
“Ia, memang
bukan kamu yang salah, tetapi ucapan mu yang salah. Ok, jangan banyak bicara
lagi, kamu keluar dari sekolah ini dan berjalan menuju lapangan belakang warnet,
yang aku tunjukan kamu kemarin malam,” jawab Densi kepada Aliken mengenai siapa
yang salah dalam situasi seperti ini. Dan setelah mereka berbicara
panjang-lebar mengenai siapa yang salah, Densi sudah tidak tahan lagi dengan
yang Aliken lakukan, ia langsung masuk ke dalam sekolahnya bersama anggotanya
untuk membawa Aliken ke belakang warnet. Densi berhasil masuk ke dalam
sekolahnya, sementara itu rencana yang Aliken buat bersama teman-teman nya
langsung di kerjakan, mereka semua yang akan ikut mengusir Densi dan gengnya
langsung menyerang Densi dan gengnya itu. Perkelahian antara geng Densi dengan
sekolah SMAN 77 di mulai, mereka saling melukai antar kedua belah pihak.
Asmira yang
berada di dalam gerobak sampah, ia keringatan karena engap dan bau di dalam
gerobak itu. Setelah beberapa lama ia berada di dalam gerobak sampah itu, ia
sudah tidak tahan lagi dengan bau sampah yang berada di sekitar nya, panas
engap yang ia rasakan. Ia pun mulai mengeluarkan keringat yang di hasilkan
karena engap dan bau sampah itu. Tanpa berpikir panjang, Asmira memberanikan
diri nya keluar dari gerobak sampah itu, tetapi sebelum ia keluar dari gerobak
sampah itu ia berpikir “tadi aku sudah menelpon kepolisian terdekat yang berada
di daerah ini, dan polisi itu berkata ia akan datang ke sekolah itu secepatnya
dan bersama anggota lain nya. Jadi buat apa aku di tempat yang bau dan panas
ini lama-lama, aku keluar dan menampakan diriku, aku pasti akan selamat” Asmira
langsung keluar dari gerobak itu dan ia tidak melihat dua orang yang
mengejarnya, Asmira mendengar ada suara siren polisi yang mengarah ke sekolah
itu. Kebetulan mobil-mobil polisi itu melewati di hadapan Asmira, Asmira
langsung melambaikan tangan nya kepada mobil-mobil polisi yang melewatinya,
setelah mobil itu berhenti, Asmira dengan polisi berbicara sekian lama, dan
Asmira menumpang mobil polisi itu untuk menuju sekolahnya.
Sesampainya di
sekolah, geng Tarata dengan Densi mengetahui adanya mobil polisi yang datang ke
sekolah itu, mereka semua langsung pergi dari sekolah itu menuju pondok, tempat
mereka berkumpul dan nongkrong. Sebagian ada yang tidak pingsan dan yang
pingsan tinggal di sekolah itu. Polisi
tidak sempat mengejar geng Tarata dengan Densi, karena mereka semua sudah lari
dari sekolah itu ketika mengetahui bahwa polisi sedang menuju ke sekolah itu.
Asmira terkejut melihat Aliken yang hampir pingsan karena pertarungan itu.
Polisi itu meminta sedikit informasi mengenai hal itu kepada Asmira, seketika
Aliken bagun dari pingsan nya itu, Aliken dengan Asmira memberikan semua
informasi yang mereka ketahui mengenai hal itu. Aliken mengetahui bahwa jika ia
memberikan informasi mengenai Densi dengan geng nya kepada polisi, ia akan di
beri pelajaran bahkan bisa di bunuh oleh Densi. Ada salah satu geng Tarata yang
pingsan di sekolah itu, nama orang itu ialah Dadryl, Darryl mengetahui bahwa
Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai Densi dan gengnya kepada
polisi-polisi itu, ia segera memberikan informasi itu kepada Densi, pemimpin
geng itu. Darryl segera pergi dari sekolah itu menuju pondoknya dan memberi tau
kepada Densi behwa Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai nya kepada
__ADS_1
polisi. Setelah Densi mengetahui hal itu, ia langsung pergi dari pondok itu
bersama teman- temannya ke rumah orang tua Densi.
