
Aliken berhasil
mendapatkan daun pandan itu dari pedagang tersebut, lalu Aliken ingin
membawanya pulang. Densi dan semua
anggota geng yang berada di pondoknya memakan sate dengan rasa syukur, karena
masih ada orang baik yang ingin memberikan makan kepadanya. Geng Tarata yang
sedang memakan sate di mata-matai lagi oleh dua orang anggota geng Terosi atas
perintah pemimpin nya, yaitu Evan. Lalu kedua orang yang memata-matai menuju
tempat ia nongkrong bersama anggota lain nya, dan memberi info mengenai geng
Tarata atas perintah Evan. “Bos tadi saya melihat mereka sedang sibuk memakan
sate di pondoknya,” ucap dua orang anggota geng Terosi yang memata-matai geng
Tarata yang sedang makan sate kepada Evan. Lalu setelah Evan mendengar bahwa
geng Tarata sedang memakan sate, ia memikirkan sebuah ide yang sangat tidak
terpuji. “Ok, sekarang kita ganggu mereka dengan melemparkan batu ke makanan
itu dan ke tubuh mereka,” cakap Evan kepada seluruh anggota nya. “Sekarang
kalian kumpulkan batu yang berada di belakang rumah ini dan kita menuju pondok
jelek itu,” perintah Evan kepada semua anggota geng nya. Lalu semua anggota
geng Terosi menuju bagian samping kanan-kiri, belakang, depan rumah nya, untuk
mengumpulkan batu. Semua anggota geng Terosi berhasil mengumpulkan batu yang
berada di belakang rumah nya.
“Ini bos, batu
yang bos minta, kami berhasil mengumpulkan batu yang bagus dan besar sebanyak
mungkin di belakang rumah ini,” ucap seorang anggota geng Terosi kepada
pemimpin nya, yaitu Evan. “Ok kalau begitu, kita menuju pondok itu, setelah
kita melempar batu ke arah mereka, kita
kabur melewati perapatan, ada yang belok kiri dan ada yang belok kanan, kita
buat mereka kesulitan menangkap kita,” kata Evan kepada semua anggota geng
Terosi itu. Mereka pun menuju pondok
geng Tarata, yang di mana di dalam pondok itu ada anggota geng Tarata dan
pemimpinnya sedang makan. “Ayo cepat jalan nya, jangan sampai mereka selesai
makan ketika kita sampai,” ucap Evan kepada anggota nya ketika ia sedang
berjalan menuju pondok geng Tarata. Mereka pun sampai di sekitar pondok geng
Tarata itu. “Ok tunggu aba-aba aku,
__ADS_1
kalau aku bilang lempar, yang pertama kita lempar menuju makanan nya, jika
sudah makanannya hancur berantakan, kita lempar orang nya. Jangan sampai
berhenti melempar nya, sebelum aku berkata kabur,” kata Evan kepada semua
anggota geng nya yang sedang bersembunyi dengan suara pelan-pelan.
“Tiga-dua-satu, lempar..” ucap Evan dengan pelan kepada anggota nya.
“Waduh-waduh,
kenapa ada batu di sate kita, dan kenapa satenya banyak batu,” kata seorang
anggota geng Tarata saat sedang memakan sate itu. “Aw-aduh.. aduh, kita di lemparin batu oleh
seseorang-aduh” ucap semua anggota geng Tarata dengan rasa sakit. “Tetapi di
mana orang yang melempari batu ke arah kita,” “aduh..” “sakit,” ada yang lihat
tidak orangnya?” tanya seorang anggota geng Tarata sambil melihat ke arah batu
berasal. Lalu seorang geng Tarata berkata “itu, orangnya memakai baju merah”
“Kejar...”
perintah Densi kepada seluruh anggotanya.
“Kabur...,” ucap Evan memerintah kan anggotanya.
