Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
mengapa mereka di sana?


__ADS_3

“Ok Keni, aku


rasa ini bukan mimpi atau khayalan, itu pasti Aliken dan Asmira, mumpung di


tempat ini hanya ada kita berdua saja dengan dua orang itu dan tidak ada


polisi, aku akan menghabisi dua orang itu secara bergantian, aku akan


menghabisi Aliken terlebih dahulu” kata Densi kepada aku. Densi berjalan


mendekati Aliken dan Asmira dengan membawa batang pohon di bawah kakinya itu.


Ia terus berjalan dan mendekati Aliken dan Asmira. Aliken yang bingung harus


melakukan apa lagi, ia berserah saja dengan apa yang Densi ingin lakukan kepada


nya, Aliken menjatuhkan batang pohon yang ia pegang itu ke tanah. Ia percuma


jika melawan Densi hanya dengan batang pohon, Aliken yakin akan tidak ada


artinya. Densi pun telah sampai di hadapan Aliken yang beserah itu. Densi yang


berada di hadapan Aliken itu langsung mengarahkan batang kayu yang di pegang


nya ke wajah Aliken dengan sekuat tenaganya, Aliken yang di pukul wajah nya itu


dengan batang kayu hampir terjatuh ke tanah, kayu yang di gunakan untuk memukuk


Aliken sampai patah karena kencangnya pukulan itu di wajah Aliken. Kayu yang


patah itu di buang ke tanah dan Densi mengambil batang kayu yang bisa di


gunakan untuk memukul nya. Ia menemukan kayu itu dan memukul wajah Aliken


dengan kayu itu sekuat tenaganya lagi. Aliken yang di pukul nya itu hampir


terjatuh lagi, ia seperti tidak ada tenaga di dalam tubuhnya, Aliken berjalan


liar seperti orang mabuk, karena sakitnya pukulan Densi itu. Dan Densi memukul


wajah Aliken untuk sekali lagi, ia mengarahkan batang kayu itu ke wajah Aliken


dengan sangat kencang, Aliken tidak kuat lagi dengan pukulan nya itu, ia


terjatuh dan pingsan. Wajah Aliken di penuhi dengan darah yang keluar dari


bagian dahinya. Densi tidak berhenti ternyata sampai situ, ia melihat bahwa


Aliken masih membuka matanya sedikit karena sakitnya itu. Densi yang mengetahui


Aliken masih terbuka matanya, ia langsung menendang tubuh Aliken itu.


Saat Densi


sedang ingin menendang bagian tubuhnya itu untuk kedua kalinya, aku langsung


menuju Densi dan mengucapkan “cukup Densi untuk melukai Aliken, tidak ada


gunanya untuk semua ini, kamu tidak mikir apa?, jika Aliken dan Asmira mati di


tempat ini, siapa lagi yang akan menemani kita di tempat seperti ini. Sekarang


masalah kita di sini itu ialah bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini?, dan


tentang Aliken dengan Asmira bisa kau urusi jika kita semua berhasil keluar dari

__ADS_1


tempat ini,” Asmira langsung mengucapkan hal yang sama kepada Densi “ia betul


Densi, kamu boleh membunuh atau mematikan aku dengan Aliken, tetapi hal itu


bisa kita lakukan setelah kita keluar dari tempat ini, dan sekarang aku ingin


menanyakan kepada mu, siapa lagi yang akan membantu kamu keluar dari tempat


ini?, kita semua sangat di butuhkan di tempat ini. Kamu Densi yang kuat dapat


dengan mudah kamu lindungi kita, Keni yang pintar untuk mengelabui musuh sangat


di perlukan di tempat ini, Aliken yang pintar memanjat, dapat dengan mudah


menemukan jalan selanjutnya yang akan kita lalui, dan aku yang hanya mengetahui


sedikit dengan geografi dapat membantu kita semua menemukan jalan yang


seharusnya kita lalui”


Densi sadar


dengan apa yang ia lakukan itu, jika ia membunuh Aliken dan Asmira di tempat


itu, siapa lagi yang dapat menunjukan jalan keluar dari tempat itu. Ia pun


tidak jadi menendang Aliken yang sudah tidak berdaya itu. “Ok jika begitu,


bagaimana jika kita membuat kesepakatan mengenai hal ini, aku tidak akan


membunuh kalian di tempat ini dan tidak melukai kamu dan Aliken sedikit pun,


tetapi kamu dan Aliken harus menemukan cara keluar dan kembali ke pasar, tempat


aku dan Keni awal semula itu, apakah kita sepakat?,” ucap Densi kepada Asmira.


membuat kesepakatan itu, “ok kita sepakat. Kamu tidak akan melukai aku dan


Aliken sedikit pun selama perjalanan dan aku dengan Aliken akan mencari jalan


keluar dari tempat ini” kata Asmira kepada Densi sambil berjabat tangan.


