HELLO, DOSEN KUTUBKU

HELLO, DOSEN KUTUBKU
FITTING GAUN PENGANTIN


__ADS_3

Hello guys, jangan lupa di like, komen dan Vote ya.


Maaf kalau ada typo pengetikan, maklum baru berkecimpung di dunia pernovelan.


Happy reading guys. Selamat hari nifsu Sya'ban ya.


__________


Viola yang sudah meletakkan tugasnya ke meja Bu Jihan segera melangkah ke kantin.


Disana teman-teman sudah menunggunya.


“Lama amat Vi. Nih minuman lo udah hampir gak dingin lagi nih" tutur Lisa yang melihat es batu di minuman Viola yang hampir habis.


“Iya, lah gimana dong guys, tadi ada revisi sedikit. Ya mau gak mau gue nungguin lah. Oh ya udah kalian pesenin belum? seblak komplit ekstra hottttt" tanya Vio yang sudah duduk di tempat yang telah di sediakan temannya.


"Duh belum juga skripsian udah ada revisi-revisian Vi Vi" jawab Yosi yang datang dari kamar mandi.


Resiko ambil kelas dari dosen yang pintar dan displin memang seperti ini. Sama halnya dengan penugasan, tidak afdol jika tidak ada revisian.


“Udah Vi, seblaknya lagi dibuatin Mbak Irma” jawab Gea.


“Kapan nih dibagi dosen pembimbing skripsi? ada yang tau gak?" tanya Viola yang mengingat kini dia masuk ke semester tua.


“Denger-denger sih minggu ini. Update aja di grup” jawab Yosi dengan memakan sate ayam yang ada di hadapannya.


Hampir lima belas menit Viola di kantin, tiba-tiba…


Tuing tuing.. bunyi pesan singkat dari ponsel Viola.


Dosen Kutub: Parkiran sekarang!


Viola hampir saja tersedak jus jeruk saat membaca pesan masuk dari Hendra.


Sikonnya gak pas banget sih. Mana seblak ku belum dateng lagi ah. Laperrrr.


Viola: Nanti ya Pak, saya sedang antri makanan, belum jadi nih.


Dosen Kutub: Sekarang.


Dengan hati yang jengkel, mau tak mau viola meninggalkan pesanan dan teman-temannya.


“Eh duluan ya guys. Seblaknya makan aja gak apa-apa. Uangnya ini ya” ucap Viola sambil meletakkan beberapa lembar uang dan memasukkan ponsel ke dalam tas dengan buru-buru. Mereka menatap Viola dengan dahi berkerut kompak serta pikiran bertanya-tanya.


“Mau kemana sih?" Gea.


"Iya, tunggu dulu kenapa. Sebentar lagi jadi Vi" Yosi.


“Gue udah ditunggu sama si Dosen Kutub" jawab Viola lalu berdiri dari duduknya. Mereka hanya menganggukkan kepala sambil ber-oh ria.


Sampai di mobil Hendra.


Sebelum masuk ke dalam mobil Viola melihat kiri – kanan dulu untuk melihat situasi bahwa tak ada yang melihatnya. Takutnya ada mahasiswa lain yang lihat, kan jadi berabe kalau jadi buah bibir satu kampus. Setelah dirasa aman Viola segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Mau kemana Pak?” tanyanya ketika memasang sabuk pengaman dan menormalkan napas yang mulai terengah-engah..


Pletak


Duh salah lagi gue, kenapa sih bibir ini gak bisa di rem. Plis panggil dia MAS. Bibir oh bibir.


Viola kena imbas kalau dia memangil dengan panggilan Pak, dia akan di sentil keningnya. Dia mengelus cukup lama hingga kembali normal.


“Jangan panggil Pak kalau lagi di luar jam kampus, lagi-lagi di ulang” ujarnya dengan wajah datar dan mengendalikan laju mobil untuk keluar dari parkiran.


“Iya mas, namanya juga keceplosan, belum terbiasa juga”


“Di biasakan!" titahnya.


“Iya, diusahakan. Ini mau kemana mas?”


Hendra menaikkan kecepatan laju mobil agar cepat keluar dari area kampus. Beruntung juga kaca mobil ini gelap, jadi jika di lihat dari luar tidak bisa tembus ke dalam.


“Kita akan fitting baju pengantin di butik langganan keluarga” ucapnya.


Hampir saja Viola menjatuhkan ponsel yang dipegangnya, saat mendengar ucapan Hendra soal baju pengantin. Sekarang telingannya menjadi sensitif dengan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan.


“Oh, ya mas” jawab Viola mode nurut.


Hendra kembali fokus menyetir.


Sesampainya disana, dari depan butik sudah terlihat betapa mewahnya butik ini. Banyak gaun yang terpampang mewah nan elegan.