“Itu dia, dia
mengarah ke perapatan,” kata seorang
menuju perapatan. “Sebagian belok kiri dan sebagian belok kanan” ucap Evan
dengan suara kerasnya. Merekapun membagi menjadi dua, sebagian belok ke arah
kanan dan sebagainya belok ke arah kiri. Aliken berada di perapatan tersebut
dengan baju berwarna merah. “Ohh, ternyata ini yang namanya daun pandan,” kata
Aliken kepada daun pandan yang di pegang nya, karena ia baru pernah melihat
nya. “Itu dia pakaian berwarna merah yang tadi melempari kita dengan batu,”
kata seorang anggota geng Tarata. Awal nya Aliken tak menyadari bahwa ia yang
di tunjuk-tunjuk dan di kejar, tetapi ia di lempari batu oleh semua anggota
geng Tarata dan dikejar. Geng Tarata semakin dekat mengarah kepada Aliken.
“Aduh, sepertinya aku di kejar-kejar deh dengan segerombolan orang-orang itu,
aku harus lari secepat mungkin,” ucap Aliken dengan nada panik dan ekspresi
ketakutan sambil melempar daun pandan kepada kita. Aliken berlari secepat mungkin melangkahi
sayur dan buah yang berada di bawah kakinya. “Maaf ya-maaf ya-maaf ya, sayur dan buah nya saya langkah dan sebagian
saya injak,” ucap Aliken kepada orang-orang yang berjualan di pasar malam itu.
“Nah ini gerobak siapa ya?, aku pakai lah untuk mendorong gerobak ini ke arah
__ADS_1
mereka,” kata Aliken kepada gerobak yang ia temukan
Lalu Aliken
mendorong gerobak tersebut yang berisi buah-buahan ke arah sekelompok orang
yang mengejarnya. “Awas ada gerobak yang
mengarah kepada kita,” kata seorang anggota geng Tarata kepada semua
anggotanya. Lalu sebagian anggota geng Tarata terjatuh karena tertabrak gerobak
nya dan sebagian tetap mengejar Aliken. Dari kejauhan Aliken melihat tong yang
berisi kentang di dalam nya. Aliken menggelindingkan tong yang berisi kentang,
sebanyak 5 tong ke arah orang yang mengejar nya. Tong tersebut menggelinding ke
arah Aku dan kawan-kawan aku. Sebanyak tiga orang terjatuh karena banyak
kentang yang di injak nya, dan empat orang lain nya terus mengejar Aliken.
Anggota geng Tarata yang terjatuh karena gerobak yang berisi buah, membantu
geng Tarata yang tersisa tiga orang untuk mengejar Aliken.
Lalu Aliken
melihat banci yang berada di hadapannya membawa speaker yang tersambung dengan
mic. Aliken mencabut mic dari speaker nya secara paksa dan berhasil tercabut.
Ia pun membawa mic nya pergi untuk ia gunakan. Aliken melihat rumah warga yang
terbuat dari kayu, ia berencana untuk naik ke atas genteng rumah warga yang terbuat dari kayu dengan mic nya.
Lalu Aliken mengarahkan mic yang terdapat kabel tersambung dengan mic itu ke
arah kayu atap rumah rumah warga. Aliken berhasil naik ke genteng rumah warga.
Satu per satu rumah warga ia lewati dengan hati-hati. Densi dan dua orang teman
nya berhasil naik ke atas genteng untuk mengejar Aliken. Aliken, Densi dan satu
teman nya kejar-kejaran di atas genteng warga. Densi belum menyadari bahwa itu
Aliken, yang sudah membuat diri nya seperti itu. Densi pun mengejar Aliken
dengan cepat. Aliken turun dari rumah warga, untuk melewati jalanan saja. Saat
Aliken sedang berlari, ia pun melihat
bahwa jalan di hadapannya adalah tembok besar yang tidak dapat di lewati. “Aduh
aku harus kemana lagi ini?, kenapa jalan nya buntu? Astaga,” ucap Aliken dengan wajah panik dan ketakutan.
“Ayo mau pergi ke mana lagi?, jalan di depan mu buntu, sekarang kamu menghadap
ke belakang, supaya kami tahu siapa kamu sebenarnya,” kata Densi kepada Aliken
untuk menghadapi ke arah belakang. Aliken menghadap ke belakang dengan sangat
pasrah.
__ADS_1