
“Coba kalian ke
sini dulu deh, aku menemukan sebuah petunjuk untuk bisa menemukan dewa
Darmanas. Aku rasa kalian semua harus membaca petunjuk ini” ucap raja Kureta
kepada keempat ratu dan raja yang sedang mencari petunjuk juga. Keempat raja
itu pun mendekati raja Kureta, dan ratu Sabrina menanyakan kepada raja Kureta
“apa yang kamu temukan di tempat itu?” raja Kureta menjawabnya “aku menemukan
sebuah tulisan yang tertulis di bagian badan gunung ini dan di sebelah tulisan
itu, ada sebuah tempat, tempat di mana kita di suruh meletakkan batu Valita
yang kita miliki.” Ratu Sabrina melihat dan membaca tulisan yang di maksud raja
kureta. Ia membaca dengan seksama dan teliti. Lalu ia berpikir “sepertinya
tempat dewa Darmanas bukan di sekitar gunung ini, melainkan di sebuah tempat
sekitar gunung ini yang tak dapat di lihat langsung dengan mata,” ratu Sabrina
terus membaca berulang kali tulisan itu dan memikirkan nya, dan ratu Sabrina
melakukan itu selama satu jam. Lalu akhirnya ia dapat menyimpulkan “batu Valita
yang di milikinya dan keempat raja itu, sepertinya harus di masukan ke dalam
cetakan Valita itu.”
Ketika ratu
Sabrina menemukan sebuah petunjuk dan pikiran yang masuk dalam kepalanya, ia
mengatakan kepada empat raja di sekitarnya “sepertinya kita semua harus
meletakan batu Valita yang kita miliki ke dalam lubang itu. Aku tidak tau apa
yang akan terjadi selanjutnya, tetapi yang harus kita lakukan ialah memasukan
batu Valita yang kita miliki ke dalam lubang batu Valita itu.” Keempat raja itu
mendengar kata-kata ratu Sabrina dan mereka juga memikirkan “ketika aku
memasuki batu Valita ini ke dalam lubang itu, apakah kekuasaan aku akan
hilang.” Dengan berat hati, mereka akan memasukan batu Valita yang di milikinya
itu untuk menyelamatkan negeri Kinata. Keempat raja itu sepakat dengan apa yang
dikatakan oleh ratu Sabrina, mereka akan melakukan apa yang harus di lakukan
untuk menyelamatkan negeri Kinata. Yang pertama memasukan Valita itu ke dalam
lubang Valita ialah raja Kureta, ia meletakan batu Valita itu ke dalam lubang
Valita, tetapi sebelum ia memasukannya, ia mengatakan “atas nama masyarakat
Kureta, masyarakat yang ku pimpin, masyarakat yang ku lindungi dan masyarakat
yang ku jaga, aku serahkan batu Valita ini ke dalam lubang Valita itu, lubang
yang akan menyelamatkan negeri Kinata dan masyarakat Kureta dengan senang
hati,” sehabis ia mengatakan kata-kata itu, ia langsung memasukan Valita yang
di miliki nya itu ke dalam lubang Valita. Begitu juga yang di lakukan keempat
raja lainnya, dan setelah keempat batu Valita itu telah di masukan ke dalam
lubang, saatnya ratu Sabrina yang meletakannya.
“Atas nama
kerajaan Kinata dan masyarakat Kinata, dengan senang hati, aku akan serahkan
batu Valita ini ke dalam lubang Valita yang akan menghantarkan aku dan keempat
raja yang ikut dengan ku ke hadapan dewa Darmanas, yang akan kami minta bantuan
ke padanya mengenai negeri Kinata” setelah ratu Sabrina mengatakan hal itu, ia
langsung meletakan batu Valita yang di milikinya itu di tengah-tengah keempat
__ADS_1
batu Valita yang sudah terpasang. Ratu Sabrina selesai meletakan batu Valita
yang dimilikinya ke dalam lubang Valita, tiba-tiba gunung di hadapan kelima
raja dan ratu itu terbelah menjadi dua. Seketika lautan api yang berada di
gunung itu menghilang di hadapan kelima raja dan ratu itu. Api-api yang ada di
gunung itu menghilang entah kemana, dan setelah gunung itu terbelah menjadi
dua, ada sebuah tangga yang cantik menuju bawah gunung itu. Tangga itu membawa
seseorang yang melewati ke dalam gunung itu, di dalam gunung itu terdapat
sebuah ruangan yang cukup besar, ruangan itu gelap dan menakutkan. Kelima raja
dan ratu itu langsung melewati tangga yang mereka pikir tidak tau arah tangga
itu menuju. Satu demi satu anak tangga mereka lalui, hingga anak tangga itu tak
terlihat lagi. Mereka terus berjalan melewati anak tangga yang tak telihat itu
sampai ke dasar permukaan. Hingga habislah anak tangga itu dan mereka telah
sampai di paling bawah gunung itu. Mereka telah sampai di mana tangga itu di
menuju, di dalam ruangan yang di mana kelima raja itu berada sangat gelap dan
sunyi, tidak ada suara sedikitpun di dalam ruangan itu, sampai suara detak
jantung kelima raja itu terdengar satu sama lain, mereka pun bingung harus
melakukan apa di tempat itu.
Dengan sangat
terkejut mereka melihat ada sebuah lorong yang terdapat api menyala-nyala.
Hanya ada satu lorong yang menyala terang dan menuju ke suatu tempat.
