
“Kalau boleh tau golongan darah kakak ku ini apa
ya... soal nya saya beda ibu,” aku bertanya kepada dokter mengenai golongan
darah nya. “golongan darah pasien ialah O, dokter menjawab bahwa golongan darah
Aliken ialah O. “Kalau begitu, aku saja yang menjadi pendonor darah buat kakak
saya, karena golongan darah saya O,” aku memohon kepada dokter tersebut untuk
menjadikan aku sebagai pendonor darahnya. “Ok, kalau begitu, ikut saya ke ruang
pendonor untuk di ambil darah nya, dan di donor kepada kakak kamu,” aku di bawa
ke ruang pendonor untuk di ambil sebagian darah yang ada dalam tubuhku. “Ok,
apakah adek siap untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh adek untuk di
donorkan?” tanya dokter kepada aku saat aku sudah terbaring di kasur pendonor
darah. “Ok, aku siap dok untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh ku untuk di
donorkan, tetapi aku mau berkata kepada dokter, mohon untuk tidak memberi tau
siapa-siapa bahwa aku lah yang mendonorkan darah ku untuk pasien, dan juga
jangan beri tau bahwa aku ini kakaknya dia, karena aku ini sebenarnya bukan
siapa-siapa pasien” aku memohon kepada dokter untuk tidak memberi tau kepada
siapa-siapa bahwa aku ini Pendonor nya. “Siap dek, dokter tidak akan memberi
tau kepada siapa-siapa bahwa adek lah yang mendonorkan darahnya” dokter
menyetujui apa yang aku katakan. Aku terasa sangat lemas saat selesai pengambilan darah dalam tubuh
ku.
“Darah yang adek berikan berhasil masuk ke dalam
tubuh pasien, jika tadi saja telat memasukan darah adek ke tubuh pasien, kemungkinan
besar pasien tidak akan selamat” ucap dokter kepada ku. Darah yang aku berikan
berhasil di masukan ke dalam tubuh Aliken yang kekurangan darah. Aliken pun
sadar dari kritis nya, dan semakin hari semakin membaik kondisinya. Suatu hari
Aliken dapat kembali ke sekolahnya. Aku mengahampiri Aliken untuk mengucapkan
permohonan maaf atas kejadian yang menimpa Aliken saat itu. “Aliken, aku mau
meminta maaf kepada Aliken atas kejadian yang tidak di sengaja waktu itu” ucap
permintaan maaf ku kepada Aliken. “Aku.. tidak akan memaafkan apa yang kamu
lakukan kepada ku, karena aku anggap yang kamu lakukan ialah hal yang di
sengaja dan di rencanakan, sekarang Densi pergi dari hadapan ku sekarang juga.”
Aliken tidak akan memaafkan perbuatan ku yang sangat tidak di sengaja. Aku
tetap berbicara kepada Aliken “aku tidak sengaja Aliken, aku mohon untuk
memaafkan ku Aliken.” “pergi” “pergi” “pergi sekarang juga dari hadapan ku”
teriak Aliken kepada ku dengan sangat keras.
Sehabis Aliken berteriak, aku pergi dari hadapan nya
dan Aliken pun tidak memaafkan kelakuan yang tidak aku tidak sengaja kepadanya.