Viola turun dan jalan lebih depan dibanding Hendra.


Betapa kagetnya dia ada sang calon mertua yang sudah berada di dalam butik. Papa dan Mama Hendra menyambutnya dengan senyuman dan penuh kasih sayang layaknya seorang anak kandung. Viola langsung mencium tangan calon mertuanya, begitu juga Hendra yang mencium tangan orang tuanya.


“Tante dan Om, disini juga?” tanyanya memperhatikan orang tua Hendra dengan rasa sedikit canggung.


“Iya Nak.Tante mau milihin gaun untuk calon mantu Mama. Boleh kan, Hendra?” tanya mama Hendra pada anak laki-lakinya.


“Em, iya Ma, silahkan”


Papa Hendra ijin pergi untuk menyelesaikan urusan kantornya, sehingga disana tinggal istrinya saja.


Sedangkan Hendra yang menunggu di ruang tunggu. Viola dan Mama Hendra mencari gaun untuk hari pernikahan.


“Ini cocok nak, gaun bernuansa peach dengan aksen gliter dan mutiara ini sangat cocok banget di kulitmu. Tapi agak terbuka sedikit sih, coba tanya Hendra dulu, dia suka ga ya?” dengan memegang gaun yang dipilihnya yang ditunjukkan pada Viola.


Dia segera mencobanya dan ditunjukkan pada Hendra.


“Mas, ini bagaimana?” tanyanya.


“Terlalu terbuka” Jawaban Hendra.


Mendengar ucapan anaknya yang begitu dingin, akhirnya Mama Hendra mencari gaun yang agak tertutup.


“Ini nak, coba lagi ya” pintanya dengan gaun yang berbeda.

__ADS_1


Viola segera ganti gaun yang dipilihnya kini.


Semoga dia suka, jadi gue gak usah ganti-ganti lagi. Capek. Kalau dia pengen baju yang tertutup kenapa gak sekalian aja pake jubah. Kan gampang.


“Mas..” ucap Viola dengan menyadarkan Hendra.


“Gak suka warnanya”


Tuh kan bener apa kataku. Dia susah banget seleranya.


“Kalau ini bagaimana kak? Gaun terbaik kami dan satu-satunya” Pelayan butik menyerahkan gaun yang dipilihnya.


“Iya kak, sebentar saja coba dulu”


Dibantu oleh pelayan dan Mama Hendra, Viola mengenakan gaun itu.


Hampir 20 menit berlalu.


“Mas, bagaimana dengan ini?”


Tanpa berkedip Hendra melihat Viola dari atas hingga bawah. Dlihatnya begitu cantik nan anggun gaun perpaduan nude dan peach itu dikenakan calon istrinya.


Mama Hendra yang melihat anaknya terpesona dengan calon istrinya segera menyadarkan dengan dehaman.


Ehemm.


Dehaman sekali tak menyadarkan Hendra. Akhirnya dehaman yang kedua kali di lontarkan sang Mamanya.


"Bagaimana anakku, apa kamu suka?"


“Terserah Ma"


Uhh akhirnya, dia setuju. Secara tidak langsung, tidak ada penolakan darinya. Hemm, Alhamdulillahhhhh..


“Jangan terpesona gitu dong. Kan bentar lagi juga kalian nikah. Tinggal hitungan minggu saja” celetuk Mama Hendra yang memperhatikan raut wajah anak semata wayangnya tersebut.


Wajah merah merona terpancar dari pipi Viola, dia pun merasa senang atas perjodohan ini. Pasalnya disisi lain Viola juga percaya bahwa Hendra bisa merubahnya ke arah yang lebih baik. Sesuai yang dikatakan Jovan, kakaknya.


Namun ya itu tadi, menghadapi sikap dingin dari Hendra butuh kesabaran ekstra. Untung saja Viola tipe wanita yang cuek jadi tidak terlalu mempermasalahkan tentang hal itu.


Setelah memilih gaun pernikahan, Pelayan butik mengarahkan pada setelan jas yang senada dengan gaunnya. Tak lama kemudian, Hendra membayar dengan cek yang telah disiapkan.


“Ma, kita balik ke kampus dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa kasih kabar aja” ucap Hendra dengan nada sopan sebagai anak.


“Iya Nak, hati-hati. Sampai jumpa ya sayang. Hendra jangan apa-apain anak orang lho, awas saja kamu nak kalau ada sesuatu yang tidak di inginkan”


Mama Hendra memperlakukan Viola dengan sangat baik, seperti dianggap anaknya sendiri. Akhirnya mereka berpamitan dan berpisah di butik.


...________...


...Semoga saja jodohku adalah kamu. Amin....


...Sesimpel itu doa ku kini....

__ADS_1


__ADS_2