
Saat aku dan
kawan-kawan ku sedang menikmati pemandangan yang indah dan bagus itu, Tanori
yang berada di sebelah kita mengatakan “baiklah sudah cukup waktu kalian
menikmati pemandangan negeri yang cantik ini, sekarang saatnya kalian menuju
pengadilan negeri Kinata, aku akan menghantarkan kalian menuju ke pengadilan
yang akan melakukan sidang terhadap kalian berempat. Ayo sekarang kalian semua
turun dari menara ini dengan hati-hati dan pelan.” Karena Tanori itu berkata
kepada kita untuk menuju pengadilan, aku dan kawan-kawan ku tidak bisa
membantah, kita pun turun dari menara itu untuk menuju pengadilan. Pengadilan
di negeri Kinata hanya ada satu saja, nama pengadilan tersebut ialah pengadilan
Tewita, pengadilan tertinggi dan satu-satunya di negeri Kinata. Sistem
pengadilan tersebut ialah, di mana ada empat hakim di dalam nya, dan satu hakim
utama dan tertinggi, lalu di lanjut di bawah derajatnya ialah pembela, pembela
berada di derajat ke tiga dari susunan tertinggi, lalu di bawah pembela, ada
penuntut, jumlah penuntut di pengadilan itu bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan
paling sedikit dua puluh lima makhluk, lalu di bawah penuntut ada terdakwa,
terdakwa ialah orang yang akan di hakimi atau di tentukan nasibnya oleh hakim
utama setelah mendengar dan mempertimbangkan beberapa faktor.
Aku dan
kawan-kawan ku menuruni menara itu, dan sesampainya di bawah menara itu,
aku dan kawan-kawan ku berada kembali di
gerbang keluar-masuk Kerajaan. Lalu Tanori yang bersama aku dan kawan-kawan ku
menunjukan dan mengarahkan kita ke tempat pengadilan tersebut. Jarak pengadilan
dari gerbang keluar-masuk Kerajaan lumayan jauh, bisa di bayangkan, betapa
besarnya Kerajaan itu, sampai jarak menuju pengadilan lumayan jauh. Aku dan
kawan-kawan ku memasuki istana itu, setelah memasuki, kita pun melewati banyak
sekali ruangan-ruangan yang berada di dalam nya, sesudah kita memasuki
ruangan-ruangan yang terdapat di istana itu, sampailah kita di pintu pengadilan
itu. Pintu pengadilan tersebut sangat tinggi dan cantik, warna pintu itu ialah
putih dengan tekstur yang memperindah pintu itu. Saat kita telah sampai di
hadapan pintu pengadilan, di bukalah pintu pengadilan tersebut oleh dua Kureta
yang bekerja di Kerajaan itu sebagai pelayan. Pembukaan pintu nya saja terlihat
sangat mewah dan elegan. Saat kita melewati pintu itu, kita terlihat sangat
kecil karena pintu itu. Aku dan kawan-kawan memasuki ruangan pengadilan yang
mewah dan indah itu. Banyak sekali masyarakat yang menjadi penuntut di ruangan
itu, para penuntut tersebut duduk mengahadap keempat hakim dan satu hakim utama
yang tertinggi tempat duduknya. Bagian penuntut, mereka duduk di kursi biasa
dan mereka berpakaian rapi, keempat raja yang menjadi hakim duduk menghadap
penuntut dengan kursi yang tinggi dan meja yang tinggi di banding penuntut.
Tempat duduk dan meja hakim utam yang berada di atas keempat hakim biasa
telihat kosong. Hakim utama belum memasuki ruang pengadilan itu.
Lalu tempat
duduk aku berada di depan penuntut yang lumayan mewah. Terdapat empat kursi
terdakwa di hadapan hakim-hakim tersebut. Keempat hakim yang sudah berada di
ruangan itu terlihat mengenakan mahkota yang di maksud Lesi. Keempat hakim
tersebut juga mengenakan baju yang sama, yaitu pakaian berwarna biru yang
memanjang sampai kakinya, di tengah-tengah baju nya itu terdapat gambar yang
berbeda, jika dari golongan Kureta, maka pakaian tersebut bergambar makhluk
Kureta di tengah nya, jika Tanori, maka terdapat gambar makhluk Tanori di
__ADS_1
tengah tengah bajunya, begitu juga dengan yang lain nya. Aku, Asmira, Densi,
dan Aliken duduk di kursi yang telah di sediakan di hadapan hakim, dan di depan
penuntut. Saat aku berada di ruangan tersebut, jantungku sangat berdebar
kencang entah karena apa, aku di ruangan itu merasa panik dan takut, perasaan
yang aku rasakan ternyata di rasakan oleh Aliken, Asmira, dan Densi. Kita semua
merasakan hal yang sama di tempat itu. Beberapa lama kemudian, aku dan
kawan-kawan ku duduk di kursi di hadapan hakim, ratu Sabrina selaku hakim utama
di pengadilan tersebut memasuki ruangan pengadilan itu.
