Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
pertemuan yang tidak di rencanakan


__ADS_3

“Ia, memang


bukan kamu yang salah, tetapi ucapan mu yang salah. Ok, jangan banyak bicara


lagi, kamu keluar dari sekolah ini dan berjalan menuju lapangan belakang warnet,


yang aku tunjukan kamu kemarin malam,” jawab Densi kepada Aliken mengenai siapa


yang salah dalam situasi seperti ini. Dan setelah mereka berbicara


panjang-lebar mengenai siapa yang salah, Densi sudah tidak tahan lagi dengan


yang Aliken lakukan, ia langsung masuk ke dalam sekolahnya bersama anggotanya


untuk membawa Aliken ke belakang warnet. Densi berhasil masuk ke dalam


sekolahnya, sementara itu rencana yang Aliken buat bersama teman-teman nya


langsung di kerjakan, mereka semua yang akan ikut mengusir Densi dan gengnya


langsung menyerang Densi dan gengnya itu. Perkelahian antara geng Densi dengan


sekolah SMAN 77 di mulai, mereka saling melukai antar kedua belah pihak.


Asmira yang


berada di dalam gerobak sampah, ia keringatan karena engap dan bau di dalam


gerobak itu. Setelah beberapa lama ia berada di dalam gerobak sampah itu, ia


sudah tidak tahan lagi dengan bau sampah yang berada di sekitar nya, panas


engap yang ia rasakan. Ia pun mulai mengeluarkan keringat yang di hasilkan


karena engap dan bau sampah itu. Tanpa berpikir panjang, Asmira memberanikan


diri nya keluar dari gerobak sampah itu, tetapi sebelum ia keluar dari gerobak


sampah itu ia berpikir “tadi aku sudah menelpon kepolisian terdekat yang berada


di daerah ini, dan polisi itu berkata ia akan datang ke sekolah itu secepatnya


dan bersama anggota lain nya. Jadi buat apa aku di tempat yang bau dan panas


ini lama-lama, aku keluar dan menampakan diriku, aku pasti akan selamat” Asmira


langsung keluar dari gerobak itu dan ia tidak melihat dua orang yang


mengejarnya, Asmira mendengar ada suara siren polisi yang mengarah ke sekolah


itu. Kebetulan mobil-mobil polisi itu melewati di hadapan Asmira, Asmira


langsung melambaikan tangan nya kepada mobil-mobil polisi yang melewatinya,


setelah mobil itu berhenti, Asmira dengan polisi berbicara sekian lama, dan


Asmira menumpang mobil polisi itu untuk menuju sekolahnya.


Sesampainya di


sekolah, geng Tarata dengan Densi mengetahui adanya mobil polisi yang datang ke


sekolah itu, mereka semua langsung pergi dari sekolah itu menuju pondok, tempat


mereka berkumpul dan nongkrong. Sebagian ada yang tidak pingsan dan yang


pingsan  tinggal di sekolah itu. Polisi


tidak sempat mengejar geng Tarata dengan Densi, karena mereka semua sudah lari


dari sekolah itu ketika mengetahui bahwa polisi sedang menuju ke sekolah itu.


Asmira terkejut melihat Aliken yang hampir pingsan karena pertarungan itu.


Polisi itu meminta sedikit informasi mengenai hal itu kepada Asmira, seketika


Aliken bagun dari pingsan nya itu, Aliken dengan Asmira memberikan semua


informasi yang mereka ketahui mengenai hal itu. Aliken mengetahui bahwa jika ia


memberikan informasi mengenai Densi dengan geng nya kepada polisi, ia akan di


beri pelajaran bahkan bisa di bunuh oleh Densi. Ada salah satu geng Tarata yang


pingsan di sekolah itu, nama orang itu ialah Dadryl, Darryl mengetahui bahwa


Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai Densi dan gengnya kepada


polisi-polisi itu, ia segera memberikan informasi itu kepada Densi, pemimpin


geng itu. Darryl segera pergi dari sekolah itu menuju pondoknya dan memberi tau


kepada Densi behwa Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai nya kepada

__ADS_1


polisi. Setelah Densi mengetahui hal itu, ia langsung pergi dari pondok itu


bersama teman- temannya ke rumah orang tua Densi.


