Hanya Sebatas Istri Siri

Hanya Sebatas Istri Siri
Bab 12 Mencintai Dalam Diam


__ADS_3

Kai menghampiri Medina dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, mudah-mudahan saja kita bisa mendapatkan momongan setelah pindah ke rumah ini," seru Kai.


Medina benar-benar tidak mau mendengar kata momongan, Medina belum siap mempunyai anak yang menurutnya akan menyusahkan hari-harinya.


"Kalau aku tidak punya anak, apa kamu mau menceraikan ku?" tanya Medina.


"Kamu bicara apa, sayang? aku itu sangat mencintai kamu apa pun yang terjadi."


"Kalau kamu memang mencintaiku, terus kenapa kamu selalu membicarakan masalah momongan?" kesal Medina.


"Astaga sayang, maafkan aku kalau aku sudah membuatmu kesal, aku janji tidak akan membicarakan masalah itu lagi," bujuk Kai.


"Kamu itu benar-benar menyebalkan, Mas. Selalu saja membuat mood ku jelek."


Medina pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan raut wajah yang terlihat kesal, Kai hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.


Kai tidak pernah habis pikir, Medina tidak pernah mau diajak memeriksakan kesehatannya bahkan dari dulu sampai sekarang, Medina selalu marah kalau Kai membicarakan masalah momongan.


Perlahan Kai menghampiri Medina dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Medina, Kai kembali memeluk Medina dari belakang.


"Maafkan aku sayang, jangan marah lagi," seru Kai.


"Kamu harus janji Mas, jangan membicarakan masalah anak lagi biarkan semuanya berjalan apa adanyanya. Nanti juga kalau yang di atas sudah menentukan, pasti aku juga akan hamil, Mas."


"Iya sayang, maafkan aku."


Kai mulai menciumi Medina, dia sudah sangat rindu kepada istrinya itu. Hingga akhirnya, Kai dan Medina pun melakukan hal yang seharusnya suami istri lakukan.


Sementara di kamar Luna, Luna tidak bisa memejamkan matanya. Di pagi menjelang siang ini, tidak ada hal yang bisa dia lakukan.


"Astaga, kenapa aku tidak bisa memejamkan mata sih? waktu makan siang masih lama dan tidak ada yang bisa aku kerjakan saat ini," gumam Luna.


Luna bangun dan keluar dari kamarnya, dia merasa jenuh karena tidak ada yang bisa dia kerjakan. Akhirnya Luna pergi ke halaman belakang, di mana di sana ada kolam berenang dan Luna duduk di pinggir kolam berenang sembari melamun.


Luna mendongakkan kepalanya dan menatap kamar Kai dan Medina.

__ADS_1


"Nyonya Medina beruntung sekali mempunyai suami tampan seperti Tuan Kai," gumam Luna.


***


Waktu makan siang pun tiba, Luna dan Bi Surti segera memasak untuk makan siang Medina dan Kai.


Di saat Luna sedang menata makanan di meja makan, tiba-tiba Kai datang dengan pakaian yang sudah rapi dan terlihat terburu-buru.


"Aku ada urusan penting di kantor, kamu bawakan makan siang untuk istriku ke atas soalnya Medina lagi malas turun katanya," seru Kai dingin.


"Baik, Tuan."


Kai pun dengan cepat pergi meninggalkan rumahnya, Luna mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring kemudian menyimpannya di atas nampan.


"Luna, biar Bibi saja yang bawakan makan siang itu untuk Nyonya Medina," seru Bi Surti.


"Tidak apa-apa Bi, biar Luna saja. Bibi kan, sedang sibuk."


"Tapi kan, kamu sedang hamil Luna takutnya kamu kenapa-napa."


Luna mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Medina dan Kai.


Tok..tok..tok..


"Nyonya, saya mau mengantarkan makan siang," seru Luna.


"Masuk!"


Perlahan Luna mulai membuka gagang pintu kamar Medina dan Kai, di saat masuk terlihat baju Medina dan Kai yang masih berserakan di lantai.


Luna mengeratkan pegangan tangannya, dia takut nampannya terjatuh. Entah kenapa hati Luna merasa ngilu melihat pemandangan di dalam kamar Kai itu, padahal tidak ada yang salah dengan semuanya karena Kai dan Medina sudah menikah.


"Simpan saja di atas meja," seru Medina sinis.


"Ba-baik, Nyonya."


Medina baru saja selesai mandi, bahkan Medina masih menggunakan handuk kimono.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pamit dulu Nyonya."


"Tunggu!"


Luna yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, langsung menghentikannya dan kembali membalikan tubuhnya.


"Ada apa, Nyonya?"


"Bereskan kamar ini, dan baju kotor yang berserakan itu kamu bawa dan cuci."


"Iya, Nyonya."


Luna pun mulai memungut baju-baju Medina dan Kai yang berserakan itu, hatinya semakin sakit saat ingat akan kejadian di mana Kai merenggut kesuciannya.


"Ya Allah, kenapa hatiku sakit seperti ini? kenapa aku merasa marah melihat Tuan Kai bermesraan dengan Nyonya Medina? apa mungkin, aku merasa cemburu?" batin Luna.


Mata Luna sudah mulai berkaca-kaca bahkan sudah menetes tapi dengan cepat Luna segera menghapusnya.


Luna yang sedang mengandung memang mudah sekali menangis, mungkin karena wanita hamil begitu sangat sensitif.


📞"Sayang, kapan kita akan ke pantai?" seru Medina.


Luna yang sedang membereskan tempat tidur, seketika menghentikan kegiatannya.


📞"............"


📞"Pokoknya harus jadi, kalau tidak aku akan marah sama kamu," kesal Medina.


Medina pun langsung menutup sambungan teleponnya, dia tidak sadar kalau di sana ada Luna. Sedangkan Luna, dia hanya bisa terdiam dan dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai, Luna pamit pergi. "Siapa yang tadi Nyonya Medina telepon? apa itu Tuan Kai?" batin Luna.


Lagi-lagi Luna merasakan perasaan yang sama sekali sulit diartikan.


"Beginikah rasanya mencintai dalam diam? ternyata sangat menyakitkan. Ya Allah, saat ini aku tidak membutuhkan apa-apa yang aku inginkan hanyalah sedikit perhatian dari Tuan Kai. Aku ingin seperti wanita hamil pada umumnya yang dimanja oleh suaminya dan dibelikan semua keinginannya," batin Luna.


Tidak bisa dipungkiri kalau Luna ingin dimanja oleh Kai, bahkan saat ini Luna sudah mulai mencintai Kai.

__ADS_1


__ADS_2