Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.

Harta Yang Aku Dapatkan Di Negeri Kinata.
pertemuan yang tidak di rencanakan


__ADS_3

Pagi hari pun


tiba, terdengar suara penjual bubur ayam yang sedang berjualan di luar rumah


Aliken, penjual bubur kacang ijo yang berteriak “kacang ijo-kacang ijo.” Aliken


terbangun karena suara penjual kacang ijo yang sedang berjualan di luar rumah


nya. “Aduh.. enak sekali tidur malam ini, mungkin karena kemarin sangat lelah,”


ucap Aliken kepada diri sendiri. Aliken mandi pagi untuk bersiap berangkat ke


sekolah, ia pun siap untuk berangkat ke sekolah nya, dengan seragam yang rapih.


“Mamah-papah, adek berangkat ke sekolah dulu ya mah-pah,” ijin Aliken kepada


kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. “Ia dek, hati-hati di jalan ya,


belajar yang betul supaya jadi orang sukses,” jawab ibu Reni kepada ucapan izin


Aliken untuk berangkat ke sekolah. Saat hendak ke luar dari rumahnya, Aliken


melihat Asmira yang melewati rumah nya untuk menuju ke sekolah. Lalu ia


memanggilnya dan berkata, “Asmira, tunggu sebentar, aku mau bicara sebentar.”  “Ia kenapa Aliken, mau bicara tentang apa”


jawab Asmira kepada Aliken karena ia memanggilnya. “Kita bicara sambil makan


bubur ayam ya, mumpung aku belum sarapan,” kata Aliken mengajak Asmira untuk


sarapan bereng dengan nya. “oh, ya sudah, aku juga belum sarapan nih, makan


bubur ayam saja” jawab Asmira kepada Aliken untuk sarapan bereng dengan bubur


ayam. Mereka menuju tempat orang yang berjualan bubur ayam yang berada di


sekitar rumah Aliken. “Pak, saya pesan bubur ayam ya, dua porsi saja pak, untuk


aku dan dia” ucap Aliken kepada tukang bubur ayam. “Ok, sebentar dulu ya, bapak


bikin dulu bubur ayam nya” jawab tukang bubur ayam kepada Aliken yang memesan


bubur nya.


“Ok pak, saya


tunggu ya pak,” jawab Aliken kepada penjual bubur ayam itu. Sebelum mereka


memakan bubur ayam, mereka berbincang-bincang sesuatu tentang kemarin malam,


“Asmira, kemarin malam aku di suruh mamahku beli daun pandan, ya sudah aku beli


lah daun pandan nya. Saat aku sudah sampai di tempat orang yang berjualan daun


pandan, aku berada di perapatan jalan pasar itu. Lalu aku membeli daun pandan


tersebut. Saat aku mau menuju rumah ku, aku merasa aku dikejar oleh sekelompok


orang, kurang lebih sepuluh orang.  Awal


nya aku tidak merasa di kejar, namun mereka melempar batu kepada ku yang berada


di tangan nya. Lalu aku lari menghindari mereka semua. Singkat cerita, jalan


yang aku lalui buntu, dan aku bingung harus lari ke mana lagi, sampai akhirnya

__ADS_1


aku di suruh memutarkan tubuh ku ke arah mereka, supaya mereka mengetahui raut


wajah ku. Sesudah aku memutarkan tubuhku mengarah kepada mereka, aku kaget


ternyata yang mengejarku ialah Densi, teman lamaku di SMAN 77. Singkat cerita,


mereka mengikat tubuh ku dan membaringkan tubuh ku di jalan, mereka ingin


melindasku dengan gerobak, lalu ada tukang sate yang menyuruh Densi untuk


berhenti melakukan yang sedang ia lakukan. Densi berhenti melakukan apa yang ia


lakukan kepada ku. Setelah itu, tukang sate tersebut dan teman teman Densi,


yang ikut mengejarku, ia meninggalkan aku bersama Densi, sesudah semua


meninggalkan aku dengan Densi. Densi menuduhku melempar batu kepada dia dan


teman teman nya. Aku pun berusaha meyakinkan ia bahwa bukan aku yang


melemparkan batu kepada mereka. Aku sampai berani berkata aku berani sumpah dan


berani bertarung dengan nya.


