
Malam pun tiba...
Aura masih setia duduk di samping ibunya yang sampai sekarang sama sekali belum sadarkan diri. Aura mengambil air dan memberikan air minum kepada ibunya dengan sendok.
"Bu, ayo minum dulu, dari kemarin ibu belum minum," seru Aura.
Aura terus memberikan minum kepada ibunya, walaupun tidak ada sedikit pun air itu masuk ke dalam mulut ibunya. Aura melihat kalau wajah ibunya sudah tampak pucat, dan Aura pun menyentuh tangan ibunya itu.
"Ya Allah, kok tangan ibu dingin, pasti ibu kedinginan ya?"
Aura segera mengambil selimut dan menutup tubuh ibunya dengan selimut, Aura gadis kecil berusia 5 tahun yang sama sekali tidak tahu apa-apa harus menanggung penderitaan sebesar ini.
Sejak usia 1 tahun, Bu Ami sudah membawa Aura ke jalanan untuk ikut berjualan dengannya karena tidak ada orang yang bisa dilintasi bantuan untuk menjaga Aura, jadi mau tidak mau Bu Ami harus membawa Aura jualan.
Di saat usia Aira menginjak usia 4 tahun, Aura sudah ingin membantu ibunya berjualan. Berjualan di jalan adalah atas kemauannya sendiri tanpa disuruh oleh Bu Ami.
Malam semakin larut, perut Aura berbunyi karena semenjak di usir dari rumah Papa Kai, Aura sama sekali belum makan apa-apa. Aura menahan rasa laparnya, dia pun merebahkan tubuhnya di samping ibunya dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Aura pun terlelap.
Sementara itu Fahmi terlihat sangat kesal, dia sampai tidak mau makan malam karena dari tadi teringat kepada Aura.
"Apa Aura baik-baik saja, ya? kok, perasaan aku gak enak," gumam Fahmi.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Fahmi terbuka dan Fahmi dengan cepat pura-pura tidur.
Mama Luna masuk dengan membawa nasi untuk anaknya itu.
"Fahmi sayang, Mama tahu kamu belum tidur. Ayo bangun, makan malam dulu," seru Mama Luna dengan mengusap kepala Fahmi.
"Fahmi tidak lapar."
"Kok gitu? jangan begitu dong, nanti kamu sakit loh."
"Biarin, Papa keterlaluan, Fahmi benci sama Papa," kesal Fahmi sembari menutup wajahnya dengan selimut.
"Hai, Mama tahu apa yang sedang kamu rasakan. Kamu tahu tidak, besok Papa kamu harus pergi ke luar kota karena ada urusan pekerjaan, jadi besok tadinya Mama ingin mengajak kamu untuk pergi ke rumah Aura tapi Mama lihat kamunya marah, jadi ya sudah Mama gak jadi saja datang ke rumah Auranya," goda Mama Luna.
Fahmi dengan cepat membuka selimutnya dan bangun dari tidurnya.
"Serius, Mama mau ngajak Fahmi pergi ke rumah Aura?" tanya Fahmi antusias.
__ADS_1
"Iya."
"Sini, Fahmi makan sendiri."
Fahmi pun mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauk itu, kemudian memakannya dengan lahapnya membuat Mama Luna tersenyum.
***
Keesokan harinya....
Aura membuka matanya dan melihat ke arah Ibunya masih saja belum sadarkan diri.
"Kenapa tubuh Ibu semakin dingin? dan tubuh Ibu pun sangat kaku," gumam Aura dengan polosnya.
Aura mengambil air hangat dan mengompres kening Ibunya itu, Aura tidak tahu kalau ibunya sudah meninggal semenjak kemarin.
Hingga tidak lama kemudian, Mama Luna dan Fahmi pun datang.
"Aura...Aura..."
Aura segera berlari dan membukakan pintu rumahnya.
"Kak Fahmi, Bu Luna."
"Ibu Aura sedang sakit, Bu."
"Apa, mana Bu Luna mau lihat."
