
“Nak, papa pergi sebentar, tidak boleh melanggar
peraturan rumah yang papah buat ya.” Perintah bapak Keni yang bernama pak Agung
kepada Keni. Bapak Agung pergi menuju suatu tempat dan meninggalkan Keni dengan
pembantunya.
Peraturan yang berada di rumahnya.
1. Tidak boleh
ke luar rumah tanpa izin.
2. Tidak boleh
cat rambut.
3.Bereskan
rumah setiap jam 9 pagi dan 5 sore.
4.Tidak boleh main HP di atas jam 3 sore.
5.Cuci mobil setiap jam 4 sore.
6.Tidak boleh tidur-tiduran sebelum waktunya.
Aku sudah sangat muak dan tidak tahan dengan peraturan
yang papah aku buat, lalu timbulah pikiran yang berada di kepala ku, (“mending
aku keluar dari rumah ini, daripada aku harus menuruti semua peraturan tidak
jelas itu”). Aku memulai memikirkan sebuah rencana untuk aku bisa keluar dari
rumah ini. “Rencana 1 ialah melanggar semua peraturan yang berada di sekolah
dan rencana 2 ialah membuat nilai aku sangat jelek sampai memungkinkan aku
tidak naik kelas, dengan begitu aku meninggalkan semua keburukan ku di sekolah
dan tak ada yang ingat dengan aku. Sementara orang tuaku di panggil di sekolah
dan aku di rumah, lalu aku akan pergi dari rumah ini sejauh mungkin aku bisa
berlari.” Tulisan rencana aku yang aku tulis di kertas. Setelah aku menulis rencana yang aku pikirkan,
aku langsung tidur dengan nyenyak.
Suara burung bernyanyi di pepohonan dan ayam berkokok
dengan indahnya, menyambut pagi hari yang sangat indah. Pagi hari tiba. Aku
bergegas untuk berangkat ke sekolah dan menjalankan rencana yang aku buat.
“Pah-mah aku berangkat ke sekolah ya
pah” ucap izin aku kepada kedua orang tuaku. Aku sampai di sekolah dengan seragam yang tidak sesuai dengan hari itu.
“Keni mengapa seragam yang kamu kenakan tidak sesuai dengan hari selasa, hari
selasa berseragam putih kotak, mengapa Keni mengenakan seragam merah?,” tanya
seorang guru kepada aku dengan suara tegasnya. “Sengaja bu, karena aku tidak
mau mengikuti semua peraturan sekolah ini,” jawab aku kepada seorang guru.
“Sekarang Keni ikut ibu” ucap guru kepada Keni. “Berdiri menatap bendera dengan
posisi tegak” perintah guru dengan nada tegasnya kepada aku. “Tidak mau Buu, aku mau belajar ibu,” jawab
aku dengan nada menantang. “Tidaaak, Keni tidak boleh belajar, Keni sekarang
pulang ke rumah dan besok kembali ke sekolah untuk belajar” ucap guru kepada
aku. Aku berjalan menuju rumah dan orang
tua aku di panggil ke sekolah untuk di minta penjelasan oleh gurunya. “Sedikit
lagi rencanaku terwujud dan aku bakal kabur dari rumah dan sekolah,” ucap aku
dengan diri sendiri serta ekspresi senangnya. Aku sampai di rumah. Orang tua
aku tidak berada di rumah di kerenakan di panggil ke sekolah oleh guru aku
__ADS_1
untuk di minta penjelasan oleh guru itu.
“Ok sekarang waktu yang tepat untuk aku meninggalkan
rumah ini dan pergi sejauh mungkin semampuku,” ucap aku kepada diri sendiri
dengan senangnya. Aku mengambil semua baju yang berada di lemari aku dan
memasukan ke dalam tas yang aku siapkan. Aku juga mengambil semua uang yang aku
miliki untuk hidup di luar. Aku telah siap untuk pergi dari rumah aku itu. “Keni jangan pergi, nanti bibi yang salah,
membiarkan Keni keluar dari rumah ini,” mohon Bibi aku sambil menangis, karena
ia mengetahui aku akan kabur. Ia mengetahui aku akan pergi dari rumah, karena
aku membawa tas yang besar seperti ada baju di dalam nya. “Tidak bisa Bi, Keni
harus pergi, karena Keni sudah sangat muak dengan peraturan yang papah buat,
maaf ya Bi,” ucap aku untuk terakhir
kalinya dengan Bibi, sambil meloncat dari jendela kamarnya yang tidak terlalu
tinggi. “Jangan Keni, Keni, jangan pergi dari rumah ini, Keni-Keni-Keni,”
teriak Bibi Keni dengan air mata yang keluar banyak dari matanya. Aku sangat
kencang berlari meninggalkan rumah dengan hati yang lega dan ekspresi bahagia.
“Tok-tok-tok,” suara orang mengetuk pintu rumah Aku.
“Ia bentar, ini lagi mau membuka pintu,” ucap Bibi Keni sambil mengusap bekas
air mata sehabis menangis. Bibi membuka pintu yang di ketoknya. “Bibi, Keni
sudah pulang dari sekolah belum?,” tanya Bapak Agung kepada Bibi sehabis di
buka pintunya. “Keni tadi sudah pulang pak, tetapi---“ jawab Bibi Keni dengan
berbelit-belit. “Tapi apa Bibi, tapi apa?,” tanya pak Agung kepada Bibi dengan
ekspresi penasaran. “Tetapi Keni kabur dari rumah ini pak,” jawab Bibi Keni
dengan pasrah. “Apa-- kenapa bisa Keni
Agung kepada Bibi dengan heran, “Keni keluar dari jendela kamar pak” jawab Bibi
Keni. Pak Agung berlari menuju kamar Keni dan mengecek jendela kamarnya untuk
memastikan perkataan Bibi Keni benar. “Oh ia betul, kenapa Keni kabur dari rumah
ini ya, apa yang terjadi dengan Keni?,” tanya Pak Agung dengan diri sendiri
sambil melihat jendela yang terbuka lebar di hadapan matanya. “Maaf Pak, tadi
Keni bicara kepada Bibi, ia mengatakan sudah sangat muak dengan peraturan yang
bapak berikan,” bicara Bibi, menjelaskan mengapa Keni pergi dari rumah ini.