Aku pergi untuk mengikuti kegiatan KMB sekolah yang sedang berlangsung. Bel
sekolah berbunyi sangat panjang yang menandakan kegiatan mengajar belajar
selesai di lakukan. Anak-anak di persilakan untuk kembali ke rumah nya
masing-masing atau meninggalkan sekolah. Aku merasa sangat capek sekali saat
itu, maka aku memutuskan untuk pulang lewat jalan cepat, yaitu melewati rumah
Aliken. Saat aku jalan menuju rumah Aku, ada seseorang kira-kira berusia 34
tahun berteriak kepada waga yang lain, “maling” “maling” “maling” “ada maling
di sini.” Seluruh warga pun berkumpul lebih banyak dari saat bapak Situmorang
memanggil waktu itu. “Ini bukan yang waktu itu maling di rumah bapak Situmorang
ya?” ucap seorang warga yang saat itu memukuli aku di luar rumah bapak
__ADS_1
situmorang. Tentara-tentara Belanda yang berada di sekitar tempat itu mendengar
ada seorang yang meneriak ada maling di tempatnya, namun mereka tidak peduli
dengan apa yang terjadi selain pemberontakan terhadap pihak Belanda, di luar
itu mereka sangat tidak peduli. Aku di
suruh tiarap di jalanan dan menunggu ada seseorang yang membelanya. Aliken
melewati tempat di mana aku tiarap di
jalanan. Aliken mengenakan masker dan
kaca mata hitam. “Aku bukan maling pak, kalau bapak mau buktikan aku bukan
maling, bapak tanya kepada anak itu ,yang menggunakan masker dan kacamata pak,
sumpah pak, aku bukan maling pak”
Seorang warga memanggil orang yang di maksud dan
berkata “dek, adek kenal anak ini tidak?.” Aliken tidak menjawab, karena ia tidak menoleh ke
belakang dan melihat wajah orang tersebut. Aku pun di pukul habis oleh warga
hingga wajah ku bonyok dan hampir mati. Sejak saat itu aku memiliki rasa benci
dan ingin menghabisi Aliken. Yang aku pikirkan saat itu ialah “mengapa Aliken
sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga sekitar, padahal aku rela
memberikan sebagian darah ku saat itu, untuk menyelamatkan nyawanya.” Aku tidak
menghitung-hitung kebaikan aku kepada Aliken, tetapi yang aku maksud ialah
mengapa Aliken sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga. “Kenapa dia
sangat tega melakukannya?.” Selesai aku berfikir cukup lama, aku dapat
menyimpulkan “aku tidak akan pernah mau bersekolah lagi, karena bagi ku sekolah
tempat paling aku benci di seluruh dunia. Aku kembali ke rumahku karena sudah pukul tujuh malam. “Nak, papah baru saja
di keluarkan dari tempat kerja papah, karena papah di tuduh mencuri uang
seorang karyawan teman papah, mulai hari ini Densi harus hidup hemat ya nak,”
ucap papah ku kepada ku saat aku baru pulang dari sekolah. Hidup aku saat itu
mendengar Ayah aku di keluarkan dari tempat kerjanya. “Ia pah, papah besok ke
sekolah untuk mengajukan surat berhenti sekolah, aku sudah malas sekolah pah”
kata ku kepada papahku. Keesokan harinya papahku ke sekolah untuk mengajukan
surat berhenti sekolah kepada guru aku.
Aku pun berhenti sekolah. Berhari hari aku
nganggur. Pada suatu hari aku berfikir
untuk membangun sebuah pondok nongkrong dan mendirikan sebuah geng yang di
takuti oleh masyarakat. Aku pun mulai mencari kerja dan mendapatkannya. Aku
mulai menabung dan terkumpul lah uang yang aku hasilkan dari kerja kerasku.
Lalu uang tersebut aku gunakan untuk membangun sebuah pondok nongkrong yang
tidak terlalu besar. Dan aku kumpulkan seluruh anak jalanan yang berada di
sekitar pasar ini sebanyak 10 orang. Lalu aku namakan geng Tarata. “Itulah
cerita mengapa aku bisa di sini dan mendirikan pondok ini” itulah cerita Densi,
mengapa ia bisa di tempat itu dan mendirikan pondok sambil memakan cakwe
bersama aku. “Ohh, jadi begitu ceritanya,” jawab aku terhadap ceritanya yang di
ceritakan Densi.
Anggota geng Densi yang tidur terbangun mendengar
Densi dan Aku berbincang bincang mengenai kehidupan keduanya. “Aduh laper nih,
uda ada makan belum?,” tanya Seorang anggota kepada Densi tentang makan, begitu
ia bangun dari tidur nya. “Itu ada cakwe, tadi aku beli banyak untuk kalian
semua” jawab Densi mengenai makanan yang ia beli. “Keni kamu harus tetap
__ADS_1
waspada ya di tempat ini, karena geng seperti kita di tempat ini banyak dan
saling bermusuhan satu sama lain,” ucap Densi kepada aku untuk tetap waspada
dengan tempat yang ia tinggali. “Ok, aku akan tetap waspada, dengan tempat ini”
jawab Aku kepada Densi mengenai kewaspadaan dengan tempat yang ia tinggali saat
ini. Ternyata saat aku sudah berada di tempat itu, sejak kemarin malam, aku di
mata-matai oleh anggota geng anggota lain, yang bermusuhan dengan geng Tarata.
