
Mereka bahagia
dengan rencana yang aku berikan itu. Mereka semua tentunya juga langsung
menyetujui rencana yang aku usulkan itu. Tertawa dengan sangat riang terdengar
di ruangan itu, walaupun itu tawaan orang jahat. Senyuman juga terlihat di
tempat itu dan betul, senyuman-senyuman itu juga terlihat seperti senyuman
orang-orang jahat. Densi merasa bangga dengan keberadaan ku di tengah-tengah
geng Tarata. Senyuman Densi sangat beda dengan senyuman anggota lain nya. Densi
senyum kepadaku dan terus mengarah kepada ku, aku masih membayangkan dan masih
mengingatnya senyuman itu, senyuman yang sangat manis dari antara laki-laki
yang pernah aku temui, senyuman itu juga seperti ada perasaan mencintai kepada
ku. Aku juga sebagai perempuan tentunya akan senyum kepada Densi, aku di sana
itu sangat merasakan bagaimana rasanya mencintai sesungguh nya.
Tetapi senyuman
dan kebahagian yang berada di ruangan itu tidak berlaku bagi Darryl. Darryl di
sana terlihat seperti biasa-biasa saja, tidak seperti orang-orang yang bahagia
di tempat itu. Terlihat dari wajah nya itu ada persaan menyesal, dan juga
wajahnya itu sangat muram sekali. Gambaran dari situasi di ruangan itu seperti
lingkaran warna putih yang terdapat titik kecil berwarna hitam, lingkaran putih
itu sangat besar dan luas, tetapi masih bisa di katakan lingkaran putih itu
belum sempurna jika ada titik hitam sekecil pun berada di lingkaran itu. Sama
halnya dengan lingkaran putih itu, kebahagiaan, senyuman dan riang gembira
memenuhi ruangan itu, tetapi menurut pandangan mataku sendiri, kebahagiaan itu
tidak ada artinya bagiku. Karena ada salah satu orang yang berada di ruangan
itu tidak merasakan kekebahagiaan. Aku juga tentunya seketika kebahagiaan itu
hilang dari wajahku, begitu aku melihat Darryl yang muram itu, wajahku langsung mengikuti dengan wajah
Darryl. Aku di tempat itu langsung merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan,
yaitu perubahan bahagia menjadi tidak bahagia dalam diriku. Aku berusaha
bertanya kepada Darryl apa yang terjadi dengan dirinya, tetapi dia tetap tidak
memberi tahu kepadaku hal apa yang sedang terjadi dengannya.
Hari sudah semakin
malam, jam pada saat itu menunjukan sudah pukul 23.00. Lalu aku menyuruh semua
orang yang berada di tempat itu tidur untuk mengumpulkan energi yang akan di
pakai besok pagi. Semua orang yang berada di ruangan itu telah tidur. Aku tidur
di kamar mamahnya Densi dan Darryl tidur di ruang tamu bersama anggota lainnya.
Darryl yang tidur di ruang tamu itu rupanya ia tidak tidur. Darryl menunggu
__ADS_1
keadaan rumah itu sudah sepi dan sunyi. Setelah ia memastikan bahwa keadaan
rumah itu sudah sepi dan teman-teman nya sudah tidur dengan sangat pulas, ia
langsung bangun dari posisi nya yang terbaring di lantai, di ruang tamu itu
hanya ada enam orang yang tidur bersama Darryl termasuk Darryl. Mereka semua
sudah tidur dengan pulas. Sekali lagi Darryl memastikan keadaan teman nya itu,
satu persatu ia ulurkan tangan nya di mata teman nya itu, dia goyangkan kedua
tangan nya itu di mata teman nya yang tertutup. Setelah keenam mata teman nya
itu dia ulurkan. Darryl sudah memastikan bahwa kelima teman nya itu sudah
benar-benar tidur.
Sebenarnya apa
sih yang di ingin di lakukan Darryl selanjutnya?. Ternyata Darryl saat di ruang
tamu tadi bersama semua anggota geng Tarata yang bergembira dan senang itu, ia
tampak tidak terlihat seperti tema-teman nya itu. Di wajah Darryl itu terlihat
penyesalan yang entah apa yang dia sesalkan. Darryl merasa bersalah dan merasa
menyesal atas perbuatan nya tadi, dia melihat Aliken dan Asmira memberi tahu
mengenai Densi dan geng nya kepada polisi. Darryl saat itu tidak menyesali
perbuatan nya. Saat dia mendengar di ruang tamu tadi, mendengar bahwa Aliken
dan Asmira akan di bunuh oleh anggota geng Tarata, ia langsung merasa bersalah
dan bertanggung jawab atas kematian nya nanti. Pada saat itu Darryl pertama
oleh orang dan pertama kalinya memiliki jiwa bertanggung jawab kepada orang
lain.
