
Densi yang
berada di luar rumahnya harus menunggu polisi yang menjaga rumah Aliken menoleh
ke lain arah, hingga akhirnya Densi tidak dapat menunggu polisi itu menoleh ke
lain arah, ia mulai berjalan menuju polisi itu dan mulai membicarakan
pelan-pelan supaya ia dapat masuk ke dalam rumahnya itu yang di jaga polisi
“pak polisi, kami bertiga datang ke rumah ini hendak mengecek listrik yang
berada di rumah ini, apakah bisa kami memasuki rumah ini?” tanya Densi kepada
polisi itu. “Sebelum kamu memasuki rumah ini, akan ada pengecekan super ketat
yang akan di lakukan anggota kami, apakah bapak-bapak bersedia untuk di periksa
oleh anggota kami?” tanya balik polisi itu kepada Densi. Densi kebingungan
menjawab pertanyaan polisi nya itu. “ya sudah jika itu sebuah peraturan, kami
siap untuk di periksa” kata Densi kepada polisi yang bertanya tadi. Densi
berani menjawab seperti itu karena polisi yang sedang mencari seorang yang
mencurigakan, polisi-polisi itu tidak mengenali wajah orang yang sedang di
cari, karena yang polisi ingin temukan ialah pergerakan mencurigakan yang akan
di lakukan Densi dan dua orang yang mengikutinya. Kemudian di suruhlah polisi
itu kepada Densi dan kedua teman nya itu untuk melepaskan seragam yang di
kenakan itu, bagi Densi jika hanya melepaskan seragam yang dikenakan itu ialah
hal yang mudah, mereka bertiga lalu melepaskan seragam yang dikenakan itu.
Terlihat di tempat itu, Densi dan kedua orang yang sedang di periksa itu hanya
mengenakan kaos kutang dan celana pendek. Mereka melepaskan seragam dan
celananya.
Setelah mereka
melepaskan seragam nya itu, mereka di suruh oleh seorang polisi untuk
mengangkat tangan nya ke atas dan kaki tegak. Densi dan anggotanya pun
mengikuti apa yang polisi itu perintahkan. Ia mengangkat tangan nya ke atas dan
kaki tegak lurus, setelah Densi dan dua teman nya itu mengangkat tangan nya ke
atas kepalanya, tiga polisi yang berada di hadapan nya langsung meraba seluruh
tubuhnya tanpa terkecuali, polisi itu mulai meraba tubuh nya itu mulai dari
atas hingga bawah. Sesudah polisi-polisi itu meraba seluruh tubuh nya, tidak di
temukan sedikitpun barang-barang yang mencurigakan. Saat satu polisi yang
sedang memeriksa Densi, ia menemukan sebuah pisau di dalam celananya Densi.
Polisi itu menanyakan “ini pisau gunanya untuk apa ?” lalu Densi menjawabnya
“ini gunanya untuk..... “ Densi tidak selesai berbicara dan ia langsung lari ke
mobil yang di kendarakan oleh aku. Aku di mobil melihat Densi yang sedang
berlari ke mobil yang aku kendarakan itu, ia juga di kejar oleh polisi-polisi
yang tadi bersamanya, dua orang yang bersamanya tidak ikut bersama Densi, dua
orang yang bersama Densi tadi lari ke lain arah untuk menghindari polisi yang
mengejarnya. Polisi itu sudah berani menembakan pistol nya itu ke arah Densi,
tujuan nya ialah menghentikan Densi yang sedang berlari, tetapi pistol yang di
tembakan nya itu tidak kena Densi, hingga akhirnya Densi berhasil naik ke dalam
mobil yang aku kendarakan itu.
Saat Densi sudah
masuk ke dalam mobil yang aku kemudi itu, aku langsung menancapkan gas dan
mengemudi mobil itu dengan liar. Aku hampir tertabrak apa yang aku temukan di jalan itu, hingga beberapa saat aku
melihat ada jalan kecil yang aku pikir jika aku dan Densi ke jalan kecil itu,
polisi itu tidak dapat mencarinya. Aku langsung menghentikan mobil itu dengan
menginjak tancap rem itu. Aku dan Densi keluar dari mobil itu, kita berlari
menuju jalan kecil itu. Ternyata jalan kecil itu yang aku tidak sangka ialah
jalan itu menuju jalan besar yang di mana banyak sekali orang yang sedang
melakukan jual beli di jalan itu. Tanpa pikir panjang aku dan Densi lewati jalan itu, saat aku dan Densi
sedang berjalan melewati jalan itu, ada polisi yang melihat aku dan Densi.