“Oh—ternyata Keni tidak suka dengan peraturan yang Aku buat, Aku membuat semua
peraturan itu demi kebaikan Keni juga,” ucap pak Agung dengan diri sendiri.
Aku kelelahan karena berlari meninggalkan rumah
dengan sangat kencang. Aku melihat ada warung tidak jauh dari hadapan Aku, Aku
mendekati warung yang aku lihat dari kejauhan. “Ibu, aku beli minuman ini ya
bu, harga satu minuman ini berapa Ibu?,” tanya Aku kepada ibu penjaga warung
yang sedang berjualan. “Minuman itu satu gulden saja dek” jawab penjual. “Aku
beli satu ya Ibu, uang nya pas ya bu” ucap aku kepada ibu penjual minum
tersebut dan memberi uang itu. Aku
melanjutkan perjalanan, aku tidak tahu harus kemana lagi. Perut aku berbunyi
yang menandakan aku membutuhkan makanan sebagai energi yang di gunakan untuk
seluruh aktivitas yang aku lakukan. Aku melihat ada tempat makan dari kejauhan,
aku berjalan memasuki tempat makan itu yang aku lihat. “Ibu, aku pesan nasi,
__ADS_1
tempe dan kentang ya bu, minumnya es jeruk saja bu,” kata Aku memesan makanan
di tempat itu. “Ok dek, tunggu sebentar
ya, ibu siapkan dulu makanan nya” jawab ibu itu. “Ini dek makanan nya dan
minuman adek” kata ibu dengan meletakan
makanan dan minumannya ke atas meja yang Aku gunakan. “Ia bu, terimaksih ya bu”
jawab aku kepada ibu itu.
Aku memakan makanan dan minumannya dengan pelan-pelan sambil memikirkan, sehabis
dari tempat makan itu, aku mau berjalan ke mana lagi. “Sudah bu saya makannya,
semua jadi berapa duit bu?” tanya Aku kepada ibu itu. “Semua jadi sepuluh gulden saja dek,” jawab
ibu itu. “ini bu, uangnya pas ya bu” ucap Aku dengan menemberikan uangnya.
“Terimakasih ya dek sudah makan di tempat ini,” ucap terimaksih ibu itu kepada
Aku. “Sama-sama ibu” jawab Aku.
“Sekarang aku harus kemanan lagi ya?” tanya Aku kepada diri sendiri. Aku
berjalan terus ke depan dengan berharap ada pertolongan dari Tuhan. “Aduh capek
sekali, aku istirahat dulu ah,” ucap Aku kepada diri sendiri. Aku beristirahat
dengan duduk di trotoar jalanan dan memikirkan harus berjalan kemana lagi. Saat
aku sedang duduk, aku melihat ada barang unik di sebelahku. “Ini apa ya,
penasaran aku, aku ambil sajah ah” ucap Aku kepada kotak itu. Lalu aku membuka
kotak yang berwarna coklat itu. “Wahh, ternyata hanya sebuah kunci,” lalu aku membawa kunci itu dan meneruskan
jalan yang tidak tahu mau mengarah kemana aku berjalan. Awan berganti warna
menjadi hitam yang menandakan malam hari tiba. Aku melihat dari kejauhan ada
pasar terbuka di gang besar, lalu aku berjalan menuju pasar itu berharap ada
orang yang ingin memberikan tumpangan untuk aku tidur saat tengah malam. Saat
aku sedang berjalan, aku di goda oleh segerombolan bapak-bapak preman pasar.
“Neng mau kemana malam malam gini?” tanya seorang
preman kepada aku. “Ini mau nyari teman saya yang berada di tempat ini,” jawab
aku kepada preman itu dengan rasa takut dan cemas. “Rumah teman neng di mana,’’
tanya salah satu preman itu kepada Aku. “Ini—saya tidak tau pasti alamat rumah teman saya, tetapi dia bilang
masuk ke dalam gang besar dan terdapat orang-orang sedang berjualan” jawab aku
dengan mengarang kepada preman-preman itu. “Boleh abang antarkan tidak menuju
rumah teman neng?” tanya preman itu untuk mengantar nya ke rumah temannya.
“Tidak perlu bang, saya bisa jalan sendiri menuju rumah teman saya bang” jawab
aku untuk tidak di antaranya menuju rumah temannya. Aku terus di tanya hal itu
oleh preman-preman itu, mereka bertanya sambil tersenyum-senyum yang sangat
menjijikan kepada aku. Preman-preman itu
mengelilingi Aku dan memegang rambut Aku, lalu meraba tubuh aku. “Bang mau apa
bang megang megang saya bang?” tanya Aku kepada preman-preman itu karena mereka
memegang tubuh aku. “Jangan khawatir, saya tidak ngapa-ngapain Adek, cuman
abang bagi jatah kepada neng untuk malam ini saja” ucap preman itu kepada aku.
“Maksud abang apa, saya tidak mengerti ucapan abang,” tanya Aku kepada preman
itu dengan rasa bingungnya. Di tempat itu sudah sangat sepi dan tidak ada
seorang pun, tentara-tentara Belanda yang biasa banyak di tempat itu juga sudah
tidak terlihat. Lalu Aku di pukul bagian
__ADS_1
leher belakang hingga pingsan.