Lalu Densi


menganggap apa yang aku ucap kan dengan sangat serius. Ia pun berkata, besok ia


menunggu di lapangan belakang warnet nya pak Budi, jika aku tidak hadir, ia


akan membawa teman nya sebanyak kurang lebih dua puluh orang menuju sekolahku


dan memaksa nya untuk hadir di lapangan belakang warnet. Aku bingung harus


melakukan apa, makanya aku mau tanya kepada kamu, kamu ada saran tidak untuk


Asmira miliki. “Kamu sudah bilang ke Densi belum bahwa kamu hanya bercanda


saja?,” tanya Asmira kepada Aliken. “Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku


hanya bercanda saja, tetapi ia tidak mau tahu, pokonya aku harus menghadapi dia


jam sembilan pagi ini” jawab Aliken kepada pertanyaan Asmira. “Aku sebenarnya


tidak memiliki saran atau ide untuk menghentikan ini semua. Tetapi aku akan


tetap berpikir  bagaimana untuk


menghentikan ini semua,” jawab Asmira kepada Aliken. “Aku  dari kemarin berpikir, bagaimana untuk


menghentikan ini semua, tetapi aku belum sama sekali menemukan ide” kata Aliken


kepada Asmira. “Apa, aku harus menghadapi Densi, untuk bertarung dengan nya”


ucap Aliken kepada Asmira.


“Ini dek bubur


nya sudah jadi. Minum nya mau minum apa dek?” tanya penjual bubur ayam kepada


Aliken dan Asmira mengenai minum nya. “Minum nya teh tawar saja pak” jawab


Aliken kepada penjual bubur ayam tersebut. “Aku jadi tidak ***** makan, karena


memikirkan ini semua” kata Aliken kepada Asmira. “Kamu harus makan, supaya kamu

__ADS_1


memiliki energi untuk berpikir lebih lagi” jawab Asmira kepada Aliken untuk


memakan buburnya. “Ok, kalau begitu, aku akan menghabiskan bubur ini” ucap


Aliken kepada Asmira. Mereka memakan bubur ayam dengan memikirkan apa yang


harus di lakukan. “Ini dek minumnya sudah jadi” kata penjual bubur ayam itu


kepada Asmira dan Aliken. “Ok pak, makasih ya pak,” jawab Aliken mengucapkan


terimakasih kepada penjual bubur ayam nya. “Jadi aku harus menghadiri


pertarungan aku dengan Densi?,” tanya Aliken kepada Asmira. “Bagaimana jika


kamu tidak hadiri pertarungan ini, kamu di sekolah saja, mengumpet di toilet.


Aku yakin kok mereka tidak mungkin berani masuk ke dalam sekolah,” ucap Asmira


kepada Aliken menanggapi pertanyaan Aliken. “Tidak, aku tidak perlu ngumpet,


bagaimana jika kita menelpon polisi saat mereka tiba di sekolah dan membuat


kekacauan” ucap Aliken kepada ucapan Asmira. “Oh iya, begitu mereka datang ke


sekolah dan mereka membuat kekacaun, kita langsung menelpon polisi terdekat,”


kata Asmira.  Aliken dan Asmira pun


mendapatkan ide yang ia pikirkan selama ia berada di tempat bubur ayam itu.


“Oh ia, kita


mendapatkan nomor polisi terdekat di mana ya?” tanya Aliken kepada Asmira.


“Bagaimana jika kita tanya penjual bubur ayam ini, mungkin ia memiliki nomor


polisi terdekat,” jawab Asmira kepada Aliken untuk bertanya nomor polisi kepada


tukang bubur ayam. “Pak, bapak tau tidak nomor polisi terdekat di daerah ini?”


tanya Aliken kepada penjual bubur ayam itu, “oh adek ingin nomor polisi, ini


saya punya, untung adek minta kepada saya, soalnya hampir semua orang di daerah


ini tidak memiliki nomor polisi, ini nomornya” jawab penjual bubur ayam sambil


memberikan nomor polisinya kepada Aliken dan Asmira. “Terimaksih banyak ya pak


atas nomornya,” ucap terimakasih Aliken kepada penjual bubur ayam. Setelah itu


mereka selesai makan di tempat itu dan kembali ke sekolahnya, mereka berlari ke


sekolah dengan sangat kencang karena waktu bel sekolah akan berbunyi. Aliken


dan Asmira terus berlari ke sekolah nya karena mereka takut terlambat masuk ke


sekolahnya, betapa terkejutnya mereka melihat pintu gerbang sekolah sudah


hampir tertutup. Aliken dan Asmira berhasil masuk ke dalam sekolah dengan tepat


waktu. “Tunggu bu, jangan di tutup pintu kelas nya, saya sudah sampai ke


sekolah ini dengan tepat waktu,” ucap Aliken kepada seorang guru yang ingin menutup


pintu pintu kelasnya dengan nafas seperti mau habis. “Ya sudah, cepat masuk

__ADS_1


sebelum ibu menutup pintu nya,” jawab seorang guru kepada Aliken. Aliken dan


Asmira pun memasuki kelas nya masing-masing dengan tepat waktu.


__ADS_2