__ADS_1
Disana aku mulai panik, aku dan Densi langsung berlari ke tempat yang aku
anggap aman untuk bersembunyi. Terpaksa aku harus menginjak dagangan orang yang
sedang berjualan, buah jeruk, tomat, sayur-sayuran aku tidak sengaja menginjak
nya, lalu aku dan Densi melihat jalan yang bisa aku gunakan untuk bersembunyi,
aku dan Densi memasuki jalan itu dan berlari menemukan tempat bersembunyi,
sangat mengejutkan sekali, ternyata jalan itu buntu. Hanya ada seperti gudang
yang terkunci di hadapan aku dan Densi. Aku dan Densi bingung harus kemana lagi
kita harus pergi.
Aliken yang
berhasil memasukan Asmira yang berada di luar jendela kamarnya ke dalam
kamarnya melalui jendela bertanya kepada Asmira “apa yang kamu ingin lakukan di
sini?” dan Asmira menjawab nya “kenapa aku ke sini. Aku di sini karena sudah
melewati, melalui dan perhitungan yang sangat panjang dan rumit, aku datang ke
sini karena terbukti di kertas yang aku tulis itu, aku akan datang ke sini. Aku
telahh sangat sangat memperhitungkan hal ini, dan keputusan ku ialah pergi dari
dunia ini dengan memegang erat tangan mu. Aku memutuskan bahwa aku akan
menggantungkan diriku ini bersama mu.” Ternyata keputusan Asmira ialah
mengikuti hal bodoh yang di pikirkan Aliken. Aku sangat sekali bingung dengan
perhitungan yang ia lakukan, metode perhitungannya itu masih aku pikirkan, dan
tulisan-tulisan apa yang di tulis Asmira di kertasnya itu, hingga sampai ia
memilih untuk bersamanya, kalau aku rasa sih, Asmira itu sangat mencintai
Aliken, kalau tidak salah ia itu tidak melakukan perhitungan sedikitpun, dia
tidak menuliskan sesuatu di kertas hingga ia harus memilih Aliken. Asmira itu
hanya memikirkan bagaimana aku bisa meninggalkan dunia ini dengan Aliken dan
bla- bla-bla. Tetapi keputusan Asmira itu bukan hak aku untuk memilihnya,
keputusan dia yah keputusan dia, aku tidak ada hak apalagi mengubahnya.
Sebelum Aliken
dan Asmira menggantungkan kepalanya itu ke tali yang sudah tergantung di atap
masing-masing. Aliken melipat tangan nya dan menutup mata, sedangkan Asmira
berdoa layaknya seorang muslim berdoa. Beberapa saat kemudian mereka pun
selesai berdoa. Aliken mengenakan cincin yang ia temukan di jalan pada saat
itu, saat ia hendak menggantungkan dirinya itu.
Densi dan Keni
merasa sudah dekat sekali polisi yang mengejarnya itu ke arah mereka. Densi
menanyakan kepada ku “apa yang harus kita lakukan saat ini?” dan aku
menjawabnya “entah bagaimana, aku juga tidak tau apa yang harus di
lakukan.” Densi melihat belakangnya itu
ada pintu gudang yang tingginya sekitar empat meter dan lebar dua meter.
Setelah melihat pintu itu, dia mengatakan kepada ku “kita buka saja pintu ini
dan kita masuk ke dalam nya,” aku pun menjawab, “bagaimana bisa kita membuka
pintu ini?, dengan apa kita membukanya?.” Densi menjawabnya “dengan apa saja
yang dapat membuka pintu ini, apa saja yang kamu kantongi itu, keluarkanlah
saja, entah apa itu,” aku menjawabnya lagi “ok jika begitu aku akan
mengeluarkan apa yang ada di kantong ini.” Saat aku mengeluarkan barang yang
ada di kantongku itu, aku memegang sesuatu yang sepertinya terbuat dari besi
tetapi itu kecil. Saat aku mengambilnya, ternyata barang kecil itu ialah kunci
yang waktu itu aku temukan di jalan bersama kotaknya, tetapi kotaknya itu aku
buang di tempat sampah yang berada di sekitarnya. Saat aku mengetahui bahwa
yang berada di kantongku itu kunci aku mengatakan nya kepada Densi “Densi ini
di kantongku ini ada sebuah kunci, mungkin saja kunci ini bisa membuka pintu
ini” Densi menjawabnya “ya suda jika begitu, coba saja buka pintu ini dengan
kunci itu, mudah-mudahan saja pintu ini terbuka.” Lalu di masukanlah kunci yang
__ADS_1
aku pegang itu ke dalam lubang kunci pintu itu. Ternyata kunci itu cocok sekali
dengan lubang kunci pintu itu, pintu itu pun berhasil di buka.
