Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
masuknya ke suatu negeri.


__ADS_3

Warga yang di


suruh berhenti melakukan kegiatan jual beli di jalan kepada polisi menolak dan


tidak akan berhenti melakukan kegiatan jual-beli di jalan itu. Polisi pun


melakukan sosialisasi kepada warga-warga yang menolak nya itu. Seorang polisi


berusaha untuk meyakinkan warga-warga yang menolak itu, dan berbagai pendekatan


yang cukup lama akhirnya warga pun setuju dengan apa yang diminta polisi itu.


Dan bagian lain jalan daerah itu tatap saja tidak ingin  kegiatan jual-beli di tempat itu berhenti.


Meskipun berbagai pendekatan sudah di lakukan, tetapi warga tetap saja  menghiraukan polisi yang berbicara di depan


nya. Polisi yang berada di tempat itu hanya bisa melakukan pemaksaan kepada


warga-warga itu ketika mendapatkan izin dari pemerintah pusat. Polisi itu tidak


dapat melakukan pemaksaan kepada warga dengan seenaknya saja, terpaksa jalan


yang warga tidak setujui itu tidak boleh di lalui mobil dan motor apa pun, dan


polisi itu akan melakukan operasi penangkapan Densi dengan berjalan kaki di


daerah yang di larang warga itu.


Setelah


polisi-polisi yang berupaya meyakini warga untuk tidak melakukan jual-beli di


jalanan, ia memberikan info yang ia dapat kepada komandan kepolisian, dan di


setujuilah oleh komandan kepolisian Batavia untuk segera melakukan operasi


besar-besaran untuk menangkap buronan Densi dan anggotanya. Setelah mendapatkan


izin dari komandan, di mulailah operasi itu. Operasi itu di kenal dengan


operasi “Naden” operasi Naden adalah salah satu operasi besar yang di lakukan


kepolisian Batavia selain operasi terorisme. Operasi Naden melibatkan seribu


personil polisi, dua helikopter, lima ratus motor kepolisian dan dua puluh lima


mobil berat. Daerah rambutan nyatanya merupakan daerah terbesar ke dua di


Batavia pada saat itu dengan luas daerah itu sekitar seratus kilometer persegi.


Karena luas itulah maka di perlukan operasi besar-besaran untuk menangkap


sekelompok orang. Sangat besar kemungkinan jika buronan itu di tangkap akan di


hukum mati.


Suara bising


motor memenuhi lapangan kepolisian Batavia, lima ratus motor yang terdapat di


luar lapangan, di dalam lapangan dan bagian kepolisian itu bernyala secara


bersamaan. Mereka hanya membutuhkan aba- aba dari komandan kepolisian Batavia,


lalu komandan kepolisianpun menurunkan bendera yang di pegang nya itu di


hadapan lima ratus motor yang akan  melakukan kegiatan operasi Naden. Setelah bendera yang di pegang oleh


komandan kepolisian Batavia itu di turunkan, secara bersamaan semua motor yang


akan melakukan kegiatan operasi Naden itu berjalan menuju tempat yang sudah di


perintahkan itu. Ada sekitar seratus titik yang di persiapkan oleh komandan


itu. Karena pada saat itu tidak ada gedung-gedung tinggi, maka operasi Naden


itu bisa di bilang sangat mudah di lakukan, jalanan yang teratur itu juga


merupakan kemudahan berjalannya operasi Naden itu.

__ADS_1


Motor-motor


kepolisian Batavia setelah cukup jauh dari kepolisian, berpencarlah motor-motor


itu. Ada yang masuk kedalam jalan-jalan kecil, ada yang turun dari motornya


karena jalan yang tidak mendukung, ada juga yang melewati jalan-jalan besar.


Dengan sangat terpaksa polisi itu jika memasuki rumah warga akan melemparkan


gas air mata ke dalam rumah warga itu. Polisi memang tidak mengetahui bahwa di


dalam rumah itu ialah buron yang di cari atau bukan, mereka hanya mengetahu


bahwa perintah komandan ialah “jika kalian memasuki rumah warga kalian


lemparkan gas air mata ke dalam nya, dan jika kalian melihat pergerakan yang


mencurigakan, sergap dan tangkap orang itu,” karena mendengar perintah komandan


nya itu, mereka berani melemparkan gas air mata ke dalam rumah-rumah warga.


Tidak sedikit warga yang di lihat mencurigakan, maka dari itu banyak warga yang


di tangkap dan di sergap oleh polisi itu untuk di saring dan di saring, hingga


mendapatkan buronan itu. Sudah sekitar dua puluh warga yang di tangkap oleh


polisi-polisi itu karena terlihat mencurigakan, mereka di kumpulkan di lapangan


kepolisian Batavia, satu per satu di saring dari lapangan untuk mengetahui


buronan itu, semua warga yang berada di lapangan itu di nyatakan tidak bersalah


dan tidak bersangkutan sedikitpun oleh masalah itu.


