Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
Keni dan Densi.


__ADS_3

“Nak, papa pergi sebentar, tidak boleh melanggar


peraturan rumah yang papah buat ya.” Perintah bapak Keni yang bernama pak Agung


kepada Keni. Bapak Agung pergi menuju suatu tempat dan meninggalkan Keni dengan


pembantunya.


Peraturan yang berada di rumahnya.


 1. Tidak boleh


ke luar rumah tanpa izin.


 2. Tidak boleh


cat rambut.


 3.Bereskan


rumah setiap jam 9 pagi dan 5    sore.


4.Tidak boleh main HP di atas jam 3 sore.


5.Cuci mobil setiap jam 4 sore.


6.Tidak boleh tidur-tiduran sebelum waktunya.


Aku sudah sangat muak dan tidak tahan dengan peraturan


yang papah aku buat, lalu timbulah pikiran yang berada di kepala ku, (“mending


aku keluar dari rumah ini, daripada aku harus menuruti semua peraturan tidak


jelas itu”). Aku memulai memikirkan sebuah rencana untuk aku bisa keluar dari


rumah ini. “Rencana 1 ialah melanggar semua peraturan yang berada di sekolah


dan rencana 2 ialah membuat nilai aku sangat jelek sampai memungkinkan aku


tidak naik kelas, dengan begitu aku meninggalkan semua keburukan ku di sekolah


dan tak ada yang ingat dengan aku. Sementara orang tuaku di panggil di sekolah


dan aku di rumah, lalu aku akan pergi dari rumah ini sejauh mungkin aku bisa


berlari.” Tulisan rencana aku yang aku tulis di kertas.  Setelah aku menulis rencana yang aku pikirkan,


aku langsung tidur dengan nyenyak.


Suara burung bernyanyi di pepohonan dan ayam berkokok


dengan indahnya, menyambut pagi hari yang sangat indah. Pagi hari tiba. Aku


bergegas untuk berangkat ke sekolah dan menjalankan rencana yang aku buat.


“Pah-mah  aku berangkat ke sekolah ya


pah” ucap izin aku kepada kedua orang tuaku.  Aku sampai di sekolah dengan seragam yang tidak sesuai dengan hari itu.


“Keni mengapa seragam yang kamu kenakan tidak sesuai dengan hari selasa, hari


selasa berseragam putih kotak, mengapa Keni mengenakan seragam merah?,” tanya


seorang guru kepada aku dengan suara tegasnya. “Sengaja bu, karena aku tidak


mau mengikuti semua peraturan sekolah ini,” jawab aku kepada seorang guru.


“Sekarang Keni ikut ibu” ucap guru kepada Keni. “Berdiri menatap bendera dengan


posisi tegak” perintah guru dengan nada tegasnya kepada aku.  “Tidak mau Buu, aku mau belajar ibu,” jawab


aku dengan nada menantang. “Tidaaak, Keni tidak boleh belajar, Keni sekarang


pulang ke rumah dan besok kembali ke sekolah untuk belajar” ucap guru kepada


aku.  Aku berjalan menuju rumah dan orang


tua aku di panggil ke sekolah untuk di minta penjelasan oleh gurunya. “Sedikit


lagi rencanaku terwujud dan aku bakal kabur dari rumah dan sekolah,” ucap aku


dengan diri sendiri serta ekspresi senangnya. Aku sampai di rumah. Orang tua


aku tidak berada di rumah di kerenakan di panggil ke sekolah oleh guru aku

__ADS_1


untuk di minta penjelasan oleh guru itu.