Lalu anggota geng tersebut yang memata matai aku menuju ke tempat dimana
pemimpin nya berada. Geng yang memata- matai keberadaan Aku bernama geng
Terosi. “Bos.. ternyata geng Tarata memiliki anggota baru, yaitu perempuan yang
bernama Keni,” ucap anggota geng Terosi kepada pemimpin nya yang bernama Evan.
“Menurut kalian semua, kalau kita bawa Keni ke tempat ini, untuk membebaskan
nya kita meminta kepada Densi selaku pemimpin geng Tarata apa ya?,” tanya evan
kepada seluruh anggotanya, yang berjumlah sepuluh orang bersama Evan.
“bagaimana jika kita meminta pondok jelek itu, karena
begitu kita mendapatkan pondok jelek itu, secara otomatis mereka tidak memiliki
tempat untuk berkumpul dan nongkrong, jika mereka tidak berkumpul, maka mereka
bukan lagi sebuah geng di tempat ini” jawab seorang anggota geng Terosi yang
bernama Koli kepada Evan. “Apakah ada yang memiliki saran lagi atau sebuah ide
untuk melumpuhkan geng Tarata?,” tanya Evan kepada seluruh anggota nya. “Kalau
saran saya, bagaimana jika kita mengikuti ide nya Koli, kita tidak memiliki ide
sama sekali karena kita tidak tamat SD, hanya Koli yang tamat SD” kata seorang
anggota kepada pertanyaan Evan. “Ok kalau begitu, kita ikutin saran dan ide
yang Koli berikan” ucap Evan kepada seluruh anggotanya. “Sekarang kalian semua
tangkap Keni sekarang juga, bawa ia ke tempat ini, bilang kepadanya ada sebuah
acara ulang tahun,” perintah Evan kepada seluruh anggotanya untuk menangkap
Keni.
“Ok Keni, kamu tetap waspada di sini ya bersama
anggota lain nya, aku mau membeli makan untuk makan siang nanti,” kata Densi
kepada aku untuk tetap waspada, karena ia mau membeli makanan untuk makan siang
nanti. Densi pergi membeli makanan untuk di makan nanti siang. “Itu Densi sudah
pergi,” ucap seorang anggota geng Terosi kepada seorang anggotanya, dengan
suara pelan nya di sekitar rumah warga yang dekat dengan pondok itu. “Sekarang
kita bagi tugas, aku menangkap Keni dan yang lainnya menahan seluruh anggota
geng Tarata, jangan ada yang biarkan Keni di jaga, alihkan seluruh anggota untuk
tidak menjaga Keni,” perintah Koli kepada seluruh anggotanya. Pondok Densi
berada di tengah-tengah rumah warga dan di dalam gang yang lumayan besar. “Ayo
sekarang jalankan rencana nya” ucap Koli kepada anggotanya. Lalu seluruh
anggota geng Terosi berjalan secara perlahan melewati rumah warga ke rumah
warga lainya, hingga sampai di pondok tersebut. Rencana yang di buat oleh Koli
untuk menangkap Keni pun di jalankan satu demi satu. Geng Terosi menyerang geng
Tarata dengan kayu yang di tangan nya. “Ada geng Terosi sedang mengarah kepada
kita, semuanya pegang kayu yang berada di belakang pondok, “seraang,” ucap
seorang geng Tarata kepada anggotanya. Geng Tarata dan geng Terosi pun saling
serang-menyerang menggunakan kayu yang berada di tangan nya. “Awas ada kayu
mengarah ke kepala mu,!” ucap seorang anggota geng Tarata kepada temannya
dengan cepat. “Pukul kepalanya higga benjol,” ucapan geng Terosi kepada
__ADS_1
temannya. Sementara yang lain lagi serang- menyerang. Koli anggota geng Terosi
menculik Keni dengan sangat mudah dan meletakan surat di pondok tersebut.