
Pagi hari pun
tiba, terdengar suara penjual bubur ayam yang sedang berjualan di luar rumah
Aliken, penjual bubur kacang ijo yang berteriak “kacang ijo-kacang ijo.” Aliken
terbangun karena suara penjual kacang ijo yang sedang berjualan di luar rumah
nya. “Aduh.. enak sekali tidur malam ini, mungkin karena kemarin sangat lelah,”
ucap Aliken kepada diri sendiri. Aliken mandi pagi untuk bersiap berangkat ke
sekolah, ia pun siap untuk berangkat ke sekolah nya, dengan seragam yang rapih.
“Mamah-papah, adek berangkat ke sekolah dulu ya mah-pah,” ijin Aliken kepada
kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. “Ia dek, hati-hati di jalan ya,
belajar yang betul supaya jadi orang sukses,” jawab ibu Reni kepada ucapan izin
Aliken untuk berangkat ke sekolah. Saat hendak ke luar dari rumahnya, Aliken
melihat Asmira yang melewati rumah nya untuk menuju ke sekolah. Lalu ia
memanggilnya dan berkata, “Asmira, tunggu sebentar, aku mau bicara sebentar.” “Ia kenapa Aliken, mau bicara tentang apa”
jawab Asmira kepada Aliken karena ia memanggilnya. “Kita bicara sambil makan
bubur ayam ya, mumpung aku belum sarapan,” kata Aliken mengajak Asmira untuk
sarapan bereng dengan nya. “oh, ya sudah, aku juga belum sarapan nih, makan
bubur ayam saja” jawab Asmira kepada Aliken untuk sarapan bereng dengan bubur
ayam. Mereka menuju tempat orang yang berjualan bubur ayam yang berada di
sekitar rumah Aliken. “Pak, saya pesan bubur ayam ya, dua porsi saja pak, untuk
aku dan dia” ucap Aliken kepada tukang bubur ayam. “Ok, sebentar dulu ya, bapak
bikin dulu bubur ayam nya” jawab tukang bubur ayam kepada Aliken yang memesan
bubur nya.
“Ok pak, saya
tunggu ya pak,” jawab Aliken kepada penjual bubur ayam itu. Sebelum mereka
memakan bubur ayam, mereka berbincang-bincang sesuatu tentang kemarin malam,
“Asmira, kemarin malam aku di suruh mamahku beli daun pandan, ya sudah aku beli
lah daun pandan nya. Saat aku sudah sampai di tempat orang yang berjualan daun
pandan, aku berada di perapatan jalan pasar itu. Lalu aku membeli daun pandan
tersebut. Saat aku mau menuju rumah ku, aku merasa aku dikejar oleh sekelompok
orang, kurang lebih sepuluh orang. Awal
nya aku tidak merasa di kejar, namun mereka melempar batu kepada ku yang berada
di tangan nya. Lalu aku lari menghindari mereka semua. Singkat cerita, jalan
yang aku lalui buntu, dan aku bingung harus lari ke mana lagi, sampai akhirnya
__ADS_1
aku di suruh memutarkan tubuh ku ke arah mereka, supaya mereka mengetahui raut
wajah ku. Sesudah aku memutarkan tubuhku mengarah kepada mereka, aku kaget
ternyata yang mengejarku ialah Densi, teman lamaku di SMAN 77. Singkat cerita,
mereka mengikat tubuh ku dan membaringkan tubuh ku di jalan, mereka ingin
melindasku dengan gerobak, lalu ada tukang sate yang menyuruh Densi untuk
berhenti melakukan yang sedang ia lakukan. Densi berhenti melakukan apa yang ia
lakukan kepada ku. Setelah itu, tukang sate tersebut dan teman teman Densi,
yang ikut mengejarku, ia meninggalkan aku bersama Densi, sesudah semua
meninggalkan aku dengan Densi. Densi menuduhku melempar batu kepada dia dan
teman teman nya. Aku pun berusaha meyakinkan ia bahwa bukan aku yang
melemparkan batu kepada mereka. Aku sampai berani berkata aku berani sumpah dan
berani bertarung dengan nya.
