
“Ok Keni, aku
rasa ini bukan mimpi atau khayalan, itu pasti Aliken dan Asmira, mumpung di
tempat ini hanya ada kita berdua saja dengan dua orang itu dan tidak ada
polisi, aku akan menghabisi dua orang itu secara bergantian, aku akan
menghabisi Aliken terlebih dahulu” kata Densi kepada aku. Densi berjalan
mendekati Aliken dan Asmira dengan membawa batang pohon di bawah kakinya itu.
Ia terus berjalan dan mendekati Aliken dan Asmira. Aliken yang bingung harus
melakukan apa lagi, ia berserah saja dengan apa yang Densi ingin lakukan kepada
nya, Aliken menjatuhkan batang pohon yang ia pegang itu ke tanah. Ia percuma
jika melawan Densi hanya dengan batang pohon, Aliken yakin akan tidak ada
artinya. Densi pun telah sampai di hadapan Aliken yang beserah itu. Densi yang
berada di hadapan Aliken itu langsung mengarahkan batang kayu yang di pegang
nya ke wajah Aliken dengan sekuat tenaganya, Aliken yang di pukul wajah nya itu
dengan batang kayu hampir terjatuh ke tanah, kayu yang di gunakan untuk memukuk
Aliken sampai patah karena kencangnya pukulan itu di wajah Aliken. Kayu yang
patah itu di buang ke tanah dan Densi mengambil batang kayu yang bisa di
gunakan untuk memukul nya. Ia menemukan kayu itu dan memukul wajah Aliken
dengan kayu itu sekuat tenaganya lagi. Aliken yang di pukul nya itu hampir
terjatuh lagi, ia seperti tidak ada tenaga di dalam tubuhnya, Aliken berjalan
liar seperti orang mabuk, karena sakitnya pukulan Densi itu. Dan Densi memukul
wajah Aliken untuk sekali lagi, ia mengarahkan batang kayu itu ke wajah Aliken
dengan sangat kencang, Aliken tidak kuat lagi dengan pukulan nya itu, ia
terjatuh dan pingsan. Wajah Aliken di penuhi dengan darah yang keluar dari
bagian dahinya. Densi tidak berhenti ternyata sampai situ, ia melihat bahwa
Aliken masih membuka matanya sedikit karena sakitnya itu. Densi yang mengetahui
Aliken masih terbuka matanya, ia langsung menendang tubuh Aliken itu.
Saat Densi
sedang ingin menendang bagian tubuhnya itu untuk kedua kalinya, aku langsung
menuju Densi dan mengucapkan “cukup Densi untuk melukai Aliken, tidak ada
gunanya untuk semua ini, kamu tidak mikir apa?, jika Aliken dan Asmira mati di
tempat ini, siapa lagi yang akan menemani kita di tempat seperti ini. Sekarang
masalah kita di sini itu ialah bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini?, dan
tentang Aliken dengan Asmira bisa kau urusi jika kita semua berhasil keluar dari
__ADS_1
tempat ini,” Asmira langsung mengucapkan hal yang sama kepada Densi “ia betul
Densi, kamu boleh membunuh atau mematikan aku dengan Aliken, tetapi hal itu
bisa kita lakukan setelah kita keluar dari tempat ini, dan sekarang aku ingin
menanyakan kepada mu, siapa lagi yang akan membantu kamu keluar dari tempat
ini?, kita semua sangat di butuhkan di tempat ini. Kamu Densi yang kuat dapat
dengan mudah kamu lindungi kita, Keni yang pintar untuk mengelabui musuh sangat
di perlukan di tempat ini, Aliken yang pintar memanjat, dapat dengan mudah
menemukan jalan selanjutnya yang akan kita lalui, dan aku yang hanya mengetahui
sedikit dengan geografi dapat membantu kita semua menemukan jalan yang
seharusnya kita lalui”
Densi sadar
dengan apa yang ia lakukan itu, jika ia membunuh Aliken dan Asmira di tempat
itu, siapa lagi yang dapat menunjukan jalan keluar dari tempat itu. Ia pun
tidak jadi menendang Aliken yang sudah tidak berdaya itu. “Ok jika begitu,
bagaimana jika kita membuat kesepakatan mengenai hal ini, aku tidak akan
membunuh kalian di tempat ini dan tidak melukai kamu dan Aliken sedikit pun,
tetapi kamu dan Aliken harus menemukan cara keluar dan kembali ke pasar, tempat
aku dan Keni awal semula itu, apakah kita sepakat?,” ucap Densi kepada Asmira.
membuat kesepakatan itu, “ok kita sepakat. Kamu tidak akan melukai aku dan
Aliken sedikit pun selama perjalanan dan aku dengan Aliken akan mencari jalan
keluar dari tempat ini” kata Asmira kepada Densi sambil berjabat tangan.
