
“Lepaskan dia atau kita habisi kalian,” perintah
seorang pemimpin geng yang cukup di takuti oleh masyarakat di daerah itu.
“Mending kamu tidak usah ikut campur urusan aku” ucap preman kepada seorang
pemimpin geng itu dengan nada menantang. “Sekarang lepaskan perempuan itu
sekarang juga!” perintah pemimpin geng itu kedua kalinya. “Habisi mereka,
cepat!” perintah pemimpin preman tersebut kepada teman-teman nya. “Kami tidak
berani bos, karena kami waktu itu berkelahi dengan mereka dan kami kalah,”
jawab seorang preman kepada pemimpinnya. “Oh, ya sudah kalau begitu, kita kali
ini kita menyatakan bahwa kita kalah”
ucap pemimpin preman pasar tersebut. Lalu preman-preman itu melepaskan aku dari
ikatannya dan mereka semua pergi meninggalkan aku. Aku di bawa ke tempat di
mana orang misterius tersebut bersama anggota gengnya yaitu di pondok nongkrong
nya. “Aduh kasian sekali remaja perempuan yang malang ini, kenapa bisa ia malam-malam
ini berada di sekeliling preman itu?, apa yang ia cari di pasar terbuka ini,
saat malam hari?,” ucap seorang misterius itu kepada Aku, saat aku sedang
pingsan sambil membawa Aku ke tempat ia nongkrong bersama anggota gengnya.
Orang misterius itu sampai di mana ia bersama anggota geng nya nongkrong, yaitu
di sebuah pondok kayu dengan lebar 4×4 meter dan tinggi 3 meter atau muat
sekitar 7 orang, untuk ngopi dan bersantai. Dengan membawa Aku bersamanya.
“Bos itu siapa yang bos bawa?, cantik juga perempuan
yang bos bawa, bos dapat dari mana, lalu ia bos apakan, kenapa bisa ia pingsan
bos?,” tanya seorang anggota geng itu kepada orang misterius yang membawa aku,
orang misterius tersebut ialah pemimpin gengnya. “ini—aku bertemu perempuan ini
saat ia sedang di goda preman depan pasar, lalu aku lihat preman-preman itu
memukul bagian belakang leher perempuan ini, sehabis di pukul bagian leher
belakang perempuan ini oleh preman- preman yang tak berpendidikan itu, aku
lawan preman nya dan aku bawa perempuan ini, untuk ia beristirahat samapai pagi
tiba” jawab pemimpin geng kepada seorang anggota geng yang bertanya dengan
meletakan aku di pondok. “Ohh, jadi begitu cerita nya bos, sampai bisa bos bawa
perempuan itu ke pondok nongkrong kita,” ucap seorang anggota geng itu
menanggapi ucapan pemimpin nya. “Sekarang kita biarkan perempuan ini untuk
tidur di sini sampai pagi, dan kita jaga ia dengan aman” perintah pemimpin geng
kepada anggotanya. “Ok bos, kita akan menjaga ia dengan aman selama semalaman
di pondok ini, kita jadikan ia untuk malam ini sebagai cinderela yang di incar
oleh nenek-nenek jahat,” jawab seorang anggota geng kepada pemimpin nya.
Pemimpin geng itu senyum ketika mendengar ucapan seorang anggotanya yang
berlebihan omongannya. “Ok, sekarang kalian semua boleh tidur dan sebagian
menjaganya, dan bergantian” ucap pemimpin geng itu kepada seluruh anggotanya
untuk menjaga Keni. Mereka semua tidur dengan nyenyak di pondok itu.
“kukuruyuk-kukuruyuk-kukuruyuk,” suara ayam bernyanyi
menyambut pagi hari yang cerah. Matahari menyinari mata Aku yang tertutup.
