Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
Keni dan Densi.


__ADS_3

“Kalau boleh tau golongan darah kakak ku ini apa


ya... soal nya saya beda ibu,” aku bertanya kepada dokter mengenai golongan


darah nya. “golongan darah pasien ialah O, dokter menjawab bahwa golongan darah


Aliken ialah O. “Kalau begitu, aku saja yang menjadi pendonor darah buat kakak


saya, karena golongan darah saya O,” aku memohon kepada dokter tersebut untuk


menjadikan aku sebagai pendonor darahnya. “Ok, kalau begitu, ikut saya ke ruang


pendonor untuk di ambil darah nya, dan di donor kepada kakak kamu,” aku di bawa


ke ruang pendonor untuk di ambil sebagian darah yang ada dalam tubuhku. “Ok,


apakah adek siap untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh adek untuk di


donorkan?” tanya dokter kepada aku saat aku sudah terbaring di kasur pendonor


darah. “Ok, aku siap dok untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh ku untuk di


donorkan, tetapi aku mau berkata kepada dokter, mohon untuk tidak memberi tau


siapa-siapa bahwa aku lah yang mendonorkan darah ku untuk pasien, dan juga


jangan beri tau bahwa aku ini kakaknya dia, karena aku ini sebenarnya bukan


siapa-siapa pasien” aku memohon kepada dokter untuk tidak memberi tau kepada


siapa-siapa bahwa aku ini Pendonor nya. “Siap dek, dokter tidak akan memberi


tau kepada siapa-siapa bahwa adek lah yang mendonorkan darahnya” dokter


menyetujui apa yang aku katakan. Aku terasa sangat lemas  saat selesai pengambilan darah dalam tubuh


ku.


“Darah yang adek berikan berhasil masuk ke dalam


tubuh pasien, jika tadi saja telat memasukan darah adek ke tubuh pasien, kemungkinan


besar pasien tidak akan selamat” ucap dokter kepada ku. Darah yang aku berikan


berhasil di masukan ke dalam tubuh Aliken yang kekurangan darah. Aliken pun


sadar dari kritis nya, dan semakin hari semakin membaik kondisinya. Suatu hari


Aliken dapat kembali ke sekolahnya. Aku mengahampiri Aliken untuk mengucapkan


permohonan maaf atas kejadian yang menimpa Aliken saat itu. “Aliken, aku mau


meminta maaf kepada Aliken atas kejadian yang tidak di sengaja waktu itu” ucap


permintaan maaf ku kepada Aliken. “Aku.. tidak akan memaafkan apa yang kamu


lakukan kepada ku, karena aku anggap yang kamu lakukan ialah hal yang di


sengaja dan di rencanakan, sekarang Densi pergi dari hadapan ku sekarang juga.”


Aliken tidak akan memaafkan perbuatan ku yang sangat tidak di sengaja. Aku


tetap berbicara kepada Aliken “aku tidak sengaja Aliken, aku mohon untuk


memaafkan ku Aliken.” “pergi” “pergi” “pergi sekarang juga dari hadapan ku”


teriak Aliken kepada ku dengan sangat keras.


Sehabis Aliken berteriak, aku pergi dari hadapan nya


dan Aliken pun tidak memaafkan kelakuan yang tidak aku tidak sengaja kepadanya.


