Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 45 Aura Masuk Sekolah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bu Ami dan Aura sudah datang ke rumah Mama Luna.


"Mas, ini Bu Ami dan Aura," seru Mama Luna.


"Ah iya, pokoknya kamu harus bekerja yang benar jangan ceroboh soalnya saat ini istri saya sedang hamil jangan sampai kamu melakukan kecerobohan yang nantinya bisa membahayakan istri dan calon anak saya," seru Papa Kai dingin.


"Ba-baik, Pak."


Bu Ami menarik tangan Aura untuk segera pergi ke dapur.


"Aura sayang, tunggu!"


Aura menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


"Ada apa, Bu Luna?"


"Apa kamu sudah sarapan?"


Aura menoleh ke arah Papa Kai lalu dia menundukkan kepalanya karena merasa takut.


"Belum."


Mama Luna tersenyum. "Di dapur ada nasi goreng untukmu dan Bu Ami, kalian berdua makan ya."


"Baik Bu Luna, terima kasih."


Bu Ami dan Aura pun segera pergi menuju dapur.


"Sayang, kamu jangan terlalu baik sama ART nanti mereka ngelunjak," seru Papa Kai.


"Kok Mas bicaranya seperti itu sih? kasihan loh mereka, jangan gitu ah gak baik," sahut Mama Luna.


Papa Kai memang selalu over protektif kepada keluarganya, bukan apa-apa dia tidak mau sampai ada orang yang memanfaatkan kebaikan mereka.


Setelah selesai sarapan, Papa Kai dan Fahmi pun segera berangkat. Papa Kai menciumi seluruh wajah Mama Luna.


"Sayang, aku berangkat dulu ya kalau kamu butuh apa-apa atau mau makan apa pun, kamu hubungi aku saja."


"Oke."

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berangkat, Mama Luna menghampiri Bu Ami yang saat ini sedang membereskan dapur.


"Bu Ami."


"Ah iya, Bu Luna."


"Aura saat ini usianya berapa tahun?"


"5 tahun, Bu."


"Aura, sini sebentar sayang."


Aura pun segera menghampiri Mama Luna dan berdiri di hadapan Mama Luna. Mama Luna merapikan rambut Aura dan mengelus wajah imut Aura.


"Apa kamu ingin sekolah?" tanya Mama Luna.


"Mau Bu, mau banget."


"Bagaimana kalau saya daftarkan kamu sekolah? kebetulan kan, sebentar lagi kenaikan kelas jadi kamu harus segera daftar sekolah."


"Tapi Ibu Aura tidak punya uang untuk daftar sekolah."


"Hah serius Bu? Ibu Luna mau daftarkan Aura sekolah?" seru Aura antusias.


"Iya, kamu mau sekolah di mana?"


"Kalau bisa sekolah yang dekat rumah saja Bu, biar Aura sekolahnya bisa jalan kaki dan tidak perlu ongkos," sahut Bu Ami.


"Bagaimana kalau Aura sekolah di sekolahannya Fahmi saja?"


"Jangan Bu, itu sekolahan tempat anak-anak orang kaya saya tidak akan sanggup jika nanti ada kegiatan di luar sekolah. Lagipula, pasti nantinya Aura akan jadi bahan ejekan teman-temannya kalau sekolah di sana karena Aura anak orang miskin," sahut Bu Ami.


"Baiklah kalau itu mau Ibu, nanti siang kita ke sekolahan itu ya untuk daftar sekolah Aura."


"Terima kasih Bu Luna, Ibu sudah sangat baik kepada kita."


"Sama-sama."


Tiba-tiba Aura memeluk Mama Luna membuat Mama Luna terkejut.

__ADS_1


"Terima kasih Bu Luna, berkat Bu Luna, Aura jadi bisa sekolah," seru Aura.


"Sama-sama, sayang."


***


Siang itu, Mama Luna pergi ke sekolahan bersama Bu Ami dan Aura untuk mendaftarkan Aura.


"Bu, tolong hitung semua biaya sampai Aura nanti lulus, karena saya akan melunasinya sekarang," seru Mama Luna.


"Baik, Bu."


Ibu guru pun segera menghitung semuanya dan Mama Luna pun membayar semua biaya Aura sampai Aura lulus sekolah nanti.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Bu Luna. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa lagi," seru Bu Ami.


"Iya sama-sama Bu Ami, ya sudah sekarang kita langsung pulang saja karena saya ngantuk."


"Iya, Bu."


Sesampainya di rumah, Mama Luna pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Di luar Ayah Mail tampak celingukan membuat sekuriti rumah Mama Luna merasa curiga.


"Bapak siapa? kenapa Bapak celingukan di sini?"


"Saya suaminya Bu Ami, ART di rumah ini. Saya disuruh pemilik rumah ini untuk datang ke sini," dusta Ayah Mail.


Sekuriti menatapnya dengan penuh selidik, penampilan Ayah Mail yang berantakan membuatnya merasa tidak percaya.


Tidak lama kemudian Bu Ami keluar untuk membuang sampah.


"Bu Ami, apa benar orang ini suami Ibu?" tanya sekuriti.


Bu Ami membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau suaminya tahu di mana dia bekerja.


"Astaga, kenapa Mas Mail tahu aku berada di sini? kalau Bu Luna dan Pak Kai tahu, bisa dipecat aku," batin Bu Ami.


Bu Ami benar-benar terkejut, bahkan saat ini kakinya seakan terkena lem dan susah sekali untuk di gerakan. Bu Ami sudah bisa membaca pikiran suaminya itu, pasti dia akan membuat gara-gara di sana.

__ADS_1


__ADS_2