“Sepertinya kita harus ikuti nyala api itu entah kemana arahnya!” kata ratu
Sabrina kepada raja yang berada di sebelahnya. Mereka mengikuti nyala api itu
dan berjalan entah apa jalan itu tertuju. Kelima raja itu berjalan menuju nyala
sedikitpun, hanya lorong yang mereka lalui yang terang. Hingga akhirnya lorong
itu menuju sebuah ruangan yang luas dan megah. Saat mereka hendak berjalan,
kelima raja itu melihat di bawah kakinya itu ada garis merah yang panjang. Di
Darmanas, garis merah menandakan tidak boleh melewatinya, tidak boleh di lalui
dan tidak boleh di lewati. Mereka menyadari bahwa garis merah itu tidak boleh
dilewati.
Kelima raja dan
ratu itu pun berhenti sejenak menunggu sesuatu terjadi. Saat mereka sedang
menunggu apa yang terjadi selanjutnya, sangat terkejut dari arah belakang
kelima raja dan ratu itu, ada api yang menyala berwarna biru sedang seperti
melayang untuk melewati garis merah itu. Api berwarna biru itu semakin banyak
dari arah belakang mereka itu, tidak di ketahui dari mana arah api itu, intinya
api-api berwarna biru melayang-layang menuju sebuah ruangan besar dan megah
melewati garis merah. Saat satu api berwarna biru sudah berada di depan garis
merah itu, api yang lain menyatu ke api yang pertama itu, hingga api itu
menjadi besar dan menjadi sosok manusia dengan tubuh yang besar dan tinggi,
wajah sosok manusia api itu tidak terlihat sangat jelas, ia tinggi, besar,
bertanduk dua di kepalanya. Dan ternyata sosok api itu ialah dewa Darmanas.
Dewa yang menguasai seluruh isi Darmanas, dewa yang memilih seorang pemimpin
untuk mengatur daerah di Darmanas, dewa yang di hormati pada zaman nya, dan dewa Darmanas tinggal di dalam gunung
__ADS_1
Lakapi, ia tinggal di gunung Lakapi karena rupanya itu ialah api, namun api di
gunung Lakapi itu dapat berubah wujud menjadi sosok dewa yang besar dan tinggi,
jika ada yang behasil memasuki ruangan di bawah gunung Lakapi tersebut.
Dewa Darmanas
yang besar dan tinggi itu bertanya kepada kelima raja dan ratu itu yang
mendatangi dan ingin menemuinya. “Ada apa kamu datang dan menemuiku di tempat
aku beristirahat?,” ratu Sabrina mengatakan hal yang sebenarnya kepada dewa
Darmanas yang menanyakan itu, “sebenarnya aku sebagai ratu negeri Kinata datang
dan menemui mu di tempat ini karena ada hal yang cukup serius mengenai
keberlangsungan kehidupan masyarakat Kinata yang mulia dan Agung. Kami hanya
ingin meminta bantuan kepada yang mulia dan Agung. Ada dua masalah yang tidak
dapat aku selesaikan bersama keempat raja yang membantu ku menjadi ratu.
Masalah pertama ialah mengenai ketidakharmonisan antara golongan masyarakat
lain kepada yang lain nya, karena masalah itu ada banyak sekali kematian karena
hal itu, bukan hanya itu saja, banyak masyarakat meninggalkan negeri Kinata dan
berani menghianati tempat nya itu, yang meninggalkan negeri Kinata pergi ke
ratu jahat untuk mengabdi kepadanya, mereka yang mengabdi kepada ratu jahat
akan digunakan untuk menghancurkan negeri Kinata. Sudah banyak sekali upaya dan
masukan dari keempat raja golongan masyarakat yang telah aku lakukan, dan salah
satu upaya terbesar ialah membangun penyekat tembok raksasa. Proyek itu sudah
berjalan selama sepuluh tahun dan telah rampung, tetapi yang belum selesai
ialah masyarakat yang belum kunjung berdamai, jika ini tidak di selesaikan
dengan cepat, aku sebagai pemimpin dan ratu Kinata sangat khawatir masalah itu
akan menjadi awal perpecahan negeri Kinata.
Masalah kedua
ialah mengenai batu permata Darimun, batu yang engkau berikan kepada moyang ku
dan akhirnya berada di tangan ku yang mulia. Aku sangat berminta maaf sebesar-
besarnya kepada yang mulia, aku tidak dapat menyimpan batu yang hanya ada satu
di negeri Kinata, dan menjadi batu yang paling mulia untuk menjaga seluruh
aspek kehidupan dan keberlangsungan masayarakat negeri Kinata hilang di ambil
oleh ratu jahat. Aku sampai sekarang masih sangat bingung sekali yang mulia,
batu Darimun itu di jaga oleh makhluk tak kasat mata yang memiliki kekuatan
ghaib dan di jaga oleh perajurit terbaik di Kerajaan bisa hilang dan di ambil
oleh ratu jahat. Aku hanya menyangka bahwa bukan hanya ratu jahat yang
mengambil batu Darimun, aku sangat yakin sekali bahwa ratu jahat di bantu oleh
seorang yang sangat kuat dan pintar, karena seorang yang dapat melewati
makhluk-makhluk ghaib penjaga batu Darimun adalah orang yang pintar dan kuat,
yang aku tau tentang ratu jahat ialah dia itu orang yang tidak terlalu pintar
dan orang yang juga tidak terlalu kuat. Dapat aku simpulkan bahwa bukan hanya
ratu jahat yang mengambil batu Darimun, melainkan sosok yang kuat dan pintar
yang ikut bersamanya, aku datang ke tempat ini dan menemui mu Dewa yang Agung
dan mulia, aku dan keempat raja yang ikut bersama aku menemui mu ini, tidak
dapat menyelesaikan masalah ini dengan apa yang kita miliki sekarang. Batu
__ADS_1
Darimun pun aku rasa jika masih ada juga tidak dapat menyelesaikan masalah
ini.”