Aku pergi untuk mengikuti kegiatan KMB sekolah yang sedang berlangsung. Bel


sekolah berbunyi sangat panjang yang menandakan kegiatan mengajar belajar


selesai di lakukan. Anak-anak di persilakan untuk kembali ke rumah nya


masing-masing atau meninggalkan sekolah. Aku merasa sangat capek sekali saat


itu, maka aku memutuskan untuk pulang lewat jalan cepat, yaitu melewati rumah


Aliken. Saat aku jalan menuju rumah Aku, ada seseorang kira-kira berusia 34


tahun berteriak kepada waga yang lain, “maling” “maling” “maling” “ada maling


di sini.” Seluruh warga pun berkumpul lebih banyak dari saat bapak Situmorang


memanggil waktu itu. “Ini bukan yang waktu itu maling di rumah bapak Situmorang


ya?” ucap seorang warga yang saat itu memukuli aku di luar rumah bapak

__ADS_1


situmorang. Tentara-tentara Belanda yang berada di sekitar tempat itu mendengar


ada seorang yang meneriak ada maling di tempatnya, namun mereka tidak peduli


dengan apa yang terjadi selain pemberontakan terhadap pihak Belanda, di luar


itu mereka sangat tidak peduli.  Aku di


suruh tiarap di jalanan dan menunggu ada seseorang yang membelanya. Aliken


melewati tempat di mana aku  tiarap di


jalanan. Aliken  mengenakan masker dan


kaca mata hitam. “Aku bukan maling pak, kalau bapak mau buktikan aku bukan


maling, bapak tanya kepada anak itu ,yang menggunakan masker dan kacamata pak,


sumpah pak, aku bukan maling pak”


Seorang warga memanggil orang yang di maksud dan


berkata “dek, adek kenal anak ini tidak?.” Aliken  tidak menjawab, karena ia tidak menoleh ke


belakang dan melihat wajah orang tersebut. Aku pun di pukul habis oleh warga


hingga wajah ku bonyok dan hampir mati. Sejak saat itu aku memiliki rasa benci


dan ingin menghabisi Aliken. Yang aku pikirkan saat itu ialah “mengapa Aliken


sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga sekitar, padahal aku rela


memberikan sebagian darah ku saat itu, untuk menyelamatkan nyawanya.” Aku tidak


menghitung-hitung kebaikan aku kepada Aliken, tetapi yang aku maksud ialah


mengapa Aliken sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga. “Kenapa dia


sangat tega melakukannya?.” Selesai aku berfikir cukup lama, aku dapat


menyimpulkan “aku tidak akan pernah mau bersekolah lagi, karena bagi ku sekolah


tempat paling aku benci di seluruh dunia. Aku  kembali ke rumahku karena sudah pukul tujuh malam. “Nak, papah baru saja


di keluarkan dari tempat kerja papah, karena papah di tuduh mencuri uang


seorang karyawan teman papah, mulai hari ini Densi harus hidup hemat ya nak,”


ucap papah ku kepada ku saat aku baru pulang dari sekolah. Hidup aku saat itu


mendengar Ayah aku di keluarkan dari tempat kerjanya. “Ia pah, papah besok ke


sekolah untuk mengajukan surat berhenti sekolah, aku sudah malas sekolah pah”


kata ku kepada papahku. Keesokan harinya papahku ke sekolah untuk mengajukan


surat berhenti sekolah kepada guru aku.


Aku pun berhenti sekolah. Berhari hari aku


nganggur.  Pada suatu hari aku berfikir


untuk membangun sebuah pondok nongkrong dan mendirikan sebuah geng yang di


takuti oleh masyarakat. Aku pun mulai mencari kerja dan mendapatkannya. Aku


mulai menabung dan terkumpul lah uang yang aku hasilkan dari kerja kerasku.


Lalu uang tersebut aku gunakan untuk membangun sebuah pondok nongkrong yang


tidak terlalu besar. Dan aku kumpulkan seluruh anak jalanan yang berada di


sekitar pasar ini sebanyak 10 orang. Lalu aku namakan geng Tarata. “Itulah


cerita mengapa aku bisa di sini dan mendirikan pondok ini” itulah cerita Densi,


mengapa ia bisa di tempat itu dan mendirikan pondok sambil memakan cakwe


bersama aku. “Ohh, jadi begitu ceritanya,” jawab aku terhadap ceritanya yang di


ceritakan Densi.


Anggota geng Densi yang tidur terbangun mendengar


Densi dan Aku berbincang bincang mengenai kehidupan keduanya. “Aduh laper nih,


uda ada makan belum?,” tanya Seorang anggota kepada Densi tentang makan, begitu


ia bangun dari tidur nya. “Itu ada cakwe, tadi aku beli banyak untuk kalian


semua” jawab Densi mengenai makanan yang ia beli. “Keni kamu harus tetap

__ADS_1


waspada ya di tempat ini, karena geng seperti kita di tempat ini banyak dan


saling bermusuhan satu sama lain,” ucap Densi kepada aku untuk tetap waspada


dengan tempat yang ia tinggali. “Ok, aku akan tetap waspada, dengan tempat ini”


jawab Aku kepada Densi mengenai kewaspadaan dengan tempat yang ia tinggali saat


ini. Ternyata saat aku sudah berada di tempat itu, sejak kemarin malam, aku di


mata-matai oleh anggota geng anggota lain, yang bermusuhan dengan geng Tarata.