Kunci yang aku
pegang itu ternyata ada hubungan nya dengan cincin yang di kenakan oleh Aliken.
Cincin yang Aliken kenakan itu dan kunci yang aku temukan saat itu, ternyata
sebuah kunci yang akan membuka gerbang menuju sebuah dunia yang bernama dunia
“Darmanas” dunia Darmanas bisa dikatakan seperti dunia tempat kita tinggal.
Darmanas memiliki lautan, daratan, dan atmosfer, di Darmanas ada sebuah negri
yang bernama negeri Kinata. Makhluk yang dapat membawa manusia ke Darmanas
ialah makhluk tak kasat mata yang terdapat di negri Kinata. Lebih jelasnya lagi
tentang Darmanas dan Kinata akan di ceritakan di buku ke dua. Dan hanya sedikit
yang akan aku ceritakan tentang Darmanas di buku ini.
Aliken yang
sudah mengikat talinya itu ke kepalanya dan Asmira pun telah mengikat tali
gantung nya itu ke kepalanya. Mereka hanya tinggal turun dari kursi yang di
naikinya itu. Secara bersamaan Aliken
dan Asmira turun dari kursi itu dan secara bersamaan juga Densi dan aku
memasuki pintu itu. Pintunya pun di tutup oleh Densi dan kita memasuki ruangan
yang gelap itu. Asmira dan Aliken yang sudah terjun dari kursi nya itu ke
bawah, ternyata ia berada di awan yang putih, ia berada di sekeliling awan yang
putih, awalnya Aliken dan Asmira mengira jika itu hanya sebuah halusinasi. Tetapi
semakin lama mereka merasakan mereka akan jatuh dari tempat yang sangat tinggi.
Kira-kira Aliken dan Asmira berada di ketinggian sembilan ratus meter di atas
permukaan laut. Asmira dan Aliken secara bersamaan berteriak “ahhh, kita berada
di mana ini” hingga akhirnya Aliken dan Asmira mendarat di daratan dan entah
karena apa, mereka itu masih hidup dan tidak mati, padahal Aliken dan Asmira
terjatuh dari ketinggian sekitar sembilan ratus meter, tetapi tidak ada patah
tulang apalagi kematian. Aliken dan Asmira pingsan karena benturan yang kencang
itu. Mereka terbentur karena tingginya mereka terjatuh.
Aku dan Densi
dari kejauhan melihat sebuah cahaya yang sangat kecil sekali. Tetapi jika
mendekati cahaya itu, cahaya itu semakin besar. Aku dan Densi semakin mendekati
cahaya yang tadinya kecil, hingga akhirnya cahaya itu besarnya tiga kali lipat
dari aku dan Densi. Setelah itu aku dan Densi keluar dari kegelapan itu dan
kita di kejutkan oleh pemandangan yang lumayan indah, hingga akhirnya aku dan
Densi sadar bahwa kita itu berada di sebuah tempat yang berbeda dengan tempat
kita masuk tadi. Aku berada seperti di perbatasan antara dua tempat yang
berbeda. Tempat sebelah kiri Ku seperti tempat yang tanahnya subur dan di
pandangnya enak, tetapi di sebelah kanan ku ialah seperti daratan yang hanya
terdapat batu di sepanjang jalan nya. Batu-batu itu seperti batu yang terdapat
di dekat gunung merapi. Aku dan Densi berjalan ke suatu tempat dan Aku dengan
Densi sangat terkejut melihat dua orang berada di sebelah kiri aku sedang
tertidur di tanah. Aku pun menghampiri dua orang itu, sepertinya orang itu
perempuan dan laki-laki. Aku menuju dua orang itu dan hanya berniat untuk mengetahui nya.
Betapa terkejutnya aku ternyata dua orang itu seperti Aliken dan Asmira. Aku
langsung memanggil Densi yang tidak tau sedang apa. Densi pun menghampiri aku
dan dua orang itu. Densi sama hal nya dengan aku, ia terkejut dan tidak
menyangka. “apakah betul ini Asmira dan Aliken” kata Densi kepada ku, aku
menjawabnya “sepertinya ini bukan Aliken dan Asmira, dia saja tidak ikut dengan
kita saat kita memasuki tempat ini. Dan sepertinya pertanyaannya bukan mengenai
dua orang ini, tetapi yang aku tanyakan, tempat apa ini?, mengapa kita berada
di tempat ini?,” tanya ku kepada Densi. Lalu aku dan Densi kembali ke gua,
__ADS_1
tempat aku dan Densi memasuki daerah yang aneh itu. Sesampainya di gua, aku dan
Densi tidak melihat pintu yang tadi di buka oleh aku.