Lalu Densi
menganggap apa yang aku ucap kan dengan sangat serius. Ia pun berkata, besok ia
menunggu di lapangan belakang warnet nya pak Budi, jika aku tidak hadir, ia
akan membawa teman nya sebanyak kurang lebih dua puluh orang menuju sekolahku
dan memaksa nya untuk hadir di lapangan belakang warnet. Aku bingung harus
melakukan apa, makanya aku mau tanya kepada kamu, kamu ada saran tidak untuk
Asmira miliki. “Kamu sudah bilang ke Densi belum bahwa kamu hanya bercanda
saja?,” tanya Asmira kepada Aliken. “Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku
hanya bercanda saja, tetapi ia tidak mau tahu, pokonya aku harus menghadapi dia
jam sembilan pagi ini” jawab Aliken kepada pertanyaan Asmira. “Aku sebenarnya
tidak memiliki saran atau ide untuk menghentikan ini semua. Tetapi aku akan
tetap berpikir bagaimana untuk
menghentikan ini semua,” jawab Asmira kepada Aliken. “Aku dari kemarin berpikir, bagaimana untuk
menghentikan ini semua, tetapi aku belum sama sekali menemukan ide” kata Aliken
kepada Asmira. “Apa, aku harus menghadapi Densi, untuk bertarung dengan nya”
ucap Aliken kepada Asmira.
“Ini dek bubur
nya sudah jadi. Minum nya mau minum apa dek?” tanya penjual bubur ayam kepada
Aliken dan Asmira mengenai minum nya. “Minum nya teh tawar saja pak” jawab
Aliken kepada penjual bubur ayam tersebut. “Aku jadi tidak ***** makan, karena
memikirkan ini semua” kata Aliken kepada Asmira. “Kamu harus makan, supaya kamu
__ADS_1
memiliki energi untuk berpikir lebih lagi” jawab Asmira kepada Aliken untuk
memakan buburnya. “Ok, kalau begitu, aku akan menghabiskan bubur ini” ucap
Aliken kepada Asmira. Mereka memakan bubur ayam dengan memikirkan apa yang
harus di lakukan. “Ini dek minumnya sudah jadi” kata penjual bubur ayam itu
kepada Asmira dan Aliken. “Ok pak, makasih ya pak,” jawab Aliken mengucapkan
terimakasih kepada penjual bubur ayam nya. “Jadi aku harus menghadiri
pertarungan aku dengan Densi?,” tanya Aliken kepada Asmira. “Bagaimana jika
kamu tidak hadiri pertarungan ini, kamu di sekolah saja, mengumpet di toilet.
Aku yakin kok mereka tidak mungkin berani masuk ke dalam sekolah,” ucap Asmira
kepada Aliken menanggapi pertanyaan Aliken. “Tidak, aku tidak perlu ngumpet,
bagaimana jika kita menelpon polisi saat mereka tiba di sekolah dan membuat
kekacauan” ucap Aliken kepada ucapan Asmira. “Oh iya, begitu mereka datang ke
sekolah dan mereka membuat kekacaun, kita langsung menelpon polisi terdekat,”
kata Asmira. Aliken dan Asmira pun
mendapatkan ide yang ia pikirkan selama ia berada di tempat bubur ayam itu.
“Oh ia, kita
mendapatkan nomor polisi terdekat di mana ya?” tanya Aliken kepada Asmira.
“Bagaimana jika kita tanya penjual bubur ayam ini, mungkin ia memiliki nomor
polisi terdekat,” jawab Asmira kepada Aliken untuk bertanya nomor polisi kepada
tukang bubur ayam. “Pak, bapak tau tidak nomor polisi terdekat di daerah ini?”
tanya Aliken kepada penjual bubur ayam itu, “oh adek ingin nomor polisi, ini
saya punya, untung adek minta kepada saya, soalnya hampir semua orang di daerah
ini tidak memiliki nomor polisi, ini nomornya” jawab penjual bubur ayam sambil
memberikan nomor polisinya kepada Aliken dan Asmira. “Terimaksih banyak ya pak
atas nomornya,” ucap terimakasih Aliken kepada penjual bubur ayam. Setelah itu
mereka selesai makan di tempat itu dan kembali ke sekolahnya, mereka berlari ke
sekolah dengan sangat kencang karena waktu bel sekolah akan berbunyi. Aliken
dan Asmira terus berlari ke sekolah nya karena mereka takut terlambat masuk ke
sekolahnya, betapa terkejutnya mereka melihat pintu gerbang sekolah sudah
hampir tertutup. Aliken dan Asmira berhasil masuk ke dalam sekolah dengan tepat
waktu. “Tunggu bu, jangan di tutup pintu kelas nya, saya sudah sampai ke
sekolah ini dengan tepat waktu,” ucap Aliken kepada seorang guru yang ingin menutup
pintu pintu kelasnya dengan nafas seperti mau habis. “Ya sudah, cepat masuk
__ADS_1
sebelum ibu menutup pintu nya,” jawab seorang guru kepada Aliken. Aliken dan
Asmira pun memasuki kelas nya masing-masing dengan tepat waktu.