
Aku dan Densi
terus mencari pintu yang tadi ada di situ. Beberapa saat kemudian aku
memikirkan “aku berada di mana ini?, mengapa tidak ada jalan keluar dari tempat
ini.” Aku mulai merasakan rasa panik yang begitu, aku terus memukuli batu yang
tadi nya ialah pintu, sampai kedua tangan ku ini sedikit mengeluarkan darah,
dan aku berlari ke tempat yang aku maksud ialah tempat aku keluar dari tempat
itu. Aku berlari ke sana, kesini, semua sudah aku tuju(walau tidak semua), aku
langsung menaiki atas goa yang aku lalui tadi, setelah aku naik ke atas gua,
aku melihat di sekitar, keliling dan semuanya, ternyata aku dan Densi berada di
tempat yang aku tak mengerti. Aku berfikir lagi “bagaiman jika aku tidak keluar
dari tempat ini, lebih baik tadi aku di tangkap polisi dari pada aku hanya
berdua dengan Densi di tempat yang aku sendiri tidak mengetahui di mana ini.”
Aku langsung menemui Densi yang sedang juga memukuli batu gua tersebut, ia
terus memukuli batu gua itu, lalu aku mengatakan kepada Densi “buat apa kamu
pukulin batu gua itu, aku sudah
mencobanya hingga tanganku terluka” Densi menjawab “kalau begitu apa yang harus
kita lakukan di tempat ini, apakah kita bersenang-senang, apakah kita tertawa,
apakah kita mati saja di tempat ini.” Aku menjawabnya “yang kita harus
lakukan ialah temui orang yang tadi kita
temui pingsan dan tegeletak di tanah itu.”
Aku dan Densi
saat itu berada seperti di pantai dengan suara ombak yang cukup bising. Di
pantai itu ada seperti gua yang terbuat dari batu, gua di pantai itu berjumlah
tiga, di belakang pantai itu terdapat pulau yang aku belum jelajahi. Dan dua
orang yang aku temui itu berada di dekat gua sebelah timur. Aku dan Densi
menuju dua orang yang tadi pingsan di dekat gua sebelah timur itu. “Densi ayo
cepat jalan nya, pasti kamu tidak percaya dengan hal ini. Lihat deh, dua orang
__ADS_1
yang kita temui tadi hilang maksud aku tidak ada di tempat ini. Aku rasa tadi
dua orang itu berada di tempat ini” kata aku kepada Densi. “Ia.tadi aku rasa
dua orang itu berada di tempat ini, kemana dua orang itu pergi?, aku rasa ada
yang tidak beres dengan tempat ini.” Kata Densi kepada ku “kita berada di
tempat ini karena kita memasuki pintu dekat pasar, kita temui dua orang yang
tadi tergeletak di sini tetapi ia menghilang, aku sudah berusaha mencari pintu
yang tadi kita lewati, tetapi tidak tertemu juga, sebenarnya tempat apa ini?”
lanjutkan bicara Densi kepada ku. “Aku rasa kita harus tenang sedikit dengan
semua ini, walau terdengar aneh tetapi kita harus tenang, kita cari jalan
keluar dengan kepala tenang dan santai, sudah cukup lelah aku emosi di tempat ini, sudah cukup juga tangan ku
ini terluka, yang harus kita lakukan ialah, kita temui dua orang yang tadi
berada di tempat ini” kata ku kepada
Densi.
Setelah melalui
perdebatan yang cukup panjang dengan Densi, Densi pun akhirnya mengikuti saran
dan Densi pun mulai memasuki pepohonan yang cukup tinggi itu, tinggi pohon itu
sekitar lima belas meter, aku lalui pepohonan itu semua, sekeliling ku dan
Densi hanya pohon dan pohon. Tidak lama kemudian, saat aku sedang berjalan
melewati pepohonan yang tinggi itu, sangat terkejut dan aku kaget, dua orang
yang tadinya pingsan lewat di hadapan ku menuju arah lain. “Densi itu orang
yang tadi pingsan, ayo kita ikuti dia mau kemana, siapa tau kita bisa
bertanya-tanya untuk bisa keluar dari tempat ini,” kata ku kepada Densi. “Ya
sudah jika begitu, kita ikuti saja dua orang itu, siapa tau dia sedang membuat
makanan, aku sangat lapar sekali,” jawab Densi kepada ku dengan ekspresi lemas
dan lelah. Padahal aku dan Densi belum lama di tempat itu, tetapi ia sudah
lapar saja. Aku dan Densi mengikuti dua orang itu, tentunya dengan melewati
pepohonan yang tinggi-tinggi. Aku rasa pohon-pohon itu ialah pohon kelapa
__ADS_1
dengan tinggi lima belas meter. Aku terus ikuti dua orang itu dengan jalan
pelan dan sunyi. Tanpa aku sadari, aku tersandung ranting pohon yang berada di
bawah kaki ku, aku terjatuh dan tak sengaja mendorong Densi hingga ia ikut
terjatuh dengan ku. “Aduh Keni, kalau jalan itu lihat kebawah juga, jangan
hanya tertuju ke depan saja mata nya, dan harusnya kamu terjatuh jangan bawa
aku ikut terjatuh juga, aku sudah lapar, terjatuh lagi, aduhhh” kata Densi
kepada aku.
Dua orang itu
tiba-tiba terkejut melihat aku dan Densi yang tersandung itu. “siapa itu?, aku
rasa di tempat ini tidak ada siapa-siapa, dua orang yang terjatuh ini siapa” kata
Aliken kepada Densi dan aku. Aliken tidak mengetahui bahwa dua orang itu ialah
aku dan Densi. Wajah aku dan wajah Densi menunduk ke bawah karena terjatuh,
dengan itu Aliken tidak dapat melihat wajah aku dan wajah Densi. Aliken
mengambil batang pohon yang berada di bawah kainya itu. Ia mengarahkan nya ke
arah ku dan Densi. “Asmira kamu di belakang ku, jangan takut dan panik, jika
dua orang itu macam-macam, aku akan memukulnya dengan kayu ini” ucap Aliken
kepada ku dan Asmira sambil mengarahkan batang pohon itu ke arah aku dan Densi.
Densi berdiri dari jatuhnya itu, Densi
saat sudah berdiri aku meminta tolong kepadanya untuk membantu aku berdiri dari
jatuh ku “Densi tolong bantukan aku berdiri dari jatuh ku ini” kata ku kepada
Densi. Densi membantu aku untuk berdiri dari jatuh ku itu, ia menarik tanganku
yang aku ulurkan kepadanya, dan ia menarik tangan aku itu, aku berhasil berdiri
dari jatuh ku dan kembali seperti semula. Aku usap tana-tanah yang menempel
pada bajuku, celanaku dan tubuhku. Setelah aku merapikan bajuku, betapa
terkejutnya aku melihat bahwa dua orang itu ialah Aliken dan Asmira. “Densi,
aku tidak salah lihat ini? Apakah itu Aliken dan Asmira?” tanya aku kepada
Densi. “Aku rasa juga tidak salah lihat deh, itu sama sekali wajah dua orang itu
__ADS_1
seperti Asmira dan Aliken” kata Densi kepada ku. Aliken dan Asmira tentunya
juga kaget begitu melihat aku dan Densi, ia saling bertanya-tanya mengenai itu.