Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
Keni dan Densi.


__ADS_3

Koli pun membawa Keni menuju gudang rongsokan, dimana


disitu ada Evan yang menunggunya. “Lepaskan-lepaskan” “lepaskan,” ucap Keni


kepada Koli, untuk melepaskan nya. “Tenang kamu mau di bawa ke tempat acara


ulang tahun,” ucap Koli kepada Keni dengan nada senang nya. “Ayo mundur, Densi


sudah datang” ucapan seorang anggota geng Terosi kepada seluruh anggota geng


Terosi, untuk kembali ke tempat tongkrong nya. Seluruh geng Terosi pun mundur


menuju tempat tongkrong nya. “Ini ada apa, apa yang terjadi?” tanya Densi


kepada seluruh anggotanya. “Kami semua tidak tau bos apa yang terjadi,


tiba-tiba mereka menyerang kita dan kita....lawan” jawab seorang anggota kepada


pertanyaan Densi.


“ia betul bos”


“betul”


“betul bos”


“betul bos”


Ucap seluruh anggota geng Tarata kepada Densi


“Ok, lalu dimana Keni?, ada yang lihat Keni?,” tanya


Densi kepada anggotanya. “Sepertinya di bawa kabur  bos oleh geng Terosi” jawab seorang anggota


kepada Densi. “Bos ini ada surat dan tulisannya dari Evan, untuk Densi,” ucap


seorang anggota kepada Densi. “coba, sini, mana lihat,” jawab Densi kepada


seorang geng yang menemukan surat itu. Densi membuka surat tersebut dan


membacanya, di hadapan anggotanya.


Surat tersebut berisi:


“Densi teman baik ku, ini Evan, teman tapi musuhan,


apa kabarnya Densi, mudah-mudahan selalu baik dan sehat, aku sangat merindukan


Densi sejak lima menit yang lalu, apakah Densi merindukan ku?, pasti jawaban


nya ia, dahulu kita suka main bersama, dengan tongkat yang kita punya,


dengan  anggota mu, sangking senang nya,


kepala ku sampai benjol terkena tongkat yang kamu pegang, di masa seperti itu,


yang aku kangenkan, semoga hal itu bisa terulang lagi, aku menulis surat ini


karena hal-hal yang aku tulis di atas akan terulang lagi, pasti senang dong,


dengan kabar ini, aku tunggu hari ini juga pukul 12.00 siang, untuk menjemput


putri Cinderella yang kehilangan  sepatunya, dengan ini akan ada kenangan yang tertulis untuk minggu


depan. Begitulah isi surat yang di tulis oleh Evan untuk Densi.


“Apa yang Evan mau dari kita?” tanya Densi dalam


hatinya. “Ok, sekarang kita membagi tugas, aku datang menghadapi Densi, kita


semua berjumlah sepuluh anggota, tiga orang mengincar bagian depan, dua orang


bagian belakang dua orang bagian samping kanan, dua orang bagian samping kiri,


aku menghadapi Evan,  aku membawa tongkat


yang aku simpan  di bajuku, saat aku


melemparkan tongkat ke keluar atau ke kaca, kalian semua langsung masuk ke


dalam menyerang sekuat tenaga kalian  dengan tongkat yang kalian pegang, mengerti semua?.” “Ngerti bos,” jawab


seluruh anggotanya.


Densi  menuju


tempat tongkrong geng Terosi.


“tok-tok-tok” suara ketukan pintu yang di ketuk oleh


Densi. Tempat tongkrong yang di di diami Evan dengan anggotanya seperti rumah


pada umum nya, rumah tersebut membentuk persegi dan atap berbentuk segitiga,


bagian sudut rumah terdapat jendela di setiap sisinya. “Silakan di buka pintu


yang di ketuk itu, mungkin itu pangeran yang akan menjemput putri nya” ucap


Evan kepada anggotanya. Pintu  di buka


dan Densi masuk mendekati Evan. “Evan apa yang kamu mau dariku?” tanya Densi


kepada Evan. “Aku mau pondok kamu saja, gak banyak kok” jawab Evan mengenai


pondok nya. “Aku tidak akan memberikan pondok itu kepadamu,” ucap Densi sambil


melempar tongkat nya ke kaca. Anggota geng Tarata pun langsung menyerang geng

__ADS_1


Terosi dengan tongkat nya. “Seraang, habisi mereka semua, bila perlu sampai


benjol kepalanya,” ucap Densi kepada seluruh anggota geng Tarata. “tidak”


“tidak” “tidak, jangan pukul kepala ku,” kata seorang geng Terosi kepada


seorang anggota  geng Tarata. “diam, aku


tetap akan memukul kepala mu, karena kau yang memulai ini semua ‘’ya... “ jawab


seorang anggota geng Tarata kepada seseorang anggota geng Terosi, yang memohon


untuk tidak di pukul kepalanya, sambil memukul kepalanya dengan kayu di tangan


nya. “Aduh, sakit sekali kepala ku ini, aduh..” kata seorang geng Terosi


sesudah di pukul kepalanya dengan kayu dan langsung pingsan.


