
Warga yang di
suruh berhenti melakukan kegiatan jual beli di jalan kepada polisi menolak dan
tidak akan berhenti melakukan kegiatan jual-beli di jalan itu. Polisi pun
melakukan sosialisasi kepada warga-warga yang menolak nya itu. Seorang polisi
berusaha untuk meyakinkan warga-warga yang menolak itu, dan berbagai pendekatan
yang cukup lama akhirnya warga pun setuju dengan apa yang diminta polisi itu.
Dan bagian lain jalan daerah itu tatap saja tidak ingin kegiatan jual-beli di tempat itu berhenti.
Meskipun berbagai pendekatan sudah di lakukan, tetapi warga tetap saja menghiraukan polisi yang berbicara di depan
nya. Polisi yang berada di tempat itu hanya bisa melakukan pemaksaan kepada
warga-warga itu ketika mendapatkan izin dari pemerintah pusat. Polisi itu tidak
dapat melakukan pemaksaan kepada warga dengan seenaknya saja, terpaksa jalan
yang warga tidak setujui itu tidak boleh di lalui mobil dan motor apa pun, dan
polisi itu akan melakukan operasi penangkapan Densi dengan berjalan kaki di
daerah yang di larang warga itu.
Setelah
polisi-polisi yang berupaya meyakini warga untuk tidak melakukan jual-beli di
jalanan, ia memberikan info yang ia dapat kepada komandan kepolisian, dan di
setujuilah oleh komandan kepolisian Batavia untuk segera melakukan operasi
besar-besaran untuk menangkap buronan Densi dan anggotanya. Setelah mendapatkan
izin dari komandan, di mulailah operasi itu. Operasi itu di kenal dengan
operasi “Naden” operasi Naden adalah salah satu operasi besar yang di lakukan
kepolisian Batavia selain operasi terorisme. Operasi Naden melibatkan seribu
personil polisi, dua helikopter, lima ratus motor kepolisian dan dua puluh lima
mobil berat. Daerah rambutan nyatanya merupakan daerah terbesar ke dua di
Batavia pada saat itu dengan luas daerah itu sekitar seratus kilometer persegi.
Karena luas itulah maka di perlukan operasi besar-besaran untuk menangkap
sekelompok orang. Sangat besar kemungkinan jika buronan itu di tangkap akan di
hukum mati.
Suara bising
motor memenuhi lapangan kepolisian Batavia, lima ratus motor yang terdapat di
luar lapangan, di dalam lapangan dan bagian kepolisian itu bernyala secara
bersamaan. Mereka hanya membutuhkan aba- aba dari komandan kepolisian Batavia,
lalu komandan kepolisianpun menurunkan bendera yang di pegang nya itu di
hadapan lima ratus motor yang akan melakukan kegiatan operasi Naden. Setelah bendera yang di pegang oleh
komandan kepolisian Batavia itu di turunkan, secara bersamaan semua motor yang
akan melakukan kegiatan operasi Naden itu berjalan menuju tempat yang sudah di
perintahkan itu. Ada sekitar seratus titik yang di persiapkan oleh komandan
itu. Karena pada saat itu tidak ada gedung-gedung tinggi, maka operasi Naden
itu bisa di bilang sangat mudah di lakukan, jalanan yang teratur itu juga
merupakan kemudahan berjalannya operasi Naden itu.
__ADS_1
Motor-motor
kepolisian Batavia setelah cukup jauh dari kepolisian, berpencarlah motor-motor
itu. Ada yang masuk kedalam jalan-jalan kecil, ada yang turun dari motornya
karena jalan yang tidak mendukung, ada juga yang melewati jalan-jalan besar.
Dengan sangat terpaksa polisi itu jika memasuki rumah warga akan melemparkan
gas air mata ke dalam rumah warga itu. Polisi memang tidak mengetahui bahwa di
dalam rumah itu ialah buron yang di cari atau bukan, mereka hanya mengetahu
bahwa perintah komandan ialah “jika kalian memasuki rumah warga kalian
lemparkan gas air mata ke dalam nya, dan jika kalian melihat pergerakan yang
mencurigakan, sergap dan tangkap orang itu,” karena mendengar perintah komandan
nya itu, mereka berani melemparkan gas air mata ke dalam rumah-rumah warga.
Tidak sedikit warga yang di lihat mencurigakan, maka dari itu banyak warga yang
di tangkap dan di sergap oleh polisi itu untuk di saring dan di saring, hingga
mendapatkan buronan itu. Sudah sekitar dua puluh warga yang di tangkap oleh
polisi-polisi itu karena terlihat mencurigakan, mereka di kumpulkan di lapangan
kepolisian Batavia, satu per satu di saring dari lapangan untuk mengetahui
buronan itu, semua warga yang berada di lapangan itu di nyatakan tidak bersalah
dan tidak bersangkutan sedikitpun oleh masalah itu.
