Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
masuknya ke suatu negeri.


__ADS_3

Densi yang


berada di luar rumahnya harus menunggu polisi yang menjaga rumah Aliken menoleh


ke lain arah, hingga akhirnya Densi tidak dapat menunggu polisi itu menoleh ke


lain arah, ia mulai berjalan menuju polisi itu dan mulai membicarakan


pelan-pelan supaya ia dapat masuk ke dalam rumahnya itu yang di jaga polisi


“pak polisi, kami bertiga datang ke rumah ini hendak mengecek listrik yang


berada di rumah ini, apakah bisa kami memasuki rumah ini?” tanya Densi kepada


polisi itu. “Sebelum kamu memasuki rumah ini, akan ada pengecekan super ketat


yang akan di lakukan anggota kami, apakah bapak-bapak bersedia untuk di periksa


oleh anggota kami?” tanya balik polisi itu kepada Densi. Densi kebingungan


menjawab pertanyaan polisi nya itu. “ya sudah jika itu sebuah peraturan, kami


siap untuk di periksa” kata Densi kepada polisi yang bertanya tadi. Densi


berani menjawab seperti itu karena polisi yang sedang mencari seorang yang


mencurigakan, polisi-polisi itu tidak mengenali wajah orang yang sedang di


cari, karena yang polisi ingin temukan ialah pergerakan mencurigakan yang akan


di lakukan Densi dan dua orang yang mengikutinya. Kemudian di suruhlah polisi


itu kepada Densi dan kedua teman nya itu untuk melepaskan seragam yang di


kenakan itu, bagi Densi jika hanya melepaskan seragam yang dikenakan itu ialah


hal yang mudah, mereka bertiga lalu melepaskan seragam yang dikenakan itu.


Terlihat di tempat itu, Densi dan kedua orang yang sedang di periksa itu hanya


mengenakan kaos kutang dan celana pendek. Mereka melepaskan seragam dan


celananya.


Setelah mereka


melepaskan seragam nya itu, mereka di suruh oleh seorang polisi untuk


mengangkat tangan nya ke atas dan kaki tegak. Densi dan anggotanya pun


mengikuti apa yang polisi itu perintahkan. Ia mengangkat tangan nya ke atas dan


kaki tegak lurus, setelah Densi dan dua teman nya itu mengangkat tangan nya ke


atas kepalanya, tiga polisi yang berada di hadapan nya langsung meraba seluruh


tubuhnya tanpa terkecuali, polisi itu mulai meraba tubuh nya itu mulai dari


atas hingga bawah. Sesudah polisi-polisi itu meraba seluruh tubuh nya, tidak di


temukan sedikitpun barang-barang yang mencurigakan. Saat satu polisi yang


sedang memeriksa Densi, ia menemukan sebuah pisau di dalam celananya Densi.


Polisi itu menanyakan “ini pisau gunanya untuk apa ?” lalu Densi menjawabnya


“ini gunanya untuk..... “ Densi tidak selesai berbicara dan ia langsung lari ke


mobil yang di kendarakan oleh aku. Aku di mobil melihat Densi yang sedang


berlari ke mobil yang aku kendarakan itu, ia juga di kejar oleh polisi-polisi


yang tadi bersamanya, dua orang yang bersamanya tidak ikut bersama Densi, dua


orang yang bersama Densi tadi lari ke lain arah untuk menghindari polisi yang


mengejarnya. Polisi itu sudah berani menembakan pistol nya itu ke arah Densi,


tujuan nya ialah menghentikan Densi yang sedang berlari, tetapi pistol yang di


tembakan nya itu tidak kena Densi, hingga akhirnya Densi berhasil naik ke dalam


mobil yang aku kendarakan itu.


Saat Densi sudah


masuk ke dalam mobil yang aku kemudi itu, aku langsung menancapkan gas dan


mengemudi mobil itu dengan liar. Aku hampir tertabrak apa yang aku temukan  di jalan itu, hingga beberapa saat aku


melihat ada jalan kecil yang aku pikir jika aku dan Densi ke jalan kecil itu,


polisi itu tidak dapat mencarinya. Aku langsung menghentikan mobil itu dengan


menginjak tancap rem itu. Aku dan Densi keluar dari mobil itu, kita berlari


menuju jalan kecil itu. Ternyata jalan kecil itu yang aku tidak sangka ialah


jalan itu menuju jalan besar yang di mana banyak sekali orang yang sedang


melakukan jual beli di jalan itu. Tanpa pikir panjang aku dan  Densi lewati jalan itu, saat aku dan Densi


sedang berjalan melewati jalan itu, ada polisi yang melihat aku dan Densi.

