Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
pertemuan yang tidak di rencanakan


__ADS_3

“Apa, ternyata


ini Aliken, teman lama ku yang sangat menyebalkan,” ucap Densi kepada Aliken


dengan nada heran. “Ini Densi kan, teman lama ku di kelas 10, aku gak nyangka


kita bakal bertemu lagi di sini,” jawab Aliken kepada Densi. “Oh, ini yang


namanya Aliken, yang tidak punya belas kasihan” kata aku kepada Densi. Aliken


dan Densi saling mengenal. “Kenapa kamu tadi melempari kita batu, saat kita


lagi makan?” tanya Densi kepada Aliken. “Aku tidak mengerti yang Densi


bicarakan, aku tidak ngerti sama sekali Densi, aku saja tadi lagi membeli daun


pandan, buat apa juga coba aku melempar batu ke arahmu?,” ucap Aliken dengan


nada bingung. “Kamu tidak usah bohong, kamu mau membalas dendam kan kepada aku,


karena aku mendorong kamu sampai terluka saat sekolah dulu?,” tanya Densi


kepada Aliken. “Benar, aku tidak melempari kalian semua dengan batu, lagi pula


buat apa aku melempari kalian dengan batu, aku juga sudah melupakan semua masa


lalu pahit ku dengan kamu,” jawab Aliken kepada Densi dengan ekspresi takut.


“Sudah, aku tidak mau lagi dengar omongan bohong kamu, sekarang kalian ikat


anak ini dengan kencang, dan baringkan dia di jalan, aku mau lindas dia dengan


gerobak yang dia gunakan untuk menghentikan kita saat kita mengejar dia,”


perintah Densi kepada anggota nya untuk mengikat dia, dengan suara tegasnya.


Aliken di ikat dengan tali yang sulit untuk di lepas, karena yang mengikat nya


sebanyak lima orang.


“Sekarang kamu


ambilkan gerobak buah yang di gunakan anak ini saat kita mengejarnya,” perintah


Densi kepada seorang anggota nya untuk memgambilkan gerobak buah nya itu.


Gerobak buah yang di gunakan Aliken untuk melindungi diri nya saat sedang di


kejar oleh anggota geng Tarata sudah berada di sebelahnya. Bentuk gerobak yang


akan di gunakan untuk melindas Aliken berbentuk persegi panjang, dengan panjang


dua meter dan tinggi sembilan puluh centimeter, gerobak tersebut di gunakan


seorang warga untuk membawa buah-buahan dari pasar. “Sekarang aku minta enam


orang untuk masuk dan naiki gerobak ini, lalu aku dorong gerobak ini ke arah


Aliken untuk melindas nya,” perintah Densi kepada anggotanya, sebanyak enam


orang, untuk menaiki gerobak nya. Sebanyak enam orang dengan bobot di atas lima


puluh kilogram menaiki gerobak yang akan di gunakan untuk melindas Aliken.


“Sudah siap semua nya, aku akan menghitung mundur dari angka lima, dan sebagian

__ADS_1


membantuku untuk mendorong gerobak ini” ucap Densi kepada anggotanya untuk melindas


Aliken. “lima-empat-tiga-dua-satu, dorong gerobak ini!” perintah Aliken kepada


anggota geng nya, untuk membantu mendorong gerobak nya. Gerobak itu berjalan


menuju Aliken dengan jarak empat meter dari Aliken dan akan melewati Aliken


dari sebelah kanan tubuh nya. “Tolong kalian jangan gila, bukan aku yang


melemparkan batu ke kalian, tolong jangan lindas aku, aku masih mau hidup,”


ucap Aliken kepada Densi dan anggotanya untuk tidak melindas nya. “Jangan


dengarkan kata-kata Aliken, maju dan terus berjalan untuk melindas nya,” jawab


Densi kepada Aliken, untuk tidak mendengar kata-katanya.


“Sudah-cukup,


jangan pada berbuat hal-hal yang sangat gila, cepat lepaskan anak itu dan


bebaskan dia,” ucap penjual sate yang memberikan sate gratis kepada Densi saat


sedang melewati tempat itu, untuk melepaskan Aliken dari ikatan nya. “Tapi pak


di—“ jawab Densi kepada tukang sate dan di potong pembicaraan nya oleh penjual


sate itu. “Sudah, lepaskan dia, bapak bilang lepaskan dia, ngerti bahasa


Indonesia kan?” ucap penjual sate dengan memotong pembicaraan Densi, untuk


melepaskan Aliken yang terikat dan terbaring di jalanan. “Ok pak saya akan


ku untuk berbicara dua mata dengan nya. Sekarang kalian semua balik ke pondok


dan tudur, aku mau berbicara dengan Aliken,  tidak boleh ada yang mendengar nya,” kata Densi kepada tukang sate dan


anggotanya geng nya, untuk meninggalkan Densi dan Aliken. “Ok, bapak akan pergi


dari tempat ini dan meninggalkan kalian berdua, dengan berjanji tidak boleh ada


yang terluka sedikit pun,” kata penjual sate  itu kepada Densi. Penjual sate dan anggota geng nya pergi meninggalkan


