Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 53 Aura Kembali Bersedih


__ADS_3

Aura tidak berangkat sekolah karena Aura baru bisa sekolah esok hari, sedangkan Papanya pergi ke kantor dan Amira berangkat sekolah. Aura duduk di pinggir kasur dengan tatapan yang menerawang.


"Pasti Kak Fahmi bakalan mencari aku, besok pulang sekolah aku mampir deh ke sekolahannya Kak Fahmi, dan memberitahukan kalau aku sudah bertemu dengan Papa aku," batin Aura.


Tiba-tiba, pintu kamar Aura terbuka dengan kerasnya membuat Aura terkejut.


"Enak banget kamu, santai-santai di sini. Pasti ibu kamu kan, yang menyuruh kamu untuk tinggal di sini supaya ibu kamu nantinya bisa merebut suamiku dan kembali menikah dengan suamiku!" bentak Mama Kartika.


"Tidak Ma, Papa sendiri yang ingin membawa Aura ke sini."


"Jangan panggil aku Mama, karena aku tidak sudi dipanggil Mama dari anak sialan seperti ibu kamu."


Aura langsung menundukkan kepalanya, Mama Kartika menghampiri Aura dan mencengkram wajah Aura membuat Aura meringis kesakitan.


"Kalau kamu ingin hidup enak di sini, jangan sekali-sekali kamu melaporkan apa yang aku lakukan kepadamu, kalau kamu berani melapor, aku pastikan kamu akan kembali hidup di jalanan!" bentak Mama Kartika.


Aura menganggukkan kepalanya, Mama Kartika menghempaskan tubuh Aura dan dia pun segera keluar dari kamar Aura.


"Aku ingin pulang, aku ingin kembali ke kontrakan ku, pasti Kak Fahmi datang dan mencari ku," gumam Aura dengan deraian airmata.


***


Keesokan harinya...


Aura sudah siap dengan seragam barunya, Aura terlihat sangat cantik dan terlihat seperti anak-anak orang kaya pada umumnya.


"Ya ampun, Putri Papa cantik sekali," puji Papa Hartawan.


"Pa, Aura sepertinya tidak pantas memakai seragam ini, Aura merasa tidak nyaman," sahut Aura.


"Jelaslah tidak nyaman, orang kamu biasanya pakai seragam kucel," sindir Mama Kartika.


"Kartika, jaga ucapan kamu!" sentak Papa Hartawan.


Papa Hartawan mengusap kepala Aura dengan penuh kasih sayang.


"Dengarkan Papa, mulai sekarang nama kamu adalah Aura Utami Hartawan dan Papa sudah memasukan kamu ke dalam kartu keluarga Papa jadi kamu jangan merasa minder lagi. Dan satu lagi, ini ada ATM untukmu," seru Papa Hartawan dengan memberikan kartu ATM kepada Aura.


"Pa, ini terlalu berlebihan. Lagipula Aura masih kecil," sahut Aura.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu masih kecil, sekarang kamu sudah menjadi gadis Papa yang paling cantik. Pokoknya kamu simpan ATM ini, nanti Papa akan transfer uang untuk semua keperluan kamu."


Mama Kartika sampai melongo melihat perlakuan berlebihan dari suaminya.


"Pa, apa itu tidak berlebihan? bahkan Amira saja tidak pernah Papa kasih kartu ATM seperti itu," kesal Mama Kartika.


"Amira masih kecil, lagipula buat semua keperluan Amira sudah kamu pegang kan, jadi buat apa ATM lagi," geram Papa Hartawan.


Mama Kartika akhirnya bungkam, dia tidak mau membuat suaminya semakin marah dan membenci dirinya. Sementara itu, Amira hanya sibuk sarapan karena belum mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh para orangtuanya.


Aura dan Amira berangkat sekolah di antar oleh sopir pribadi mereka.


"Kak, selama ini Kakak tinggal di mana? kok baru datang ke rumah? padahal Amira gak punya teman dan dari dulu ingin punya Kakak," seru Amira.


"Kalau pun Kakak menceritakannya, kamu tidak akan mengerti jadi nanti saja kalau kamu sudah besar, Kakak ceritakan sama kamu."


"Janji ya, Kak."


"Oke."


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di sekolah. Di saat Aura keluar dari dalam mobil, semua murid langsung memperhatikan Aura.


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, dan waktu pulang pun tiba. Di dalam mobil Amira sudah menunggu kedatangan Aura.


"Pak, bisa antarkan saya ke sekolah xxx tidak? sebentar saja, saya mau bertemu dengan teman saya," seru Aura.


"Baik, Nona."


"Kak Aura mau bertemu dengan siapa?" tanya Amira.


"Teman, gak apa-apa kan kalau Kak Aura ajak kamu bertemu dengan teman Kakak dulu?"


"Gak apa-apa kok."


Aura mengusap kepala Amira, Amira memang tumbuh menjadi anak yang baik hati berbeda dengan Mamanya yang selalu jahat dan kejam.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di depan sekolah Fahmi.

__ADS_1


"Kamu tunggu sebentar ya di sini, Kakak gak bakalan lama kok."


"Oke, Kak."


Aura pun segera keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam sekolah Fahmi, Aura tampak celingukan mencari keberadaan Fahmi hingga satpam pun menghampiri Aura karena ia sangat mengenali Aura.


"Aura, kamu Aura kan? penjual kerupuk kulit yang di depan?" tanya Pak Satpam.


"Iya Pak, saya Aura."


"Kamu berubah sekali, bahkan seragam yang kamu pakai merupakan seragam dari sekolahan ternama."


"Iya Pak, Alhamdulillah Aura sudah bertemu dengan Papa kandung Aura, Aura juga baru tahu kemarin."


"Syukur Alhamdulillah. Oh iya, kamu sedang mencari siapa?" tanya Pak Satpam.


"Aura lagi mencari Kak Fahmi, apa dia sudah pulang?"


"Fahmi anaknya Bu Luna?"


"Iya."


"Sepertinya kemarin Bapak melihat orangtua Fahmi datang ke sini, dan sekarang Fahmi tidak masuk sekolah. Coba deh kamu tanya sama kepala sekolahnya, mungkin ada sesuatu."


"Baiklah, terima kasih ya Pak."


Aura pun segera berlari masuk ke dalam ruangan kantor kepala sekolah, dan menanyakan mengenai Fahmi.


Aura sangat terkejut dengan apa yang dikatakan kepala sekolah, ternyata Fahmi keluar dari sekolah dan pindah ke luar negeri.


Aura melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam mobil, bahkan airmatanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Kak Aura kenapa, kok nangis?" tanya Amira.


"Tidak, Kakak tidak apa-apa kok. Pak kita pulang saja."


"Baik, Non."


Aura menghapus airmatanya. "Kamu jahat Kak, kenapa kamu tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau kamu mau pergi jauh," batin Aura.

__ADS_1


Hati Aura sangat sakit karena Fahmi pergi tanpa pamit terlebih dahulu, apalagi Aura tidak tahu sampai kapan Fahmi pergi.


__ADS_2