Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
pertemuan yang tiddak di rencanakan.


__ADS_3

Aliken berhasil


mendapatkan daun pandan itu dari pedagang tersebut, lalu Aliken ingin


membawanya pulang.  Densi dan semua


anggota geng yang berada di pondoknya memakan sate dengan rasa syukur, karena


masih ada orang baik yang ingin memberikan makan kepadanya. Geng Tarata yang


sedang memakan sate di mata-matai lagi oleh dua orang anggota geng Terosi atas


perintah pemimpin nya, yaitu Evan. Lalu kedua orang yang memata-matai menuju


tempat ia nongkrong bersama anggota lain nya, dan memberi info mengenai geng


Tarata atas perintah Evan. “Bos tadi saya melihat mereka sedang sibuk memakan


sate di pondoknya,” ucap dua orang anggota geng Terosi yang memata-matai geng


Tarata yang sedang makan sate kepada Evan. Lalu setelah Evan mendengar bahwa


geng Tarata sedang memakan sate, ia memikirkan sebuah ide yang sangat tidak


terpuji. “Ok, sekarang kita ganggu mereka dengan melemparkan batu ke makanan


itu dan ke tubuh mereka,” cakap Evan kepada seluruh anggota nya. “Sekarang


kalian kumpulkan batu yang berada di belakang rumah ini dan kita menuju pondok


jelek itu,” perintah Evan kepada semua anggota geng nya. Lalu semua anggota


geng Terosi menuju bagian samping kanan-kiri, belakang, depan rumah nya, untuk


mengumpulkan batu. Semua anggota geng Terosi berhasil mengumpulkan batu yang


berada di belakang rumah nya.


“Ini bos, batu


yang bos minta, kami berhasil mengumpulkan batu yang bagus dan besar sebanyak


mungkin di belakang rumah ini,” ucap seorang anggota geng Terosi kepada


pemimpin nya, yaitu Evan. “Ok kalau begitu, kita menuju pondok itu, setelah


kita melempar batu ke arah mereka,  kita


kabur melewati perapatan, ada yang belok kiri dan ada yang belok kanan, kita


buat mereka kesulitan menangkap kita,” kata Evan kepada semua anggota geng


Terosi itu.  Mereka pun menuju pondok


geng Tarata, yang di mana di dalam pondok itu ada anggota geng Tarata dan


pemimpinnya sedang makan. “Ayo cepat jalan nya, jangan sampai mereka selesai


makan ketika kita sampai,” ucap Evan kepada anggota nya ketika ia sedang


berjalan menuju pondok geng Tarata. Mereka pun sampai di sekitar pondok geng


Tarata itu.  “Ok tunggu aba-aba aku,

__ADS_1


kalau aku bilang lempar, yang pertama kita lempar menuju makanan nya, jika


sudah makanannya hancur berantakan, kita lempar orang nya. Jangan sampai


berhenti melempar nya, sebelum aku berkata kabur,” kata Evan kepada semua


anggota geng nya yang sedang bersembunyi dengan suara pelan-pelan.


“Tiga-dua-satu, lempar..” ucap Evan dengan pelan kepada anggota nya.


“Waduh-waduh,


kenapa ada batu di sate kita, dan kenapa satenya banyak batu,” kata seorang


anggota geng Tarata saat sedang memakan sate itu.  “Aw-aduh.. aduh, kita di lemparin batu oleh


seseorang-aduh” ucap semua anggota geng Tarata dengan rasa sakit. “Tetapi di


mana orang yang melempari batu ke arah kita,” “aduh..” “sakit,” ada yang lihat


tidak orangnya?” tanya seorang anggota geng Tarata sambil melihat ke arah batu


berasal. Lalu seorang geng Tarata berkata “itu, orangnya memakai baju merah”


“Kejar...”


perintah Densi kepada seluruh anggotanya.


“Kabur...,”  ucap Evan memerintah kan anggotanya.