Kedipan kulit yang menutupi mata Aku karena cahaya matahari yang tertuju di
matanya membuat aku berkedip perlahan menyadarkan dari pingsan nya kemarin
__ADS_1
malam. Aku menarik nafas segar dan menghembuskan nya dengan tangan ke atas dan
perlahan duduk di kayu pondok yang Aku tiduri. “Aku sekarang di mana ini?,
mengapa banyak orang yang tidur di sebelah ku,” tanya aku kepada diri sendiri,
karena aku terkejut banyak orang yang tidur bersamaku. “Sekarang kamu berada di
pondok kayu, tempat aku berkumpul dengan anggota-anggota geng yang aku pimpin”
jawab seorang pemimpin geng kepada Aku. “Kemarin aku lihat kamu di ganggu oleh
preman-preman pasar, lalu kamu di pukul bagian belakang leher nya hingga kamu
pingsan, lalu Aku dan anggota geng aku melawan preman itu, dan membawa kamu ke
pondok ini untuk istirahat sampai pagi,” ucap keterangan pemimpin geng itu
mengenai Keni yang bisa berada di pondok geng nya.
“Cakwe-cakwe-cakwe,” suara orang berjualan cakwe di
dekat pondok itu. “Pak beli pak, cakwenya pak,” panggil pemimpin geng itu
kepada tukang cakwe yang berjualan di dekat pondok nya. “Oh ia dek, tunggu
sebentar ya dek, bapak langsung ke sana ya” jawab tukang cakwe kepada yang
manggilnya. “Beli berapa dek cakwenya?” tanya tukang cakwe kepada pemimpin
geng, “beli lima puluh cakwe pak, aku beli banyak untuk teman-temanku juga pak”
jawab pemimpin geng. “Ok dek, sebentar ya, bapak siapkan dulu ya,” kata tukang
cakwe kepada pembelinya. “Ia pak, aku tunggu pak” jawab pemimpin geng.
“Kenapa kamu mau menolongku saat kemarin?” tanya Aku
kepada pemimpin geng. “Yap, karena kita di sini bertugas untuk menolong
masyarakat sekitar, yang membutuhkan pertolongan, sebisa apa yang Aku dan
anggota ku bisa lakukan,” jawab pemimpin geng kepada aku.
gulden” ucap tukang cakwe kepada pemimpin geng. “Ok pak, ini uangnya pas ya
pak” jawab pemimpin geng kepada tukang cakwe sambil memberikan uang.
“Terimakasih banyak ya dek” ucapan terimakasih tukang cakwe kepada pemimpin
geng. “oh ia pak, Sama-sama pak” jawab pemimpin geng kepada tukang cakwe. “Oh
ia aku boleh kenalan tidak dengan kamu?” tanya aku kepada orang baik itu.
“Boleh, perkenalkan nama ku Densi, aku yang mendirikan pondok ini dan
mengumpulkan anak-anak jalanan ini untuk tinggal bersamaku, serta menjadikan
anggota geng ini bagian dari keluarga ku yang tak akan aku lupakan” jawab Densi
kepada Aku mengenai nama nya. “Oh kalau begitu, aku juga mau memperkenalkan
nama ku dan mengapa aku bisa berada di pasar tadi malam. Namaku Keni, Aku bisa
berada di pasar saat kemarin, karena aku kabur dari rumahku,” kata Aku kepada
Densi.
“Mengapa kamu bisa kabur dari rumah mu?” tanya Densi
kepada Aku. “Karena aku benci yang
namanya PERATURAN, aku ingin hidup tanpa sebuah peraturan, dan Aku pikir hidup
tanpa peraturan yaitu di jalanan, maka aku putuskan untuk keluar dan kabur dari
rumahku,” jawab Aku kepada pertanyaan Densi. “Oh jadi kamu tidak menyukai yang
namanya peraturan, kalau begitu apakah kamu mau bergabung dengan geng ini yang
tidak memiliki aturan sama sekali?” tanya Densi kepada Aku, untuk bergabung
dengan geng yang ia buat. “Mau, aku mau bergabung dengan geng ini, karena aku
bingung harus kemana lagi” jawab Aku mengenai tawaran yang Densi berikan. “Ok kalau
__ADS_1
begitu kamu mulai hari ini menjadi anggota bagian dari geng ini, geng ini
bernama geng Tarata,” ucap Densi kepada aku. “Kalau boleh tau, mengapa kamu
mendirikan pondok ini dan mengapa kamu bisa di sini?” tanya Aku kepada Densi
mengenai pondok yang ia dirikan. “Ok aku akan menceritakan mengapa aku bisa di
sini dan mendirikan sebuah pondok” jawab Densi kepada Keni.
