
Koli pun membawa Keni menuju gudang rongsokan, dimana
disitu ada Evan yang menunggunya. “Lepaskan-lepaskan” “lepaskan,” ucap Keni
kepada Koli, untuk melepaskan nya. “Tenang kamu mau di bawa ke tempat acara
ulang tahun,” ucap Koli kepada Keni dengan nada senang nya. “Ayo mundur, Densi
sudah datang” ucapan seorang anggota geng Terosi kepada seluruh anggota geng
Terosi, untuk kembali ke tempat tongkrong nya. Seluruh geng Terosi pun mundur
menuju tempat tongkrong nya. “Ini ada apa, apa yang terjadi?” tanya Densi
kepada seluruh anggotanya. “Kami semua tidak tau bos apa yang terjadi,
tiba-tiba mereka menyerang kita dan kita....lawan” jawab seorang anggota kepada
pertanyaan Densi.
“ia betul bos”
“betul”
“betul bos”
“betul bos”
Ucap seluruh anggota geng Tarata kepada Densi
“Ok, lalu dimana Keni?, ada yang lihat Keni?,” tanya
Densi kepada anggotanya. “Sepertinya di bawa kabur bos oleh geng Terosi” jawab seorang anggota
kepada Densi. “Bos ini ada surat dan tulisannya dari Evan, untuk Densi,” ucap
seorang anggota kepada Densi. “coba, sini, mana lihat,” jawab Densi kepada
seorang geng yang menemukan surat itu. Densi membuka surat tersebut dan
membacanya, di hadapan anggotanya.
Surat tersebut berisi:
“Densi teman baik ku, ini Evan, teman tapi musuhan,
apa kabarnya Densi, mudah-mudahan selalu baik dan sehat, aku sangat merindukan
Densi sejak lima menit yang lalu, apakah Densi merindukan ku?, pasti jawaban
nya ia, dahulu kita suka main bersama, dengan tongkat yang kita punya,
dengan anggota mu, sangking senang nya,
kepala ku sampai benjol terkena tongkat yang kamu pegang, di masa seperti itu,
yang aku kangenkan, semoga hal itu bisa terulang lagi, aku menulis surat ini
karena hal-hal yang aku tulis di atas akan terulang lagi, pasti senang dong,
dengan kabar ini, aku tunggu hari ini juga pukul 12.00 siang, untuk menjemput
putri Cinderella yang kehilangan sepatunya, dengan ini akan ada kenangan yang tertulis untuk minggu
depan. Begitulah isi surat yang di tulis oleh Evan untuk Densi.
“Apa yang Evan mau dari kita?” tanya Densi dalam
hatinya. “Ok, sekarang kita membagi tugas, aku datang menghadapi Densi, kita
semua berjumlah sepuluh anggota, tiga orang mengincar bagian depan, dua orang
bagian belakang dua orang bagian samping kanan, dua orang bagian samping kiri,
aku menghadapi Evan, aku membawa tongkat
yang aku simpan di bajuku, saat aku
melemparkan tongkat ke keluar atau ke kaca, kalian semua langsung masuk ke
dalam menyerang sekuat tenaga kalian dengan tongkat yang kalian pegang, mengerti semua?.” “Ngerti bos,” jawab
seluruh anggotanya.
Densi menuju
tempat tongkrong geng Terosi.
“tok-tok-tok” suara ketukan pintu yang di ketuk oleh
Densi. Tempat tongkrong yang di di diami Evan dengan anggotanya seperti rumah
pada umum nya, rumah tersebut membentuk persegi dan atap berbentuk segitiga,
bagian sudut rumah terdapat jendela di setiap sisinya. “Silakan di buka pintu
yang di ketuk itu, mungkin itu pangeran yang akan menjemput putri nya” ucap
Evan kepada anggotanya. Pintu di buka
dan Densi masuk mendekati Evan. “Evan apa yang kamu mau dariku?” tanya Densi
kepada Evan. “Aku mau pondok kamu saja, gak banyak kok” jawab Evan mengenai
pondok nya. “Aku tidak akan memberikan pondok itu kepadamu,” ucap Densi sambil
melempar tongkat nya ke kaca. Anggota geng Tarata pun langsung menyerang geng
__ADS_1
Terosi dengan tongkat nya. “Seraang, habisi mereka semua, bila perlu sampai
benjol kepalanya,” ucap Densi kepada seluruh anggota geng Tarata. “tidak”
“tidak” “tidak, jangan pukul kepala ku,” kata seorang geng Terosi kepada
seorang anggota geng Tarata. “diam, aku
tetap akan memukul kepala mu, karena kau yang memulai ini semua ‘’ya... “ jawab
seorang anggota geng Tarata kepada seseorang anggota geng Terosi, yang memohon
untuk tidak di pukul kepalanya, sambil memukul kepalanya dengan kayu di tangan
nya. “Aduh, sakit sekali kepala ku ini, aduh..” kata seorang geng Terosi
sesudah di pukul kepalanya dengan kayu dan langsung pingsan.