“Itu dia, dia


mengarah ke perapatan,”  kata seorang


menuju perapatan. “Sebagian belok kiri dan sebagian belok kanan” ucap Evan


dengan suara kerasnya. Merekapun membagi menjadi dua, sebagian belok ke arah


kanan dan sebagainya belok ke arah kiri. Aliken berada di perapatan tersebut


dengan baju berwarna merah. “Ohh, ternyata ini yang namanya daun pandan,” kata


Aliken kepada daun pandan yang di pegang nya, karena ia baru pernah melihat


nya. “Itu dia pakaian berwarna merah yang tadi melempari kita dengan batu,”


kata seorang anggota geng Tarata. Awal nya Aliken tak menyadari bahwa ia yang


di tunjuk-tunjuk dan di kejar, tetapi ia di lempari batu oleh semua anggota


geng Tarata dan dikejar. Geng Tarata semakin dekat mengarah kepada Aliken.


“Aduh, sepertinya aku di kejar-kejar deh dengan segerombolan orang-orang itu,


aku harus lari secepat mungkin,” ucap Aliken dengan nada panik dan ekspresi


ketakutan sambil melempar daun pandan kepada kita.  Aliken berlari secepat mungkin melangkahi


sayur dan buah yang berada di bawah kakinya.  “Maaf ya-maaf ya-maaf ya, sayur dan buah nya saya langkah dan sebagian


saya injak,” ucap Aliken kepada orang-orang yang berjualan di pasar malam itu.


“Nah ini gerobak siapa ya?, aku pakai lah untuk mendorong gerobak ini ke arah

__ADS_1


mereka,” kata Aliken kepada gerobak yang ia temukan


Lalu Aliken


mendorong gerobak tersebut yang berisi buah-buahan ke arah sekelompok orang


yang mengejarnya.  “Awas ada gerobak yang


mengarah kepada kita,” kata seorang anggota geng Tarata kepada semua


anggotanya. Lalu sebagian anggota geng Tarata terjatuh karena tertabrak gerobak


nya dan sebagian tetap mengejar Aliken. Dari kejauhan Aliken melihat tong yang


berisi kentang di dalam nya. Aliken menggelindingkan tong yang berisi kentang,


sebanyak 5 tong ke arah orang yang mengejar nya. Tong tersebut menggelinding ke


arah Aku dan kawan-kawan aku. Sebanyak tiga orang terjatuh karena banyak


kentang yang di injak nya, dan empat orang lain nya terus mengejar Aliken.


Anggota geng Tarata yang terjatuh karena gerobak yang berisi buah, membantu


geng Tarata yang tersisa tiga orang untuk mengejar Aliken.


Lalu Aliken


melihat banci yang berada di hadapannya membawa speaker yang tersambung dengan


mic. Aliken mencabut mic dari speaker nya secara paksa dan berhasil tercabut.


Ia pun membawa mic nya pergi untuk ia gunakan. Aliken melihat rumah warga yang


terbuat dari kayu, ia berencana untuk naik ke atas genteng rumah  warga yang terbuat dari kayu dengan mic nya.


Lalu Aliken mengarahkan mic yang terdapat kabel tersambung dengan mic itu ke


arah kayu atap rumah rumah warga. Aliken berhasil naik ke genteng rumah warga.


Satu per satu rumah warga ia lewati dengan hati-hati. Densi dan dua orang teman


nya berhasil naik ke atas genteng untuk mengejar Aliken. Aliken, Densi dan satu


teman nya kejar-kejaran di atas genteng warga. Densi belum menyadari bahwa itu


Aliken, yang sudah membuat diri nya seperti itu. Densi pun mengejar Aliken


dengan cepat. Aliken turun dari rumah warga, untuk melewati jalanan saja. Saat


Aliken sedang  berlari, ia pun melihat


bahwa jalan di hadapannya adalah tembok besar yang tidak dapat di lewati. “Aduh


aku harus kemana lagi ini?, kenapa jalan nya buntu? Astaga,”  ucap Aliken dengan wajah panik dan ketakutan.


“Ayo mau pergi ke mana lagi?, jalan di depan mu buntu, sekarang kamu menghadap


ke belakang, supaya kami tahu siapa kamu sebenarnya,” kata Densi kepada Aliken


untuk menghadapi ke arah belakang. Aliken menghadap ke belakang dengan sangat


pasrah.

__ADS_1


__ADS_2