Setelah aku,


Densi dan anggota geng Tarata mengetahui bahwa polisi itu akan datang ke pondok


nya. Tentunya aku dan Densi tidak terlalu badoh walau memang aku, Densi dan


anggota lain nya bodoh, kita langsung pergi dari pondok itu. Saat kita semua


telah sampai di rumah  Densi, yang aku


herankan, entah ini kebetulan atau memang pertolongan dari Tuhan, sesampainya


di rumah Densi. Di dalam rumah itu terdapat ayah Densi yang sedang membaca


koran. Lalu Densi menanyakan kepada ayah nya mengenai rumah nya yang di sita itu.


Ternyata rumah ayah nya itu sudah lunas terbayar. Bertahun-tahun rumah ayah


Densi di sita oleh Bank, namun pada saat itu, rumah ayah Densi sudah


lunas.  Aku juga tidak mengetahui dari


mana ayah Densi mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar utang nya itu.


Karena jika aku mengetahui hal itu, bukan hak aku tentunya. Tanpa berpikir


lama, Densi menyuruhku dan anggota nya untuk masuk ke dalam rumahnya itu,


supaya polisi tidak mengetahui keberadaan aku dan semua orang yang tadi membuat


kekacauan di sekolah itu.


Polisi telah


sampai di pondok itu dengan Asmira dan Aliken, polisi-polisi itu mulai


menggeledah tempat itu.  Setelah di


geledah tempat itu, polisi dengan anggotanya tidak menemukan barang satu pun


yang mencurigakam di pondok itu. Tetapi salah satu polisi menyadari bahwa


bagian belakang pondok itu belum di geledah. Polisi itu memanggil teman anggota


lainnya untuk membantunya menggeledah bagian belakang pondok itu. Awalnya tidak


yang berbentuk balok dengan ruang di dalam nya. Kotak itu memiliki panjang satu


meter, tinggi tiga puluh centimeter dan lebar tiga puluh centi meter. Kotak itu


terkunci dengan gembok yang lumayan besar. Tentunya polisi itu curiga dengan


isi kotak tersebut. Mereka membuka kotak itu dengan menembak gembok itu


menggunakan pistol yang di bawa oleh polisi itu, dan di geledah isi kotak itu,


yang tidak di duga isi kotak itu ialah narkoba jenis sabu-sabu dengan berat


lima belas kilogram. Polisi itu sudah memastikan bahwa di tempat itu tidak ada


barang yang mencurigakan lagi.


Polisi-polisi


itu pergi dari tempat itu menuju kantor pusat kepolisian Batavia untuk


memberikan informasi itu kepada pamglima kepolisian, dan panglima kepolisian


yang akan memastikan apa yang selanjutnya di lakukan mengenai narkoba itu.


Polisi itu pun sampai di gedung pusat kepolisian Batavia. Mereka langsung


mengadakan penggeledahan lebih lanjut dengan narkoba berjenis sabu itu yang


mereka temukan di pondok geng Tarata. Polisi itu ingin mengetahui motif dari


pemilik barang ini, apakah pemilik narkoba ini sudah menggunakan nya, dan


tentunya juga strategi untuk menangkap pemilik narkoba itu. Setelah itu,


kantong pelastik hitam itu di lepaskan dari narkoba sabu itu. Sabu itu pun


keluar dari kantong pelastik nya, pemeriksaan pun di lakukan, dapat di


simpulkan bahwa penggeledahan pertama itu untuk mengetahui narkoba itu sudah di


konsumsi atau belum, ternyata narkoba itu belum pernah di konsumsi sedikit pun.