Setelah aku,
Densi dan anggota geng Tarata mengetahui bahwa polisi itu akan datang ke pondok
nya. Tentunya aku dan Densi tidak terlalu badoh walau memang aku, Densi dan
anggota lain nya bodoh, kita langsung pergi dari pondok itu. Saat kita semua
telah sampai di rumah Densi, yang aku
herankan, entah ini kebetulan atau memang pertolongan dari Tuhan, sesampainya
di rumah Densi. Di dalam rumah itu terdapat ayah Densi yang sedang membaca
koran. Lalu Densi menanyakan kepada ayah nya mengenai rumah nya yang di sita itu.
Ternyata rumah ayah nya itu sudah lunas terbayar. Bertahun-tahun rumah ayah
Densi di sita oleh Bank, namun pada saat itu, rumah ayah Densi sudah
lunas. Aku juga tidak mengetahui dari
mana ayah Densi mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar utang nya itu.
Karena jika aku mengetahui hal itu, bukan hak aku tentunya. Tanpa berpikir
lama, Densi menyuruhku dan anggota nya untuk masuk ke dalam rumahnya itu,
supaya polisi tidak mengetahui keberadaan aku dan semua orang yang tadi membuat
kekacauan di sekolah itu.
Polisi telah
sampai di pondok itu dengan Asmira dan Aliken, polisi-polisi itu mulai
menggeledah tempat itu. Setelah di
geledah tempat itu, polisi dengan anggotanya tidak menemukan barang satu pun
yang mencurigakam di pondok itu. Tetapi salah satu polisi menyadari bahwa
bagian belakang pondok itu belum di geledah. Polisi itu memanggil teman anggota
lainnya untuk membantunya menggeledah bagian belakang pondok itu. Awalnya tidak
yang berbentuk balok dengan ruang di dalam nya. Kotak itu memiliki panjang satu
meter, tinggi tiga puluh centimeter dan lebar tiga puluh centi meter. Kotak itu
terkunci dengan gembok yang lumayan besar. Tentunya polisi itu curiga dengan
isi kotak tersebut. Mereka membuka kotak itu dengan menembak gembok itu
menggunakan pistol yang di bawa oleh polisi itu, dan di geledah isi kotak itu,
yang tidak di duga isi kotak itu ialah narkoba jenis sabu-sabu dengan berat
lima belas kilogram. Polisi itu sudah memastikan bahwa di tempat itu tidak ada
barang yang mencurigakan lagi.
Polisi-polisi
itu pergi dari tempat itu menuju kantor pusat kepolisian Batavia untuk
memberikan informasi itu kepada pamglima kepolisian, dan panglima kepolisian
yang akan memastikan apa yang selanjutnya di lakukan mengenai narkoba itu.
Polisi itu pun sampai di gedung pusat kepolisian Batavia. Mereka langsung
mengadakan penggeledahan lebih lanjut dengan narkoba berjenis sabu itu yang
mereka temukan di pondok geng Tarata. Polisi itu ingin mengetahui motif dari
pemilik barang ini, apakah pemilik narkoba ini sudah menggunakan nya, dan
tentunya juga strategi untuk menangkap pemilik narkoba itu. Setelah itu,
kantong pelastik hitam itu di lepaskan dari narkoba sabu itu. Sabu itu pun
keluar dari kantong pelastik nya, pemeriksaan pun di lakukan, dapat di
simpulkan bahwa penggeledahan pertama itu untuk mengetahui narkoba itu sudah di
konsumsi atau belum, ternyata narkoba itu belum pernah di konsumsi sedikit pun.
