Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 18 Semakin Curiga


__ADS_3

Saat ini Luna sedang menjemur pakaian di halaman belakang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah dan Luna mulai kepo dia pun mengintip dari balik pagar besi.


"Itu Nyonya Medina, bersama pria itu lagi," gumam Luna.


Luna berpikir lumayan lama, mengingat-ngingat siapa pria yang mengantarkan Medina. Tidak lama kemudian, Luna pun mulai ingat.


"Ah iya, aku ingat. Pria itu adalah pria yang tempo hari datang ke rumah Nyonya Arini, kalau gak salah orang itu yang sudah menjaga Nyonya Medina selama dia berobat di Amerika. Tapi kenapa mereka selalu bersama, bahkan mereka selalu bersikap mesra layaknya sepasang kekasih," batin Luna.


Luna memukul kepalanya pelan. "Tidak, tidak mungkin Nyonya Medina punya hubungan spesial dengan pria itu. Tuan Kai saja pria yang sangat sempurna, jadi buat apa Nyonya Medina selingkuh di belakang Tuan Kai. Astaga Luna, kenapa otakmu begitu sangat bodoh," gumam Luna.


Luna pun kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara itu Medina dengan cepat masuk ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya Medina saat melihat seprei kasurnya sudah diganti.


"Astaga, siapa yang mengganti sepreinya?"


Medina panik, dia pun segera memeriksa ke bawah kasur dan ternyata pil KB itu masih ada di sana dan Medina mengusap dadanya merasa lega.


"Ah, ternyata obat ini masih ada di sini, syukurlah. Kalau sampai ketahuan, bisa mati aku," gumam Medina.


Medina langsung melempar tasnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menyunggingkan senyumannya kala melihat pil KB itu masih ada tanpa dia tahu, kalau Luna sudah melihatnya.


Sementara itu, Mark langsung pergi ke kantor dia sedikit panik takut Kai curiga kepadanya karena kemarin Mark tidak mengangkat telepon dari Kai.


"Bagaimana, apa Kai ada menghubungi kamu?" tanya Mark.


"Ada Pak, kemarin. Beliau menanyakan masalah dana untuk proyek yang ada di Surabaya dan sepertinya beliau sudah sedikit curiga karena beliau mengatakan kenapa pengeluaran dana untuk proyek sangat besar jauh dari dana yang sudah disepakati," sahut Imron.


"Terus, kamu jawab apa?"


"Aku jawab saja kemarin ada kendala di pekerja, ada kecelakaan kerja dan perusahaan harus menanggung biaya rumah sakit yang lumayan besar," sahut Imron.


"Kai percaya?"


"Sepertinya beliau percaya karena tidak memperpanjang masalah itu."


"Syukurlah, awas saja kalau sampai Kai tahu yang sebenarnya, kamu adalah orang pertama yang aku cari."


"Tenang saja Pak Mark, beliau tidak akan tahu semuanya karena beliau jarang sekali menanyakan masalah keuangan."

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kamu boleh kembali bekerja."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu."


Imron merupakan direktur keuangan di perusahaan Kai, ternyata selama ini Imron dan Mark bekerjasama untuk memanipulasi uang perusahaan supaya masuk ke rekening pribadi mereka masing-masing.


Sore pun tiba...


Medina baru saja bangun, dia langsung menuruni anak tangga karena dia ingin memakan sesuatu dan menyuruh Luna untuk membuatkannya.


"Luna! Luna!"


"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu itu ya jalan lelet banget kaya kura-kura, aku lapar ini buatkan sesuatu yang bisa mengganjal rasa lapar aku," ketus Medina.


"Nyonya mau dibuatkan apa?" tanya Luna.


"Apa saja yang penting enak, banyak tanya banget kamu jadi orang," kesal Medina.


Luna pun langsung menyalakan kompor, dia berencana mau membuatkan omelette untuk Medina.


"Luna, kamu buang satu dus susu itu supaya Mas Kai percaya kalau aku meminumnya."


"Loh, kok dibuang Nyonya?"


Medina merasa kesal, dengan cepat Medina menjambak rambut Luna yang sedang membuat omelette itu.


"Aw, ampun Nyonya, sakit."


"Kamu itu bawel banget ya jadi orang, kalau aku perintahkan sesuatu itu, turuti saja dan jangan banyak tanya," geram Medina.


"Ma-af, Nyonya."


Medina menghempaskan kepala Luna dan hampir saja Luna terjatuh tapi Luna dengan cepat berpegangan pada kursi yang ada di sana.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran si Arini dan si Mahaprana, kenapa mereka sangat menyayangi kamu? apa jangan-jangan ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari aku," kesal Medina.

__ADS_1


"Ti-tidak Nyonya."


Medina beberapa kali menoyor kepala Luna dengan gemasnya.


"Sekali lagi kamu bawel dan banyak tanya, aku pastikan Mas Kai akan memecat kamu dari rumah ini!" bentak Medina.


Medina pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.


"Nyonya, ini bagaimana dengan omelettenya?"


"Makan saja sendiri, kamu sudah menghancurkan mood makan aku," kesal Medina.


Luna mematikan kompor dan kembali meneteskan airmatanya. Lalu Luna segera mengambil satu dus susu hamil dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Bi Surti tidak mengetahui kejadian itu karena Bi Surti sedang pergi ke mini market untuk membeli sesuatu.


"Ya Allah, kuatkan aku dan anakku untuk menghadapi semua ini," gumam Luna.


Luna dengan cepat menghapus airmatanya, lalu memperhatikan dus susu yang saat ini ada di tangannya.


"Kenapa Nyonya Medina tidak mau minum susu hamil ini? padahal, Nyonya Medina sangat beruntung mempunyai suami yang perhatian. Berbeda halnya denganku yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari Tuan Kai," batin Luna.


Luna semakin curiga kepada Medina, dia merasa kalau Medina hanya pura-pura hamil karena penemuan pil KB di bawah kasur sangat mencurigakan sekali bagi Luna.


Luna menyimpan susu hamil itu, bagi dia susu itu sangat berarti karena selama ini Kai tidak pernah sedikit pun memikirkan calon anak yang ada di dalam kandungan Luna yang sudah jelas-jelas anaknya sendiri.


***


Malam pun tiba, Kai menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, tatapannya kosong seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Kenapa aku jadi kepikiran apa yang dikatakan Wisman ya? Mark dan Medina tidak mungkin mengkhianatiku," batin Kai.


Kai mengotak-ngatik ponselnya, seketika matanya melotot saat melihat story Medina di media sosial.


"Kok, story Medina dan Mark samaan? ini seperti di sebuah pantai," batin Kai.


Kai merasa penasaran langsung menghubungi Mark, Mark mempunyai alasan kalau saat itu dia menemani Medina karena Medina ingin pergi ke pantai dan lagi-lagi, Kai percaya akan alasan itu.

__ADS_1


"Ya ampun Kai, kamu ini kenapa sih? jangan berpikiran macam-macam, kan kamu sendiri yang meminta dia untuk menjaga Medina," batin Kai bermonolog pada dirinya sendiri.


Tidak bisa dipungkiri kalau ucapan Wisman terus saja terngiang-ngiang di telinga Kai, ada perasaan takut yang menggelayuti hatinya. Perlahan mata Kai sudah mulai sayu, hingga tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Kai pun masuk ke alam mimpinya.


__ADS_2