__ADS_1


Disana aku mulai panik, aku dan Densi langsung berlari ke tempat yang aku


anggap aman untuk bersembunyi. Terpaksa aku harus menginjak dagangan orang yang


sedang berjualan, buah jeruk, tomat, sayur-sayuran aku tidak sengaja menginjak


nya, lalu aku dan Densi melihat jalan yang bisa aku gunakan untuk bersembunyi,


aku dan Densi memasuki jalan itu dan berlari menemukan tempat bersembunyi,


sangat mengejutkan sekali, ternyata jalan itu buntu. Hanya ada seperti gudang


yang terkunci di hadapan aku dan Densi. Aku dan Densi bingung harus kemana lagi


kita harus pergi.


Aliken yang


berhasil memasukan Asmira yang berada di luar jendela kamarnya ke dalam


kamarnya melalui jendela bertanya kepada Asmira “apa yang kamu ingin lakukan di


sini?” dan Asmira menjawab nya “kenapa aku ke sini. Aku di sini karena sudah


melewati, melalui dan perhitungan yang sangat panjang dan rumit, aku datang ke


sini karena terbukti di kertas yang aku tulis itu, aku akan datang ke sini. Aku


telahh sangat sangat memperhitungkan hal ini, dan keputusan ku ialah pergi dari


dunia ini dengan memegang erat tangan mu. Aku memutuskan bahwa aku akan


menggantungkan diriku ini bersama mu.” Ternyata keputusan Asmira ialah


mengikuti hal bodoh yang di pikirkan Aliken. Aku sangat sekali bingung dengan


perhitungan yang ia lakukan, metode perhitungannya itu masih aku pikirkan, dan


tulisan-tulisan apa yang di tulis Asmira di kertasnya itu, hingga sampai ia


memilih untuk bersamanya, kalau aku rasa sih, Asmira itu sangat mencintai


Aliken, kalau tidak salah ia itu tidak melakukan perhitungan sedikitpun, dia


tidak menuliskan sesuatu di kertas hingga ia harus memilih Aliken. Asmira itu


hanya memikirkan bagaimana aku bisa meninggalkan dunia ini dengan Aliken dan


bla- bla-bla. Tetapi keputusan Asmira itu bukan hak aku untuk memilihnya,


keputusan dia yah keputusan dia, aku tidak ada hak apalagi mengubahnya.


Sebelum Aliken


dan Asmira menggantungkan kepalanya itu ke tali yang sudah tergantung di atap


masing-masing. Aliken melipat tangan nya dan menutup mata, sedangkan Asmira


berdoa layaknya seorang muslim berdoa. Beberapa saat kemudian mereka pun


selesai berdoa. Aliken mengenakan cincin yang ia temukan di jalan pada saat


itu, saat ia hendak menggantungkan dirinya itu.


Densi dan Keni


merasa sudah dekat sekali polisi yang mengejarnya itu ke arah mereka. Densi


menanyakan kepada ku “apa yang harus kita lakukan saat ini?” dan aku


menjawabnya “entah bagaimana, aku juga tidak tau apa yang harus di


lakukan.”  Densi melihat belakangnya itu


ada pintu gudang yang tingginya sekitar empat meter dan lebar dua meter.


Setelah melihat pintu itu, dia mengatakan kepada ku “kita buka saja pintu ini


dan kita masuk ke dalam nya,” aku pun menjawab, “bagaimana bisa kita membuka


pintu ini?, dengan apa kita membukanya?.” Densi menjawabnya “dengan apa saja


yang dapat membuka pintu ini, apa saja yang kamu kantongi itu, keluarkanlah


saja, entah apa itu,” aku menjawabnya lagi “ok jika begitu aku akan


mengeluarkan apa yang ada di kantong ini.” Saat aku mengeluarkan barang yang


ada di kantongku itu, aku memegang sesuatu yang sepertinya terbuat dari besi


tetapi itu kecil. Saat aku mengambilnya, ternyata barang kecil itu ialah kunci


yang waktu itu aku temukan di jalan bersama kotaknya, tetapi kotaknya itu aku


buang di tempat sampah yang berada di sekitarnya. Saat aku mengetahui bahwa


yang berada di kantongku itu kunci aku mengatakan nya kepada Densi “Densi ini


di kantongku ini ada sebuah kunci, mungkin saja kunci ini bisa membuka pintu


ini” Densi menjawabnya “ya suda jika begitu, coba saja buka pintu ini dengan


kunci itu, mudah-mudahan saja pintu ini terbuka.” Lalu di masukanlah kunci yang

__ADS_1


aku pegang itu ke dalam lubang kunci pintu itu. Ternyata kunci itu cocok sekali


dengan lubang kunci pintu itu, pintu itu pun berhasil di buka.


