
“Apa, ternyata
ini Aliken, teman lama ku yang sangat menyebalkan,” ucap Densi kepada Aliken
dengan nada heran. “Ini Densi kan, teman lama ku di kelas 10, aku gak nyangka
kita bakal bertemu lagi di sini,” jawab Aliken kepada Densi. “Oh, ini yang
namanya Aliken, yang tidak punya belas kasihan” kata aku kepada Densi. Aliken
dan Densi saling mengenal. “Kenapa kamu tadi melempari kita batu, saat kita
lagi makan?” tanya Densi kepada Aliken. “Aku tidak mengerti yang Densi
bicarakan, aku tidak ngerti sama sekali Densi, aku saja tadi lagi membeli daun
pandan, buat apa juga coba aku melempar batu ke arahmu?,” ucap Aliken dengan
nada bingung. “Kamu tidak usah bohong, kamu mau membalas dendam kan kepada aku,
karena aku mendorong kamu sampai terluka saat sekolah dulu?,” tanya Densi
kepada Aliken. “Benar, aku tidak melempari kalian semua dengan batu, lagi pula
buat apa aku melempari kalian dengan batu, aku juga sudah melupakan semua masa
lalu pahit ku dengan kamu,” jawab Aliken kepada Densi dengan ekspresi takut.
“Sudah, aku tidak mau lagi dengar omongan bohong kamu, sekarang kalian ikat
anak ini dengan kencang, dan baringkan dia di jalan, aku mau lindas dia dengan
gerobak yang dia gunakan untuk menghentikan kita saat kita mengejar dia,”
perintah Densi kepada anggota nya untuk mengikat dia, dengan suara tegasnya.
Aliken di ikat dengan tali yang sulit untuk di lepas, karena yang mengikat nya
sebanyak lima orang.
“Sekarang kamu
ambilkan gerobak buah yang di gunakan anak ini saat kita mengejarnya,” perintah
Densi kepada seorang anggota nya untuk memgambilkan gerobak buah nya itu.
Gerobak buah yang di gunakan Aliken untuk melindungi diri nya saat sedang di
kejar oleh anggota geng Tarata sudah berada di sebelahnya. Bentuk gerobak yang
akan di gunakan untuk melindas Aliken berbentuk persegi panjang, dengan panjang
dua meter dan tinggi sembilan puluh centimeter, gerobak tersebut di gunakan
seorang warga untuk membawa buah-buahan dari pasar. “Sekarang aku minta enam
orang untuk masuk dan naiki gerobak ini, lalu aku dorong gerobak ini ke arah
Aliken untuk melindas nya,” perintah Densi kepada anggotanya, sebanyak enam
orang, untuk menaiki gerobak nya. Sebanyak enam orang dengan bobot di atas lima
puluh kilogram menaiki gerobak yang akan di gunakan untuk melindas Aliken.
“Sudah siap semua nya, aku akan menghitung mundur dari angka lima, dan sebagian
__ADS_1
membantuku untuk mendorong gerobak ini” ucap Densi kepada anggotanya untuk melindas
Aliken. “lima-empat-tiga-dua-satu, dorong gerobak ini!” perintah Aliken kepada
anggota geng nya, untuk membantu mendorong gerobak nya. Gerobak itu berjalan
menuju Aliken dengan jarak empat meter dari Aliken dan akan melewati Aliken
dari sebelah kanan tubuh nya. “Tolong kalian jangan gila, bukan aku yang
melemparkan batu ke kalian, tolong jangan lindas aku, aku masih mau hidup,”
ucap Aliken kepada Densi dan anggotanya untuk tidak melindas nya. “Jangan
dengarkan kata-kata Aliken, maju dan terus berjalan untuk melindas nya,” jawab
Densi kepada Aliken, untuk tidak mendengar kata-katanya.
“Sudah-cukup,
jangan pada berbuat hal-hal yang sangat gila, cepat lepaskan anak itu dan
bebaskan dia,” ucap penjual sate yang memberikan sate gratis kepada Densi saat
sedang melewati tempat itu, untuk melepaskan Aliken dari ikatan nya. “Tapi pak
di—“ jawab Densi kepada tukang sate dan di potong pembicaraan nya oleh penjual
sate itu. “Sudah, lepaskan dia, bapak bilang lepaskan dia, ngerti bahasa
Indonesia kan?” ucap penjual sate dengan memotong pembicaraan Densi, untuk
melepaskan Aliken yang terikat dan terbaring di jalanan. “Ok pak saya akan
ku untuk berbicara dua mata dengan nya. Sekarang kalian semua balik ke pondok
dan tudur, aku mau berbicara dengan Aliken, tidak boleh ada yang mendengar nya,” kata Densi kepada tukang sate dan
anggotanya geng nya, untuk meninggalkan Densi dan Aliken. “Ok, bapak akan pergi
dari tempat ini dan meninggalkan kalian berdua, dengan berjanji tidak boleh ada
yang terluka sedikit pun,” kata penjual sate itu kepada Densi. Penjual sate dan anggota geng nya pergi meninggalkan
Densi dan Aliken untuk membiarkan Densi berbicara dua mata dengan Aliken, dan
tidak ada yang boleh mendengarnya, termasuk aku.