Dengan paras
rupa cantiknya itu ia memasuki ruangan itu dengan gaya nya sendiri. Pakaian
yang dikenakan oleh ratu Sabrina sangat mewah dan cantik, di pakaian nya
tersebut terdapat gambar keempat makhluk Negeri Kinata, dan makhluk-makhluk
yang berada di pakaian ratu seperti sedang menyembah ratu Sabrina. Dengan bibir
merah nya itu ia mengecap-ngecapkan bibirnya tersebut. Seluruh makhluk hidup
yang berada di ruangan tersebut seketika
langsung berdiri tanpa ada perintah. Saat ratu Sabrina melewati nya, makhluk
yang berada di hadapan nya itu membukukan tubuhnya, itu menandakan sikap
horamatnya kepada ratu. Aku pun mengikuti apa yang di lakukan semua makhluk di
ruangan itu. Aku bersama
kawan-kawan berdiri dan saat ratu lewat
di hadapan ku, aku membukukan badan ku layak nya menghormati seorang pemimpin.
Ratu Sabrina pun telah sampai di kursi yang paling tinggi dan ia duduk di kursi
tersebut. Meja di hadapan ratu itu terdapat tongkat yang terlihat cantik,
tinggi tongkat itu ialah satu meter, tongkat tersebut di lapisi berlian putih
yang sangat cantik.
Tongkat yang di
terlihat sangat berkilau, kilauan tongkat tersebut sangat cantik dan memanjakan
mata. Jika tongkat yang di pegang ratu, saat ratu angkat ke atas kepalanya dan
di turunkan tepat di depan perutnya, hal itu menandakan para pembela yang akan
membela terdakwa di persilakan masuk dengan terhormat. Ratu melakukan hal tersebut, ia mengangkat tongkat
yang di pegang nya tepat di atas kepala dan ia turunkan tongkat nya itu tepat di
depan perutnya. Pintu yang megah dan tinggi itu semula tertutup, saat penjaga
pintu melihat apa yang di lakukan ratu, pintu tersebut di bukakan oleh dua
penjaga pintu yang sedang menjaga pintu. Terbukalah pintu yang tinggi dan megah
itu. Terlihat di depan pintu masuk pengadilan empat anak kecil dari golongan
masyarakat berbeda yang akan memasuki ruangan itu, empat anak itu berpakaian
sama dengan warna yang berbeda, pakaian yang di kenakan itu menyambung dari
leher hingga ke kaki. Anak kecil golongan Kureta yang seperti tupai itu
berpakaian berwarna hijau dengan gambar sepertinya, Tanori berwarna merah
dengan gambar sepertinya, Pawisu berwarna hitam dengan gambar di pakaian
sepertinya, dan Dureta berwarna ungu dengan gambar sepertinya. Mereka memasuki
ruang pengadilan itu secara bersamaan dan berjalan bersama, terlihat mereka
berjalan sangat lucu dan menggemaskan, seperti tidak mengetahui banyak hal.
Mereka lewati
makhluk-makhluk lain di sebelah nya, dan sampailah ia di hadapan kelima hakim
yang duduk dengan meja besar dan tinggi. Salah satu dari keempat pembela itu
mengatakan hal yang tidak di duga kepada ratu “yang mulia, apa yang harus kita
lakukan selanjutnya?.” Tampaknya keempat pembela itu tidak mengetahui banyak
hal mengenai menjadi pembela, tetapi satu pembela yaitu si Kureta sudah
__ADS_1
mengerti dan mengetahui mengenai menjadi pembela yang benar dan baik, Lesi
mengatakan kepada yang lain dan yang bertanya kepada ratu, “yang harus kita
lakukan ialah kita duduk di kursi pembela yang berada di sebelah kanan dan di
sebelah kiri terdakwa yang berhadapan itu, kita duduk di sebelah hakim dan
terdakwa yang menghadap antara pembela dengan pembela, kamu berdua, Tanori dan
Pawisu duduk di sebelah sana, sementara itu Kureta dan Dureta duduk di kursi
sebelah sana.” Tanpa banyak pikir, Lesi dengan makhluk anak Dureta pergi ke
kanan seeta Pawisu dan Tanori pergi ke kiri.