Kesepakatan antara Asmira dan Aliken di sepakati dengan berjabat tangan.
“Bagaimana jika kamu dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar dari tempat
ini?, yang harus aku lakukan ialah melakukan hal yang dengan apa yang aku lakukan
tadi kepada Aliken” kata Densi kepada Asmira. “Jika saja kamu memikirkan bahwa
aku dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar, siapa lagi yang dapat
membantu kamu keluar dari tempat ini. Dan jangan pernah ada pikiran sedikitpun
mengenai itu, kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini sedangkan kita saja
belum mencobanya, jika pikiran itu adalah awal dari pencarian jalan keluar, aku
sangat yakin sekali kita tidak dapat keluar dari tempat ini,” jawab Asmira
kepada Aliken.
“Ok jika begitu,
apa yang harus kita lakukan sekarang ini?” tanya Densi kepada Asmira. “Yang
__ADS_1
dapat kita lakukan pertama ialah mengobati Aliken yang terluka itu, kita akan
mengobati dan menghilangkan rasa sakit itu dari Aliken. Jika kita sudah
mengobatinya, aku akan bilang kepadanya untuk memanjat pohon ini, dengan begitu
jika Aliken berhasil memanjat pohon ini, dia akan melihat sekeliling sekitar
ini dan kita menemukan salah satu petunjuk dari sini” kata Asmira kepada Densi.
Asmira pun mengobati luka Aliken dengan apa saja yang ada tempat itu. Ia
membersihkan luka darah Aliken yang banyak di wajah nya itu dengan baju yang ia
kenakan. Darah nya itu tidak berhenti keluar dari atas wajahnya itu. Ternyata
darah yang keluar itu berasal dari dahinya. Asmira tidak dapat membersihkan
wajahnya itu dengan bajunya lagi, karena sudah banyak darah yang berada di
bajunya. “Sepertinya kita harus menghentikan darah yang mengalir itu, kita
tidak dapat membersihkan darahnya itu terus menerus, kita harus menghentikan
darahnya yang mengalir itu,” kata Keni kepada Asmira. Lalu Keni menyobek bagian
bajunya itu untuk di gunakan di kepada Aliken. Ia menyobek bagian bawah bajunya
itu, sobekan bajunya itu cukup untuk mengelilingi bagian dahinya Aliken. Lalu
sobekan bajunya itu di buat oleh Keni mengelilingi dahinya Aliken, dan terbukti
darahnya itu semakin lama semakin sedikit yang keluar dari kepalanya itu.
Aliken yang pingsan itu semakin lama semakin sadar dari pingsan nya itu, dan
akhirnya Aliken sadar dari pingsan nya itu.
Pandangan
pertama yang di lihat Aliken ialah yang berada di sekitar nya itu buram. Ia pun
menutup matanya lagi dan membukanya, ia mengulangi hal seperti itu sebanyak
tiga kali, dan akhirnya pandangan itu sangat jelas. Aliken sadar, ternyata ia
sedang tidur di pangkuan Asmira dan Keni yang menatap matanya Aliken. Perlahan
Aliken mulai bangun dari pingsan nya itu, walau belum sepenuhnya ia sadar,
tetapi ia terus mencoba untuk bangun dari pingsan nya itu. Aku rasa pandangan
Aliken saat itu sudah sangat baik, ia dapat melihat aku yang sedang membersihkan
wajahnya itu yang tadinya berlumuran darah di wajahnya. Ia mengatakan kepada ku
“apakah kamu yang waktu itu berada di sekolah saat kekacauan bukan?,” dan aku
menjawabnya “ia. Aku saat kekacauan di sekolah, aku berada di sana, oh ia satu
lagi, perkenalkan nama ku Keni, bisa panggil “ini” dan “Keni” karena teman-
temanku memanggilku “ini”. Aliken menjawab kata-kata ku tadi “Hai Keni, senang
bertemu dengan mu, tetapi sebenarnya Densi itu siapa kamu, mengapa kalian
__ADS_1
berdua memiliki kepribadian yang berbeda, kamu terlihat sangat baik dan Densi
sebaliknya”