“Ayo, mau kabur kemana?” tanya seorang geng Tarata


kepada seorang geng Terosi yang mencoba untuk kabur. “ampun” “ampun, “jangan


pukul aku, aku tidak akan membuat kesalahan ini lagi,” kata seorang geng Terosi


yang mencoba untuk kabur, kepada seorang geng Tarata yang menahannya. “Sudah,


tidak usah banyak basa-basi”  “ya..” kata


seorang geng Tarata sambil memukul kepalanya dengan kayu yang di pegang nya,


hingga pingsan. Seorang geng Terosi memukul bagian tubuh seorang anggota geng


Tarata dengan diam-diam dari belakang nya, seorang anggota geng Tarata yang


terpukul bagian belakang tubuh nya terjatuh ke lantai. “Ayo,mau ngapain lagi?”


tanya seorang anggota geng Terosi kepada seorang anggota geng Tarata yang


terjatuh di lantai, sambil mengarahkan tongkat yang ia pegang ke kepalanya.


Lalu di tendang nya kaki seorang anggota geng Terosi yang mencoba untuk memukul


seorang anggota geng Tarata yang tertidur di lantai karena jatuh nya. Hingga


seorang anggota geng Terosi yang mencoba untuk memukul nya terjatuh ke lantai.


Seorang anggota geng Tarata yang terjatuh, langsung bangun dari jatuh nya, dan


memukul kepala seorang anggota geng Terosi yang terjatuh karena di tendang nya,


hingga pingsan. Perkelahian pun terjadi kepada kedua geng untuk memperebutkan


Keni.


“Kamu mengundang aku ke sini untuk membuat sebuah


datang ke sini untuk melepaskan Keni, yang kamu ikat di situ, sekarang kamu mau


cara halus atau kasar?.” Ucap Densi kepada Evan untuk melepaskan Keni. “Sebelum


kamu melepaskan Keni, kamu harus melewatkan aku terlebih dahulu, ya...,” kata


Evan kepada Densi dengan mengarahkan tongkat yang ia pegang ke Densi untuk


memukul nya. Di tahan nya tongkat yang di arahkan kepada Densi oleh Evan, dan


tongkat yang di tahan di rampas dan di lempar sejauh mungkin. “Ayo sekarang kamu


mau kemana lagi? Ya..” ucap Densi kepada Evan dengan memukul kepala nya dengan


tongkat yang ia pegang. Evan pun pingsan, karena di pukul kepalanya oleh Densi


dengan tongkat. Densi berlari menuju Keni  yang di ikat dengan tali dan membuka ikatan tersebut. “Keni tidak


apa-apa kan?,” tanya Densi kepada Keni saat sudah membuka ikatan tali tersebut.


“ia, aku tidak apa-apa,” jawab Keni kepada pertanyaan Densi yang ia tanya. “Ya


sudah, sekarang kita kembali ke pondok dan tinggalkan mereka semua,” ucap Densi


kepada seluruh anggota geng Tarata. Geng Tarata pun kembali ke pondok mereka,


yaitu tempat mereka nongkrong, berkumpul dan tinggal.  Tampaknya Densi mulai ada perasaan dengan


aku, ia mulai mencoba mengucapkan kepada aku bahwa ia mencintainya, hingga


akhirnya Densi menyatakan perasaan nya kepada aku bahwa dia mencintainya, saat


itu aku dan Densi berpacaran dan saling mencintai.


Malam hari tiba dan Densi memikirkan makan apa mereka


pada malam itu, akhirnya ia pergi dari pondok itu untuk mencari makan. Densi


pun pergi dari pondok dan mencari makan yang murah tapi cukup untuk sepuluh


orang. Lalu Densi bertemu bencong yang sedang meminta uang di dekat nya. “Mas,


boleh minta uang nya tidak, sedikit saja” ucap bencong tersebut kepada Densi


untuk meminta uang yang Densi miliki. Kebiasaan bencong ialah meminta uang


kepada orang yang berada di dekat nya, dengan berpenampilan seperti perempuan,


padahal ia laki laki. Biasanya bencong memiliki sifat yang memaksa kepada orang


yang dia anggap lemah, tetapi karena Densi di anggap di tempat itu bersama geng

__ADS_1


nya ialah paling di takuti di tempat itu. “Enggak ya.. aku tidak memiliki uang


lebih untuk aku berikan kepadamu,” jawab Densi kepada bencong yang meminta uang


dengan nya. “Ya sudah kalau begitu, aku pergi saja dari sini, bayy,” ucap


bencong kepada Densi dengan nada laki laki berbicara seperti perempuan. “Nah..


itu ada sate di sana, beli sate sajah lah” ucap Densi kepada diri sendiri.