Darryl dengan
terpaksa harus memilih dua pilihan yang ia sendiri sangat sulit untuk
memilihnya. Pilihan pertama mengenai kesetiaan kepada anggotanya. Darryl sudah
berjanji kepada Densi saat ia masuk ke dalam geng Tarata, bahwa ia akan setia
kepada nya dalam kondisi dan situasi apapun. Darryl juga sudah berjanji bahwa
dia tidak akan menghianati satu orang pun yang berada di geng Tarata itu. Pilihan
kedua ialah Aliken dan Asmira, jika ia tidak menolongnya sekarang juga, nyawa
Aliken dan Asmira akan menjadi tanggung jawab nya. Belas kasihan dan kesetiaan
harus bertarung di pikiran Darryl. Darryl harus mengorbankan salah satu untuk
kebaikan Darryl. Darryl menyadari bahwa waktu yang ia miliki itu tidak banyak,
dia harus sangat cepat menentukan pilihan apa yang sangat terbaik bagi Darryl,
dan akhirnya Darryl memilih untuk menyelamatkan Aliken dengan Asmira.
Yang di lakukan
Darryl selanjutnya ialah pergi dari rumah itu ke rumah Aliken dan Asmira.
__ADS_1
“Sekarang aku pergi ke rumah Aliken terlebih dahulu,” kata Darryl dalam
hatinya. Ia melangkah pelan sekali melewati orang yang tidur di bawah kakinya
itu, satu demi satu orang di lewati oleh Darryl, dan akhirnya ia sampai di
depan pintu menuju keluar rumahnya. Pintu itu di kunci oleh Keni, untung kunci
rumah pintu itu tergantung di lubang kunci pintunya. Darryl mulai memutarkan
kunci nya itu ke kanan untuk bisa terbuka pintu itu, suara pembuka pintu itu
terdengar dengan lumayan kencang, akhirnya Darryl berhasil keluar dari rumah
itu menuju rumah Aliken. Darryl saat menuju rumah Aliken, ia berlari dengan
sangat kencang karena waktu, pada saat itu jam menunjukan pukul 00.05. Darryl
meyakini bahwa di jam segitu Aliken atau orang tuanya ada yang masih belum
tidur. Darryl pun sampai di rumah Aliken. “tok-tok- tok” suara ketukan pintu
rumah Aliken yang di ketuk oleh Darryl. Ketukan pertama tidak ada yang
mendengar dan membuka pintunya itu. Darryl mengetuk pintu rumah Aliken kedua
kalinya “tok-tok-tok” juga belum ada yang membukanya. Darryl mulai mengulangi
hal yang sama, ia mengetuk pintu rumah itu dan mengulanginya sampai ada yang
membukanya.
Aliken yang
sedang tidur itu terbangun karena suara ketukan pintu yang terulang. “Siapa
yang malam-malam ini mengetuk pintu rumahku. Atau jangan-jangan ini hanya
peraliha saja oleh anggota geng Densi, jika aku keluar pasti aku akan di
tangkap dan di bawa kerumahnya” kata Aliken dalam hatinya. Aliken mencurigakan
orang yang mengetuk rumah nya itu, ia curiga bahwa yang mengetuk rumahnya hanya
pengalihan anggota geng Densi. Lalu Aliken berjalan menuju dapur rumahnya untuk
mengambil sapu, sesampainya di dapur rumah itu, ia langsung mengambil sapu yang
berada di pojokan dapur itu dan membawanya menuju pintu rumah nya yang di
ketok. Aliken berjalan menuju pintu yang di ketok oleh orang yang Aliken curiga
kan itu dengan membawa sapu di tangan nya. Aliken sampai di depan pintu itu,
“ok, jika orang di depan ini tidak aku kenal, aku langsung pukul orang ini
dengan sangat kencang hingga ia pergi” kata Aliken dalam hatinya ketika ia di
depan pintu itu. Perlahan Aliken buka pintu nya, sampai pintu itu terbuka,
Aliken melihat orang yang mengetuk pintu rumah nya itu tidak Aliken kenal dan
tampak seperti orang yang berada di sekolah nya pada saat Densi membuat
kekacauan, Aliken menyadari bahwa orang yang mengetuk pintu rumah nya itu ialah
anggota geng Densi. Tanpa berlama-lama ia lngsung memukul orang itu dengan sapu
di tangan nya, pukulan yang Aliken pukul ke orang itu sangat kencang dan
__ADS_1
pastinya rasa yang di dapatkan sangat sakit sekali.