Kesimpulan
__ADS_1
pertama bertujuan untuk menentukan motif pemilik narkoba itu. Jika narkoba itu
belum pernah di konsumsi, maka kemungkinan besar narkoba itu akan di perjual
belikan oleh pemilik nya. Polisi itu sangat cepat sekali menyimpulkan mengenai
narkoba itu, kepala anggota penggeledahan menyimpulkan bahwa narkoba berjenis
sabu itu adalah narkoba yang akan di perjual belikan oleh pemilik nya, ia juga
berkata “besok kita akan melakukan penggeledahan rumah anak yang membawa kalian
ke pondok itu” kepada polisi yang tadi bersama Aliken dan Asmira di pondok itu.
Maka dengan begitu kepolisian Batavia akan melakukan kegiatan penangkapan
pemilik narkoba itu di daerah Rambutan, tempat Aliken, Asmira dan sekolah nya
berada. Semua lokasi pasar yang menjadi akses ke pondok itu juga akan di
periksa. Besok pagi adalah hari pertama dalam kehidupan warga yang berada di pasar itu di geledah. Mereka akan
pertama kalinya melihat banyaknya polisi yang akan berada di sekitarnya. Lalu
di sepakatilah bahwa besok akan dilakukan pemeriksaan besar-besaran oleh
kepolisian Batavia dibantu juga dengan pemangku kepentingan yang berkait.
Hari sudah
malam. Aliken dan Asmira tentunya sudah sangat ketakutan akan ancaman Densi
yang merasuki pikiran dan hatinya. Mereka terlihat agak sedikit gelisah. Aliken
menceritakan kepada ku, pada saat malam itu ia sudah sangat panik, ketakutan,
dan keringat yang membasahi tubuhnya karena paniknya. Begitu juga Asmira yang berada di rumah orang tua Asmira, ia
juga merasakan apa yang Aliken rasakan. Sepertinya jika aku jadi Aliken atau
Asmira, aku juga merasakan apa yang ia rasakan.
Sementara itu di
rumah Densi, sedang pada membuat rencana mengenai pembunuhan Asmira dengan
Aliken. Densi yang saat itu sedang sebal dan muak dengar kata Aliken dan
Asmira, ia sangat bersemangat sekali membuat rencana pembunuhan itu. Mereka
berkumpul di ruang tamu rumah itu. Ayah Densi yang berada di ruang tamu itu di
suruh Densi untuk ke kamarnya. Ayah Densi sangat sekali menyayangi anak nya, ia
rela melakukan apa saja demi anaknya, bahkan jika itu kematian ia juga akan
menghadapi nya, yang penting bisa membuat anak nya itu tersenyum. Saat Ayahnya
di suruh oleh Densi untuk pergi dari ruang tamu itu ke kamarnya, ia sangat
nurut sekali, dengan sangat cepatnya Ayah Densi langsung berlari ke kamarnya.
Mereka berkumpul di ruang tamu itu dan memberikan saran ke Densi mengenai
pembunuhan Aliken dan Asmira. Setelah sekian lama mereka mencari ide mengenai
pembunuhan Aliken dan Asmira, tidak ada satupun orang yang idenya dapat di
lakukan dan di peraktikan, sangat tidak masuk akal sekali ide-ide semua anggota
geng Tarata. Akhirnya aku yang memberikan ide mengenai pembunuhan Aliken dan
Asmira.
Aku berkata
kepada mereka “kalian mengerti tidak jika banyak sekali besok polisi yang
berada di luar rumah Aliken, tentunya kita semua tidak bisa melawan
polisi-polisi itu. Yang bisa kita lakukan ialah menyamar menjadi sesuatu yang
rutin setiap bulan nya ke rumah-rumah warga, misal menjadi pengecek listrik
rumah warga, dan akhirnya rencana pembunuham Aliken dan Asmira telah di
rencanakan dengan sangat matang. Yang akan ke rumah Aliken hanya aku, Densi dan
Kero. Hanya tiga orang saja yang akan ke rumah Aliken dan Asmira. Kita akan ke
rumah Aliken dengan berpenampilan layaknya orang yang sering mengecek listrik
rumah warga, setelah selesai membunuh
__ADS_1
Aliken, kita ke rumah Asmira, mengerti?” dan ide ku itu di setujui oleh Densi
dan anggota geng Tarata.