Densi yang


berada di rumah nya telah siap ke rumah Aliken untuk membunuh nya. Jam saat itu


sudah pukul delapan lewat dua puluh pagi. Densi sudah berpakaian layaknya orang


dari atas kaki hingga leher, ia juga mengenakan kacamata, kumis palsu dan alis


palsu, nyaris sekali tidak seperti Densi, sampai aku juga tidak mengenali Densi


sedikitpun. Bukan hanya Densi yang mengenakan seragam, tetapi ada dua orang


yang sama sepertinya, dua orang itu juga aku seperti tidak mengenalinya, aku di


sana juga sangat riang gembira dan sangat yakin bahwa rencana pembunuhan itu


dapat berjalan dengan lancar. Mobilnya pun seperti mobil yang biasa di pakai


oleh orang yang selalu mengecek listrik rumah warga.


Aliken yang


sedang berada di rumah nya di tanyakan oleh ibu nya “adek mengapa tidak sekolah


hari ini?,  adek harus tampil di sekolah


sebagai pemamdu acara natal,” kata ibu Reni kepada Aliken, “mama sudah di pilih


oleh sekolah adek sebagai kepala sekolah SMAN 77, pasti adek senang mendengar


hal itu, mama sebenarnya ingin memberikan kejutan ini saat adek di sekolah,


tetapi adek belum berangkat sekolah juga, akhirnya mama kasih kejutan ini di


rumah, ya sudah jika begitu, mamah berangkat sekolah duluan ya, nanti Aliken


menyusul ke sekolah, ingat ya acara natal di mulai pada pukul 10.00 dan


sekarang sudah pukul 08.25, jadi tidak ada kata telat untuk menghadiri acara


natal nanti.”  Acara Natal di SMAN 77 di


bagi menjadi dua sesi, sesi pertama ialah acara Natal pada umumnya yaitu

__ADS_1


pertunjukan bakat-bakat murid yang di miliknya, dan sesi kedua di adakan pada


malam hari jam delapan malam, pada jam delapan malam adalah acara malam Natal,


dimana semua murid SMAN 77 memgang lilin di tangannya dengan di iringi paduan


suara dan penyanyi vokal. “Ia mah, mamah pergi duluan saja ke sekolah, nanti


adek berangkat dengan Asmira tepat waktu” jawab Aliken kepada mamanya itu yang hendak


meninggalkan nya. “Ok jika begitu, mamah akan pergi ke sekolah duluan” kata


mamanya menjawab kata-katanya Aliken itu.


Saat ibu Reni


hendak keluar dari rumah nya, ia terkejut melihat lima polisi yang sedang


berada di luar rumah nya, kelima polisi itu memakai seragam lengkap dengan


pistol dan helm polisi yang khas. Ia menanyakan kepada polisi itu “pak ada


masalah apa ya dirumah ku ini?. Mengapa banyak polisi yang berada di luar rumah


ku ini” polisi itu menjawab “kami hanya mengikuti arahan komandan kami, intinya


ibu tidak perlu khawatir akan semua ini, tetapi izinkan kami masuk ke dalam


rumah ini untuk melihat pergerakan yang mencurigakan.” Lalu polisi itu masuk


kedalam rumah ibu Reni dan mulai melemparkan beberapa gas air mata ke dalam


nya. Banyaknya asap putih itu memenuhi rumah ibu Reni, ibu Reni yang hendak


masuk ke dalam rumahnya itu sampai-sampai ia tidak melihat sesuatu di dalam


nya, dan ibu Reni keluar dari rumah nya itu untuk berangkat ke sekolah nya.


Aliken yang berada di kamarnya mengetahui bahwa polisi itu berada di luar


kamarnya, ia langsung mengumpat di bawah ranjang kasurnya itu untuk menghindari


polisi yang akan menangkap nya. Polisi itu masuk ke dalam kamar Aliken dan


langsung melemparkan gas air mata itu. Kamar Aliken pun di penuhi oleh gas yang


berwarna putih di sekitarnya, polisi-polisi itu tidak menemukan  orang di dalam ruangan-ruangan rumah nya itu.


Hingga akhirnya polisi itu dapat memastikan jika tidak ada orang di dalam rumah


nya itu.


Setelah


polisi-polisi itu pergi dari rumahnya, Aliken yang berada di kolong ranjang


kasurnya itu keluar dari tempat itu. Ia batuk-batuk karena gas air mata itu.


Setelah itu ia tidak bisa menunggu Asmira lama-lama. Aliken menyadari bahwa


Densi sudah dekat dari rumah nya itu. Aku tidak tau apa yang membuat ia sadar


mengenai Densi yang sudah dekat dari rumah nya itu, ternyata betul, Densi sudah


dekat dari rumah Aliken. Ia sudah berada di luar rumah Aliken. Densi bersama


dua teman nya mulai berjalan memasuki rumah Aliken. Aliken yang berada di


kamarnya itu sudah menyiapkan tali yang akan ia gunakan menggantung dirinya. Ia


juga sudah menyiapkan  tali yang berada


di sebelah nya untuk Asmira. Pada saat Aliken hendak menggantung dirinya, ia


melihat Asmira yang sedang berlari ke rumah nya itu dari jendela kamarnya,


betapa bahagianya Aliken melihat Asmira yang berlari menuju rumah nya itu,


sesampainya di luar jendela kamar Aliken, Aliken langsung membukakan jendela

__ADS_1


itu dan mengangkat Asmira yang berada di luar jendelanya menuju kamarnya itu.


__ADS_2