Kunci yang aku


pegang itu ternyata ada hubungan nya dengan cincin yang di kenakan oleh Aliken.


Cincin yang Aliken kenakan itu dan kunci yang aku temukan saat itu, ternyata


sebuah kunci yang akan membuka gerbang menuju sebuah dunia yang bernama dunia


“Darmanas” dunia Darmanas bisa dikatakan seperti dunia tempat kita tinggal.


Darmanas memiliki lautan, daratan, dan atmosfer, di Darmanas ada sebuah negri


yang bernama negeri Kinata. Makhluk yang dapat membawa manusia ke Darmanas


ialah makhluk tak kasat mata yang terdapat di negri Kinata. Lebih jelasnya lagi


tentang Darmanas dan Kinata akan di ceritakan di buku ke dua. Dan hanya sedikit


yang akan aku ceritakan tentang Darmanas di buku ini.


Aliken yang


sudah mengikat talinya itu ke kepalanya dan Asmira pun telah mengikat tali


gantung nya itu ke kepalanya. Mereka hanya tinggal turun dari kursi yang di


naikinya itu. Secara bersamaan  Aliken


dan Asmira turun dari kursi itu dan secara bersamaan juga Densi dan aku


memasuki pintu itu. Pintunya pun di tutup oleh Densi dan kita memasuki ruangan


yang gelap itu. Asmira dan Aliken yang sudah terjun dari kursi nya itu ke


bawah, ternyata ia berada di awan yang putih, ia berada di sekeliling awan yang


putih, awalnya Aliken dan Asmira mengira jika itu hanya sebuah halusinasi. Tetapi


semakin lama mereka merasakan mereka akan jatuh dari tempat yang sangat tinggi.


Kira-kira Aliken dan Asmira berada di ketinggian sembilan ratus meter di atas


permukaan laut. Asmira dan Aliken secara bersamaan berteriak “ahhh, kita berada


di mana ini” hingga akhirnya Aliken dan Asmira mendarat di daratan dan entah


karena apa, mereka itu masih hidup dan tidak mati, padahal Aliken dan Asmira


terjatuh dari ketinggian sekitar sembilan ratus meter, tetapi tidak ada patah


tulang apalagi kematian. Aliken dan Asmira pingsan karena benturan yang kencang


itu. Mereka terbentur karena tingginya mereka terjatuh.


Aku dan Densi


dari kejauhan melihat sebuah cahaya yang sangat kecil sekali. Tetapi jika


mendekati cahaya itu, cahaya itu semakin besar. Aku dan Densi semakin mendekati


cahaya yang tadinya kecil, hingga akhirnya cahaya itu besarnya tiga kali lipat


dari aku dan Densi. Setelah itu aku dan Densi keluar dari kegelapan itu dan


kita di kejutkan oleh pemandangan yang lumayan indah, hingga akhirnya aku dan


Densi sadar bahwa kita itu berada di sebuah tempat yang berbeda dengan tempat


kita masuk tadi. Aku berada seperti di perbatasan antara dua tempat yang


berbeda. Tempat sebelah kiri Ku seperti tempat yang tanahnya subur dan di


pandangnya enak, tetapi di sebelah kanan ku ialah seperti daratan yang hanya


terdapat batu di sepanjang jalan nya. Batu-batu itu seperti batu yang terdapat


di dekat gunung merapi. Aku dan Densi berjalan ke suatu tempat dan Aku dengan


Densi sangat terkejut melihat dua orang berada di sebelah kiri aku sedang


tertidur di tanah. Aku pun menghampiri dua orang itu, sepertinya orang itu


perempuan dan laki-laki. Aku menuju dua orang itu  dan hanya berniat untuk mengetahui nya.


Betapa terkejutnya aku ternyata dua orang itu seperti Aliken dan Asmira. Aku


langsung memanggil Densi yang tidak tau sedang apa. Densi pun menghampiri aku


dan dua orang itu. Densi sama hal nya dengan aku, ia terkejut dan tidak


menyangka. “apakah betul ini Asmira dan Aliken” kata Densi kepada ku, aku


menjawabnya “sepertinya ini bukan Aliken dan Asmira, dia saja tidak ikut dengan


kita saat kita memasuki tempat ini. Dan sepertinya pertanyaannya bukan mengenai


dua orang ini, tetapi yang aku tanyakan, tempat apa ini?, mengapa kita berada


di tempat ini?,” tanya ku kepada Densi. Lalu aku dan Densi kembali ke gua,

__ADS_1


tempat aku dan Densi memasuki daerah yang aneh itu. Sesampainya di gua, aku dan


Densi tidak melihat pintu yang tadi di buka oleh aku.


__ADS_2