
Keesokan harinya...
Pagi ini Aura dan Fahmi bangun tidur dengan perasaan yang sangat bahagia, entah kenapa setelah tadi malam bertemu mereka menjadi semangat menjalani hidup.
"Pagi semuanya!"
"Pagi sayang, loh tumben pagi ini kamu kelihatan ceria dan bersemangat," seru Papa Hartawan.
"Iya dong, Pa."
"Oh iya Aura, Papa sedang melakukan kerjasama dengan perusahaan Pak Kai, kami sedang membuat sebuah proyek perusahaan baru bisakah sekarang kamu ke sana untuk memantau proyek itu soalnya Papa ada pekerjaan penting."
"Siap, Pa."
"Pa, Amira juga ingin masuk perusahaan ajarin dong jangan Aura terus yang Papa beri kekuasaan," sinis Mama Kartika.
"Kalau Amira ingin masuk perusahaan, pintu perusahaan selalu terbuka untuknya tapi yang jadi permasalahannya, apa Amira sudah siap menjalankan perusahaan," sahut Papa Hartawan.
"Insya Allah, Amira siap, Pa," sahut Amira.
"Serius, kamu mau masuk perusahaan, Dek?" tanya Aura.
"Iya Kak, jenuh juga kalau harus terus-terusan diam di rumah jadi pengangguran. Biar bisa merasakan bagaimana seperti Kakak," sahut Amira.
"Baguslah, kakak jadi gak capek lagi kalau ada yang bantuin."
Pagi ini Papa Hartawan akhirnya membawa Amira ke perusahaan untuk memperkenalkan Amira kepada semua karyawan mereka, sedangkan Aura pergi ke sebuah lokasi pembangunan proyek perusahaan baru Papanya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Aura sampai di lokasi dan secara bersamaan Fahmi juga baru sampai di sana.
"Kak Fahmi."
"Loh Aura, kamu di sini juga?"
"Iya Kak, aku disuruh Papa untuk memantau proyek ini soalnya Papa sedang ada pekerjaan penting."
"Sama dong."
Aura dan Fahmi saling melempar senyuman, tiba-tiba seseorang datang dan menyerahkan helm proyek kepada Aura dan Fahmi.
__ADS_1
"Ayo kita masuk," ajak Fahmi.
"Ayo."
Aura dan Fahmi pun memantau pembangunan proyek yang dikerjakan oleh kedua orangtua mereka. Aura dan Fahmi kembali dekat, bahkan mereka tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya saking bahagianya.
Di saat mereka sedang mendengarkan penjelasan dari kepala arsitek mengenai pembangunan itu, tiba-tiba salah satu pekerja tidak sengaja menjatuhkan ember yang berisi adukan semen dan juga pasir yang tepat di atas kepala Aura.
"Aura awas!" teriak Fahmi.
Fahmi dengan cepat menarik tubuh Aura, dan ember itu pun akhirnya jatuh ke tanah. Aura sampai terkejut dengan apa yang terjadi.
"Kamu tidak apa-apa kan, Aura?"
Aura menggelengkan kepalanya dengan raut wajah paniknya.
"Kamu itu bagaimana sih, kerja itu yang benar!" bentak Fahmi.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja tadi kesenggol badan saya," sahut pekerja itu.
"Kalau sampai tadi jatuh ke kepala Aura, kamu akan saya tuntut!" bentak Fahmi.
"Sudah Kak, gak apa-apa kok," seru Aura.
"Loh, Kakak mau bawa aku ke mana? kita harus memantau pembangunan proyek ini," seru Aura.
"Sudah, biar Pak Ibnu yang mantau. Sebentar lagi jam makan siang, lebih baik kita cari tempat makan saja."
"Sebentar lagi bagaimana, masih lama Kak. Ini baru jam 10 pagi kok."
Fahmi mulai melajukan mobilnya mencari tempat makan dan dia tidak mendengarkan ucapan Aura.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Fahmi pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Fahmi.
"Apa saja."
"Ah iya aku lupa, kamu kan pemakan segala," goda Fahmi.
__ADS_1
"Apaan sih Kak, ngeledek aja."
Fahmi terkekeh, dia pun memesankan makanan untuk dirinya dan juga Aura. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya makanan yang di pesan Fahmi pun datang.
Aura yang memang sudah lapar, langsung melahap makanan yang sudah tersaji di sana. Berbeda dengan Fahmi yang justru memperhatikan Aura makan sembari senyum-senyum.
"Kok malah lihatin aku, bukannya di makan," seru Fahmi.
"Dengan lihatin kamu saja sudah kenyang," sahut Fahmi.
"Sudah deh jangan lihatin aku terus, aku kan jadi malu."
Fahmi kembali terkekeh, entah kenapa bagi Fahmi Aura sangat lucu dan menggemaskan apalagi kalau tersenyum, lesung pipinya membuat senyuman Aura sangat cantik dan tidak bosan untuk memandang wajahnya.
"Kamu tahu Aura, selama aku tinggal di Belanda, tidak sehari pun aku bisa melupakanmu. Aku takut kamu kenapa-napa soalnya kamu hanya tinggal seorang diri."
"Sebenarnya aku juga sempat putus asa Kak, tapi ternyata Allah sayang sama aku dan mendatangkan Papa kandung aku di waktu yang tepat."
"Iya, dan sekarang kamu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan pintar. Sampai-sampai aku semakin menyukaimu, dan ingin menjadikanmu sebagai wanitaku," seru Fahmi.
Uhuk..uhuk..uhuk..
Aura sampai tersedak mendengar ucapan Fahmi, dan Fahmi dengan sigap memberikan minuman kepada Aura.
"Pelan-pelan makannya," seru Fahmi dengan mengusap punggung Aura.
Aura mendongakkan kepalanya, untuk sesaat keduanya saling tatap satu sama lain.
"Sudah Kak, aku tidak apa-apa kok," seru Aura.
"Aura, sejak kecil sampai sekarang aku menyukaimu, apa kamu mau menjadi kekasihku? menjadi wanita yang selalu ada di sampingku?" seru Fahmi.
Aura sampai susah menelan makanannya saking terkejutnya dengan pernyataan cinta Fahmi yang tiba-tiba itu.
Fahmi menggenggam kedua tangan Aura dan menatap kedua mata Aura dengan sangat dalam.
"Maukah kamu menerima cintaku?" seru Fahmi.
Aura terdiam sejenak, hingga beberapa saat kemudian Aura pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku terima Kakak, karena aku juga dari kecil sudah menyukai Kakak," sahut Aura malu-malu.
Fahmi benar-benar sangat bahagia dengan jawaban Aura, akhirnya cintanya terbalaskan juga. Keduanya pun melanjutkan makan siangnya dengan hati yang berbunga-bunga.