“Untung tadi ada
tukang sate, kalau misalkan tidak ada aku pastikan kamu sudah berada di bawah
tanah belakang pondok aku,” ucap Densi kepada Aliken. “Emang mengapa Densi mau melukaki aku?, aku ada salah apa
dengan Densi?,” tanya Aliken kepada Densi. “Pake tanya lagi, ada salah apa,
emang kamu belum puas waktu itu membiarkan aku di hajar habis-habis oleh warga,
lalu tadi kamu yang melemparkan batu kepada aku dan teman-teman ku, saat kita
lagi makan sate dengan nikmat, aku tau kamu tidak mau melihat aku dengan
teman-teman ku hidup dengan tenang dan bahagia” jawab Densi kepada pertanyaan
Aliken. “Aku bilang sekali lagi kepada mu, bukan aku yang melemparkan batu ke
__ADS_1
arah kamu dan teman teman mu, lagi pula buat apa aku melempar batu kepada kamu”
kata Aliken kepada Densi untuk sekian kalinya dengan tangan terikat dan
terbaring di jalan. “Sudah.. tidak usah bohong lagi, tadi aku dan teman-teman
ku melihat seorang yang mengenakan baju merah, sedang melemparkan batu ke arah
makanan ku dan ke arah aku dengan teman teman ku, setelah ia melemparkan batu
ke arah kita, orang tersebut mengarah ke perapatan dan bingung mau lari ke mana
lagi” kata Densi kepada Aliken. “Aku berani sumpah, bahwa bukan aku yang
melemparkan ke arah kamu dan teman-teman mu, dan...aku berani bertarung dengan
kamu Densi” ucap Aliken dengan bercanda bahwa ia akan bertarug dengan Densi.
“Ok, aku tunggu
besok kamu sekitar jam sembilan pagi di lapangan belakang warnet, jika kamu
tidak datang juga, aku dengan anggota geng ku akan menuju sekolah mu dan
memaksa kamu untuk ke lapangan belakang warnet untuk bertarung, aku juga akan
membawa anak-anak jalanan lain nya sebanyak tiga puluh orang ke sekolah mu,”
jawab Densi dengan serius kepada candaan Aliken. “Densi, tadi aku hanya bercanda
bahwa aku akan bertarung dengan kamu, supaya kamu yakin, bahwa bukan aku yang
melempar batu ke arahmu, jangan, anggap serius ya” ucap Aliken ke Densi untuk
tidak menganggap serius ucapan nya tadi. “Ok, tetapi kamu telat ngomong, aku
sudah menganggap hal ini dengan sangat serius sekali. Aku akan tetap menunggu
kamu di lapangan belakang warnet, untuk bertarung dengan ku, jika tetap tidak
datang, aku yang datang ke sekolah mu dengan membawa kurang lebih dua puluh
orang untuk menyerang sekolahkamu,” jawab
Densi dengan nada serius. “Aku mohon kepada mu Densi untuk menganggap ucapan ku
tadi hanya bercanda, aku hanya ingin memastikan kepada mu bahwa bukan aku yang
melempar batu ke arahmu” ucapan mohon Aliken kepada Densi untuk menganggap hal
yang dia ucapkan itu hanya bercanda. “Aku tetap akan bertarung dengan mu,
sekarang sini tangan mu, aku akan lepaskan ikatan itu” jawab Densi dengan
membuka ikatan nya. “Sekarang kamu pulang ke rumah mu, dan istirahat untuk
mengumpulkan energi yang akan di gunakan bertarung besok,” ucap Densi kepada
Aliken untuk pulang beristirahat. “Ok, sekarang aku akan pulang, tapi aku akan
berpikir secara kritis untuk menghindari pertarungan besok di lapangan belakang
warnet” jawab Aliken kepada Densi. Aliken pun pulang menuju rumah nya dan Densi
pulang ke pondok untuk beristirahat.
__ADS_1