Kesimpulan

__ADS_1


pertama bertujuan untuk menentukan motif pemilik narkoba itu. Jika narkoba itu


belum pernah di konsumsi, maka kemungkinan besar narkoba itu akan di perjual


belikan oleh pemilik nya. Polisi itu sangat cepat sekali menyimpulkan mengenai


narkoba itu, kepala anggota penggeledahan menyimpulkan bahwa narkoba berjenis


sabu itu adalah narkoba yang akan di perjual belikan oleh pemilik nya, ia juga


berkata “besok kita akan melakukan penggeledahan rumah anak yang membawa kalian


ke pondok itu” kepada polisi yang tadi bersama Aliken dan Asmira di pondok itu.


Maka dengan begitu kepolisian Batavia akan melakukan kegiatan penangkapan


pemilik narkoba itu di daerah Rambutan, tempat Aliken, Asmira dan sekolah nya


berada. Semua lokasi pasar yang menjadi akses ke pondok itu juga akan di


periksa. Besok pagi adalah hari pertama dalam kehidupan warga yang  berada di pasar itu di geledah. Mereka akan


pertama kalinya melihat banyaknya polisi yang akan berada di sekitarnya. Lalu


di sepakatilah bahwa besok akan dilakukan pemeriksaan besar-besaran oleh


kepolisian Batavia dibantu juga dengan pemangku kepentingan yang berkait.


Hari sudah


malam. Aliken dan Asmira tentunya sudah sangat ketakutan akan ancaman Densi


yang merasuki pikiran dan hatinya. Mereka terlihat agak sedikit gelisah. Aliken


menceritakan kepada ku, pada saat malam itu ia sudah sangat panik, ketakutan,


dan keringat yang membasahi tubuhnya karena  paniknya. Begitu juga Asmira yang berada di rumah orang tua Asmira, ia


juga merasakan apa yang Aliken rasakan. Sepertinya jika aku jadi Aliken atau


Asmira, aku juga merasakan apa yang ia rasakan.


Sementara itu di


rumah Densi, sedang pada membuat rencana mengenai pembunuhan Asmira dengan


Aliken. Densi yang saat itu sedang sebal dan muak dengar kata Aliken dan


Asmira, ia sangat bersemangat sekali membuat rencana pembunuhan itu. Mereka


berkumpul di ruang tamu rumah itu. Ayah Densi yang berada di ruang tamu itu di


suruh Densi untuk ke kamarnya. Ayah Densi sangat sekali menyayangi anak nya, ia


rela melakukan apa saja demi anaknya, bahkan jika itu kematian ia juga akan


menghadapi nya, yang penting bisa membuat anak nya itu tersenyum. Saat Ayahnya


di suruh oleh Densi untuk pergi dari ruang tamu itu ke kamarnya, ia sangat


nurut sekali, dengan sangat cepatnya Ayah Densi langsung berlari ke kamarnya.


Mereka berkumpul di ruang tamu itu dan memberikan saran ke Densi mengenai


pembunuhan Aliken dan Asmira. Setelah sekian lama mereka mencari ide mengenai


pembunuhan Aliken dan Asmira, tidak ada satupun orang yang idenya dapat di


lakukan dan di peraktikan, sangat tidak masuk akal sekali ide-ide semua anggota


geng Tarata. Akhirnya aku yang memberikan ide mengenai pembunuhan Aliken dan


Asmira.


Aku berkata


kepada mereka “kalian mengerti tidak jika banyak sekali besok polisi yang


berada di luar rumah Aliken, tentunya kita semua tidak bisa melawan


polisi-polisi itu. Yang bisa kita lakukan ialah menyamar menjadi sesuatu yang


rutin setiap bulan nya ke rumah-rumah warga, misal menjadi pengecek listrik


rumah warga, dan akhirnya rencana pembunuham Aliken dan Asmira telah di


rencanakan dengan sangat matang. Yang akan ke rumah Aliken hanya aku, Densi dan


Kero. Hanya tiga orang saja yang akan ke rumah Aliken dan Asmira. Kita akan ke


rumah Aliken dengan berpenampilan layaknya orang yang sering mengecek listrik


rumah warga,  setelah selesai membunuh

__ADS_1


Aliken, kita ke rumah Asmira, mengerti?” dan ide ku itu di setujui oleh Densi


dan anggota geng Tarata.


__ADS_2