“Ayo, mau kabur kemana?” tanya seorang geng Tarata
kepada seorang geng Terosi yang mencoba untuk kabur. “ampun” “ampun, “jangan
pukul aku, aku tidak akan membuat kesalahan ini lagi,” kata seorang geng Terosi
yang mencoba untuk kabur, kepada seorang geng Tarata yang menahannya. “Sudah,
tidak usah banyak basa-basi” “ya..” kata
seorang geng Tarata sambil memukul kepalanya dengan kayu yang di pegang nya,
hingga pingsan. Seorang geng Terosi memukul bagian tubuh seorang anggota geng
Tarata dengan diam-diam dari belakang nya, seorang anggota geng Tarata yang
terpukul bagian belakang tubuh nya terjatuh ke lantai. “Ayo,mau ngapain lagi?”
tanya seorang anggota geng Terosi kepada seorang anggota geng Tarata yang
terjatuh di lantai, sambil mengarahkan tongkat yang ia pegang ke kepalanya.
Lalu di tendang nya kaki seorang anggota geng Terosi yang mencoba untuk memukul
seorang anggota geng Tarata yang tertidur di lantai karena jatuh nya. Hingga
seorang anggota geng Terosi yang mencoba untuk memukul nya terjatuh ke lantai.
Seorang anggota geng Tarata yang terjatuh, langsung bangun dari jatuh nya, dan
memukul kepala seorang anggota geng Terosi yang terjatuh karena di tendang nya,
hingga pingsan. Perkelahian pun terjadi kepada kedua geng untuk memperebutkan
Keni.
“Kamu mengundang aku ke sini untuk membuat sebuah
datang ke sini untuk melepaskan Keni, yang kamu ikat di situ, sekarang kamu mau
cara halus atau kasar?.” Ucap Densi kepada Evan untuk melepaskan Keni. “Sebelum
kamu melepaskan Keni, kamu harus melewatkan aku terlebih dahulu, ya...,” kata
Evan kepada Densi dengan mengarahkan tongkat yang ia pegang ke Densi untuk
memukul nya. Di tahan nya tongkat yang di arahkan kepada Densi oleh Evan, dan
tongkat yang di tahan di rampas dan di lempar sejauh mungkin. “Ayo sekarang kamu
mau kemana lagi? Ya..” ucap Densi kepada Evan dengan memukul kepala nya dengan
tongkat yang ia pegang. Evan pun pingsan, karena di pukul kepalanya oleh Densi
dengan tongkat. Densi berlari menuju Keni yang di ikat dengan tali dan membuka ikatan tersebut. “Keni tidak
apa-apa kan?,” tanya Densi kepada Keni saat sudah membuka ikatan tali tersebut.
“ia, aku tidak apa-apa,” jawab Keni kepada pertanyaan Densi yang ia tanya. “Ya
sudah, sekarang kita kembali ke pondok dan tinggalkan mereka semua,” ucap Densi
kepada seluruh anggota geng Tarata. Geng Tarata pun kembali ke pondok mereka,
yaitu tempat mereka nongkrong, berkumpul dan tinggal. Tampaknya Densi mulai ada perasaan dengan
aku, ia mulai mencoba mengucapkan kepada aku bahwa ia mencintainya, hingga
akhirnya Densi menyatakan perasaan nya kepada aku bahwa dia mencintainya, saat
itu aku dan Densi berpacaran dan saling mencintai.
Malam hari tiba dan Densi memikirkan makan apa mereka
pada malam itu, akhirnya ia pergi dari pondok itu untuk mencari makan. Densi
pun pergi dari pondok dan mencari makan yang murah tapi cukup untuk sepuluh
orang. Lalu Densi bertemu bencong yang sedang meminta uang di dekat nya. “Mas,
boleh minta uang nya tidak, sedikit saja” ucap bencong tersebut kepada Densi
untuk meminta uang yang Densi miliki. Kebiasaan bencong ialah meminta uang
kepada orang yang berada di dekat nya, dengan berpenampilan seperti perempuan,
padahal ia laki laki. Biasanya bencong memiliki sifat yang memaksa kepada orang
yang dia anggap lemah, tetapi karena Densi di anggap di tempat itu bersama geng
__ADS_1
nya ialah paling di takuti di tempat itu. “Enggak ya.. aku tidak memiliki uang
lebih untuk aku berikan kepadamu,” jawab Densi kepada bencong yang meminta uang
dengan nya. “Ya sudah kalau begitu, aku pergi saja dari sini, bayy,” ucap
bencong kepada Densi dengan nada laki laki berbicara seperti perempuan. “Nah..
itu ada sate di sana, beli sate sajah lah” ucap Densi kepada diri sendiri.
