami meminum air yang diberikan oleh Aura. Beberapa saat kemudian, nasi pun sudah matang.
"Aura, makannya sama kerupuk ini saja ya."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Aura makan dengan sangat lahapnya, walaupun hanya dengan kerupuk yang dia jual. Airmata Bu Ami kembali menetes dan ia pun segera menghapusnya karena takut ketahuan oleh Aura.
"Semoga kelak kamu mendapatkan kebahagiaan Nak, ibu selalu berdo'a kalau kamu harus hidup bahagia karena kamu sudah terlalu lama hidup menderita," batin Ibu Ami.
***
Malam pun tiba...
Luna, Kai, dan Fahmi saat ini sedang makan malam bersama, terlihat sekali mereka sangat bahagia.
Setelah selesai makan malam, Mama Luna dan Papa Kai pun mengajak Fahmi untuk duduk bersama di ruangan keluarga.
"Fahmi, Mama punya kejutan untukmu," seru Mama Luna.
"Kejutan apa, Ma?"
Mama Luna pun memberikan hasil USG kepada Fahmi, namun Fahmi tampak kebingungan dia sama sekali tidak tahu gambar apa itu.
"Ini gambar apa, Ma?" tanya Fahmi dengan masih memperhatikan hasil USG itu.
"Itu hasil USG, dan kata dokter saat ini Mama sedang hamil dan kamu akan segera mendapatkan adik," sahut Papa Kai.
Fahmi terkejut. "Serius, Fahmi akan segera mendapatkan adik?"
"Iya sayang, di dalam perut Mama ini ada calon adik Fahmi," sahut Mama Luna dengan mengusap perutnya sendiri.
"Selamat datang adek, baik-baik ya di dalam perut Mama biar cepat besar dan nanti kita main bersama," seru Fahmi.
Mama Luna dan Papa Kai tersenyum, Mama Luna mengusap kepala Fahmi yang masih betah menciumi perutnya.
"Sayang, sepertinya sekarang kita harus cari ART biar kamu tidak kecapean," seru Papa Kai.
"Aku masih bisa kok Mas, melakukannya sendirian. Kamu lupa ya, dulu saat aku mengandung Fahmi aku masih jadi ART di rumah ini."
"Ishh..ishh..ishh jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu sayang, aku suka merasa bersalah kalau ingat itu. Pokoknya mulai sekarang kamu jangan bekerja yang berat-berat dulu, besok biar aku Carikan ART," sahut Papa Kai.
Fahmi langsung teringat akan Aura dan Ibunya. "Ma, bagaimana kalau Ibunya Aura yang bekerja di sini?" seru Fahmi.
"Benar juga, Mas aku mau mempekerjakan Ibu Ami saja di sini gak apa-apa kan?"
"Ibu Ami, siapa?"
"Ibunya Aura."
"Aura yang selalu Fahmi sebutkan itu?"
__ADS_1
"Iya, kasihan dia gak punya pekerjaan tetap," bujuk Mama Luna.
"Baiklah, tapi dia harus bekerja baik dan jujur kalau karena aku tidak mau mempekerjakan orang sembarangan, di zaman seperti sekarang ini harus hati-hati dalam mencari ART."
"Pokoknya aku jamin, kalau Ibu Ami adalah orang yang sangat baik dan jujur," sahut Mama Luna.
"Ya sudah, terserah kamu sajalah."
Mama Luna dan Fahmi tampak menyunggingkan senyumannya, apalagi Fahmi yang sangat bahagia karena akan bertemu dengan Aura setiap hari.
***
Keesokan harinya...
Mama Luna dan Fahmi datang ke rumah Aura saat pulang sekolah.
"Begini Bu, maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin menawarkan pekerjaan untuk Ibu," seru Mama Luna.
"Pekerjaan apa, Bu?"
"Sebelumnya maaf, bukan bermaksud saya merendahkan Ibu, saya sedang butuh ART di rumah apa Ibu bersedia untuk bekerja di rumah saya?"
"Alhamdulillah, saya mau Bu."
"Serius, Ibu mau?" tanya Mama Luna.
"Saya serius Bu, saya mau banget."
"Ya sudah, kalau Ibu bersedia bekerja di rumah saya, besok ibu langsung datang saja ke rumah, saya tunggu."
"Iya Bu, besok saya akan datang ke rumah Ibu. Tapi, saya juga boleh bawa Aura kan, Bu?"
"Tentu saja boleh, jam kerja ibu dari pagi sampai sore saja dan tidak perlu menginap di rumah saya."
"Baik Bu, sekali lagi terima kasih ya Bu."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu."
Fahmi dan Aura dari tadi bermain di luar rumah.
"Fahmi, ayo kita pulang!"
"Oke Ma, Aura aku pulang dulu ya."
"Iya, Kak."
__ADS_1
Mama Luna dan Fahmi pun pergi meninggalkan rumah kontrakan Ibu Ami dan Aura, sementara itu di samping rumah Ayah Mail terlihat senyum-senyum sendiri.
"Bagus, kalau istriku bekerja di rumah orang kaya itu, sudah pasti dia akan mendapatkan gaji yang besar," gumamnya sembari tersenyum.