“Ok sekarang waktu yang tepat untuk aku meninggalkan


rumah ini dan pergi sejauh mungkin semampuku,” ucap aku kepada diri sendiri


dengan senangnya. Aku mengambil semua baju yang berada di lemari aku dan


memasukan ke dalam tas yang aku siapkan. Aku juga mengambil semua uang yang aku


miliki untuk hidup di luar. Aku telah siap untuk pergi dari rumah aku itu.  “Keni jangan pergi, nanti bibi yang salah,


membiarkan Keni keluar dari rumah ini,” mohon Bibi aku sambil menangis, karena


ia mengetahui aku akan kabur. Ia mengetahui aku akan pergi dari rumah, karena


aku membawa tas yang besar seperti ada baju di dalam nya. “Tidak bisa Bi, Keni


harus pergi, karena Keni sudah sangat muak dengan peraturan yang papah buat,


maaf ya Bi,”  ucap aku untuk terakhir


kalinya dengan Bibi, sambil meloncat dari jendela kamarnya yang tidak terlalu


tinggi. “Jangan Keni, Keni, jangan pergi dari rumah ini, Keni-Keni-Keni,”


teriak Bibi Keni dengan air mata yang keluar banyak dari matanya. Aku sangat


kencang berlari meninggalkan rumah  dengan hati yang lega dan ekspresi bahagia.


“Tok-tok-tok,” suara orang mengetuk pintu rumah Aku.


“Ia bentar, ini lagi mau membuka pintu,” ucap Bibi Keni sambil mengusap bekas


air mata sehabis menangis. Bibi membuka pintu yang di ketoknya. “Bibi, Keni


sudah pulang dari sekolah belum?,” tanya Bapak Agung kepada Bibi sehabis di


buka pintunya. “Keni tadi sudah pulang pak, tetapi---“ jawab Bibi Keni dengan


berbelit-belit. “Tapi apa Bibi, tapi apa?,” tanya pak Agung kepada Bibi dengan


ekspresi penasaran. “Tetapi Keni kabur dari rumah ini pak,” jawab Bibi Keni


dengan pasrah. “Apa--  kenapa bisa Keni


Agung kepada Bibi dengan heran, “Keni keluar dari jendela kamar pak” jawab Bibi


Keni. Pak Agung berlari menuju kamar Keni dan mengecek jendela kamarnya untuk


memastikan perkataan Bibi Keni benar. “Oh ia betul, kenapa Keni kabur dari rumah


ini ya, apa yang terjadi dengan Keni?,” tanya Pak Agung dengan diri sendiri


sambil melihat jendela yang terbuka lebar di hadapan matanya. “Maaf Pak, tadi


Keni bicara kepada Bibi, ia mengatakan sudah sangat muak dengan peraturan yang


bapak berikan,” bicara Bibi, menjelaskan mengapa Keni pergi dari rumah ini.


“Oh—ternyata Keni tidak suka dengan peraturan yang Aku buat, Aku membuat semua


peraturan itu demi kebaikan Keni juga,” ucap pak Agung dengan diri sendiri.


Aku kelelahan karena berlari meninggalkan rumah


dengan sangat kencang. Aku melihat ada warung tidak jauh dari hadapan Aku, Aku


mendekati warung yang aku lihat dari kejauhan. “Ibu, aku beli minuman ini ya


bu, harga satu minuman ini berapa Ibu?,” tanya Aku kepada ibu penjaga warung


yang sedang berjualan. “Minuman itu satu gulden saja dek” jawab penjual. “Aku


beli satu ya Ibu, uang nya pas ya bu” ucap aku kepada ibu penjual minum


tersebut dan memberi uang itu.  Aku


melanjutkan perjalanan, aku tidak tahu harus kemana lagi. Perut aku berbunyi


yang menandakan aku membutuhkan makanan sebagai energi yang di gunakan untuk


seluruh aktivitas yang aku lakukan. Aku melihat ada tempat makan dari kejauhan,


aku berjalan memasuki tempat makan itu yang aku lihat. “Ibu, aku pesan nasi,

__ADS_1


tempe dan kentang ya bu, minumnya es jeruk saja bu,” kata Aku memesan makanan


di tempat itu.  “Ok dek, tunggu sebentar


ya, ibu siapkan dulu makanan nya” jawab ibu itu. “Ini dek makanan nya dan


minuman adek” kata ibu  dengan meletakan


makanan dan minumannya ke atas meja yang Aku gunakan. “Ia bu, terimaksih ya bu”


jawab aku kepada ibu itu.