Kesepakatan antara Asmira dan Aliken di sepakati dengan berjabat tangan.


“Bagaimana jika kamu dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar dari tempat


ini?, yang harus aku lakukan ialah melakukan hal yang dengan apa yang aku lakukan


tadi kepada Aliken” kata Densi kepada Asmira. “Jika saja kamu memikirkan bahwa


aku dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar, siapa lagi yang dapat


membantu kamu keluar dari tempat ini. Dan jangan pernah ada pikiran sedikitpun


mengenai itu, kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini sedangkan kita saja


belum mencobanya, jika pikiran itu adalah awal dari pencarian jalan keluar, aku


sangat yakin sekali kita tidak dapat keluar dari tempat ini,” jawab Asmira


kepada Aliken.


“Ok jika begitu,


apa yang harus kita lakukan sekarang ini?” tanya Densi kepada Asmira. “Yang

__ADS_1


dapat kita lakukan pertama ialah mengobati Aliken yang terluka itu, kita akan


mengobati dan menghilangkan rasa sakit itu dari Aliken. Jika kita sudah


mengobatinya, aku akan bilang kepadanya untuk memanjat pohon ini, dengan begitu


jika Aliken berhasil memanjat pohon ini, dia akan melihat sekeliling sekitar


ini dan kita menemukan salah satu petunjuk dari sini” kata Asmira kepada Densi.


Asmira pun mengobati luka Aliken dengan apa saja yang ada tempat itu. Ia


membersihkan luka darah Aliken yang banyak di wajah nya itu dengan baju yang ia


kenakan. Darah nya itu tidak berhenti keluar dari atas wajahnya itu. Ternyata


darah yang keluar itu berasal dari dahinya. Asmira tidak dapat membersihkan


wajahnya itu dengan bajunya lagi, karena sudah banyak darah yang berada di


bajunya. “Sepertinya kita harus menghentikan darah yang mengalir itu, kita


tidak dapat membersihkan darahnya itu terus menerus, kita harus menghentikan


darahnya yang mengalir itu,” kata Keni kepada Asmira. Lalu Keni menyobek bagian


bajunya itu untuk di gunakan di kepada Aliken. Ia menyobek bagian bawah bajunya


itu, sobekan bajunya itu cukup untuk mengelilingi bagian dahinya Aliken. Lalu


sobekan bajunya itu di buat oleh Keni mengelilingi dahinya Aliken, dan terbukti


darahnya itu semakin lama semakin sedikit yang keluar dari kepalanya itu.


Aliken yang pingsan itu semakin lama semakin sadar dari pingsan nya itu, dan


akhirnya Aliken sadar dari pingsan nya itu.


Pandangan


pertama yang di lihat Aliken ialah yang berada di sekitar nya itu buram. Ia pun


menutup matanya lagi dan membukanya, ia mengulangi hal seperti itu sebanyak


tiga kali, dan akhirnya pandangan itu sangat jelas. Aliken sadar, ternyata ia


sedang tidur di pangkuan Asmira dan Keni yang menatap matanya Aliken. Perlahan


Aliken mulai bangun dari pingsan nya itu, walau belum sepenuhnya ia sadar,


tetapi ia terus mencoba untuk bangun dari pingsan nya itu. Aku rasa pandangan


Aliken saat itu sudah sangat baik, ia dapat melihat aku yang sedang membersihkan


wajahnya itu yang tadinya berlumuran darah di wajahnya. Ia mengatakan kepada ku


“apakah kamu yang waktu itu berada di sekolah saat kekacauan bukan?,” dan aku


menjawabnya “ia. Aku saat kekacauan di sekolah, aku berada di sana, oh ia satu


lagi, perkenalkan nama ku Keni, bisa panggil “ini” dan “Keni” karena teman-


temanku memanggilku “ini”. Aliken menjawab kata-kata ku tadi “Hai Keni, senang


bertemu dengan mu, tetapi sebenarnya Densi itu siapa kamu, mengapa kalian

__ADS_1


berdua memiliki kepribadian yang berbeda, kamu terlihat sangat baik dan Densi


sebaliknya”


__ADS_2