Mereka berempat
telah duduk di kursi yang terdapat meja juga di hadapan nya, posisi nya seperti
ini; hakim di paling depan menghadap ke terdakwa dan penuntut, terdakwa
menghadap ke Hakim dan membelakangi penuntut, serta pembela di antara Hakim dan
terdakwa, dua pembela di sebelah kiri dan duanya di sebelah kanan. Sidang pun
di mulai dengan dua ketukan meja hakim utama. Setelah hakim utama mengetuk mejanya,
lalu hakim memulai sidang nya dengan kata-kata pembuka yang sudah tercatat di
kertas yang siap di baca, “sidang pada pagi hari ini akan di mulai, masalah
yang terjadi dengan terdakwa keempat makhluk asing ini ialah, sangat berani
sekali mereka memasuki negeri Kinata tanpa seizin ratu, seperti yang kita
ketahui sebelumnya, bahwa bagi makhluk hidup jenis apa saja yang berada di
Darmanas, jika tidak tercatat nama makhluk hidup itu di Kerajaan negeri Kinata
atau memasuki kawasan atau daerah negeri Kinata tanpa seizin atau tidak di
ketahui atau berdialog terlebih dahulu, dinamakan sebagai pelanggaran atau
melanggar atau tidak mematuhi ketentuan dan hukum di negeri Kinata. Bagi siapa
yang sengaja atau tidak di sengaja melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku di
negeri Kinata, di namaka sebagai
pemberontak atau pembuat masalah yang tentunya dapat merusak ekosistem
kehidupan negeri Kinata. Dan barangsiapa yang mengaku sebagai pemberontak atau
tidak menyadari dirinya pemberontak akan di tindak pidana yang berlaku. Dengan
begitu, kasus sidang ini ialah mengenai pemberontakan. Kita mulai sidang ini
sekarang juga.” Du ketuk meja dengan palu oleh ratu Sabrina, “di mulai dari
yang paling kanan. Sebelum memulai sidang ini alangkah baiknya perkenalkan nama
terdakwa terlebih dahulu, lalu di lanjutkan dengan pembela nya yang masih kecil
dan imut itu” lanjut ratu.
Yang paling
kanan dari keempat terdakwa ialah Aliken, lalu sebelah Aliken adalah Densi,
sebelahnya Asmira dan sebelahnya aku. Aliken mulai berdiri dan memperkenalkan
dirinya, “baiklah perkenalkan nama saya Aliken, saya tidak mengerti apa yang
terjadi sebenarnya, intinya saya ingin pulang dan balik dari tempat ini.”
Tampaknya Aliken tidak mengetahui apa yang terjadi dengan nya itu. Setelah
Aliken memperkenalkan dirinya, di lanjut dengan pembela nya yaitu makhluk
Tanori yang imut, ia berkata “baiklah hakim-hakim dan ratu terhormat, aku
berada di tempat ini karena menjadi pembela terdakwa yang bernama Aliken, dan
saya sebagai pembela Aliken, saya tidak mengetahui harus berkata-kata apa di
tempat ini, tetapi intinya saya mau yang terbaik untuk Aliken.” Setelah itu di
lanjut dengan Densi, Densi berdiri dari kursinya dan memperkenalkan dirinya itu
“perkenalkan nama saya ialah Densi, kata-kata ku sama dengan Aliken, aku tidak
mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi intinya aku ingin pulang dari tempat
ini.” Di lanjut dengan pembela nya yaitu makhluk Pawisu yang lucu dan imut itu,
ia mengatakan “sama halnya dengan teman ku, aku ingin yang terbaik untuk
__ADS_1
terdakwa yang aku bela.” Di lanjut dengan Asmira, ia mengatakan hal yang sama
dan pembela nya mengatakan hal yang sama.