Waktu itu aku bersekolah di SMAN 77, aku saat itu
sangat rajin dan lumayan pintar di kelas, saat itu aku bertemu dengan seseorang
dan orang itu bersekolah di SMAN 77, ia kelas 10 SMA, sama dengan ku.Tetapi ia
beda kelas, aku kelas 10a dan ia kelas 10c, orang itu bernama Aliken, Aliken
adalah orang yang pintar dan rajin. Pada suatu hari di sekolah ada pelajaran
olahraga, anak-anak seluruh SMA 10 dari A sampai D di suruh kumpul di lapangan
untuk mengikuti pelajaran olah raga. Saat itu aku tidak sengaja mendorong
Aliken hingga terjatuh, ia terjatuh ke dalam saluran air yang berada di sisi
sekolah itu, yang terdapat di pinggir lapangan, lalu ia berdiri dari jatuhnya
dengan wajah penuh dengan darah. Aliken pun menjerit kesakitan, karena wajahnya
yang terluka parah, ia pun langsung di larikan ke rumah sakit terdekat untuk di
tangani. Orang tuaku di panggil ke sekolah untuk di berikan surat peringatan karena
aku. Saat itu aku sangat merasa bersalah sekali dengan apa yang aku buat. Aku
mengakui kesalahan dengan memberikan seluruh uang yang aku miliki kepada kedua
orang tua Aliken. Saat pulang sekolah, aku menuju rumah Aliken untuk bertemu
kedua orang tuanya dan memberikan seluruh uangku kepadanya untuk biaya
pengobatannya.
Saat aku mengetuk pintu rumah
Aliken, orang tua(Ayah) Aliken keluar dengan membawa tongkat yang ia copot dari
sapu yang ia punya. Aku berkata, “pak aku sangat minta maaf apa yang telah aku
lakukan, aku sangat menyesali apa yang telah aku perbuat, ini saya ada uang,
tapi tidak banyak untuk membiayai pengobatan Aliken pak.” Tetapi yang Ayah
Aliken lakukan ialah memanggil warga setempat dengan berteriak “maling”
“maling” “maling.” Lalu, warga pun datang dan berkata... kenapa pak Situmorang,
mana maling nya... Ini pak, dia maling nya pak, lalu aku di hajar habis oleh
seluruh warga yang berada di hadapan aku, karena aku di duga maling oleh warga.
Setelah itu warga pergi meninggalkan
aku, lalu bapak Situmorang berkata “itu belum seberapa dari uang yang kamu
bawa.” Aku memang tidak banyak membawa uang. Aku pun pergi meninggalkan bapak
dan ibu Aliken. Aku pergi menuju rumah sakit yang Aliken gunakan untuk berobat.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku melihat dari jendela kamar Aliken berobat,
ia sedang kritis di atas tempat tidur. Dokter yang merawat Aliken keluar dari
kamarnya dan berkata “Apakah anda bagian dari keluarga pasien” Aku menjawab
“ia, aku bagian dari keluarga pasien, ada masalah apa dengan kakak ku,” aku
berbohong kepada dokter demi memastikan Aliken baik baik saja. “Pasien
kekurangan darah, ia sangat memerlukan pendonor yang sama dengan nya,
karena saat pasien di bawa ke rumah sakit ini, darah pasien bertumpahan di
dalam Ambulance,” ucap dokter kepada ku.
__ADS_1