Aku memakan makanan dan minumannya  dengan pelan-pelan sambil memikirkan, sehabis


dari tempat makan itu, aku mau berjalan ke mana lagi. “Sudah bu saya makannya,


semua jadi berapa duit bu?” tanya Aku kepada ibu itu.  “Semua jadi sepuluh gulden saja dek,” jawab


ibu itu. “ini bu, uangnya pas ya bu” ucap Aku dengan menemberikan uangnya.


“Terimakasih ya dek sudah makan di tempat ini,” ucap terimaksih ibu itu kepada


Aku.  “Sama-sama ibu” jawab Aku.


“Sekarang aku harus kemanan lagi ya?” tanya Aku kepada diri sendiri. Aku


berjalan terus ke depan dengan berharap ada pertolongan dari Tuhan. “Aduh capek


sekali, aku istirahat dulu ah,” ucap Aku kepada diri sendiri. Aku beristirahat


dengan duduk di trotoar jalanan dan memikirkan harus berjalan kemana lagi. Saat


aku sedang duduk, aku melihat ada barang unik di sebelahku. “Ini apa ya,


penasaran aku, aku ambil sajah ah” ucap Aku kepada kotak itu. Lalu aku membuka


kotak yang berwarna coklat itu. “Wahh, ternyata hanya sebuah kunci,”  lalu aku membawa kunci itu dan meneruskan


jalan yang tidak tahu mau mengarah kemana aku berjalan. Awan berganti warna


menjadi hitam yang menandakan malam hari tiba. Aku melihat dari kejauhan ada


pasar terbuka di gang besar, lalu aku berjalan menuju pasar itu berharap ada


orang yang ingin memberikan tumpangan untuk aku tidur saat tengah malam. Saat


aku sedang berjalan, aku di goda oleh segerombolan bapak-bapak preman pasar.


“Neng mau kemana malam malam gini?” tanya seorang


preman kepada aku. “Ini mau nyari teman saya yang berada di tempat ini,” jawab


aku kepada preman itu dengan rasa takut dan cemas. “Rumah teman neng di mana,’’


tanya salah satu preman itu kepada Aku.  “Ini—saya tidak tau pasti alamat rumah teman saya, tetapi dia bilang


masuk ke dalam gang besar dan terdapat orang-orang sedang berjualan” jawab aku


dengan mengarang kepada preman-preman itu. “Boleh abang antarkan tidak menuju


rumah teman neng?” tanya preman itu untuk mengantar nya ke rumah temannya.


“Tidak perlu bang, saya bisa jalan sendiri menuju rumah teman saya bang” jawab


aku untuk tidak di antaranya menuju rumah temannya. Aku terus di tanya hal itu


oleh preman-preman itu, mereka bertanya sambil tersenyum-senyum yang sangat


menjijikan kepada aku.  Preman-preman itu


mengelilingi Aku dan memegang rambut Aku, lalu meraba tubuh aku. “Bang mau apa


bang megang megang saya bang?” tanya Aku kepada preman-preman itu karena mereka


memegang tubuh aku. “Jangan khawatir, saya tidak ngapa-ngapain Adek, cuman


abang bagi jatah kepada neng untuk malam ini saja” ucap preman itu kepada aku.


“Maksud abang apa, saya tidak mengerti ucapan abang,” tanya Aku kepada preman


itu dengan rasa bingungnya. Di tempat itu sudah sangat sepi dan tidak ada


seorang pun, tentara-tentara Belanda yang biasa banyak di tempat itu juga sudah


tidak terlihat.  Lalu Aku di pukul bagian

__ADS_1


leher belakang hingga pingsan.


__ADS_2