Mama Luna pun masuk ke dalam rumah kontrakan itu, dan betapa terkejutnya Mama Luna saat melihat keadaan Bu Ami yang sudah sangat pucat. Mama Luna juga melihat luka di kepala Bu Ami dan darah yang sudah mengering.
Perlahan Mama Luna menghampiri Bu Ami, Mama Luna menyimpan tangannya di depan hidung Bu Ami dan ternyata Bu Ami sudah meninggal.
"Sejak kapan Bu Ami seperti ini?" tanya Mama Luna dengan bibir yang bergetar.
"Kemarin, sepulang dari rumah Bu Luna," sahut Aura dengan polosnya.
Mama Luna menutup mulutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa kepala Bu Ami terluka?" tanya Mama Luna.
__ADS_1
"Kemarin di dorong sama Ayah."
"Astagfirullah, kenapa kamu tidak membawa ibu kamu ke rumah sakit?"
"Aura sudah minta tolong kepada tetangga, tapi tidak ada yang mau menolong Aura."
Luruh sudah airmata Mama Luna, dia pun dengan cepat memeluk Aura membuat Aura bingung begitu pun dengan Fahmi.
"Ya Allah, jadi semalaman kamu yang menjaga ibumu."
"Iya, Bu Luna."
Sakit sekali hati Mama Luna saat mendengar itu, bisa jadi Bu Ami sudah meninggal sejak kemarin tapi Aura sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti.
Mama Luna melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Aura. "Sayang, ibumu sudah meninggal," seru Mama Luna dengan deraian airmata.
Mata Aura melotot mendengar ucapan Mama Luna, begitu juga dengan Fahmi yang ikut terkejut. Tidak lama kemudian, airmata Aura menetes membuat Mama Luna semakin sakit.
"Ibu tidak mungkin meninggalkan Aura, Bu. Terus Aura tinggal dengan siapa?" seru Aura dengan deraian airmata.
Tiba-tiba beberapa Bapak-bapak dan ibu-ibu datang.
"Maaf, ada apa ini? saya ketua RW di sini?" tanya seorang Bapak-bapak.
Mama Luna menghapus airmatanya dengan kasar, lalu menghampiri Bapak-bapak yang mengaku ketua RW itu.
"Kalian memang tidak punya hati, anak kecil itu kemarin minta bantuan karena ibunya sedang sakit, kenapa kalian tidak mau membantu Aura?" geram Mama Luna.
"Buat apa? nanti malah kita yang dimintai pertanggung jawaban untuk pembayaran Bu Ami," sahut salah satu Ibu-ibu.
Mama Luna mengepalkan tangannya, dia pun merogoh tasnya dan mengambil uang lalu melemparnya ke hadapan ibu-ibu itu.
"Apa itu yang ibu inginkan? kalian benar-benar tidak punya hati, lihatlah Aura dia dari kemarin harus menemani Ibunya yang sudah meninggal dan dia sama sekali tidak mengerti kalau ibunya sudah meninggal. Kalau saya tidak ke sini, mungkin kalian akan membiarkan Bu Ami sampai membusuk, begitu?" bentak Mama Luna dengan deraian airmata.
Mama Luna bukanlah tipe wanita yang pemarah, tapi kali ini dia merasa geram karena tidak ada satu pun yang mau menolong Aura termasuk ketua RWnya.
Mama Luna kembali mengambil uang dari dalam tasnya dan melempar ke hadapan Pak RW.
"Tolong bapak umumkan dan minta bantuan kepada warga di sini untuk memandikan dan menguburkan Bu Ami, itu uangnya dan kalau uangnya masih kurang nanti saya kasih lagi!" bentak Mama Luna.
__ADS_1
Seketika mereka terdiam, Pak RW pun langsung pergi dan mengumumkan mengenai kematian Bu Ami. Aura terus saja menangis, sembari memeluk ibunya, sungguh Aura belum siap ditinggal oleh ibunya di usia yang masih sangat kecil itu.
"Ibu jangan tinggalkan Aura, Aura mau tinggal sama siapa?" gumam Aura dengan deraian airmata.