Densi yang
berada di rumah nya telah siap ke rumah Aliken untuk membunuh nya. Jam saat itu
sudah pukul delapan lewat dua puluh pagi. Densi sudah berpakaian layaknya orang
dari atas kaki hingga leher, ia juga mengenakan kacamata, kumis palsu dan alis
palsu, nyaris sekali tidak seperti Densi, sampai aku juga tidak mengenali Densi
sedikitpun. Bukan hanya Densi yang mengenakan seragam, tetapi ada dua orang
yang sama sepertinya, dua orang itu juga aku seperti tidak mengenalinya, aku di
sana juga sangat riang gembira dan sangat yakin bahwa rencana pembunuhan itu
dapat berjalan dengan lancar. Mobilnya pun seperti mobil yang biasa di pakai
oleh orang yang selalu mengecek listrik rumah warga.
Aliken yang
sedang berada di rumah nya di tanyakan oleh ibu nya “adek mengapa tidak sekolah
hari ini?, adek harus tampil di sekolah
sebagai pemamdu acara natal,” kata ibu Reni kepada Aliken, “mama sudah di pilih
oleh sekolah adek sebagai kepala sekolah SMAN 77, pasti adek senang mendengar
hal itu, mama sebenarnya ingin memberikan kejutan ini saat adek di sekolah,
tetapi adek belum berangkat sekolah juga, akhirnya mama kasih kejutan ini di
rumah, ya sudah jika begitu, mamah berangkat sekolah duluan ya, nanti Aliken
menyusul ke sekolah, ingat ya acara natal di mulai pada pukul 10.00 dan
sekarang sudah pukul 08.25, jadi tidak ada kata telat untuk menghadiri acara
natal nanti.” Acara Natal di SMAN 77 di
bagi menjadi dua sesi, sesi pertama ialah acara Natal pada umumnya yaitu
__ADS_1
pertunjukan bakat-bakat murid yang di miliknya, dan sesi kedua di adakan pada
malam hari jam delapan malam, pada jam delapan malam adalah acara malam Natal,
dimana semua murid SMAN 77 memgang lilin di tangannya dengan di iringi paduan
suara dan penyanyi vokal. “Ia mah, mamah pergi duluan saja ke sekolah, nanti
adek berangkat dengan Asmira tepat waktu” jawab Aliken kepada mamanya itu yang hendak
meninggalkan nya. “Ok jika begitu, mamah akan pergi ke sekolah duluan” kata
mamanya menjawab kata-katanya Aliken itu.
Saat ibu Reni
hendak keluar dari rumah nya, ia terkejut melihat lima polisi yang sedang
berada di luar rumah nya, kelima polisi itu memakai seragam lengkap dengan
pistol dan helm polisi yang khas. Ia menanyakan kepada polisi itu “pak ada
masalah apa ya dirumah ku ini?. Mengapa banyak polisi yang berada di luar rumah
ku ini” polisi itu menjawab “kami hanya mengikuti arahan komandan kami, intinya
ibu tidak perlu khawatir akan semua ini, tetapi izinkan kami masuk ke dalam
rumah ini untuk melihat pergerakan yang mencurigakan.” Lalu polisi itu masuk
kedalam rumah ibu Reni dan mulai melemparkan beberapa gas air mata ke dalam
nya. Banyaknya asap putih itu memenuhi rumah ibu Reni, ibu Reni yang hendak
masuk ke dalam rumahnya itu sampai-sampai ia tidak melihat sesuatu di dalam
nya, dan ibu Reni keluar dari rumah nya itu untuk berangkat ke sekolah nya.
Aliken yang berada di kamarnya mengetahui bahwa polisi itu berada di luar
kamarnya, ia langsung mengumpat di bawah ranjang kasurnya itu untuk menghindari
polisi yang akan menangkap nya. Polisi itu masuk ke dalam kamar Aliken dan
langsung melemparkan gas air mata itu. Kamar Aliken pun di penuhi oleh gas yang
berwarna putih di sekitarnya, polisi-polisi itu tidak menemukan orang di dalam ruangan-ruangan rumah nya itu.
Hingga akhirnya polisi itu dapat memastikan jika tidak ada orang di dalam rumah
nya itu.
Setelah
polisi-polisi itu pergi dari rumahnya, Aliken yang berada di kolong ranjang
kasurnya itu keluar dari tempat itu. Ia batuk-batuk karena gas air mata itu.
Setelah itu ia tidak bisa menunggu Asmira lama-lama. Aliken menyadari bahwa
Densi sudah dekat dari rumah nya itu. Aku tidak tau apa yang membuat ia sadar
mengenai Densi yang sudah dekat dari rumah nya itu, ternyata betul, Densi sudah
dekat dari rumah Aliken. Ia sudah berada di luar rumah Aliken. Densi bersama
dua teman nya mulai berjalan memasuki rumah Aliken. Aliken yang berada di
kamarnya itu sudah menyiapkan tali yang akan ia gunakan menggantung dirinya. Ia
juga sudah menyiapkan tali yang berada
di sebelah nya untuk Asmira. Pada saat Aliken hendak menggantung dirinya, ia
melihat Asmira yang sedang berlari ke rumah nya itu dari jendela kamarnya,
betapa bahagianya Aliken melihat Asmira yang berlari menuju rumah nya itu,
sesampainya di luar jendela kamar Aliken, Aliken langsung membukakan jendela
__ADS_1
itu dan mengangkat Asmira yang berada di luar jendelanya menuju kamarnya itu.