Densi dan Aliken untuk membiarkan Densi berbicara dua mata dengan Aliken, dan


tidak ada yang boleh mendengarnya, termasuk aku.


“Untung tadi ada


tukang sate, kalau misalkan tidak ada aku pastikan kamu sudah berada di bawah


tanah belakang pondok aku,” ucap Densi kepada Aliken. “Emang mengapa  Densi mau melukaki aku?, aku ada salah apa


dengan Densi?,” tanya Aliken kepada Densi. “Pake tanya lagi, ada salah apa,


emang kamu belum puas waktu itu membiarkan aku di hajar habis-habis oleh warga,


lalu tadi kamu yang melemparkan batu kepada aku dan teman-teman ku, saat kita


lagi makan sate dengan nikmat, aku tau kamu tidak mau melihat aku dengan


teman-teman ku hidup dengan tenang dan bahagia” jawab Densi kepada pertanyaan


Aliken. “Aku bilang sekali lagi kepada mu, bukan aku yang melemparkan batu ke

__ADS_1


arah kamu dan teman teman mu, lagi pula buat apa aku melempar batu kepada kamu”


kata Aliken kepada Densi untuk sekian kalinya dengan tangan terikat dan


terbaring di jalan. “Sudah.. tidak usah bohong lagi, tadi aku dan teman-teman


ku melihat seorang yang mengenakan baju merah, sedang melemparkan batu ke arah


makanan ku dan ke arah aku dengan teman teman ku, setelah ia melemparkan batu


ke arah kita, orang tersebut mengarah ke perapatan dan bingung mau lari ke mana


lagi” kata Densi kepada Aliken. “Aku berani sumpah, bahwa bukan aku yang


melemparkan ke arah kamu dan teman-teman mu, dan...aku berani bertarung dengan


kamu Densi” ucap Aliken dengan bercanda bahwa ia akan bertarug dengan Densi.


“Ok, aku tunggu


besok kamu sekitar jam sembilan pagi di lapangan belakang warnet, jika kamu


tidak datang juga, aku dengan anggota geng ku akan menuju sekolah mu dan


memaksa kamu untuk ke lapangan belakang warnet untuk bertarung, aku juga akan


membawa anak-anak jalanan lain nya sebanyak tiga puluh orang ke sekolah mu,”


jawab Densi dengan serius kepada candaan Aliken. “Densi, tadi aku hanya bercanda


bahwa aku akan bertarung dengan kamu, supaya kamu yakin, bahwa bukan aku yang


melempar batu ke arahmu, jangan, anggap serius ya” ucap Aliken ke Densi untuk


tidak menganggap serius ucapan nya tadi. “Ok, tetapi kamu telat ngomong, aku


sudah menganggap hal ini dengan sangat serius sekali. Aku akan tetap menunggu


kamu di lapangan belakang warnet, untuk bertarung dengan ku, jika tetap tidak


datang, aku yang datang ke sekolah mu dengan membawa kurang lebih dua puluh


orang untuk menyerang sekolahkamu,”  jawab


Densi dengan nada serius. “Aku mohon kepada mu Densi untuk menganggap ucapan ku


tadi hanya bercanda, aku hanya ingin memastikan kepada mu bahwa bukan aku yang


melempar batu ke arahmu” ucapan mohon Aliken kepada Densi untuk menganggap hal


yang dia ucapkan itu hanya bercanda. “Aku tetap akan bertarung dengan mu,


sekarang sini tangan mu, aku akan lepaskan ikatan itu” jawab Densi dengan


membuka ikatan nya. “Sekarang kamu pulang ke rumah mu, dan istirahat untuk


mengumpulkan energi yang akan di gunakan bertarung besok,” ucap Densi kepada


Aliken untuk pulang beristirahat. “Ok, sekarang aku akan pulang, tapi aku akan


berpikir secara kritis untuk menghindari pertarungan besok di lapangan belakang


warnet” jawab Aliken kepada Densi. Aliken pun pulang menuju rumah nya dan Densi


pulang ke pondok untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2