Densi pun menuju gerobak sate tersebut. Sesampainya


di hadapan gerobak itu, Densi menawar harga dengan penjual sate itu. “pak satu


bungkus berapa duit pak?” tanya Densi kepada tukang sate itu.  “satu bungkus isi sepuluh tusuk harganya dua


belas gulden saja dek” jawab tukang sate tersebut mengenai harga sate yang di


jual nya. “pak, satu bungkus sepuluh  gulden saja pak, satu bungkus sepuluh gulden saya beli tiga bungkus,


karena teman-teman saya belum makan pak,” ucap Densi kepada tukang sate


tersebut mengenai harga satenya untuk di kurangkan sedikit. “Ok lah kalau


begitu, karena bapak kasihan dengan teman mu yang belum makan, saya kasih lima


bungkus dengan gratis,” kata penjual sate itu kepada Densi dengan memberikan


sate gratis. “Terimakasih banyak ya pak, bapak jika butuh bantuan saya, saya


siap membantu bapak,dan saya doakan supaya bapak di lancarkan rezekinya,” ucap


terimaksih Densi kepada penjual sate itu. “Ia sama-sama, semoga teman-teman


adek kenyang dengan memakan sate ini,” kata tukang sate menanggapi ucapan


terimaksih Densi. “Ini dek satenya sudah jadi” ucap tukang sate kepada Densi.


“Sekali lagi saya berterimakasih sebesar-besarnya kepada bapak,” kata Densi


berterimakasih kepada tukang sate kesekian kalinya.  Densi pun menuju pondok dengan membawa sate


yang di kasih oleh tukang sate itu. Awan di langit berubah menjadi hitam yang


menandakan malam hari sudah tiba.


“Aliken-Aliken-Aliken,” suara ibu Reni memanggil


Aliken yang berada di kamar di lantai atas.  “Ia mah, ada apa mah” jawab Aliken  menanggapi panggilan mamanya. “ini....tolong belikan daun pandan di


pasar malam yang berada di gang besar,  daun pandannya mamah mau pake untuk membuat


kacang ijo. Teman mamah beli kacang ijo dadakan, katanya ia mau langsung ada


saat pagi hari” ucap ibu Reni kepada Aliken untuk meminta tolong membelikan


daun pandan. “Ok mah, pasarnya berada di gang besar ya mah?” tanya Aliken


mengenai lokasi pasarnya. “Ia.. nanti Aliken keluar rumah, lalu lurus saja


sejauh lima puluh meter, setelah itu belok kiri, setelah belok kiri Aliken


lurus saja sampai menemukan gang besar yang berada di sebelah kanan, nanti


Aliken masuk saja ke gang itu, dan cari daun pandan” jawab ibu Reni mengenai


lokasi pasar gang besar tersebut. Aliken  menuju pasar gang besar itu. Setelah perjalanan yang lumayan jauh,


ahkirnya Aliken sampai di pasar malam tersebut. “Pak, yang berjualan daun


pandan di mana ya pak?” tanya Aliken kepada tukang bayam yang berjualan di


sana, “adek tinggal lurus, Lalu ada perapatan, nah di daerah itu yang berjualan


daun pandan, jika adek kebingungan, adek tanya saja kepada orang sekitar yang


berada di sana,” jawab tukang bayam tersebut mengenai pertanyaan Aliken tentang


lokasi orang yang berjualan daun pandan. Aliken menuju perapatan dan mencari


orang yang berjualan daun pandan. Aliken belum menemukan orang yang berjualan


daun pandan, karena Aliken tidak pernah melihat daun pandan.


“Pak, disini yang berjualan daun pandan tidak?,”


tanya Aliken kepada seorang yang berada di sekitarnya. “Itu di sana, di depan


tukang bawang,” jawab seorang yang di tanya Aliken, “Terimaksih ya pak, karena


sudah menunjukan tempat orang yang berjualan daun pandan,” ucap terimakasih


Aliken kepada orang yang mengasih petunjuk kepada orang yang berjualan daun


pandan. Aliken  mendekati orang yang


berjualan dau pandan. “Ibu... ada jual daun pandan tidak?” tanya Aliken kepada


orang yang di tunjukannya. “Oh daun pandan, ini daun pandan, mau beli berapa


dek?” tanya orang yang berjualan daun pandan kepada Aliken. “emm.. beli satu


gulden bu,” jawab Aliken kepada orang yang berjualan daun pandan. “Ok, bentar


ya, ini daun pandan nya dek,” ucap orang yang berjualan daun pandan dengan


memberikan daun pandan.

__ADS_1


__ADS_2