Densi pun menuju gerobak sate tersebut. Sesampainya
di hadapan gerobak itu, Densi menawar harga dengan penjual sate itu. “pak satu
bungkus berapa duit pak?” tanya Densi kepada tukang sate itu. “satu bungkus isi sepuluh tusuk harganya dua
belas gulden saja dek” jawab tukang sate tersebut mengenai harga sate yang di
jual nya. “pak, satu bungkus sepuluh gulden saja pak, satu bungkus sepuluh gulden saya beli tiga bungkus,
karena teman-teman saya belum makan pak,” ucap Densi kepada tukang sate
tersebut mengenai harga satenya untuk di kurangkan sedikit. “Ok lah kalau
begitu, karena bapak kasihan dengan teman mu yang belum makan, saya kasih lima
bungkus dengan gratis,” kata penjual sate itu kepada Densi dengan memberikan
sate gratis. “Terimakasih banyak ya pak, bapak jika butuh bantuan saya, saya
siap membantu bapak,dan saya doakan supaya bapak di lancarkan rezekinya,” ucap
terimaksih Densi kepada penjual sate itu. “Ia sama-sama, semoga teman-teman
adek kenyang dengan memakan sate ini,” kata tukang sate menanggapi ucapan
terimaksih Densi. “Ini dek satenya sudah jadi” ucap tukang sate kepada Densi.
“Sekali lagi saya berterimakasih sebesar-besarnya kepada bapak,” kata Densi
berterimakasih kepada tukang sate kesekian kalinya. Densi pun menuju pondok dengan membawa sate
yang di kasih oleh tukang sate itu. Awan di langit berubah menjadi hitam yang
menandakan malam hari sudah tiba.
“Aliken-Aliken-Aliken,” suara ibu Reni memanggil
Aliken yang berada di kamar di lantai atas. “Ia mah, ada apa mah” jawab Aliken menanggapi panggilan mamanya. “ini....tolong belikan daun pandan di
pasar malam yang berada di gang besar, daun pandannya mamah mau pake untuk membuat
kacang ijo. Teman mamah beli kacang ijo dadakan, katanya ia mau langsung ada
saat pagi hari” ucap ibu Reni kepada Aliken untuk meminta tolong membelikan
daun pandan. “Ok mah, pasarnya berada di gang besar ya mah?” tanya Aliken
mengenai lokasi pasarnya. “Ia.. nanti Aliken keluar rumah, lalu lurus saja
sejauh lima puluh meter, setelah itu belok kiri, setelah belok kiri Aliken
lurus saja sampai menemukan gang besar yang berada di sebelah kanan, nanti
Aliken masuk saja ke gang itu, dan cari daun pandan” jawab ibu Reni mengenai
lokasi pasar gang besar tersebut. Aliken menuju pasar gang besar itu. Setelah perjalanan yang lumayan jauh,
ahkirnya Aliken sampai di pasar malam tersebut. “Pak, yang berjualan daun
pandan di mana ya pak?” tanya Aliken kepada tukang bayam yang berjualan di
sana, “adek tinggal lurus, Lalu ada perapatan, nah di daerah itu yang berjualan
daun pandan, jika adek kebingungan, adek tanya saja kepada orang sekitar yang
berada di sana,” jawab tukang bayam tersebut mengenai pertanyaan Aliken tentang
lokasi orang yang berjualan daun pandan. Aliken menuju perapatan dan mencari
orang yang berjualan daun pandan. Aliken belum menemukan orang yang berjualan
daun pandan, karena Aliken tidak pernah melihat daun pandan.
“Pak, disini yang berjualan daun pandan tidak?,”
tanya Aliken kepada seorang yang berada di sekitarnya. “Itu di sana, di depan
tukang bawang,” jawab seorang yang di tanya Aliken, “Terimaksih ya pak, karena
sudah menunjukan tempat orang yang berjualan daun pandan,” ucap terimakasih
Aliken kepada orang yang mengasih petunjuk kepada orang yang berjualan daun
pandan. Aliken mendekati orang yang
berjualan dau pandan. “Ibu... ada jual daun pandan tidak?” tanya Aliken kepada
orang yang di tunjukannya. “Oh daun pandan, ini daun pandan, mau beli berapa
dek?” tanya orang yang berjualan daun pandan kepada Aliken. “emm.. beli satu
gulden bu,” jawab Aliken kepada orang yang berjualan daun pandan. “Ok, bentar
ya, ini daun pandan nya dek,” ucap orang yang berjualan daun pandan dengan
memberikan daun pandan.
__ADS_1