Lalu anggota geng tersebut yang memata matai aku menuju ke tempat dimana


pemimpin nya berada. Geng yang memata- matai keberadaan Aku bernama geng


Terosi. “Bos.. ternyata geng Tarata memiliki anggota baru, yaitu perempuan yang


bernama Keni,” ucap anggota geng Terosi kepada pemimpin nya yang bernama Evan.


“Menurut kalian semua, kalau kita bawa Keni ke tempat ini, untuk membebaskan


nya kita meminta kepada Densi selaku pemimpin geng Tarata apa ya?,” tanya evan


kepada seluruh anggotanya, yang berjumlah sepuluh orang bersama Evan.


“bagaimana jika kita meminta pondok jelek itu, karena


begitu kita mendapatkan pondok jelek itu, secara otomatis mereka tidak memiliki


tempat untuk berkumpul dan nongkrong, jika mereka tidak berkumpul, maka mereka


bukan lagi sebuah geng di tempat ini” jawab seorang anggota geng Terosi yang


bernama Koli kepada Evan. “Apakah ada yang memiliki saran lagi atau sebuah ide


untuk melumpuhkan geng Tarata?,” tanya Evan kepada seluruh anggota nya. “Kalau


saran saya, bagaimana jika kita mengikuti ide nya Koli, kita tidak memiliki ide


sama sekali karena kita tidak tamat SD, hanya Koli yang tamat SD” kata seorang


anggota kepada pertanyaan Evan. “Ok kalau begitu, kita ikutin saran dan ide


yang Koli berikan” ucap Evan kepada seluruh anggotanya. “Sekarang kalian semua


tangkap Keni sekarang juga, bawa ia ke tempat ini, bilang kepadanya ada sebuah


acara ulang tahun,” perintah Evan kepada seluruh anggotanya untuk menangkap


Keni.


“Ok Keni, kamu tetap waspada di sini ya bersama


anggota lain nya, aku mau membeli makan untuk makan siang nanti,” kata Densi


kepada aku untuk tetap waspada, karena ia mau membeli makanan untuk makan siang


nanti. Densi pergi membeli makanan untuk di makan nanti siang. “Itu Densi sudah


pergi,” ucap seorang anggota geng Terosi kepada seorang anggotanya, dengan


suara pelan nya di sekitar rumah warga yang dekat dengan pondok itu. “Sekarang


kita bagi tugas, aku menangkap Keni dan yang lainnya menahan seluruh anggota


geng Tarata, jangan ada yang biarkan Keni di jaga, alihkan seluruh anggota untuk


tidak menjaga Keni,” perintah Koli kepada seluruh anggotanya. Pondok Densi


berada di tengah-tengah rumah warga dan di dalam gang yang lumayan besar. “Ayo


sekarang jalankan rencana nya” ucap Koli kepada anggotanya. Lalu seluruh


anggota geng Terosi berjalan secara perlahan melewati rumah warga ke rumah


warga lainya, hingga sampai di pondok tersebut. Rencana yang di buat oleh Koli


untuk menangkap Keni pun di jalankan satu demi satu. Geng Terosi menyerang geng


Tarata dengan kayu yang di tangan nya. “Ada geng Terosi sedang mengarah kepada


kita, semuanya pegang kayu yang berada di belakang pondok, “seraang,” ucap


seorang geng Tarata kepada anggotanya. Geng Tarata dan geng Terosi pun saling


serang-menyerang menggunakan kayu yang berada di tangan nya. “Awas ada kayu


mengarah ke kepala mu,!” ucap seorang anggota geng Tarata kepada temannya


dengan cepat. “Pukul kepalanya higga benjol,” ucapan geng Terosi kepada

__ADS_1


temannya. Sementara yang lain lagi serang- menyerang. Koli anggota geng Terosi


menculik Keni dengan sangat mudah dan meletakan surat di pondok tersebut.


__ADS_2